FANATISME : Antara Emosi dan Logika

                   Di abad pertengahan (Abad VII H) Umat Islam masih dibawah pemerintahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Ketika pa...


         
         Di abad pertengahan (Abad VII H) Umat Islam masih dibawah pemerintahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Ketika pasukan Tatar (Mongol) mulai menghancurkan satu persatu wilayah kaum muslimin, Baghdad pun siaga satu. Dengan jumlah pasukan yang memadai,  sebenarnya Baghdad tidak akan kesulitan untuk menghadang gerak laju pasukan Jenghis Khan. Saat itu Turkinistan, Uzbekistan, Tajikistan, Afganistan dan Iran telah hancur porak poranda, hanya Baghdad satu-satunya harapan.

Pada saat itulah Ibnu Alqami dan Nashruddin Affandi, dua orang tokoh Syi’ah yang merasa bahwa golongan mereka tersingkir dari pusat kekuasaan, lebih memilih memupuskan tumpuan satu-satunya umat Islam waktu itu. Mereka tidak hanya membantu memberikan informasi kepada pasukan Jenghis Khan, tapi juga menggembosi pasukan muslim dari dalam. Bagi mereka; lebih baik Mongol menang daripada Sunni terus berjaya dibumi ini. Dan bumi Baghdad pun terluka; darah tumpah membanjiri kota yang menjadi pusat peradaban dunia selama lebih setengah millenium.
Ironis memang, atas nama fanatisme, Nashruddin Affandi cs menjadi mitra utama pasukan kuffar untuk menghancurkan saudara seiman mereka. Dan nasib Baghdad ini adalah satu dari sekian sabda kehancuran akibat fanatisme pula. Fanatisme, ma fanatisme ? wa ma adraka ma fanatisme ?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fanatisme adalah keyakinan yang sangat kuat terhadap ajaran agama, politik atau budaya. Sedang menurut Ibnu Mandhur dalam Lisan al-Arab, ta’ashub  (fanatik) adalah keberpihakan hati  yang sangat kuat kepada satu golongan atau ajaran. Sedangkan al Munjid memaknainya sebagai perasaan emosional yang kuat untuk membela klannya sendiri.
Dari definisi diatas, jelas bahwa fanatik pada dasarnya adalah sifat yang sangat terpuji. Dengan fanatisme, kehormatan bahasa, budaya ataupun ideologi suatu bangsa akan tetap terjaga. Fanatik kepada negara, misalnya, akan melahirkan jiwa nasionalisme yang tinggi. Begitu pula fanatik kepada bahasa dan budaya bangsanya, akan menjadikanya bahasa dan budaya yang kuat, terhormat dan disegani oleh bangsa lain. Hanya orang yang berjiwa yang kerdil dan tidak berkepribadianlah yang tidak memiliki fanatisme.
                Agaknya, itulah inti dari tulisan Syekh Mushtafa al Ghalayainy dalam kitabnya idzah an Nasyi’in. Dalam artikelnya tentang ta’ashshub, al Ghalayainy memuji sifat ini sebagai suatu hal yang indah, jalan yang lurus dan gaya hidup yang benar. Sifat ini sebagai suatu hal yang indah, jalan yang lurus dan gaya hidup yang benar. Sifat inilah yang menyebabkan bahasa, budaya dan tradisi suatu bangsa terpelihara, bertahan dari serangan bahasa, budaya dan tradisi bangsa lain. Beliau berseru, “Fanatiklah terhadap golongan, bahasa, agama dan ajaran sosial-politik bangsamu”. Hanya saja pertanyaannya adalah, bagaimana seharusnya kita mengekspresikan makna fanatisme? Di sinilah pertarungan antara logika dan emosi mengemuka. Pertarungan ini pada akhirnya akan menghasilkan out-put yang sangat berbeda : fanatik yang adil dan yang tak adil
Fanatisme “tak adil”  sebagai wujud dari fanatisme yang didasari oleh emosi, akan lebih mengarah kepada fanatisme ekstrem tanpa batas : fanatisme yang merobek jarak antara yang haq dan yang bathil, antara kawan dan lawan. Ibnu Alqami dan Nashruddin affandi, dalam tragedi Baghdad, seperti tidak pernah mengenal nama ukhuwah islamiyyah yang ditanam oleh Rosullah saw kepada para Muhajirun dan Anshar. Mereka bergandeng tangan dengan musuh yang sesungguhnya untuk menghancurkan ‘musuh’ yang pada hakekatnya adalah saudaranya sendiri: atas nama fanatisme. Nasib Baghdad ini setali tiga uang dengan tragedi Andalusia (Spanyol); berakhir karena atas nama fanatisme. Fanatisme model inilah yang mendapat kecaman keras dari Rosulullah saw.
Sedang fanatisme dalam batas tertentu dan dibackup oleh logika yang sehat (bukan sekedar membebek) akan melahirkan tata nilai kehidupan yang indah, menilai secara obyektif, tetap kritis, menghormati perbedaan dan menghargai milik lawan. Fanatik menurut al Ghalayainy, tidak berarti kita harus membenci atau menghina madzhab, bahasa atau budaya orang lain. Kita juga tidak bisa memaksa orang lain untuk sejalan dengan kita. Sebab manusia dari golongan manapun mereka berasal, bebas untuk memilih dan menentukan sikap meski berbeda dengan milik kita. Dan kita harus menerima perbedaan sebagai fitrah.
Di sini, KH. Hasyim Asy’ari mengilustrasikan. Konon, beliau yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU berbeda pendapat dengan Kyai Fakih Maskumambang tentang masalah beduk (jidur, Madura). Menurut  Kyai Fakih, beduk hukumnya bid’ah. Beliau melarang umatnya melarang menggunakan benda bulat dari kayu ini. Sedangkan pendapat Kyai Hasyim, menggunakan beduk sebagai tanda masuknya sholat hukumnya boleh dan tidak bid’ah. Alkisah pada suatu ketika Kyai Fakih hendak berkunjung ke dalem Kyai Hasyim. Disinilah Kyai Hasyim menampakkan solidaritasnya, tanpa mengesampingkan fanatisme tentunya. Kakek Gus Dur ini kemudian memerintahkan kepada seluruh warga NU setempat agar menurunkan semua beduk yang ada di masjid atau surau. Sepanjang jalan yang akan dilalui oleh Kyai Fakih harus disteril dari beduk. Selama kunjungan kiai Fakih, tidak boleh ada beduk berbunyi. Hal itu untuk menghormati pendapat kiai Fakih.
Cerita lain adalah ketika Imam Syafi’i ra. Shalat subuh disebuah masjid. Dibelakang masjid itu terdapat makam Imam Hanafi ra.  Demi menghormati pendapat Iman Hanafi yang tidak setuju terhadap qunut, akhirnya beliau tidak membaca qunut. Padahal menurutnya, qunut termasuk sunnah muakkad (yang dikokohkan). 
Dengan demikian seharusnyalah kita, umat islam, membangun kesadaran bersama, mengesampingkan perbedaan yang ada diantara kita, merapatkan barisan untuk menghadang serangan musuh-musuh Islam. Dan ini adalah bentuk dari fanatisme kepada agama. Wallahu A’lam. 


