Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, January 6, 2017

Identitas Peradaban Nusantara dan Politik Nativisasi Belanda

Usaha sistematis Belanda untuk memarginalkan peran kesejarahan Islam di tanah Nusantara dilakukan dengan cara menyanjung budaya-budaya lokal non-Islam
Oleh: Kholili Hasib, MA*

Dalam buku-buku sejarah Nasional telah lama ditulis bahwa identitas asli bangsa Indonesia mengesankan kekentalan kebudayaan Hindu-Budha. Bangunan-bangunan berupa candi merupakan salah satu identitas fisik yang sering ditonjolkan. Sementara warisan peradaban Islam Nusantara yang dibawa oleh para penyebar agama Islam berupa karya-karya kitab, seni-seni Islami, masjid, pesantren, tradisi-tradisi keislaman dan lain-lain tidak dianggap peninggalan penting peradaban Nusantara - meski pengaruhnya sesungguhnya mengakar kuat secara luas di Nusantara. Pengaruh kuat yang berlangsung berabad-abad tersebut menurut Syed M. Naquib al Attas terhambat oleh penjajahan Belanda.

Usaha sistematis Belanda untuk memarginalkan peran kesejarahan Islam di tanah Nusantara dilakukan dengan cara menyanjung budaya-budaya lokal non-Islam. Usaha Belanda ini disebut politik nativisasi. Orientalis Belanda mengkaji sejarah Melayu dengan cara mengesankan seolah-olah produk kebudayaan Islam Melayu adalah kebudayaan asing yang mengancam eksistensi budaya lokal Hindu-Budha. Kebudayaan Islam di sini ditampilkan sebagai produk peradaban asing yang diposisikan berseberangan secara diametral dengan Hindu-Budha yang selanjutnya diakui sebagai kebudayaan lokal asli pribumi. Padahal, Hindu-Budha pun dibawa dari India, negeri di luar Nusantara. Tidak murni produk Melayu-Nusantara.

Dominannya kajian orientalis Belanda tersebut berlangsung hingga Indonesia merdeka. Kuatnya hegemoni politik Nativisasi penjajah Belanda itu kini dapat dilihat dari buku-buku teks Sejarah, yang mayoritasnya masih menjadikan paradigma Nativisasi tersebut dalam menulis sejarah. Hal tersebut dapat dilihat dalam teks-teks sejarah Nasional. Masyarakat Indonesia lebih mengenal nama Patih Gajah Mada daripada Syarif Hidayatullah. Lebih populer Majapahit daripada Kerajaan Demak, Samudra Pasai dan lain-lain. Gadah Mada dikenal dengan sumpah Palapanya dan tokoh Majapahit yang mampu menyatukan Nusantara. Semantara Muballigh Islam atau Kesultanan Islam tidak dicatat berhasil menyatukan Nusantara dalam satu bahasa, Melayu. Padahal Melayu pada zaman itu menjadi lingua franca bagi mayoritas penduduk Nusantara.

Kita juga belum banyak tahu bahwa Majapahit melakukan invasi ke daerah lain dengan kekerasan. Menarik upeti yang menyulitkan daerah yang ditaklukkan. Mirip sistem penjajah. Pendekatan inilah menimbulkan kemarahan rakyat Sunda yang melahirkan peristiwa Sunda pada tahun 1351 M. Sementara para Wali Songo dan Muballigh Islam lainnya melakukan pendekatan kultural, seperti dengan menikahi wanita pribumi, melakukan Islamisasi kebudayaan, dan lain-lain. Sehingga, rakyat Melayu cepat menyerap Islam. Hingga orang Melayu mengenal pola-pola pikir Islami, rasional dan menumbuhkan karya-karya ilmu. Namun, oleh orientalis Belanda peran Islam ini dinafikan.

Candi-candi peninggalan Hindu di mata pelajaran sejarah juga lebih populer daripada masjid-masjid sebagai warisan budaya bangsa. Para siswa lebih diarahkan rekreasi budaya dengan cara mengunjungi candi daripada masjid-masjid kuno. Replika-replika candi dapat mudah ditemui di tempat-tempat penting, seperti kantor pemerintah, lembaga pendidikan, pintu-pintu gerbang di jalan-jalan dan gedung-gendung penting. Tapi, di tempat-tempat itu sulit ditemukan replika masjid-masjid kuno bersejarah.

