Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, May 4, 2016

Sayyidah Zainab binti Jahsy Ibunda Pelindung Dhuafa

       
             Kejahilan merajalela. Semua orang menyembah berhala yang sama sekali tidak berbicara maupun bernyawa. Hati mereka dalam kegelapan yang tidak akan bisa terang kecuali dengan hati yang suci, yang menerangi mereka ke jalan yang benar. Sayyidah Zainab binti Jahsy  adalah salah satu wanita yang memiliki hati suci itu. Ia tidak pernah sekalipun menyembah apa yang kebanyakan orang lain sembah. Hanya satu yang ia percaya. Tuhan, pencipta seluruh alam semesta. Tidak ada yang lain. Kepercayaan itu mengantarkannya menuju cahaya yang terang benderang yaitu Islam.

              Sayyidah Zainab binti Jahsy  adalah wanita dengan paras cantik jelita. Dilahirkan di kota Makkah sekitar 33 tahun sebelum Rasulullah  diutus menjadi Nabi. Nasabnya sangat mulia karena ia adalah sepupu Baginda Muhammad . Bibinya bernama Umaimah binti Abdul Muthalib, saudara perempuan dari ayah Rasul , Abdullah bin Abdul Muthalib. Ia mempunyai dua saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan. Saudara pertamanya bernama Abdullah bin Jahsy . Ia adalah laki-laki pertama yang mendapat gelar Amirul Mu’minin dan memimpin pasukan Islam sekaligus penyandang predikat orang pertama yang mati syahid di jalan Allah . Saudara laki-laki yang kedua bernama Abu Ahmad bin Jahsy . Ia adalah seorang penyair pembela islam. Dan saudara perempuannya bernama Hamnah bin Jahsy . Ia adalah orang yang selalu setia bersamanya, menemani di kala sedih dan senang. Termasuk generasi yang pertama kali memeluk agama Islam.

           Lambat laun, kecintaan Zainab binti Jahsy kepada Islam semakin dalam. Lebih dalam dari laut. Cinta itu mengantarkannya kepada indahnya bermunajat. Di kala sepi ataupun ramai, hatinya hanya tertuju kepada satu. Allah.

               Kehidupan di Makkah tidaklah seindah yang ia bayangkan. Ia senantiasa mendapatkan siksaan dari kaum kafir. Siksaan yang amat pedih. Mereka menyiksanya hanya untuk satu tujuan, mengajaknya kembali ke dalam agama kakek moyang terdahulu. Namun, ia menolak. Hati dan jiwanya sepakat untuk tidak kembali ke agama yang tidak benar itu.

                Ketika datang perintah Rasulullah  untuk hijrah ke Madinah, Zainab binti Jahsy  beserta keluarganya pun pergi ke Madinah. Selama di sana, ia diperlakukan layaknya ratu melebihi wanita-wanita pada umumnya. Hal ini disebabkan karena ia sering bershadaqah. Membagikan harta-harta yang ia punya dari hasil kerja keras sendiri untuk orang-orang di sekitarnya. Ia rela membagikan semua itu semata-mata mengharap ridha Allah.

                Setelah beberapa waktu berlalu, ia diperintahkan untuk menikah dengan Zaid bin Haritsah , mantan budak Rasulullah yang sekaligus dianggap sebagai anak angkat. Tentu, Zainab binti Jahsy tidak menerima pernikahan ini. Kedudukannya tinggi. Berbeda jauh dengan Zaid.
Seperti itulah adat kebiasaan Jahiliyah, menikahkan anak mereka dengan orang yang memiliki kedudukan yang sama. Namun Allah ingin menghapus adat buruk tersebut. Maka, Rasulullah diperintahkan untuk menikahkan sepupunya tersebut dengan Zaid.

                Setelah beberapa kali penolakan, akhirnya ia menerima lamaran itu. Dalam hal ini, Allah  menurunkan wahyuNya kepada Rasullullah yang artinya, “Dan tidaklah sepatutnya bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia benar-benar telah sesat, sesat yang nyata (al-Ahzab: 36).”  Zainab binti Jahsy akhirnya menikah dengan Zaid bin Haritsah .

                Beberapa waktu berlalu. Hubungan keluarga Zainab binti Jahsy dengan Zaid bin Haritsah mulai kacau. Banyak terjadi masalah yang tak bisa mereka selesaikan. Pada suatu waktu, Zaid bin Haritsah mengadukan permasalahan keluarganya kepada Rasulullah . Beliau menjawab, “Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Tidak hanya sekali Zaid mengadukan masalah keluarganya. Akan tetapi, jawaban Rasulullah tidak berubah.

