Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, October 20, 2016

Ekspedisi Ta Shih Awal Penyebaran Yisilan Jiao di Negeri Tirai Bambu


       Cina, sebuah negeri dengan peradaban yang berkembang pesat. Bahkan Rasulullah pernah menyeru pada kaum muslim untuk menuntut ilmu di negeri ini dalam salah satu sabdanya. Betapa tidak? Begitu memasuki negeri ini, kita akan melihat betapa indah sebuah kedamaian, sifat kepedulian dan moralitas yang tinggi. Itulah yang membuat peradaban di negeri ini dapat berkembang dengan baik.

        Yisilan Jiao, sebuah istilah yang digunakan masyarakat CIna untuk menyebut agama Islam. Sebagian dari mereka mempercayai bahwa Yisilan Jiao adalah sebuah agama yang sesuai dengan peradaban mereka. Mengajarkan perdamaian, moral yang baik juga sifat kepedulian sosial. Oleh karenanya, ajaran ini mudah diterima oleh sebagian masyarakat pada waktu itu.

         Pada tahun kedua pemerintahan kaisar Yuang Way dari Dinasti Tang (31H/651M), 15 delegasi muslim yang diutus oleh Khalifah Usman bin Affan berhasil mendarat di Kanton (sekarang Guang Zhou). Kemudian meneruskan perjalanan hingga mereka sampai di ibukota Shang An (sekarang Sian). Dalam ekspedisi Ta shih ini, mereka datang ke Cina membawa misi diplomatik. Sang Kaisar pun datang dan menyambut mereka dengan hangat. Bahkan, mereka diijinkan untuk membangun sebuah tempat peribadatan. Masjid pertama yang menjulang di bumi Guang Zhou.

         Di akhir pemerintahan Dinasti Tang, tercatat bahwa orang asing yang menetap di Cina pada saat itu mencapai 120.000 orang. Delapan puluh persen berasal dari Arab muslim, selebihnya merupakan imigran Persia, Nasrani dan Yahudi. Karena melonjaknya populasi muslim pada abad kedelapan, kaum muslim Cina (dikenal dengan sebutan Hui) mendapatkan hak untuk memilih pemimpin dan mengatur wilayah mereka sendiri.

         Hubungan antara Islam dan Cina di masa Dinasti Umayyah hingga Dinasti Abbasiyah berlangsung dengan ramah dan hangat. Baik melalui jalur perdagangan laut, darat (jalur sutera) maupun hubungan pernikahan dengan suku etnis lokal.

Banyak suku Han (imigran Arab) maupun dari Persia yang memasuki pelosok negeri tirai bambu ini. Mereka menikah dengan suku asli Hui, dan membentuk sebuah komunitas muslim di sana. Akhirnya, suku Hui Chi resmi menjadi suku pertama di Cina yang memeluk Islam.

       Yisilan Jiao semakin menyebar luas. Setelah mayoritas dari suku Hui Chi memeluk agama Islam, mereka semakin giat mengenalkan ajaran murni itu kepada sanak saudara. Berbeda lagi dengan Kanton. Kota itulah yang menjadi gerbang masuk Yisilan Jiao. Mayoritas pedagang Arab maupun Persia yang menggunakan jalur laut pasti singgah di sana. Tak berbeda dengan muslim di Suku Hui Chi, mereka juga menikahi wanita-wanita pesisir dan membangun keluarga muslim di sana. Memberikan dukungan demografik yang kuat kepada komunitas muslim pertama di Cina. Sementara sebagian muslim lainnya menyebarkan Islam hingga sampai di Hung Chu, garis pantai sebelah utara Cina.

        Selain menyebarkan ajaran Yisilan Jiao, pengembara-pengembara muslim dari Kanton juga membangun masjid dan sekolah-sekolah di setiap daerah yang disinggahi. Namun tujuh tahun setelah penyebaran Yisilan Jiao, sejumlah pemberontak negara membakar kota hingga menewaskan 100.000 muslim. Kekaisaran Dinasti Tang juga runtuh pada tahun itu, hingga Dinasti Siung mengambil alih pemerintahan.

       Malapetaka itu tidak menjadikan Islam surut. Justru di awal pemerintahan Dinasti Siung, sebanyak 86 delegasi khalifah diutus kembali oleh khalifah yang menjabat saat itu. Selain menjalankan hubungan diplomatik, mereka juga membawa misi keagamaan. Di tahun itu juga, para imigran muslim semakin bertambah. Mereka singgah di kota-kota satelit yang berada di dekat pelabuhan. Tak hanya itu, mereka juga membangun sebuah komunitas muslim hingga sang Kaisar memberikan hak preogratif untuk memilih pemimpin dan menentukan kebijakan-kebijakan di wilayah mereka sendiri. Seperti yang sebelumnya pernah dilakukan oleh Dinasti Tang terhadap Hui.

