Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, March 1, 2017

Menebar Salam, Menyatukan Umat Islam

metode yang paling ampuh dan kuat dalam rangka menumbuhkan dan menjaga persaudaraan antara orang muslim adalah saling memberi salam

Sejak dulu, umat Islam dikenal sebagai umat yang kuat dalam persatuan. Agama Islam sendiri dikenal sebagai agama yang tidak membedakan ras, tingkat sosial dan kemapanan. Sampai saat ini, kita bisa melihat keberadaan umat Islam di berbagai belahan dunia seperti Rusia, Amerika, negara-negara Eropa dan lainnya. Bahkan, data yang dikeluarkan oleh salah satu lembaga survey agama ternama di Amerika Serikat Pew Research Center menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di dunia selama 40 tahun ke depan, yaitu sebesar 50 persen. Termasuk di Republik Macedonia dan Nigeria.
Tersebarnya agama Islam tentunya tak luput dari tinggi dan kokohnya semangat persaudaraan dan persatuan sebagaimana yang telah diajarkan para penyebar agama Islam dari zaman ke zaman. Salah satu faktor yang paling berperan penting dalam penyebaran agama Islam adalah pendidikan moral, kasih sayang dan rasa cinta terhadap sesama. Sehingga terbinalah hubungan antar sesama manusia, bukan hanya hubungan antara manusia dengan Tuhan. Dari sini pula, terbentuk sebuah ikatan yang kuat antar orang mukmin dengan lainnya di manapun mereka berada, sebagaimana firman Allah :

إنَّما المُؤْمِنُونَ إِخْوَة فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُم واتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ [10 :الحجرات]
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S Al Hujurat: 10)
Salah satu metode yang paling ampuh dan kuat dalam rangka menumbuhkan dan menjaga persaudaraan antara orang muslim adalah saling memberi salam. Dengan salam, benih-benih cinta dan kasih sayang akan tumbuh. Salam juga merupakan sebab masuknya kita ke dalam surga. Sebagaimana sabda Rasulullah :

عن أبي هريرة ؓ قال : قال رسول الله : لا تَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا, وَ لاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُوا, أو لَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ (رواه مسلم)
“Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman itu hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika dilakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Al Imam an Nawawi menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.
Beliau juga menjelaskan bahwa ucapan salam merupakan pintu pertama untuk mencapai sebuah kerukunan dan kunci pembuka yang membawa rasa cinta. Semakin sering seorang mukmin menyebarkan salam, semakin kokoh kedekatan mereka dengan mukmin lainnya. Salam juga sebagai syi’ar bagi mereka yang berbeda agama bahwa Islam mengajarkan kedamaian. Di samping itu, juga terdapat latihan bagi jiwa seseorang untuk senantiasa berendah diri dan mengagungkan kehormatan kaum muslimin yang lainnya.
Adab Salam
1.    Siapakah yang lebih dahulu memberikan salam? Dijelaskan dalam hadits berikut:
عن أبي هريرة ؓ قال : قال رسول الله : يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلىَ المَاشِي, والمَاشِي عَلَى القَاعِد, والقَلِيْلُ عَلَى الكَثِيْرِ (رواه بخاري و مسلم)
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: Hendaklah orang yang berkendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan memberikan salam kepada yang duduk. Dan orang yang berjumlah sedikit memberikan salam pada yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, bukan berarti hadits ini memberi fatwa haram bagi orang yang berjalan untuk memberikan salam terlebih dahulu kepada yang berkendaraan. Atau yang tua kepada yang muda, juga yang berjumlah banyak kepada kelompok yang kecil. Akan tetapi, ini adalah bentuk adab yang dijelaskan oleh Rasulullah .
2.                   Balaslah salam dengan yang lebih baik atau minimal serupa. Allah  berfirman:

وإِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنِ مِنْهَا أَوْ رُدُّوها (النساء:86)
“Apabila kamu diberi suatu penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (Q.S. An Nisa: 86)
3.                   Salam ketika mendatangi majlis dan meninggalkannya. Rasulullah bersabda:

عن أبي هريرة ؓ قال : قال رسول الله : إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ المَجْلِسَ فَلْيُسَلِّمْ
, فَإِنْ رَجَعَ فَلْيُسَلِّمْ, فَإِنْ الْأُخْرَى لَيْسَتْ بِأَحَقَّ مِنَ الْأُولَى (رواه احمد)
“Dari Abu Hurairah ؓ, bahwa Rasulullah bersabda: Jika seseorang dari kalian mendatangi majlis, maka ucapkanlah salam. Jika pergi meninggalkan majlis ucapkanlah salam. Karena salam yang kedua tidaklah lebih utama dari pada salam yang pertama.” (HR. Ahmad)
Setelah mengetahui keutamaan menebar salam, sudah selayaknya kita menjalankan apa yang telah dianjurkan oleh Rasulullah dalam hal menebarkan salam. Di antara sesama Muslim, jangan sampai kita terperdaya dengan godaan iblis untuk saling membenci dan mencaci. Sehingga hubungan antar Muslim maupun dengan non-Muslim menjadi terpecah belah. Dengan salam, marilah kita satukan umat yang terpecah belah. Selaraskanlah makna salam dalam tiap perbuatan. Hingga kerukunan dan kasih sayang akan menyertai kehidupan kita sehari-hari.
(HA)

Referensi:
Syarh Shahih Muslim, 2/35

http://www.kompasiana.com/ahmadimam/tantangan-umat-islam-ketika-jumlahnya-menjadi-terbanyak-di-dunia_5535a70d6ea8347f16da42d0

0 komentar:

Post a Comment