Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, January 3, 2017

Menolak Efek Nativisasi Orientalis

Replika candi dan patung merupakan dampak efek nativisasi Belanda
       Di saat kita bertanya kepada orang-orang tentang Majapahit atau Gajahmada, maka bisa dipastikan mereka akan tahu siapa yang pernah menguasai Indonesia dengan kerajaannya. Namun, ketika Raden Patah yang kita tanyakan, sebagian dari mereka menggelengkan kepala. Fakta ini menunjukkan bahwa popularitas Raden Patah tidak sebesar Majapahit di kalangan masyarakat.

Jika buku-buku sejarah Nasional ditilik, kita akan menemukan bahwa warga Indonesia dulunya memegang erat budaya Budha. Ketika Islam datang ke tanah air, adat pun berubah sedikit demi sedikit. Yang awalnya datang ke kuburan untuk memberi sesajen pada para leluhur, sekarang datang memberi doa untuk keselamatan mereka di kubur.

Sebagian orang beranggapan bahwa masuknya Islam ke Nusantara merupakan sebuah ancaman bagi budaya lokal Hindu-Budha yang dianggap sebagai identitas asli bangsa Indonesia. Padahal, Hindu dan Budha sendiri merupakan agama pendatang dari India. Bahkan, kebanyakan dari kita tidak mengetahui bahwa Majapahit meraih kekuasaan di Nusantara dengan kekerasan. Berbeda dengan Islam yang mengajak orang-orang dengan lembut.  Pola pikir seperti ini disebabkan oleh Politik Nativisasi Belanda.

Politik Nativisasi Belanda adalah usaha mereka dalam menekankan dan menyanjung sejarah budaya Hindu-Budha dan mengasingkan budaya Islam. Mereka menyebarkan opini bahwa jati diri bangsa Indonesia adalah Hindu dan Budha, bukan Islam.

            Contoh simpel usaha mereka dalam hal ini adalah melewati media seperti yang tertulis dalam laporan utama majalah Media Hindu (edisi 2011), “Kembali ke Hindu, Bila Indonesia Ingin Berjaya Kembali Seperti Majapahit.” Menurut majalah ini, Islam dianggap sebagai agama yang menggusur budaya, sehingga menghambat kemajuan bangsa.

            Dalam tulisan Prof. Naquib al Attas yang berjudul Islam and Secularism, beliau membantu kita dalam membuka mata bahwa ada kesalahan dalam pendidikan sejarah di sekolah-sekolah. Hindu-Budha yang sudah lama di Indonesia diletakkan sebagai jati diri, sedangkan Islam yang merupakan pendatang hanya diletakkan sebagai pelapis, tidak meresap ke dalam bangsa. Bahkan, rezim orde baru pernah berusaha menggusur berbagai identitas Islam dari kehidupan berbangsa dan bernegara dengan cara menghilangkan istilah-istilah Islam dan menggantikannya dengan istilah-istilah Hindu.

Dampaknya bisa kita lihat di berbagai tempat penting di Indonesia seperti lembaga pendidikan, kantor pemerintah, kedutaan dan lain-lain. Yang dapat kita jumpai adalah replika-replika candi dan patung, bukan replika masjid-masjid bersejarah. Kenyataannya, masjid-masjid lebih membekas di hati masyarakat karena masjid menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan, balai kesehatan, sekolah dan basis perjuangan melawan penjajah. Sedangkan candi-candi hanya dipakai untuk menyimpan abu para raja.

Hindu-Budha sebenarnya tidak meresap ke dalam masyarakat. Ajaran Hindu-Budha yang diterapkan di candi-candi hanya didatangi oleh para bangsawan. Sebab itulah, ketika kerajaan mereka hilang, masyarakat tidak terlalu peduli dengan candi-candi peninggalan raja mereka. Akhirnya, dapat kita saksikan candi-candi yang telah ditemukan berada di pedalaman dan tak terurus.

Pada masa Majapahit, sebuah karya sastra bernama Nagara Kartagama ditulis oleh Prapanca, namun hanya untuk kepentingan kraton dan istana saja. Karya ini tersimpan hanya dalam satu bentuk naskah saja, tidak diperbanyak. Contoh lain adalah Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa yang merupakan karya sastra mengandung falsafah, namun tidak ada syarah atau penafsirannya yang dapat dipahami rakyat. Ini menunjukkan bahwa karya ini memang dikhususkan kepada para bangsawan. Memang, karya-karya tersebut dinikmati oleh kalangan raja, namun gagal membumi di kalangan rakyat jelata dan tidak memberi pengaruh apapun.

Pada dasarnya, kebudayaan Hindu-Budha tidak mewariskan pandangan hidup yang filosofis dan rasional. Mereka hanya mewariskan seni arsitektur India, candi dan kesusastraan yang berbau mitos. Seperti yang terjadi di Sumatera. Menurut al Attas, Sumatera merupakan pusat terbesar agama dan falsafah Budha. Namun, para pemukanya tidak memberi kesan apa-apa dalam bidang falsafat, melainkan seni. Hingga kini, rakyat Sumatera tidak mewarisi falsafah Budha itu, bahkan mayoritas warga beragama Islam. Pengaruhnya pun tidak terlalu mendalam kepada masyarakat. Orientalis belandalah yang terlalu melebih-lebihkan dalam menekankan sejarah Hindu-Budha.

Masih banyak lagi dampak-dampak dari politik nativisasi Belanda yang bisa kita rasakan sampai sekarang. Namun, jika benar bahwa Islam adalah agama pemecah Nusantara, lalu kenapa sekarang muslim menjadi mayoritas? Bukan Hindu-Budha yang pernah menguasai sebagian besar Nusantara.


Tuan Roja

0 komentar:

Post a Comment