Padahal, masjid-masjid dahulu menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan ke masyarakat, pusat balai kesehatan, sekolah dan basis perjuangan melawan penjajah. Sementara Candi menjadi tempat penyimpanan abu raja-raja. Tempat ini pun jarang dikunjungi rakyat jelata pada zaman dahulu. Pada zaman keemasan kerajaan Hindu, candi merupakan tempat elit dikhususkan oleh raja-raja dan bangsawan untuk melakukan penyembahan. Karena itu, sesungguhnya candi-candi tidak terlalu membekas kepada rakyat bawah. Tidak heran kemudian, candi-candi di Nusantara ketika ditemukan di abad modern ini ternyata telah terpendam tanah selama berabad-abad. Sebab, setelah kerajaan runtuh, tidak ada yang merawat ataupun sembahyang di tempat itu. Orientalis Belandalah yang mula-mula membangkitkan budaya candi itu.

Akibat dari nativisasi, masyarakat rantau Nusantara -khususnya kaum Muslim- kini telah lupa warisan budaya Islam dan karya-karya keilmuan yang ditulis para ulama nusantara seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al Raniri, Nawawi al Bantani, Syekh al Tirmasi, Daud Ibrahim bin Abdullah al Fatani dan lain-lain. Padahal, karya-karya mereka tidak saja menasional tapi telah diakui internasional memberi kontribusi kepada ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.

Syed Muhammad Naquib al Attas, pakar filsafat dan sejarah mengatakan bahwa politik nativisasi itu merupakan rekayasa sarjana-sarjana Barat. Tujuannya untuk menghilangkan warisan Islam di Nusantara, sehingga generasi selanjutnya tidak mengenal lagi identitas Islam di rantau Melayu.

Dalam buku Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, al Attas menjelaskan: “Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. Namun menurut saya, paham demikian itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka”. (hal. 41)

Ahli-ahli sejarah Belanda, sejak masa kolonialisme, sudah membuat rekayasa sejarah dengan mengutamakan kebudayaan Jawa dan Bali sebagai puncak kejayaan Melayu-Indonesia. Di antaranya sejarawan Belanda bernama Brandes dan Douwes Dekker. Keduanya menulis buku tentang Nusantara dengan wawasan yang sempit.

Keduanya menggunakan kata Nusantara yang artinya kepulauan antara Jawa dan Bali. Penggunaan ini memiliki tujuan khusus. Yakni memunculkan Jawa dan Bali -yang beragama Hindu- sebagai pusat peninjauan utama kajian sejarah di rantau Nusantara.

Hindu-Budha memang lebih dulu berjaya di Nusantara daripada Islam. Akan tetapi kebudayaan Hindu-Budha tidak memberi bekas terhadap masyarakat Nusantara. Sebaliknya, peradaban Islam mengubah pandangan hidup rakyat Melayu-Indonesia dengan warisan yang lekat dan mengakar. Pengaruh kuat Hindu hanya terbatas kepada keluarga elit kerajaan. Sedangkan kalangan rakyat tidak begitu berpengaruh bahkan tidak menghiraukan doktrin kebudayaan Hindu.

Dalam hal ini al Attas menulis: “Kita harus tahu bahwa kedatangan agama Hindu itu tidak merubah pandangan hidup masyarakat Melayu-Indonesia, suatu weltanschaung atau pandangan hidup yang berdasarkan seni dan bukan falsafah. Apabila agama Hindu tiba di kalangan mereka, ajaran-ajaran yang mengandung unsur falsafah tiada dihiraukan, dan yang lebih menarik hati mereka adalah ajaran-ajaran yang lebih sesuai dengan bawaan jiwa asli masyarakat”.

Sejalan dengan analisis al Attas tersebut, Van Leur juga berkesimpulan sama. Ia menyatakan bahwa masyarakat Melayu-Indonesia itu bukanlah sebenarnya masyarakat Hindu. Tapi hakikatnya hanya golongan bangsawan sajalah yang meresapi kebudayaan Hindu-Budha itu. Konon, dulu banyak raja-raja beragama Hindu, namun rakyatnya tidak memeluk Hindu secara baik. Mereka cenderung animis lokal dan sebagaian bahkan Muslim.