COMMENTS

Name

aktifitas,13,ar Risalah,1,cerpen,12,Dalwa English,1,dunia pesantren,13,fikroh,9,FORUM AL BASHIROH,3,Hadaf,8,ibroh,6,katalog,1,Khazanah,7,Lemka Dalwa,4,Ma'haduna,26,Mabhats,18,maklumat,17,Masail Diniah,12,Ngaji Hadits,7,Ngaji Tafsir,5,Ngaji Tasawuf,4,Nisa'una,4,Nutrisi & Gizi,2,Pena Dalwa,2,Psikosufi,7,resensi,14,Rijaluna,15,Sakinah,3,tau'iyyah,7,uswah,13,Wacana,10,العربية,9,
ltr
item
AL BASHIROH: FANATISME : Antara Emosi dan Logika
FANATISME : Antara Emosi dan Logika
https://3.bp.blogspot.com/-r3d2e4w3Jts/XDLnoQgh1gI/AAAAAAAAE4k/4xzIBBkiNAE0MJPm6Eh8DezyESa8tcleACLcBGAs/s320/maria-teneva-1145320-unsplash.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-r3d2e4w3Jts/XDLnoQgh1gI/AAAAAAAAE4k/4xzIBBkiNAE0MJPm6Eh8DezyESa8tcleACLcBGAs/s72-c/maria-teneva-1145320-unsplash.jpg
AL BASHIROH
https://www.albashiroh.net/2019/01/fanatisme-antara-emosi-dan-logika.html
https://www.albashiroh.net/
https://www.albashiroh.net/
https://www.albashiroh.net/2019/01/fanatisme-antara-emosi-dan-logika.html
true
3370491230413858173
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy