Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, January 25, 2017

Islam di Negeri Beruang Merah

Masjid Moskow, Rusia
Siapa yang tak tahu Rusia? Sebuah negara berdaulat yang terbentang luas dari timur Eropa hingga Barat Asia. Dulu ketika bernama Uni Soviet, ia adalah sebuah negara yang dikenal sebagai negara adidaya sejak sebelum pecahnya perang dunia kedua—selain Amerika Serikat dan Britania Utara (sekarang Inggris).

Rusia adalah negara terluas di dunia yang memiliki jutaan peradaban yang beragam. Negara ini juga pernah dikenal sebagai negara komunis sebelum berevolusi menjadi negara Rusia saat ini. Namun, bagaimana Islam masuk ke negeri beruang merah ini?

Di Rusia, Islam masuk melalui jalur perdagangan dan pernikahan. Pedagang-pedagang Arab Kaukasus masuk ke Moskow melalui jalur utara, bukan seperti dugaan sejarawan lain—dari selatan. Sebab saat itu, suku Cossack dari selatan Rusia sangatlah gencar menghentikan penyebaran dakwah dan pengaruh Islam yang ditakutkan merayap hingga jantung kota Rusia.

Hal itulah yang menjadikan pedagang-pedagang muslim berputar arah melintasi Stepa Asia Tengah menuju Siberia. Penyebaran ini semakin mudah ketika kaum Tatar dari kerajaan Volga Bulgaria Timur (kaum ini sudah lama memeluk agama Islam semenjak abad ke-9) bersedia membantu penyebaran dakwah Islam. Hingga abad ke-12, Islam berhasil menguasai Ural (sekarang Republik Bashkiria, Bashkortostan). Berkat pedagang Arab, Iran danTurki, Islam dapat menyebar ke berbagai wilayah lain di Rusia.

Ivan The Terrible
Islam masuk ke Moskow sekitar tahun 1200 M. Ketika itu, ibukota muslim berada di kota Kazan. Saat itu, Moskow membayar pajak kepada Kazan. Semua berakhir ketika Tsar Rusia, Ivan The Terrible datang dan menduduki Kazan di tahun 1552 M. Ia semena-mena membakar masjid dan memindahkan kubah-kubah ke Kremlin, Moskow dan Red Square (sampai sekarang masih ada). Tak hanya itu, di tahun yang sama ia juga menduduki Astrakhan. Kemudian menaklukan Siberia Barat di tahun 1558 M. Di akhir abad ke-16, ia berhasil tiba di daerah muslim Kabordinodan Chechnya.

Sejak saat itulah Rusia menabuh genderang perang terhadap muslimin. Mereka dilarang melakukan praktik keagamaan dan dipaksa mengikuti kebiasaan dan tradisi Rusia yang tentunya keluar dari aturan agama Islam. Kekejaman, penindasan, kristenisasi dan ketidak-adilan sudah menjadi sarapan sehari-hari bagi kaum muslim pada saat itu.

Walaupun demikian, usaha pemerintah Rusia pada saat itu bisa dianggap gagal, karena mayoritas kaum muslim tetap kokoh pada agama mereka. Bahkan, penyebaran Islam tetap dilakukan. Sungguh sebuah paradoks yang aneh. Sebaliknya, di paruh kedua abad ke-18, tepatnya pada masa pemerintahan Ratu Rusia Catherine II, Islam mulai bisa mencicipi nikmatnya kebebasan.

Di tahun 1764 M, propaganda toleransi beragama di negara Komunis ini menguat. Tiga tahun setelahnya, pengusiran kaum Tatar dari Kazan dicabut pemerintah. Di tahun 1773 M, pemerintahan Rusia menuju tahap baru dengan memberikan Tatar Volga kebebasan beragama. Hingga saat itu, lahirlah para dai-dai dan muballigh yang kemudian menjadi mediator tersebarnya Islam kepada orang-orang semi-politheis di Bashkaradan Siberia Barat. Tak hanya itu, mereka juga diberi kebebasan untuk membangun masjid dan lembaga pendidikan.

Kebijakan Tsar Rusia ini bukan karena kecintaan mereka terhadap Islam, melainkan didorong oleh kepentingan Rusia untuk memperluas pengaruh dan kontrol terhadap negara tetangga di Asia Tengah. Hal itulah yang mendorong para penguasa Rusia untuk memperhatikan kekuatan politik umat Islam yang tinggal di Tsar Rusia pada saat itu. Pemerintah mulai mencoba untuk mendapatkan dukungan mereka. Didirikanlah lembaga sebagai pusat Fatwa di Renburg (kemudian pindah ke Ufa) pada tahun 1788 M. Setelah itu, dibentuk tiga lembaga lain untuk penerbitan fatwa pada abad berikutnya, satu pada tahun 1831 M dan dua lainnya pada tahun 1872 M. Lembaga-lembaga ini sejenis hai’ah ulama (institusi ulama) yang ada di pemerintahan Utsmani. Lembaga ini memiliki wewenang dalam beberapa aspek hukum perdata, kaderisasi ulama, pemeliharaan wakaf dan publikasi buku-buku keagamaan yang tidak dibolehkan terbit sebelum tahun 1800 M.

