Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, October 8, 2016

Kriteria Rasional Pemimpin Ideal

          Untuk sampai di garis kepemimpinan, seseorang harus memenuhi syarat dan kriteria tertentu

albashiroh.net Saat kita menengok kembali realita zaman ini, kepemimpinan seakan menjadi bahan rebutan bagi banyak kalangan. Dengan duduk di tampuk kepemimpinan, seakan semua bisa diraih. Memang, menjadi pejabat tinggi dalam lingkup kekuasaan, biasanya tidak lepas dari suatu ambisi. Ini godaan berat bagi mereka di sana. Tidak sedikit dari mereka yang berlomba-lomba mendapatkannya hanya sekadar untuk merasakan singgasana kedudukan. Mendapat beragam keinginan, dihormati banyak kalangan dan ditaati tiap kali mengangkat tangan. Lantas, apakah hal ini memang sebuah wujud dari hak-hak yang dapat dimiliki seorang pemimpin dalam menguasai jabatannya?
Hal-hal yang telah disebutkan di atas adalah gambaran dari bermacam kelebihan yang tersedia bagi para penguasa kedudukan. Maka tidaklah heran jika menjadi kepala daerah, gubernur, walikota, bupati, anggota dewan maupun direktur merupakan impian dan obsesi kebanyakan orang. Dari politikus, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat hingga para artis pun tak segan-segan untuk ikut antri mendaftarkan diri demi menyuarakan nama di pentas kepemimpinan.
Sayangnya, masih ada di antara mereka yang tidak terlebih dahulu bercermin pada diri sendiri, layakkah mereka mendapatkan posisi yang mereka tuju? Dengan sembrono mereka memasuki ruangan kepemimpinan tanpa memikirkan, siapa mereka? Mampukah mereka menempati ruangan tersebut dan berkecimpung di dalamnya?
Parahnya, kebanyakan dari mereka benar-benar tidak mengerti hakikat kepemimpinan.  Bagaimana itu konsep kepemimpinan, syarat-syaratnya, dan kewajibannya. Bahkan banyak dari mereka yang tidak peduli dengan tugas yang akan mereka emban. Tidak menelaah kriteria-kriteria yang mestinya sudah mereka lunasi untuk sampai di terminal kepemimpinan.
Padahal, kepemimpinan bukanlah sekadar kepemilikan jabatan semata. Bukan pula bangku kosong yang perlu diisi seenaknya, menerima siapapun untuk mendudukinya. Kepemimpinan, baik formal maupun informal, hakikatnya sudah diatur dengan jelas oleh syariat Islam. Berbilang ayat dan hadits telah Allah dan Rasulullah jelaskan untuk menyempurnakan jalan kehidupan umat manusia. Bukan hanya untuk umat Islam, melainkan seluruh peradaban manusia yang muncul di atas muka bumi.
Kriteria Rasional
Untuk sampai di garis kepemimpinan, seseorang harus memenuhi syarat dan kriteria tertentu. Kepemimpinan yang notabenenya merupakan perkara wajib untuk ditegakkan, tidak semudah itu dapat dijabat oleh siapa saja. Bahkan Sayyiduna Abu Bakar, awalnya enggan untuk mengemban amanat memimpin umat yang baru saja kehilangan sosok Rasulullah. Lalu, bagaimana hal tersebut diperebutkan oleh orang-orang yang baru saja pandai mengenakan dasi?
Salah satu syarat kepemimpinan yang sangat rasional adalah iman dan takwa kepada Allah. Ketika seorang hamba telah bertakwa kepada Allah, maka hal itu menjadi tolak ukur bagi hamba tersebut dalam bertindak atas kepemimpinannya. Karena ketakwaan adalah sebuah gambaran jelas bagaimana seorang hamba mengemban amanah. Dalam terminologinya, takwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Maka, dapatkah kita mempercayakan urusan kepemimpinan yang tidak remeh ini kepada orang yang dalam hal bertakwa saja tidak paham?
Haruskah kita mengecek kartu identitas masing-masing untuk mengingat bahwa negara yang kita huni adalah Indonesia? Negara ini dibangun di atas asas ketuhanan yang Maha Esa, dihuni oleh ribuan juta umat muslim dan mendapat gelar sebagai negara dengan penganut agama Islam terbanyak. Lantas, masih terlalu sulitkah bagi kita untuk mencari sosok pemimpin dari kaum muslim?

0 komentar:

Post a Comment