Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, April 14, 2016

Pemanfaatan Ulang Alternatif Feses

Sebagai seorang mukmin, sepatutnya kita tidak boleh sedikitpun beranggapan bahwa Allah telah menciptakan suatu hal yang sia-sia di antara makhluk-Nya. Karena Dia adalah Sang Khaliq dan Maha sempurna. Tidak mungkin menciptakan sedikitpun kekurangan pada ciptaan-Nya. Meskipun terkadang panca indra kita tidak dapat memahami makna yang tersirat di dalam semua kehendak-Nya.

 Feses adalah salah satu hal yang sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Sisa metabolisme manusia ini nyatanya bisa diolah kembali hingga menjadi salah satu energi alternatif yang efektif, yang biasa dikenal dengan biogas.

Biogas merupakan suatu campuran gas yang dihasilkan dari suatu proses penguraian bahan organik oleh bakteri dalam keadaan tanpa oksigen (Prihandana & Hendroko 2008). Manusia mulai memanfaatkan biogas pada zaman Mesir kuno. Kebudayaan Mesir kuno diketahui telah menggunakan biogas alami dengan cara pembakaran untuk menghasilkan panas. Fenomena serupa juga dijumpai pada kebudayaan Roma dan Cina kuno.

Seiring berjalannya zaman, muncul penelitian bahwa biogas merupakan gas methana. Fakta tersebut terbukti pada tahun 1770, oleh ilmuan bernama Volta melalui penelitiannya terhadap biogas yang keluar dari rawa-rawa. Selanjutnya, pada tahun 1884 seorang ilmuan bernama Pasteour melakukan penelitian tentang biogas dengan menggunakan mediasi kotoran hewan. Dari era inilah yang menjadi patokan berkembangnya biogas pada masa-masa berikutnya.

Menginjak abad ke-21, kesadaran akan perlunya energi alternatif pengganti energi fosil semakin meningkat. Beberapa negara mulai menggalakkan energi baru terbarukan, seperti biogas. Bahkan negara adidaya seperti Amerika pun menaruh perhatian besar dalam pengembangan biogas. Hal itu diwujudkan dengan pemberian dana dari departemen energi AS sebesar US$ 2,5 juta untuk pengembangan biogas di California. Namun, Indonesia baru mengenal pemanfaatan biogas pada tahun 1970-an. Nyatanya negara ini baru menerima perhatian lebih dari pemerintah pada tahun 2006 yang ditandai dengan keluarnya peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) untuk menyelesaikan masalah krisis energi yang terjadi di Indonesia.  

Pada awalnya, teknologi pengolahan limbah ini hanya dikembangkan di pedesaan saja, seperti yang terjadi di desa Haurngombong, Sumedang. Sejak tahun 2000-an, telah dikembangkan reaktor biogas skala kecil (rumah tangga) dengan konstruksi sederhana yang terbuat dari plastik secara siap pasang dan dengan harga yang relatif murah.

Salah satu upaya pemerintah dalam mengembangkan teknologi biogas adalah dengan cara merangkul pondok pesantren sebagai mitra kerja sebagai percontohan pengolahan tinja menjadi energi listrik. Bahkan pada tahun 2015 ada lima belas pesantren di seluruh indonesia yang menggunakan biogas sebagai penghasil listrik. Sebagaimana pernyataan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana saat kunjungannya ke Cirebon, Jawa Barat.

Pesantren-pesantren yang diajak dan didanai oleh pemerintah adalah beberapa pesantren yang telah memenuhi syarat sebagai penghasil biogas yang stabil dan memadai. Adapun syarat utama yang harus dipenuhi oleh pesantren untuk direkrut adalah santri yang berjumlah minimal 500 orang, agar dapat menghasilkan biogas yang optimal.

Pemanfaatan biogas sebagai energi alternatif ternyata memiliki dampak yang cukup signifikan dalam menghemat pengeluaran bahan bakar. Seperti yang terjadi pada Pondok Pesantren Darul Quran. Pihak pengelola pesantren mengaku bahwa setelah memasang teknologi pengolahan limbah manusia, hal tersebut telah menghemat pengeluaran sebesar Rp 2,5 juta per bulan untuk pembelian bahan bakar. Sementara itu pihak pesantren juga mendapat keuntungan dari lahan pertanian di sekitar lokasi pesantren karena limbah cair sisa pengolahan bisa dipakai untuk pupuk pertanian. Pihak pesantren menyatakan bahwa nilai jual pertanian mereka mencapai Rp 1,6 juta per bulan.

Menurut Abdul Kholiq, peneliti Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang, menyatakan bahwa dari 3.000 kepala keluarga di perkotaan, dapat dihasilkan 225 meter kubik biogas atau setara dengan 103,5 kg elpiji setiap hari. Senilai dengan elpiji yang dapat digunakan untuk memasak 207 keluarga. Sementara perolehan hasil listrik dari biogas murni (mendekati kandungan CH4 100 %) di Pondok Pesantren Riyadhul Ulum di Condong Cibeureum, Tasikmalaya bisa menggerakkan genset Bio Elektrik 1000 watt secara terus menerus selama empat hingga lima jam atau setara dengan 5 KWH (kilo watt hour). Ketika digunakan pada kompor, biogas murni sebanyak itu bisa menyalakan kompor lebih dari tujuh jam.

Untuk mengolah feses menjadi gas, maka tinja harus ditampung dalam tempat khusus yang kedap oksigen. Proses pembuatan gas biasanya memakan waktu dua minggu. Setelah itu, biogas dijadikan bahan bakar untuk menggerakkan generator listrik untuk menghasilkan energi.

Bukan hanya penghematan biaya, kita juga dapat membuat lingkungan yang lebih bersih dan bebas bau dengan pengolahan biogas. Karena kita bisa memanfaatkan sesuatu yang seharusnya mengotori lingkungan dan mengurangi kumungkinan tercemarnya air tanah.

Selain itu, kita juga bisa mengurangi pengeluaran biaya sedot WC yang biasanya kita lakukan sebulan sekali. Serta menghindari kelebihan penumpukan kotoran dalam septic tank yang bisa menyebabkan polusi udara karena penyebaran bau tidak sedap.

       Bukan hanya menghasilkan listrik, limbah sisa pengolahan biogas juga bisa kita daur ulang menjadi pupuk organik untuk sawah maupun pupuk kolam. Sehingga kita tidak lagi membuang langsung material kuning langsung ke ikan, melainkan zat yang berfungsi menghidupkan jasad renik dan plankton yang merupakan mangsa alami terbaik bagi ikan. Jadi, rasa ikan dari kolam menjadi lebih higienis dan lezat.

0 komentar:

Post a Comment