Setelah lima tahun berlalu, tepatnya pada tahun 1806 M, sekitar 26.000 buku dicetak termasuk 1500 salinan al Quran. Publikasi ini semakin meningkat ketika kaum muslimin diizinkan menggunakan mesin cetak di pertengahan abad itu. Saat itu, para ulama dan agamawan diwajibkan untuk mendaftar secara resmi sehingga dari sudut pandang pemerintah mereka dianggap sebagai perwakilan Islam yang diakui dan berada di bawah kontrol kekaisaran Rusia. Sebagai imbalannya, mereka menikmati berbagai keuntungan termasuk pembebasan pajak dan dinas militer. Tak hanya itu, anak-anak mereka dapat menikmati hak-hak yang sama seperti  anak-anak bangsawan. Di sisi lain, mereka juga harus memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah meskipun secara formalitas. Demikianlah karakter lembaga Islam dan dampaknya di kalangan umat Islam pada era kekaisaran sampai meletusnya kebebasan beragama di Rusia pada tahun 1905 M. Sebuah kesempatan bagi Islam untuk memulai sebuah fase baru.

Kekuasaan Komunis

Komunis Rusia berkuasa
Ketika Perang Dunia pertama pecah, muslimin menduduki posisi terhormat di kekaisaran Rusia atas segala yang mereka perjuangkan demi negara. Akan tetapi, kondisi segera berubah ketika komunis mengkudeta pemerintahan. Sungguh sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan era kekaisaran Rusia. Semenjak Komunis Soviet memimpin, Islam kembali menelan  berbagai penindasan dan ketidak-adilan. Memang, tujuan mereka tak lain adalah memberantas habis agama dan segala bentuknya yang dianggap sebagai ‘candu masyarakat’ menurut salah satu pemimpin mereka.

Terbukti di abad ke-19, masjid-masjid dibongkar. Dijadikan toko-toko, cafe, kursus tari dan bioskop. Hingga abad itu, tercatat hanya sekitar 1000 masjid saja yang tersisa dari 26.000 masjid yang sebelumnya berdiri kokoh. Tak hanya itu, pengadilan syariah berhasil ditutup. Sistem wakaf juga dihapus. Institusi ulama dibubarkan dan kebanyakan dari mereka dieksekusi. Begitu banyak bentuk penindasan dan kekejaman pemerintahan komunis Soviet terhadap Islam. Menurut mereka, Islam adalah sebuah hal yang berseberangan dengan paham dan politik mereka, juga menjadi penghambat untuk menjadikan Rusia sebagai negara komunis.

Runtuhnya Soviet

Islamic School in Russia
Sebanyak sekitar 20 juta muslim benar-benar memendam kerinduan dengan Islam di akhir era kekaisaran Rusia. Pada saat itu, Islam sangat dihormati, bebas dari penindasan, kekejaman dan ketidak-adilan. Mereka ingin dihargai dan diakui kembali keberadaannya di Negara itu. Bahkan, mereka juga menginginkan hak-hak bebas menjalankan agama diberlakukan lagi.

Dengan prinsip dan tujuan yang sama, muslimin Rusia berhasil mendirikan kembali Islamic Centre (Pusat Koordinasi Urusan Agama) yang sebenarnya dulu pernah ada di era kekaisaran Rusia. Usaha mereka tak sampai di situ saja. Mereka juga berusaha mempersatukan umat Islam dengan mengadakan pertemuan yang dihadiri hampir 120 perwakilan masjid-masjid di Republik Bashkirstan guna menyepakati rencana pengaktifan kembali institusi-institusi Islam yang dulu pernah dibentuk, baik di era kekaisaran maupun lembaga Islam warisan Soviet.

Usaha-usaha tersebut mencapai puncak ketika didirikannya “Pusat Tertinggi Koordinasi Agung Muslim Rusia” sebagai juru bicara resmi atas nama institusi terhadap negara dan luar negeri. Pusat koordinasi ini telah menerima izin dari Departemen Kehakiman di Federasi Rusia pada tahun 1994 M. Sementara lembaga ini mempunyai proyek penyebaran Islam dan pengembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Rusia. Hal inilah yang menjadi latar belakang berdirinya Central Islamic College di Moskow. Perkembangan berlanjut hingga terbentuknya Pusat Studi Bahasa Arab dan kajian Islam di Universitas Moskow, serta di Institut Peradaban Islam yang bernaung di bawah Universitas Kebudayaan Islam.

Inilah bukti bahwa Islam benar-benar merekah di Negeri Beruang Merah. Hingga kini, peran Islam tak hanya di bidang keagamaan, bahkan berpengaruh pada politik pemerintahan. Padahal kondisi Islam saat ini ‘terhujat’ oleh media-media Barat yang serta-merta mengucilkan Islam. Biarlah tekanan itu menimpa, namun semangat perjuangan dakwah Islam harus tetap tumbuh dalam sanubari kita. Bukankah begitu?

(L)
Sumber :
http://eropadalamislam.blogspot.co.id/2015/03/perkembangan-islam-di-rusia-a.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Rusia

0 komentar:

Post a Comment