Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, February 18, 2017

Ketika Jawa Memilih Islam

Proses pembentukan wacana Jawa minus Islam sudah dimulai sejak zaman kolonial

Oleh: Arif Wibowo
“Sejarah yang disusun penjajah adalah racun.”
(Prof. Ali Hasymi)

    Menurut Buya Hamka, pertemuan dan dialog Islam dengan Jawa memang telah berlangsung sejak lama, dimulai sejak kunjungan utusan Khalifah Mu’awiyah pada masa pemerintahan Ratu Sima di Kerajaan Kalingga. Meski demikian, tidak mudah bagi para pendakwah untuk menaklukkan Jawa. Sebab, bila dilihat dari periodisasi secara mundur ke belakang, menurut Prof. Dennys Lombard Jawa mengalami tiga periodisasi yaitu (1) zaman modern, dengan proses oksidentalisasi, (2) zaman Islamisasi, (3) Zaman Hindu-Budha.

Kompleksitas unsur pembentuk kebudayaan Jawa inilah yang kemudian menyebabkan budaya Jawa belum menemukan bentuknya yang pasti hingga kini. Kalangan cendekiawan Katolik, Kristen, kaum kebatinan dan theosofi sampai sekarang masih terus berlomba menyusun narasi kebudayaan Jawa dalam versinya masing-masing. Sayangnya, para cerdik cendekia dan budayawan muslim sepertinya abai bertanding di ranah ini. Sehingga secara pelan tapi pasti, wacana kebudayaan minus Islam kini secara  perlahan menggeser peran sentral walisongo yang selama berabad menjadi centre of excellent dalam kebudayaan Jawa”.

Kini Jawa lebih mengakrabi Darmaghandul dan Gatholoco dibanding Sunan Kalijaga. Tidak hanya itu, bahkan secara perlahan, Islam kemudian dinarasikan sebagai penyebab kemunduran masyarakat Jawa. Surat yang ditulis seorang Missionaris Jesuit, Pater M van Elzen, secara explisit menjelelaskan pandangan ini.

Dulunya, Jawa sedikit lebih maju daripada sekarang. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami kemunduran. Saya dapat mengerti dengan baik sekarang, mengapa Santo Fransiscus Xaverius tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa. 

Tidak hanya itu, aneka sastra anonim yang menanamkan kebencian kepada Islam dan walisongo muncul secara masif di akhir abad 19 dan awal abad 20, sebuah periode sejarah yang sering disebut sebagai abad missi, karena pada periode itu secara resmi pemerintah kolonialis Belanda mendukung gerakan missi dan zending dalam upaya kristenisasi masyarakat Indonesia. Salah satu sastra anonim yang masih diproduksi sampai sekarang adalah serat Darmagandhul.

G. W. J. Drewes, seorang orientalis berkebangsaan Belanda, ketika mengomentari serat Darmagandul menyatakan :

Seluruh isi serat ini menggambarkan penolakan terhadap Islam sebagai agama yang asing bagi orang Jawa. Ia juga dipandang sebagai agama yang telah merebut kekuasaan dengan cara yang tercela dari para wali, orang-orang suci yang dimuliakan bagi orang-orang Islam Jawa.

Proses pembentukan wacana Jawa minus Islam sudah dimulai sejak zaman kolonial, dan nampaknya  saat ini sudah membuahkan hasil. Dalam buku-buku mutakhir tentang Jawa, kita dapat melihat bahwa Islam diposisikan sebagai agama asing yang hanya merupakan kulit ari bagi masyarakat Jawa, sedangkan yang menjadi agama sejati masyarakat Jawa adalah Kejawen. Oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi kaum muslim Jawa untuk menyusun sejarahnya sendiri dan membongkar wacana pseudo ilmiah yang dikonstruk para missionaris dan cendekiawan kolonial di masa lalu.

Orang Jawa Memilih Islam

Sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu dan Budha lebih dulu berkembang di Indonesia, adalah fakta sejarah yang diamini oleh siapa saja. Namun penjelasan lebih detail tentang praktik keagamaan Hindu dan Budha di Jawa, nyaris tak terbahas. Agama Hindu-Budha di Jawa masa lalu, menurut sebagian peneliti bersifat elitis, hanya untuk kalangan brahmana dan ksatria. Sebab bagi masyarakat kebanyakan, pemujaan roh nenek moyang merupakan inti dari kegiatan keagamaan. Praktik keagamaan ini jejaknya masih dapat kita lihat di tengah masyarakat, di mana kuburan sebagai simbol bertempatnya roh nenek moyang masih merupakan elemen penting dalam ibadah masyarakat Jawa. Salah satu ritual terbesarnya adalah Pesta Srada yang merupakan peringatan arwah kepada para leluhur. Pesta Srada ini dalam bahasa Jawa disebut Nyadran

