Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, February 7, 2017

Bolehkah Menggunakan Tasbih?


Sebelum Islam tiba, tasbih sudah digunakan oleh agama-agama lain
Mungkin tasbih sudah tak asing lagi di telinga masyarakat. Alat yang terdiri dari tali atau benang yang dikaitkan dengan biji-bijian atau kayu ini berfungsi sebagai alat penghitung jumlah dzikir yang diucapkan seseorang, baik dengan lidah maupun hati. Namun, banyak yang masih belum tahu tentang sejarah di balik penggunaan tasbih. Hukum penggunaannya pun masih banyak diperdebatkan kebolehannya. Lalu, bagaimana rinciannya?

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, tasbih adalah untaian butir manik-manik yang dipakai untuk menghitung ucapan tahlil, tasbih dan sebagainya. Dari segi bahasa, tasbih dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari asal kata sabbaha yang berarti bertasbih atau mengucap subhanallah. Namun, orang Arab menyebutnya subhah atau misbahah. Berbeda dengan bahasa sansakerta kuno yang menyebut tasbih dengan jibmala yang berarti hitungan dzikir.


Tasbih dalam Agama Lain

Sebelum Islam tiba, tasbih sudah digunakan oleh agama-agama lain. Menurut penelusuran, Hindu bersekte Brahma adalah agama yang pertama kali menggunakannya. Di antara mereka, tasbih dikenal dengan nama japa mala. Japa adalah mengulang nama dewa atau mantra. Sementara mala berarti karangan bunga, baik untuk dekorasi maupun untuk diletakkan di makam. Berfungsi untuk mengulang bacaan mantra atau suatu latihan spiritual dan meditasi. Berjumlah sekitar 108 biji, umumnya terbuat dari biji rudrakhsha dan tanaman ruku-ruku batang.

Kemungkinan agama Budha juga meminjam konsep dari agama Hindu. Mereka menggunakan tasbih untuk menyelaraskan antara perbuatan dan ucapan ketika sedang melakukan persembahyangan. Budha Theravada di Burma juga menggunakan tasbih yang mereka sebut dengan badi. Biasanya terbuat dari kayu harum, dengan serangkaian tali berwarna cerah pada ujungnya. Sementara dalam Katolik, biji tasbih disebut Rosario. Biji tasbih mereka hanya terdiri dari 50 biji. 


Tasbih dalam Islam

Tasbih dalam Islam tidak sama dengan yang lainnya. Bukan bermaksud meniru agama lain, tasbih dalam agama Islam digunakan untuk menghitung jumlah dzikir yang diucapkan secara dhahir maupun batin. Umumnya berjumlah 99 biji. Adapula yang berjumlah 33 hingga 11 biji. Angka-angka tersebut berhubungan dengan jumlah-jumlah dzikir yang dianjurkan Nabi. Beberapa berpendapat bahwa angka 99 mewakili jumlah asmaul husna.

Awalnya, tasbih tidak pernah digunakan pada zaman Nabi. Dahulu, Nabi hanya menggunakan ruas jari jemari untuk menghitung setiap dzikir yang dilontarkan. Sebagaimana sabda beliau:

عن عبد الله بن عمرو بن ‏العاصي رضي الله عنهما قال: "رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقد ‏التسبيح بيمينه) . رَواه أَبو دَاوُد(

“Saya melihat Rasulullah bertasbih (berdzikir) dengan (jari-jari) tangan kanannya.” (HR. Abu Daud)


Seiring berjalannya waktu, para sahabat mulai berinisiatif dalam menghitung tasbih. Beberapa di antara mereka menggunakan biji kurma ataupun batu kerikil. Sebagaimana dalam hadits:

عن صفية رضي الله عنها - قالت: "دخل عَليَّ رسول الله وبين يدي أربعة آلاف نواة أُسَبِّح بهن, فقال: يا بنت حيي, ما هذا؟ قلت: أُسبح بهن. قال: قد سَبَّحْتُ مُنْذُ قُمْتُ على رأسك أكثر من هذا, قلت: علمني يا رسول الله, قال: قُولي: سبحان الله عدد ما خلق الله من شيء." (رَواه الترمذي)

“Dari Shafiyyah, ia berkata; Pada suatu saat, Rasulullah datang ke rumahku. Beliau melihat empat ribu butir biji kurma yang biasa kugunakan untuk menghitung dzikir. Beliau bertanya, ‘Hai binti Huyay, apakah itu?‘ Aku menjawab, ‘Itulah yang kupergunakan untuk menghitung dzikir. ’ Beliau berkata lagi, ‘Sesungguhnya engkau dapat berdzikir lebih banyak dari itu’. Aku menyahut, ‘Ya Rasulallah, ajarilah aku.’ Rasulullah kemudian berkata, ‘Sebutlah, Maha Suci Allah sebanyak ciptaan-Nya’.” (HR Tirmidzi)

Kini, penggunaan tasbih tidak harus berupa biji kurma ataupun batu kerikil. Perkembangan zaman memberikan solusi yang lebih mudah sehingga manusia dapat beribadah dengan lebih sempurna. Tasbih saat ini terbuat dari biji-bijian atau kayu yang diikat pada seutas benang atau tali. Sehingga memudahkan pemakainya dalam menghitung jumlah dzikir yang ia sebut. 

Perselisihan Pendapat

Terlepas dari itu, beberapa kalangan masih mempermasalahkan hukum penggunaan tasbih zaman ini. Mereka berpendapat bahwa hal itu termasuk bid’ah atau pekerjaan yang belum pernah dilakukan oleh Nabi. Bahkan, ada yang menyematkan penggunaannya dengan tasbih yang digunakan non-muslim.

Namun, mestinya kita telaah kembali sebab dan manfaat penggunaan tasbih di zaman ini. Meski belum pernah digunakan Nabi, penggunaan tasbih dapat memberi manfaat bagi seorang hamba dalam berdzikir. Dengan hitungan yang memiliki keistimewaan tersendiri, tasbih saat ini menjadi bid’ah hasanah atau sesuatu yang tidak dilakukan Nabi, tapi memberi kebaikan bagi agama. 

Di samping itu, penggunaan tasbih bisa dikiaskan dengan biji kurma atau kerikil yang digunakan para sahabat di zaman Nabi. Saat Nabi mengetahuinya, beliau tidak melarang atau mencacinya. Beliau malah memberi amalan yang lebih baik. Hadits bahwa Nabi menggunakan jari juga tidak menafikan hukum kebolehan untuk menggunakan selainnya. 

Bagaimanapun, penggunaan tasbih sebenarnya tidak memberi madharat atau kejelekan sama sekali bagi penggunanya. Maka tidak perlu diperselisihkan lagi hukum kebolehannya bagi orang yang berdzikir. Yang perlu dibenahi adalah orang yang mempermasalahkan hukumnya, sementara ia sendiri tidak berdzikir.
(TQ)
Referensi:
1.       Al Subhah Tarikhuha wa Hukmuha, Bakar bin Abdullah Abu Zaid
2.       https://salafytobat.wordpress.com
4.       https://id.wikipedia.org


0 komentar:

Post a Comment