Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Monday, October 10, 2016

Wahsyi bin Harb Sang Tombak Allah

Abu Dasamah, julukan bagi Wahsyi bin Harb yang berasal dari tanah Afrika, tepatnya Habasyah atau  yang biasa dikenal dengan Ethopia. Tubuhnya kekar, tegap dan berkulit hitam khas suku Afrika. Dia adalah budak milik Jubair bin Muth’am yang tewas saat perang Badar di tangan salah satu orang yang paling mulia di antara para sahabat, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib.

Sepeninggal Jubair bin Muth'am, Abu Dasamah diwariskan kepada keponakannya, Hindun bintu Utbah. Tatkala Hindun bintu Utbah mengetahui bahwa pamannya meninggal di tangan Sayyidina Hamzah d, dia langsung menawarkan kemerdekaan bagi Abu Dasamah. Dengan syarat, ia harus membunuh orang yang telah membunuh paman dan saudara-saudara sekaumnya, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib d. Hindun bermaksud untuk membalas dendam. Bukan hanya untuk arwah pamannya saja, tapi juga bagi semua arwah yang lehernya telah tertebas karena pedang Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib d, orang yang terkenal dengan sebutannya asadullah (singa Allah).

Eksekusi Balas Dendam
Di perang Uhud, Sayyidina Hamzah bercucuran darah dan tumbang sebagai syahid. Kejadian itu bermula ketika sebagian pemanah dari kaum muslimin yang ditugaskan oleh Rasulullah untuk berjaga di atas bukit tiba-tiba turun mengambil harta ghanimah (harta rampasan). Mereka terperdaya karena melihat kemenangan sudah berpihak kepada kaum muslimin. Namun, nasib kaum muslimin kali ini kurang beruntung. Ketika kaum kafir Quraisy melihat sebagian sahabat yang berada di atas bukit turun, panglima mereka memutuskan untuk menyerang kaum muslimin dari arah berlawanan. Kaum muslimin yang tidak menyadari akan hal itu kebingungan. Mereka saat itu seakan berada di ambang pintu kekalahan.  

Saat itu, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib d berada di barisan terdepan kaum muslimin. Secara beringas dia membantai kaum Quraisy yang berada di sekelilingnya, bagaikan singa yang haus akan darah mangsanya. Ketika beliau sedang beradu pedang dengan salah satu kafir Quraisy yang bernama Siba’ bin Abdul Uzza, ia mengayunkan pedangnya untuk yang terakhir kali.

Dari kejauhan, Abu Dasamah sudah mencari kesempatan terbaik untuk membunuh sasarannya. Saat ia sudah mengunci sasarannya dengan tepat, tanpa ragu ia melempar tombaknya. Serangan tersebut tepat mengenai dada Sayyidina Hamzah. Tak kuat menahan rasa sakit, sang singa Allah u akhirnya melafadzkan kalimat syahadat, pengiring yang mengantarkannya bertemu dengan Rabnya.

Perang berakhir. Karena tidak mematuhi perintah Nabi, kaum muslimin harus rela menelan kekalahan. Para kafir Quraisy akhirnya berhasil membalikkan keadaan. Kekalahan mereka berubah menjadi sebuah kemenangan. Di dalam perang inilah, sang singa Allah gugur. Paman yang sangat Rasulullah sayangi.

Abu Dasamah sangat gembira. Ia bergegas menemui majikannya untuk memberi kabar bahwa dia telah berhasil membunuh Sayyidina Hamzah. Ia tak sabar untuk menagih janji kepada sang majikan untuk memerdekakannya.  

Tatkala Abu Dasamah memberitahukan kabar tersebut, Hindun tidak semata-mata percaya. Dia meminta untuk segera diantarkan ke tempat Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib d terkapar. Sesampainya di sana, Hindun tersenyum. Ia akhirnya berhasil untuk balas dendam. Dengan penuh rasa benci, Hindun mencabik-cabik dada Sayyidina Hamzah. Tanpa ragu, ia mengambil hati sang singa Allah dan memakannya. Anehnya, dia tak sanggup untuk menelannya. Karena sebenarnya Allah ingin menjaga tubuh suci hambanya dari orang-orang yang keji.