Oleh karena itu, berbeda dengan kebanyakan orang yang menjadikan contoh kemegahan candi Borobudur dan Prambanan, sejarawan seperti Dannys Lombard dan Ahmad Mansur Suryanegara justru menunjukkan bahwa bangunan-bangunan batu besar itu telah menyebabkan trauma tersendiri bagi masyarakat Jawa. Hal ini dikarenakan kehidupan masyarakat tersita hanya untuk membangun candi yang mengakibatan keluarga, sawah, ladang dan ternaknya jadi terabaikan.

Keruntuhan Kerajaan Hindu dan Budha di Jawa dan penghentian pembangunan gedung-gedung batu ternyata disebabkan karena kerajaan tersebut ditinggalkan oleh rakyatnya sendiri, yang lebih memilih tinggal di kota-kota pelabuhan atau wilayah sekitarnya.

Selain itu, Hindu dan Budha di Jawa sudah pernah mengalami fase kejatuhannya ketika aliran Tantrisme berkembang di kalangan para bangsawan Jawa. Dalam Kitab Pararaton menyebutkan, bahwa Prabu Kertanegara, raja terakhir kerajaan Singhasari yang biasa dipanggil dengan julukan ”Bathara Siwa-Budha” (penganut Bhairawa Tantra). Kepercayaan Siwa-Budha ini menghasilkan bentuk ritual yang disebut sebagai upacara Ma-lima. Menurut S. Wojowasito, bentuk upacara (ritual) dari sekte ini sangat mengerikan.

Lebih lanjut Prof. Rasyidi menjelaskan, upacara ma-lima itu terdiri dari matsiya (memakan ikan gembung beracun), manuya (memakan daging dan minum darah gadis yang dijadikan kurban), madya (upacara ritual dengan meminum minuman keras hingga mabuk), muthra (ritual tari sampai ekstase tak sadarkan diri), dan maithuna (persetubuhan secara masal). Upacara itu dilakukan di tanah lapang yang disebut setra.

Pendapat Prof. De la valle Poussin yang menyatakan bahwa praktik Maithuna tidak dilaksanakan secara sungguh-sungguh dibantah oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi. Sebab, Maithuna ternyata banyak dipraktikkan secara konkret. Maithuna tidak dianggap berdosa sebab pelakunya dianggap telah menjadi dewa.

Dalam penasbihan seorang raja, dibutuhkan korban lebih banyak yakni mencapai ratusan orang. Adityawarman, seorang raja dari kerajaan Melayu (yang menjadi menantu raja Majapahit) menerima penasbihannya di tengah-tengah lapangan bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah, menghadapkan kurban manusia yang menghamburkan bau busuk, tetapi bagi Adityawarman sangat semerbak baunya.

Pengorbanan manusia dalam jumlah massal juga terjadi saat meninggalnya raja Blambangan, Tawang Alun.
Tawang Alun II banyak ditulis dalam arsip Belanda, justru pada masa akhirnya tahtanya. Yakni ketika upacara ngaben jenazahnya yang digelar secara spektakuler. Alkisah, dalam upacara sebanyak 271 isteri dari 400 isteri Tawang Alun ikut membakar diri (sati).

Praktik-praktik keagamaan yang bertumpu pada selera para penguasa itu menjadi semacam trauma tersendiri dalam masyarakat Jawa. Sehingga kemudian sejarah mencatat eksodus masyarakat Jawa dari pusat-pusat kerajaan Hindu dan Budha yang tidak memberinya kehidupan yang aman, ke daerah-daerah pelabuhan mengantarkan mereka bersentuhan dengan para pedagang muslim dan para ulama. Egalitarianisme Islam dan struktur keimanan yang mudah dimengerti menyebabkan rakyat Jawa berbondong-bondong masuk Islam. Periode ini merupakan gelombang pertama Islamisasi di Pulau Jawa. Dalam pandangan Zamakhsyari Dhofier, ada dua tahap penyebaran Islam di Pulau Jawa, yaitu tahap pertama dimana orang menjadi Islam sekedarnya, yang selesai pada abad ke 16, dan tahap kedua adalah tahap pemantapan untuk betul-betul menjadi orang Islam yang taat yang secara pelan-pelan menggantikan kehidupan keagamaan yang lama.