                Hari terus berganti. Masalah Zainab binti Jahsy dengan suaminya semakin memuncak. Mereka sudah tidak mampu lagi untuk mempertahankan ikatan suci yang mengikat mereka. Turunlah perintah dari Allah kepada Rasul untuk memberitahu Zaid agar segera menceraikan istrinya. Kemudian, Rasulullah r juga diperintah untuk melamar Zainab binti Jahsy sesegera mungkin setelah masa iddahnya selesai.

                Mendengar hal ini, perasaan Zainab sangat senang. Keinginan yang sejak dulu ia pendam untuk menjadi pendamping Rasulullah  menjadi kenyataan. Terlebih lagi, perintah Allah  dalam pernikahan mereka  datang dari atas tujuh lapis langit.

                Hal ini sebagaimana yang Zainab katakan kepada istri Nabi yang lain seraya membanggakan dirinya, “Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian. Sedangkan Aku dinikahkan oleh Allah Ta’ala dari tujuh lapis langit.”

Ibunda Pelindung Dhuafa
                Sayyidah Zainab bintu Jahsy bukanlah orang yang kaya. Ia hanya memiliki sedikit harta yang cukup untuk kebutuhan makannya sehari-hari. Meski begitu, ia tetap berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Setiap harinya, ia bekerja sebagai penyamak kulit, kemudian menjahitnya menjadi alat-alat tertentu dan menjualnya ke pasar. Sebagian besar dari penghasilannya ia sumbangkan ke jalan Allah. Semua itu ia lakukan karena rasa cintanya dalam melaksanakan perintahNya yang mulia.

                Diceritakan dari Sayyidah Aisyah , bahwasanya Rasulullah pernah memberi kabar kepada istri-istrinya dengan sabda yang berbunyi, “Akan segera menyusulku (meninggal dunia) orang yang paling panjang tangannya di antara kalian (istri-istri Nabi ).”

                Sayyidah Aisyah berkata, “Selepas Rasulullah meninggal dunia, jika kami berkumpul, maka kami sering menjulurkan tangan masing-masing untuk mengukur tangan siapa yang paling panjang. Kami sering melakukan itu sampai Zainab wafat. Padahal, ia memiliki postur tubuh yang pendek dan tentunya tangan yang tidak lebih pendek daripada kami. Saat itu kami menyadari, yang dimaksud dari tangan panjang itu adalah orang yang banyak bershadaqah. “

                Lebih istimewanya lagi, ia sama sekali tidak pernah mau menerima hadiah walaupun dari maksud yang baik. Jika tetap memaksa memberi, maka ia akan membagikan hadiah itu kepada keluarga terdekatnya yang membutuhkan. Ibnu Sa’ad meriwayatkan, ketika Zainab menerima tunjangan, ia berkata, “Ya Allah, jangan sampai Aku menerima tunjangan harta ini lagi di masa yang akan datang. Karena ini adalah fitnah.” Kemudian ia membagikan kepada kerabat dan orang-orang terdekatnya yang membutuhkan, sehingga ia sendiri tidak memiliki apa-apa.

                Mendengar hal ini, Umar berkata, “Wanita seperti inilah yang harus diberikan tunjangan lebih banyak lagi.” Lalu Umar pergi ke rumah Zainab dan berdiri di depan pintu. Melalui pembantunya, ia menyampaikan salam dan berkata, “Aku telah mendengar bahwa engkau membagikan harta tunjangan yang kukirimkan sebelumnya.” Setelah itu, ia mengirimkan lagi seribu dirham untuk menjadi bekalnya sehari-hari. Akan tetapi, Zainab membagikan hartanya lagi seperti pemberian Umar sebelumnya.

                Bukti lain yang menunjukkan  sifat zuhudnya adalah riwayat Ibnu Sa’ad dalam kitabnya, ath Thabaqaat, “Ketika meninggal dunia, Zainab binti Jahsy tidak meninggalkan sedikit pun warisan meski hanya satu dirham. Hal itu karena ia telah bersedekah dengan semua harta yang dimilkinya. Zainab adalah tempat berlindung bagi orang-orang miskin dan dhuafa.”

Kepergiannya
                Pada tahun 20 H (bertepatan dengan tahun 641 M), Sayyidah Zainab binti Jahsy akhirnya tutup usia. Rasa rindu yang terlalu dalam membuat hamba yang satu ini cepat menemui ajalnya.
            Tak ada kata yang bisa diucapkan untuk mengakhiri kisahnya. Sosok yang sempurna pada dirinya tidak mudah tertuliskan. Rasulullah berkata kepadanya:

                “Sesungguhnya dirimu sangat istimewa dalam tiga hal yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari istri-istriku yang lain; kakekku dan kakekmu sama, Allah yang menikahkanku denganmu dari langit, dan Jibril menjadi perantaranya.” 

0 komentar:

Post a Comment