Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 5, 2017

Pondok Pesantren At Taroqqi, Madura

Ponpes Attaroqqi, Sampang Madura
Madura adalah sebuah pulau yang dikenal dengan adat carok masyarakatnya. Makna adat itu sendiri adalah bermain-main dengan nyawa. Mengapa demikian? Karena adat ini melibatkan dua orang yang bertikai menggunakan senjata tajam sampai merenggut nyawa salah satu dari mereka. Penyebab pertikaian itu berbagai macam. Seperti perebutan tahta, harta atau hal lain yang menyangkut duniawi. Tak ayal, hal ini dapat melibatkan pertikaian antar keluarga atau bahkan kampung.
 
Di tengah masyarakat yang masih memegang adat ini, berdiri kokoh sebuah pesantren di wilayah kota Sampang, tepatnya desa Karongan. Pondok tersebut adalah Pondok Pesantren At Taraqi.

Cikal Bakal Pesantren

Ponpes At Taraqi didirikan oleh seorang kyai yang tersohor di tanah Madura. Beliau adalah KH. Ma’mun Muhammad. Pembangunan ponpes melewati beberapa fase yang pada akhirnya rampung pada tahun 1963.

Bukan pekara yang mudah dalam pembangunan ponpes ini, karena tanah bangunan sendiri konon ceritanya adalah tempat pembantaian dan perampokan. Nama desa Karongan juga diambil dari cerita tersebut. Karena pelaku memasukkan korbannya ke dalam suatu karung yang biasa disebut oleh orang Madura dengan karong. Sebab inilah, para warga menyebut tempat itu dengan nama Karongan.

Pembangunan ponpes berawal dari penebangan sebuah pohon besar yang berada di area pembangunan. Mulanya, para masyarakat merasa takut dengan apa yang akan dilakukan KH. Ma’mun. Mereka mempercayai bahwa pohon besar itu merupakan sarang bagi para jin. Namun, KH. Ma’mun tak peduli dengan itu semua. Dengan izin Allah, penebangan pohon itu tetap dilakukan hingga akhirnya pohon itu beliau gunakan sebagai awal mula pembangunan ponpes.

Kekhawatiran masyarakat akan terjadinya sesuatu karena sebab penebangan pohon itu tak terbukti sedikit pun. Bahkan, dari waktu ke waktu ponpes At Taraqi semakin berkembang. Subhahanallah.

Sistem Pendidikan

KH. Ma’mun menatar para santri yang belajar kepada beliau dengan begitu telaten. Bukan suatu hal yang mudah, mendidik orang-orang yang terbiasa hidup dengan adat caroknya. Sekalipun demikian, masyarakat Madura tetep mendukung KH. Ma’mun dalam berdakwah. Mereka mempunyai semboyan yang harus dihormati “Bapak, ibu, guru, ratoh” yang artinya bapak, ibu, kyai atau ulama, pemerintah. Tak mengherankan Madura yang dikenal dengan carok juga dikenal sebagai pecinta para ulama atau kyai oleh masyarakat di luar Madura.

Tak lama, KH. Ma’mun mendapat seruan Ilahi yang pada akhirnya tongkat estafet ponpes Attaroqqi diteruskan kakak kandung beliau yaitu KH. Alawy Muhammad.

Pada masa kepemimpinan KH. Alawy, para santri yang datang membanjiri ponpes bukan hanya dari daerah pulau Madura saja. Bahkan ada yang dari pulau seberang dan pulau lain seperti Pontianak. Aktifitas ponpes pun semakin padat. Namun, itu semua dapat terkondisikan. Hal ini yang semakin meyakinkan para wali santri bahwa KH. Alawy bukan hanya seorang ulama yang kaya dengan ilmu, tapi juga seorang organisatoris dan politikus Islam yang handal.

Pada masa kepemimpinan beliau, ponpes Attaroqqi bukan hanya menyuguhkan pendidikan agama saja seperti zaman adiknya, KH. Ma’mun. Namun juga menyuguhkan pendidikan formal tingkatan SD, SMP dan SMA. Tak hanya berhenti di situ, ponpes juga membekali santri dengan wawasan politik dan berorganisasi yang tentunya tak lepas dari koridor Islam. Hal ini dilakukan agar para santri saat keluar dari ponpes dapat membentengi dari politikus yang suka menjadikan ulama wayang dan juga agar santri dapat memasuki sektor-sektor pemerintah.

Hari pahlawan 10 November 2014 menjadi saksi kepergian KH. Alawi untuk menghadap Allah SWT. Masyarakat dari berbagai tempat berdatangan untuk mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhir. Kepergiannya banyak membuat tetesan air mata di pipi masyarakat yang hadir pada waktu itu.

Setelah kepergian KH. Alawy, kursi jabatan sebagai mudir ponpes dilanjutkan oleh putra biologis beliau, yaitu Kh. Fauroq.

Daily Activity

Aktifitas para santri ponpes Attaroqqi dimulai sejak waktu subuh sampai larut malam pukul 24:00 WIB. Karena didikan yang demikian, para santri dapat mengatur waktu mereka agar tidak sia-sia begitu saja.

Selain para santri mempunyai waktu yang super padat dengan ilmu formal dan non-formalnya (diniyah), ponpes juga menyuguhkan kegiatan ekstrakulikuler seperti seni hadrah, seni kaligrafi, seni jahit dan lain-lain.

PP Attaroqqi Dengan Keluarga Al Maliki

Pada musim haji, KH. Alawi menyempatkan diri untuk menimba ilmu pada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy al Maliki. Bahkan beliau pernah belajar kepada Sayyid Alawi al Maliki Makkah (ayahanda Sayyid Muhammad). Dari sinilah beliau mengambil manhaj Mekah untuk dijadikan rujukan di pesantrennya. Kebanyakan kitab yang dipakai adalah karangan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy al Maliki, seperti qawaid asasiyyah.
 
Pernah suatu ketika pemerintah Saudi mencekal Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy al Maliki untuk tidak berkunjung ke Indonesia karena ada masalah tertentu, hingga pada akhirnya  beliau mengutus Sayyid Abbas, saudaranya ke Indonesia guna berziarah ke pesantren-pesantren yang memiliki ikatan dengan beliau. Salah satu ponpes yang beruntung adalah ponpes Attaroqqi.

Sekilas, apabila kita baca papan nama depan ponpes tertulis “Markazul ulumid’diniyah wa Siroh An’nabawiyah” seperti ponpes milik Sayyid Abbas bin Alawy al Maliki di Mekkah. Itu semua atas permintaan beliau sendiri kepada pihak ponpes Attaroqqi. Karena sebab inilah pada akhirnya beliau menjadi musyrif ponpes At Taraqi.Bukan hanya itu, Sayyid Abbas juga meminta ponpes Attaroqqi bersedia dijadikan tempat haul ayahandanya, Sayyid Alawy bin Abbas al Maliki Mekkah. Kegiatan ini terus berjalan setiap tahun hingga sekarang.

0 komentar:

Post a Comment