Ketika kabar ini sampai ke telinga Rasulullah, beliau sempat merasakan amarah. Bahkan beliau berniat untuk membalas perlakuan Hindun dengan tiga puluh nyawa orang kafir Quraisy dengan perlakuan yang sama. Namun, karena rasa rahmat beliau yang tinggi, beliau enggan melakukannya. Rasulullah tahu, semua yang ada di muka bumi ini akan binasa. Begitu pula pamannya.

Keislaman Abu Dasamah
Kepergian Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib d masih sangat membekas di hati Rasulullah hingga terjadinya fathul Makkah. Ketika beliau dan para sahabat memasuki kota Makkah, tak ada perlawanan dari kaum kafir Quraisy. Bahkan sebagian dari mereka pergi hijrah ke kota lain. Tak terkecuali Abu Dasamah. Ia memutuskan untuk hijrah ke Thaif.

Meski sudah merdeka dan memiliki tempat tinggal baru, Abu Dasamah masih resah. Ia tetap tidak merasakan keindahan hidup sebagaimana yang ia impikan saat ia masih menjadi budak. Apalagi setelah ia membunuh sang singa Allah. Hari-harinya seakan terus bertambah muram dan kelam.

Setelah beberapa lama menetap di Thaif, Abu Dasamah akhirnya mendapat hidayah dari Allah u. Ia ingin masuk Islam. Mengikuti jejak rekannya dulu, Bilal bin Rabah. Budak yang sudah terlebih dahulu masuk Islam dan selalu terlihat bahagia di kehidupannya sekarang.

Dengan berbekal keberanian, Abu Dasamah pergi menemui Rasulullah untuk menyampaikan keislamannya. Ia ingin melafadzkan dua kalimat syahadat di hadapan beliau secara langsung.
“Apakah engkau yang telah membunuh pamanku Hamzah?” tanya Nabi Muhammad . Pandangannya mengarah pada laki-laki di yang ada di hadapannya.
Dengan sangat gemetar, dia menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.”  
Kemudian, dia menceritakan alasannya membunuh orang mulia yang dikenal sebagai asadullah dalam bertarung. Seketika itu Nabi Muhammad menetaskan air mata karena rindu kepada pamannya. Akhirnya, ia memerintahkan Abu Dasamah untuk tetap menjaga jarak dari beliau. Rasulullah tidak sanggup untuk selalu teringat akan pamannya lagi tiap kali beliau melihat Abu Dasamah.

Hadiah Untuk Rasulullah
Pasca Rasulullah meninggal, banyak dari kaum muslimin yang keluar dari ajaran Islam (murtad). Di antara mereka, ada beberapa orang yang mengaku menjadi nabi palsu seperti Musailamah al Kadzab. Sayyidina Abu Bakar d yang saat itu menjabat sebagai Khalifah kaum muslimin segera mengirim beberapa pasukan untuk memberantas mereka. Abu Bakar juga mengirim pasukan ke kota Yamamah guna memerangi Musailamah al Kadzab.

Abu Dasamah termasuk dari pasukan yang dikirim Khalifah Sayyidina Abu Bakar d ke kota Yamamah. Saat itu, dia bersumpah seraya mengacungkan tombaknya, “Dengan tombak ini aku telah membunuh orang yang paling mulia di antara orang-orang yang mulia. Dengan tombak ini pula aku akan membunuh orang yang paling buruk di antara orang-orang yang buruk.”

Apa yang dia katakan menjadi kenyataan. Tatkala dia melihat Musailamah al Kadzab tengah berada di pertempuran, tanpa pikir panjang ia melemparkan tombaknya. Dengan teknik lemparan tombak khas suku Habasyah, Abu Dasamah berhasil membunuh Musailamah al Kadzab.

Dengan tindakannya kali ini, dia berharap Allah u mengampuni dosanya yang dulu. Karena telah membunuh salah satu orang yang paling berani menegakkan kalimat-Nya, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib d. Sahabat yang bergelar asadullah. Paman Nabi yang paling disayangi. Salah satu sahabat yang paling berani beribadah terang-terangan di dekat Ka’bah meski kaum Quraisy berada di sekelilingnya. Sahabat yang tumbang karena tombaknya sewaktu di perang Uhud. Wallahu A’lam bis Showab.

Sumber:
Faedah keterangan al Ustadz Bahri

Delisufi

0 komentar:

Post a Comment