Karya sastra Nagara Kartagama yang ditulis Prapanca pada masa Majapahit misalnya, ditulis justru untuk kepentingan keratin dan istana. Bukan untuk dibaca rakyat jelata. Ia tersimpan dan terpelihara hanya dalam satu bentuk naskah saja, tidak diperbanyak. Karya ini tidak menyorotkan falsafah luhur yang menyerap akal budi. Karya lain seperti Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa merupakan karya sastra yang mengandung falsafah namun tidak ada syarah atau penafsirannya yang bisa dipahami rakyat, sehingga mengisyaratkan karya ini khusus untuk elit raja-raja dan bangsawan.

Karya-karya tersebut dinikmati dan memang diingini oleh kalangan raja, namun gagal membumi di kalangan rakyat jelata. Dan tidak membawa pengaruh dan kesan apa-apa. Sehingga, keberagamaan rakyat sesungguhnya lebih cenderung kepada kebudayaan animisme khas Jawa daripada Hinduisme.

Dalam catatan al Attas, sarjana-sarjana Barat keliru dalam mengesankan kebudayaan asli pribumi itu Hindu-Budha. Beberapa mitologi dan teori kebudayaan yang berlangsung di kalangan penduduk pribumi Nusantara telah wujud dalam bentuk animisme sebelum Hindu-Budha datang. Animisme bukanlah Hindu atau Budha. Ketika Hindu-Budha dianut raja-raja, para pemuka agama membuat rekayasa mempersamakan dengan adat-adat pribumi. Dalam legenda-legenda Hindu, cerita dibuat mirip. Lantas, kebudayaan tersebut diklaim sebagai Hindu. Namun, tetap hal itu tidak melekat dalam pola pikir rakyat.

Van Leur cukup terbuka dan tegas menolak pandangan kebanyakan sarjana Barat. Menurutnya, partisipasi masyarakat terhadap Hindu dilakukan dengan paksaan raja. Sehingga ia berkesimpulan bahwa masyarakat Melayu-Indonesia bukanlah masyarakat yang di-Hindukan. Adapun pengaruhnya terlalu dibesar-besarkan oleh orientalis Belanda dan Inggris.

Kebudayaan ini tidak mewariskan sebuah pandangan hidup yang filosofis dan rasional. Kebanyakan kebudayaan Hindu-Budha mewarisi seni arsitektur India, candi dan kesusastraan yang berbau mitos. Hal itu dapat dilihat dari karya-karya para cendekiawan Muslim Sumatra dan Jawa.

Menurut al Attas, selama abad ke-6 sampai 11 Masehi, konon Sumatera merupakan pusat terbesar agama dan falsafah Budha. Namun, para pemukanya tidak memberi kesan apa-apa dalam bidang filsafat, tapi justru bidang seni. Sampai kini, rakyat Sumatera tidak mewarisi tradisi falsafah Budha itu, justru mayoritas beragama Islam taat. Artinya, budaya Budha tidak terlalu melekat, justru peradaban Islam yang mampu berabad-abad melekat dan menyatu dengan masyarakat. Sampai akhirnya membentuk identitas tersendiri.

Sedangkan Islam datang ke Nusantara yang dibawa langsung dari Jazirah Arab telah mengubah pandangan hidup masyarakat secara kuat. Salah satu kontribusi nyata di Nusantara adalah penggunaan bahasa Melayu, sehingga menjadi bahasa pemersatu Nusantara. Ia menjadi lingua franca penduduk Melayu-Indonesia, bahkan sampai kepada daerah Filipina dan Thailand.

Para pendakwah Islam sengaja memilih bahasa Melayu untuk diislamkan. Banyak sekali istilah-istilah bahasa Melayu yang diambil dari bahasa Arab. Misalnya, kata akal, musyawarah, mukadimah, adil, adab, dan lain-lain. Dikenal pula di sini jenis tulisan Arab-Melayu yang sering disebut tulisan Pegon (pego). Jenis tulisan ini populer di pesantren tradisional yang diajarkan berabad-abad lamanya, sejak kedatangan Islam. Namun sayang, jenis tulisan ini tidak lagi populer di Indonesia –hanya dikenal oleh anak-anak Pesantren. Tapi di Malaysia masih digunakan dalam tulisan-tulisan di ruang publik.

