Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, February 11, 2017

Abu Yazid al Bustami Raja Sufi dari Negeri 1001 Malam

Raja sufi dari negeri 1001 malam
Mungkin beberapa di antara kita pernah mendengar nama Abu Yazid al Bustami. Seorang sufi terkenal abad ketiga. Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan al Bustami. Beliau lahir di daerah Bustam negeri 1001 malam; Persia pada tahun 875 M dan wafat di usianya yang ke-73 tahun.

Nama kecilnya adalah Thaifur. Abu Yazid telah menampakkan karamahnya sejak dalam kandungan. Dalam perut sang ibu, Abu Yazid memberontak hingga membuat ibunya muntah jika menyantap makanan yang diragukan kehalalannya.

 Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Abu Ali al Sindi. Ia mengajarkan ilmu tauhid, hakikat, dan ilmu-ilmu lainnya kepada Abu Yazid. Sebelum menjadi seorang sufi, Abu Yazid terlebih dulu menjadi seorang faqih bermazhab Hanafiyyah.

Ucapan dari Anjing Hitam

Abu Yazid al Bustami
Pada suatu saat, Abu Yazid berjalan sendirian menyusuri jalan bebatuan di gurun pasir. Ia tidak tahu kemana arah tujuannya. Pria itu hanya menuruti kemauan langkah kakinya. Tiba-tiba, tampak dari kejauhan seekor anjing hitam berlari menghampiri. Secara spontan Abu Yazid segera mengangkat jubah kebesarannya, takut jubahnya bersentuhan langsung dengan air liur anjing itu.

Betapa kagetnya Abu Yazid ketika mendengar anjing hitam di dekatnya angkat bicara. “Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa.”

Mendengar anjing hitam itu, Abu Yazid tercengang heran. Benarkah ia berbicara kepadaku? Ataukah ini hanyalah perasaanku saja? Abu Yazid masih terdiam dengan renungannya.

Belum sempat Abu Yazid berbicara, anjing hitam itu meneruskan kembali perkataannya, “Seandainya tubuhku basah, maka engkau cukup mencucinya tujuh kali dengan air dan salah satunya menggunakan tanah. Persoalan di antara kita pun selesai. Tapi, apabila engkau menyingsingkan jubahmu karena kesombongan, dirimu tidak akan bersih walaupun membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!”

Setelah yakin bahwa suara tadi berasal dari anjing hitam  yang menghampirinya, Abu Yazid menyadari kekhilafannya. Ia langsung merasakan kekecewaan dari keluh kesah si anjing hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari sebuah kesalahan yang sangat besar telah dilakukan. Menghina makhluk Allah tanpa alasan yang jelas.

“Ya, perkataanmu benar. Engkau memang kotor secara lahiriah, tapi hatiku lebih kotor darimu. Oleh karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata al Bustami.

“Engkau tidak pantas berjalan bersamaku dan menjadi temanku! Sebab semua orang menolak kehadiranku. Siapapun yang bertemu denganku, ia akan melempariku dengan batu. Sedangkan engkau disambut bagaikan Raja. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!” kata si anjing hitam.

Al Bustami lagi-lagi terdiam. Merenungi ucapan anjing hitam yang menyayat hati. Tak lama kemudian, anjing hitam itu meninggalkannya sendirian di sebuah jalan yang sepi.

Abu Yazid berseru seraya mengangkat kedua tangannya ke langit, “Ya Allah, Aku tidaklah pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing. Lantas, bagaimana Aku dapat berjalan di sisi-Mu yang abadi dan kekal? Maha besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada hamba-Mu ini  yang hina di antara semua makhluk.’’

Tak lama kemudian, Abu Yazid kembali menuju madrasahnya. Rindu dengan murid-murid yang telah menunggu pelajarannya.

Pengaduan

Salah satu murid Abu Yazid mengadukan persoalan kepadanya, “Wahai syaikh, Aku telah beribadah tiga puluh tahun lamanya. Setiap malam, Aku mengerjakan tahajud dan setiap hari berpuasa. Tapi anehnya, Aku belum merasakan pengalaman rohani yang anda ceritakan.

“Walaupun beribadah tiga ratus tahun, Kamu tidak akan mencapai satu butir debu mukasyafah dalam hidupmu,” jawab Abu Yazid.

“Mengapa hal itu bisa terjadi?” tanya murid itu heran
.
“Karena hal itu tertutup oleh dirimu sendiri.

“Bisakah anda memberikan Aku cara agar hijab itu tersingkap?”

“Bisa, tapi Kamu tak akan mengamalkan cara dariku”

“Tentu saja aku akan mengamalkannya.”

“Baiklah kalau begitu, sekarang ganti pakaianmu dengan pakaian yang jelek, sobek dan kumuh. Lalu gantungkan di lehermu sekantung kacang. Pergilah ke pasar dan kumpulkan sebanyak-banyaknya anak kecil. Katakan pada mereka Hai anak-anak, barang siapa di antara kalian yang mau menamparku, aku akan memberinya sekantong kacang’. Dan pergilah ke tempat orang-orang yang sering mengagumimu, katakan pada mereka Siapa yang mau menamparku, akan kuberikan sekantong kacang!

Subhanallah, Ma Sya Allah, La Ilaha Illallah.” Murid itu terkejut mendengar ucapan sang guru.

“Jika kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, niscaya ia akan beriman. Tapi jika kalimat itu diucapkan oleh orang sepertimu, maka engkau akan berubah dari mukmin menjadi kafir,” ucap Abu Yazid.

“Mengapa bisa begitu?”

“Karena kelihatannya engkau sedang memuji Allah, padahal kau sedang memuji dirimu sendiri. Ketika kau mengatakan maha suci Allah, seakan engkau mensucikan Allah. Padahal, kau sedang menonjolkan kesucianmu.” Jawab al Bustami pada muridnya.

(ICAN)

Referensi :

Sufi road.com

0 komentar:

Post a Comment