Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, November 2, 2016

Buku Saku dari Nabi


Alkisah, tiga sosok santri duduk dengan sikap khusyuk di hadapan pusara Baginda Nabi. Mereka merajut ikrar hendak mengamalkan kitab Bidayatul Hidayah yang baru saja mereka khatamkan. Mereka bertiga adalah Sayyid Abdurrahman bin Musthafa al Aydrus, Sayyid Syekh bin Muhammad al Jufri dan Abdullah bin Muhammad Bagharib.

Niat mereka demikian tulusnya hingga Baginda Nabi berkenan menampakkan diri. Beliau duduk di tengah-tengah mereka dan memberikan wejangan, “Kalian bertiga bakal memperoleh fath (singkapan rahasia ilmu). Wahai Syekh, pergilah ke Malibar! Di sanalah fath-mu. Dan kamu Bagharib, pergilah ke Hadramaut. Fath-mu di sana. Sedang kamu Abdurrahman, pergilah ke Mesir. Fath-mu ada di negeri itu.”

Mereka bertiga menganggukkan kepala sebagai tanda patuh. Hanya saja ada sedikit ganjalan di hati Sayyid Abdurrahman. Dengan sikap sopan, ia mengungkapkan kerisauannya, “Duhai Rasulullah, di Mesir sana ada banyak ulama besar, bagaimana nantinya bila mereka menanyaiku tentang berbagai persoalan agama?”

Baginda Rasulullah memaklumi kegundahan cucunya itu. Beliau kemudian menghadiahi Sayyid Abdurrahman buku saku seraya berpesan, “Segala persoalan yang ada di benak ulama Mesir terangkum dalam buku kecil ini. Apabila kamu mendapat pertanyaan dari mereka, buka saja buku ini!”

Ketiga pemuda berhati mulia itu bergegas berangkat melaksanakan titah Baginda Rasul. Syekh al Jufri bertolak ke Malibar dan Abdullah bin Muhammad Bagharib menuju Hadramaut. Sementara itu Abdurrahman al Aydrus berangkat ke Mesir yang menjadi pusat peradaban Islam kala itu. Di lingkungan al Azhar saja, terdapat 300 ulama bertaraf mufti.

Ia tiba di negeri seribu piramid itu di ujung senja. Tak mau membuang waktu, ia langsung mencari tahu tempat berkumpulnya para ulama. Setelah bertanya, ia memperoleh petunjuk bahwa para ulama sedang ijtima (berkumpul dalam majlis) di kediaman seorang ulama bergelar Syaikhul Islam. Maka ia pun segera mendatangi tempat itu.

Setibanya di rumah Syaikhul Islam, Sayyid Abdurrahman langsung didekap perasaan heran. Ia melihat para tamu di rumah itu ditempatkan sesuai kapasitas ilmunya. Ruangan terdalam diperuntukkan para ulama sufi. Ruangan berikutnya untuk ulama fikih. Ruangan berikutnya lagi untuk ulama ahli bahasa dan sastra. Begitu seterusnya hingga ruangan terluar disediakan untuk masyarakat awam. Penempatan seperti ini diatur sendiri oleh sang pemilik rumah.

Dengan percaya diri Sayyid Abdurrahman langsung masuk ke ruangan paling dalam, yakni tempat para ulama tasawuf. Para pakar tasawuf merasa terusik oleh kehadiran Sayyid Abdurrahman yang mereka anggap sebagai tamu tak diundang.
“Ia bukan termasuk golongan kita!” sindir salah satu dari mereka.
Sayyid Abdurrahman tahu diri. Ia mundur teratur ke ruangan para ulama fikih. Dasar nasib. Di ruangan tersebut, ia mendapatkan perlakuan sama. Dan terus demikian sampai ia terdampar di kelompok orang-orang awam.

Kala adzan maghrib berkumandang, semuanya keluar menuju masjid jami al Azhar. Bukannya segera melaksanakan shalat, mereka bedebat terlebih dulu untuk menentukan siapa yang paling pantas menjadi imam. Syaikhul Islam yang menjadi penengah berkata, “Begini saja. Siapa yang mampu menyebutkan seratus kesunahan takbiratul ihram, dia yang pantas menjadi imam.Begitulah ia memberi keputusan tegas. Semua terdiam mendengar perkataan Syaikhul Islam. Suasana menjadi hening sejenak lantaran masing-masing sibuk memikirkan jawaban.