Pengislaman bahasa ini berlanjut kepada pengislaman konsep-konsep kehidupan masyarakat Melayu-Nusantara. Sehingga sedari dulu, bahasa Melayu identik dengan Islam. Para mubaligh Arab juga mengenalnya sebagai salah satu bahasa dunia Islam waktu itu, bahkan tercatat sebagai bahasa Islam nomor dua terbesar setelah bahasa Arab.

Kehadiran Islam berlangsung sistematis, gradual dan terencana, tanpa kekerasan. Revolusi besar kebudayaan Melayu-Indonesia menjadi Islam melalui tradisi keilmuan. Dari abad ke-15 sampai ke-17 Melayu-Indonesia mengesankan perubahan pemikiran dalam pandangan hidupnya (worldview), yang melahirkan filsuf, ulama’ dan pemikir tingkat internasional dengan karya-karya yang berbobot. Dalam catatan al Attas, Islam di Nusantara ini hadir sejak lama, sejak zaman kekhalifaan Islam abad ke-7. Islam lebih mudah diterima karena pendekatannya kepada masyarakat bawah cukup hangat.

Selain itu, kebudayaan Islam melahirkan corak berpikir rasional tidak mitologis, filosofis tidak animis -- serta membekas dalam benak masyarakat baik kaum elit bangsawan maupun rakyat jelata. Semangat rasionalisme dan intelektualisme inilah yang menarik minat semua kalangan, bahkan kalangan istana dan keraton pun –yang telah lama dalam budaya Hindu. Maka, di sinilah strategi pendakwah Islam kita lihat banyak yang menikah dengan putri-putri raja.

Risalah-risalah tentang metafisika dan falsafah begitu mudah ditulis oleh pendakwah Islam untuk dinikmati kalangan umum. Oleh sebab itu, karya sastra Melayu-Islam, seperti yang populer di Aceh dan tanah Jawa, tidak berdasarkan mitos dan dongeng tapi lebih bersifat saintifik, serius dan ilmiah. Inilah salah satu kunci kenapa Islam mudah diterima masyarakat Melayu. Namun, ketika penjajah Belanda dan Inggris datang, kebudayaan seperti ini berusaha ditutup-tutupi perannya.

Belanda juga membuat rekayasa sejarah Indian-centris. Dipopulerkan bahwa, tidak saja kebudayaan Nusantara ini Hindu dari India, tapi juga berlanjut bahwa Islam juga di bawah oleh pendakwah dari Gujarat India. Al Attas membantah teori Indian-centris ini.

Dalam penelitian al Attas, Islam datang langsung dari Arab. Memang benar bahwa sebagian mubaligh yang datang itu datang melalui India. Namun harap dicatat, mereka di India hanya mampir setelah berangkat dari tanah Arab. Seperti seorang keturunan kedelapan Sayyid Ahmad bin Isa al Muhajir (leluhur para habaib di Hadramaut), Sayyid Abdul Malik bin Alwi pindah ke India. Dan menikah dengan putri raja India. Mereka asli berdarah Arab, bukan India. Salah satu cucu Abdul Malik bernama Jamaluddin al-Husein atau terkenal Jumadil Kubro hijrah ke Nusantara yang kemudian menurunkan para Wali Songo (Faris Khoirul Anam, al Imam al Muhajir Ahmad bin Isa Leluhur Walisongo dan Habaib di Indonesia, hal.132).

Sebagaimana mereka juga ada yang singgah di Persi dan China selatan. Tempat-tempat tersebut merupakan tempat singgah saja. Persi waktu itu juga masih mayoritas Sunni. Jadi ini sekaligus membantah teori bahwa Islam dibawa mubaligh Syiah. Begitu pula karya cipta yang dihasilkan merupakan karya Arab-Islam bukan berbau India.


Jadi, politik Nativisasi Belanda ini bertujuan untuk mempertahankan penjajahan dan mengesankan ketiadaan budaya Islami, rasional dan filosofis di bumi Nusantara. Maka, jika ingin peradaban Nusantara ini berjaya, maka kaum Muslim Melayu-Nusantara harus kembali kepada pandangan hidup Islam, sebagaimana yang telah ditanamkan oleh para muballigh Wali Songo dahulu.

0 komentar:

Post a Comment