          Eksistensi Islam dan Tiongkok di masa pemerintahan Mongol semakin kokoh. Dinasti Yuan banyak memberdayakan Hui (muslim Cina) dalam pemerintahan maupun militer. Salah satunya adalah Saidian Chi (Say Dian Chih/Sayyid Shini/Sayyid Syamsuddin), seorang muslim yang menempati posisi strategis pemerintahan sebagai gubernur di Yunnan. Pada tahun itu juga, muslim Arab dan Persia semakin menyebar luas di daratan Cina.

Semakin tahun, Yisilan Jiao semakin dihormati dan dimuliakan. Sebanyak 5.500 muslim dari Bukhara (sebuah kota di Asia Tengah) didatangkan oleh kaisar Dinasti Song  untuk tinggal di sebelah utara Beijing. Semua itu tak lain karena kesetiaan dan pengabdian pejuang muslim terhadap pemerintahan saat itu.

           Bangsa Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Hui yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek muslim juga membantu mendesain ibukota Dinasti Yuan, Khanbaliq.

Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada tahun 1388, Lan sebagai pemimpin pasukan dari Dinasti Ming berhasil menaklukkan Mongolia. Tak lama setelah itu, muncullah Laksamana Cheng Ho. Seorang pelaut muslim yang handal.

Pemerintahan beralih ke tangan Dinasti Ming (1368-1644). Pada masa itulah Islam mencapai puncak kejayaannya. Ibrahim Tien Ying Ma (pengamat sejarah Islam di Tiongkok) menyebutkan bahwa istri kaisar pertama Dinasti Ming adalah seorang muslimah yang bernama Ratu Ma (Ma merupakan nama keluarga muslim yang diambil dari kata Muhammad). Empat dari enam panglima pendukung proses revolusi yang melahirkan Dinasti Ming juga merupakan panglima-panglima muslim. Ia juga berargumen bahwa kaisar pertama Dinasti Ming, Chu Yuan Chang dan kaisar-kaisar Ming berikutnya menganut agama Islam. Walaupun mereka tidak menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.

Kejayaan umat Islam berakhir dengan masuknya paham komunis di awal tahun 1955. Di era ini, Islam banyak mengalami kemunduran. Tak hanya itu, muslim Cina juga mendapatkan berbagai tekanan dari para pendukung komunisme. Masjid-masjid dibakar, para imamnya juga disingkirkan oleh pemerintah komunis. Hingga hal itu membuahkan Reformasi Keagamaan (1958) dan Revolusi Kebudayaan (1966-1976).

          Menurut para sejarawan, hanya delapan masjid di provinsi Qinghai yang tersisa akibat Reformasi Keagamaan. Padahal sebelumnya berjumlah 931 masjid. Jumlah imam dan staf keagamaan di masjid-masjid pun tinggal 12 orang setelah tahun 1958. Dari sebelumnya yang berjumlah 5940 orang. Pada masa Revolusi Kebudayaan, masjid dan para imam di provinsi tersebut sama sekali tidak tersisa. Pelaksanaan kewajiban Islam seperti shalat lima waktu dan pergi haji tidak diizinkan. Hal inilah yang menjadi sebab muslim Cina mengalami keterputusan hubungan dengan negeri-negeri Muslim lainnya dan menjadikan generasi muda mereka mengalami kesenjangan dalam pemahaman Islam.

          Walaupun terjadi berulang kali kecaman dari rezim pemerintahan pada kaum muslim, tidak berarti semangat dakwah mereka terkikis habis. Karena mereka yakin bahwa Islam telah hadir sejak awal di Cina dan telah menjadi bagian integral serta memberikan kontribusi yang sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, Islam kembali berkembang pesat. Hingga saat ini, banyak masjid-masjid menjulang di dataran Cina. Keyakinan mereka serta kebebasan dalam menjalankan kewajiban keagamaan dilindungi oleh undang-undang.

L_Muhajir

Referensi :
1.       Tien Ying Ma, Ibrahim, Perkembangan Islam di Tiongkok (diterjemahkan oleh Joesoef Sou’yb), Jakarta: Bulan Bintang, hlm. 24-27.
2.       Liu Baojun, loc.cit., hlm. 6-7.


0 komentar:

Post a Comment