“Aku bisa!” teriak Sayyid Abdurrahman dari arah belakang. Semuanya kaget sekaligus keheranan oleh teriakan itu. Namun belum lagi keheranan sirna dari wajah mereka, Sayyid Abdurrahman menyebutkan satu per satu kesunnahan takbiratul ihram.

Bibir pemuda itu terus menyebutkan kesunnahan takbiratul ihram hingga menembus angka seratus. Tapi ia tak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan hingga melewati angka dua ratus. Baru ketika akan memasuki angka tiga ratus, Syaikhul Islam buru-buru menghentikan.

“Cukup…cukup, kamulah yang berhak menjadi imam!” ucapnya. Sayid Abdurrahman pun didaulat menjadi imam di depan ulama-ulama berkaliber dunia itu.

Meski demikan, hati para ulama Mesir masih belum puas. Mereka belum mau mengakui keilmuan Sayyid Abdurrahman. Seusai shalat, mereka membuat semacam perhitungan untuk mengukur kealiman anak muda itu. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang rumit kepadanya. Sementara itu Sayyid Abdurrahman tenang-tenang saja. Setiap ada pertanyaan diajukan kepadanya, ia membuka buku saku yang dihadiahkan Baginda Nabi. Jawabannya tentu saja sudah tersedia di situ dengan detail.

Kemampuan Sayyid Abdurrahman  menjawab soal-soal yang sulit dengan buku itu membuat seluruh ulama Mesir jadi penasaran. Buku macam apa yang membuatnya dengan mudah menjawab seluruh pertanyaan yang mereka ajukan? Mereka kemudian meminta Sayyid Abdurrahman  memperlihatkan buku itu. Sayyid Abdurrahman menolak permintaan mereka karena takut buku berharga itu bakal mereka rusak. Karena tak dipenuhi, akhirnya mereka merampas buku itu dari tangan Sayyid Abdurrahman  dengan paksa.

Pada saat itulah sebuah peristiwa mengerikan terjadi. Sayyid Abdurrahman memperoleh hal (kondisi) kewalian yang luar biasa. Perangainya yang tadinya kalem berubah menjadi ganas dan menyeringai. Tangannya menyambar lampu-lampu masjid yang apinya sedang menyala-nyala. Ia memakan lampu-lampu itu dengan lahapnya. Tak hanya itu. Ia kemudian mengambil kitab-kitab dan karpet-karpet yang membentang untuk dimakan juga. Semua orang ketakutan melihat pemandangan itu dan seolah tak percaya. Para ulama Mesir segera mengembalikan buku saku itu kepada Sayyid Abdurrahman dan memohon maaf.

Akan tetapi Sayyid Abdurrahman belum sadar juga. Amarahnya masih membara hingga ia tak merasakan keadaan di sekelilingnya. Baru setelah beberapa lama, ia akhirnya tersadar.
“Apa yang telah kulakukan?” tanyanya keheranan.
“Anda tadi melakukan ini dan itu, akibatnya kita semua kegelapan sekarang,” jawab seseorang.
“Mana buku saku milikku?” tanya Sayyid lagi.
“Ini….” Mereka langsung memberikan buku itu.
Setelah menggenggam kembali buku sakunya, Sayyid Abdurrhman membuka mulut lalu mengeluarkan lampu-lampu yang masih menyala satu per satu dari mulutnya itu.

“Adapun karpet dan kitab-kitab, ambillah di sana!” ucapnya sembari memberi isyarat dengan tangannya.

Peristiwa itu membuka mata para ulama Mesir bahwa Sayyid Abdurrahman bukan orang sembarangan. Ia adalah salah satu orang yang ditunjuk Nabi menjadi khalifah beliau. Mereka akhirnya tunduk dan bersedia menjadi muridnya. Sayyid Abdurrahman al Aydrus wafat di Mesir. Makamnya diberi kubah dan menjadi tempat ziarah kaum muslimin sampai saat ini. 

0 komentar:

Post a Comment