Islam dan Proses Pemberadaban


Apabila kita mendengar istilah yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, yakni aja nglakoni ma lima (jangan melakukan perbuatan ma lima), pada awalnya ini adalah seruan para ulama kepada masyarakat Jawa untuk tidak lagi melakukan ritual Bhairawa Tantra. Sebab ritual itu tidak hanya jahat kepada Tuhan tapi juga jahat pada manusia. Adapun istilah aja nglakoni ma lima, yang diartikan aja madat, aja madon, aja minum, aja main lan aja maling (jangan menghisap candu, jangan berzina, jangan mabuk, jangan berjudi dan jangan mencuri) yang menjadi standar dasar moralitas manusia Jawa adalah penerjemahan ma lima setelah masyarakat Jawa mengalami Islamisasi.

Sementara itu Nyadran dalam perkembangannya diadakan di kuburan para leluhur dalam bulan arwah atau Ruwah, yakni bulan Sya’ban, menghadapi bulan puasa atau Ramadhan.  Ritualnya pun tidak lagi penyembahan kepada arwah leluhur akan tetapi diganti menjadi ritual ziarah kubur yang bertujuan mendoakan para leluhur yang sudah meninggal. Dalam kaitannya terhadap hubungan manusia Jawa terhadap para leluhur yang sudah meninggal, menurut Nakamura dan C.C. Berg, adalah wujud dari keberhasilan proses Islamisasi di Jawa.

Justru pada jantung religius kaum abangan, yaitu di dalam kehidupan ritual, mereka betul-betul tergantung pada pertolongan kaum santri. Hanya santrilah yang dapat memimpin doa di dalam ritus yang paling sentral dari orang-orang abangan, yaitu slametan. Juga santrilah yang dapat memimpin upacara ketika seorang abangan mengalami apa yang disebut Malinowsky ‘krisis yang paling utama dan paling final dalam kehidupan’, yaitu : kematian.

Tidak hanya Islamisasi ritus keagamaan, bahasa dan pola hubungan dalam masyarakat, pola kepemimpinan juga mengalami perubahan yang mendasar. Perubahan dari Bahasa sansekerta ke bahasa Jawa banyak mengadopsi istilah-istilah Islam, seperti adil, pikir, rakyat, Sultan ataupun Islamisasi makna sembahyang yang bermakna sholat, pasa bermakna shaum, suwarga bermakna jannah dan yang semisalnya, adalah bukti bahwa eksistensi Islam menjadi pondasi bagi masyarakat Jawa baru yang lebih beradab.

Adalah sangat beralasan ketika Prof. Syed Naquib Al Attas menyatakan bahwa kedatangan Islam ke kepulauan Melayu (termasuk Jawa di dalamnya) merupakan peristiwa yang paling penting dalam sejarah kepulauan ini. Hal ini diamini oleh Dr. H. Roeslan Abdulgani yang menyatakan bahwa Islam datang ke Nusantara dengan membawa tamaddun (peradaban), kemajuan dan kecerdasan. Kesimpulan yang berhadapan secara diametral dengan pendapat para cendekiawan kolonial dan para pengikutnya yang setia mengamini hingga kini.


DAFTAR PUSTAKA
Drewes, G.W.J, 1966, The struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by Serat Darmogandul. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 122
Ekadarmaputera, PhD, 1991 (cet. 3), Pancasila Identitas dan Modernitas, Tinjauan Etis dan Budaya, BPK Gunung Mulia, Jakarta
Fauzan Saleh, Dr, 2004, Teologi Pembaruan: Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX. Serambi, Jakarta
Dr. Hamka, 2005 (cet. V), Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional, Singapura
Hasto Rosariyanto, F, 2009, Van Lith Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Penerbit Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta
Roeslan Abdulgani, Dr, 1993, Islam Datang Ke Nusantara Membawa Tamaddun/Kemajuan/Kecerdasan, makalah pada Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Banda Aceh 10 – 16 Juli 1978.
Rasyidi, Prof. Dr, 1967, Islam dan Kebatinan, Penerbit Bulan Bintang
Slamet Muljana, Prof. Dr. 2005, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, LKIS, Yogyakarta
Syed Naquib Al Attas, Prof. Dr, 1986 (terj.), Dilema Kaum Muslimin, Penerbit Bina Ilmu, Surabaya

Wojowasito, S, 1952 (cet. II), Sedjarah Kebudajaan Indonesia, Indonesia Sedjak Pengaruh India, Penerbit Siliwangi Jakarta

0 komentar:

Post a Comment