Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, April 13, 2016

KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh Pengukir Sejarah Dari Kajen

Sosoknya sederhana. Terpancar dari wajahnya aura ketenangan dan kelembutan budi pekerti. Pengetahuan dan wawasannya luas, sebab ia bersahabat dengan tulisan-tulisan dan kitab-kitab klasik maupun modern. Beliau adalah KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, ulama kontemporer yang berasal dari Kajen.

KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1937 M di desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Kajen merupakan desa para santri. Tidak kurang dari tiga puluh pesantren yang berdiri gagah di desa tersebut. Tidak hanya santri, ulama besar yang terlahir di desa itu juga tak kalah banyak. Salah satunya adalah ayahanda Kyai Sahal sendiri, yaitu KH. Mahfudh bin Abdussalam, ulama kharismatik di zamannya.

Desa Kajen merupakan pusat perkembangan Islam di daerah Pati sejak abad ke-18. Hal itu karena di desa ini tinggal seorang ulama yang terkenal dengan kealiman dan kewaliannya, yaitu Syekh Ahmad Mutamakkin. Ulama berpengaruh dalam penyebaran Islam di tanah Jawa pada masanya.
   
Masa Menimba Ilmu
Sejak kecil Kyai Sahal dibesarkan di lingkungan yang subur dengan ilmu. Sang ayah sangat tegas dan lugas dalam memberikan pendidikan kepada Kyai Sahal terutama dalam pendidikan agama. Mulai dari pendidikan tauhid, al Quran, akhlak, fiqih dan ilmu agama lainnya. Begitu pula pada pendidikan formalnya. Setelah menyelesaikan pendidikan Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Perguruan Islam Matholiul Falah, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke pesantren Bendo yang berada di Pare, Kediri, Jawa Timur. Di bawah asuhan Kyai Muhajir, Kyai Sahal mengaji khusus untuk mendalami ilmu tasawuf dan fiqih.

Beliau merupakan sosok yang selalu haus terhadap ilmu. Setelah beberapa waktu di Kediri, beliau melanjutkan perantauannya dalam menuntut ilmu ke pondok pesantren Sarang, tepatnya di daerah Rembang, Jawa Tengah. Di bawah bimbingan KH. Zubair, beliau fokus untuk mempelajari ilmu balaghah, ushul dan fiqih. Selain mengaji kepada KH. Zubair, beliau juga diberi mandat untuk  mengajar para santri yang kelasnya lebih rendah dari beliau.  Kyai Zubair menganggap bahwa Kyai Sahal muda sudah cukup alim untuk mengajar.

Sekitar tahun 1960, beliau diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Seusai melaksanakan kewajiban mulia tersebut, beliau memutuskan untuk menetap di Makkah, dalam rangka menuntut ilmu. Selama di Makkah, Kyai Sahal belajar kepada beberapa ulama ternama Hijaz. Salah satu guru besar beliau ketika belajar di Makkah ialah Musnidud Dunya Syaikh Muhammad Yasin al Fadani. Kurang lebih tiga tahun lamanya beliau berada di Makkah, kemudian beliau pulang ke tanah air untuk mengajarkan ilmunya kepada para santri yang berada di pesantren peninggalan sang ayah.

Kiprah Kyai Sahal sebagai pejuang ilmu sangat berpengaruh di berbagai lini di tanah air tercinta. Mulai dari tingkat kemasyarakatan hingga tingkat kenegaraan. Sosok religius ini seolah pelita, menjadi penerang gelapnya kenestapaan hidup di dunia. Semua kelebihan yang beliau sandang, keluasan pengetahuan dan wawasan serta kebijaksanaan yang tercermin dari sosok yang rendah hati dalam mengayomi masyarakat tidak terlepas dari bimbingan sang murabbi, KH. Abdullah Salam, paman sekaligus guru suluk yang menuntun kehidupan Kyai Sahal menuju kehidupan yang lebih baik. Kehidupan antar sesama manusia maupun terhadap sang Pencipta.

Kiprah dan Sepak Terjang Beliau
Ciri khas seorang ulama yaitu ilmu yang mapan dan akhlak yang mulia. Sebagaimana hal itu tercermin dari diri KH. Sahal Mahfudh, ciri tersebut indah mengiringi perjalanan hidup beliau kemanapun beliau singgah. Mengedepankan kasih sayang dan bijaksana dalam memutuskan sesuatu terhadap keluarga, saudara, santri, masyarakat hingga pejabat. Begitu pula sikap moderat yang sering beliau junjung tinggi di tengah hiruk-pikuk kerasnya arus kehidupan. Beliau juga berusaha menetralkan keadaan dan mendinginkan konflik yang muncul di antara umat.

Perhatian beliau kepada umat melebihi perhatian beliau kepada keluarga. Hal itu terbukti dari kiprah beliau sebagai pejuang ilmu. Tidak bosan melayani keperluan umat dalam konten keagamaan serta menyerahkan pemikiran cemerlangnya untuk  kemajuan bangsa.  Beliau juga tak kenal lelah dalam mengajar. Hingga pada saat beliau mendekati ajal, beliau sempat mengajar para santri meski dalam keadaan sakit parah. 

Walaupun beliau terlahir dari keluarga santri tulen, namun hal itu tidak menghalangi beliau untuk berwirausaha. Pada tahun 1997, beliau mendirikan Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPR Arta Huda Abadi). Lembaga ini didirikan sebagai naungan bagi masyarakat kecil yang butuh modal untuk usaha yang kemudian dikembangkan bersama. Sampai saat ini, lembaga tersebut bertambah maju dan berkembang. Dampak positifnya, masyarakat yang berada di sekitar pesantren bisa berwirausaha dan tidak lagi menganggur atau mencari pekerjaan dengan sulit.

Tidak hanya kedalaman ilmu fiqih serta kematangan ilmu ushul yang terpatri dalam diri Kyai Sahal, beliau juga seorang pemikir yang aktif menulis. Beliau sering menuangkan wacana dan opininya ke dalam bentuk tulisan, baik berupa artikel maupun makalah berbahasa Arab dan Indonesia. Beliau juga aktif mengisi rubrik religi di majalah AULA (1988-1990). Kolumnis tetap di Harian Suara Merdeka Semarang (1991-2014) dan aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap masyarakat.

Kiprah beliau di dalam organisasi bisa dibilang sangat diandalkan, melihat kepada bakti beliau  di saat menjabat sebagai Rais Aam Syuriah (pengurus besar) Nahdlatul Ulama (1999-2009) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada masa khidmah 2000-2010. Di samping itu, beliau juga menjadi seorang pengajar. Beliau menjadi Rektor Institut Islam Nahdlotul Ulama (INISNU) Jepara (1989-2014), Dosen Fakultas Tarbiyah UNCOK Pati (1974-1976) dan Dosen Fakultas Syariah IAIN Wali Songo Semarang (1982-1985).

Terkait berbagai prestasi beliau dalam pengembangan Ilmu fiqih serta pengembangan pesantren dan masyarakat, KH. Sahal Mahfudh mendapat penghargaan gelar doktor (Doctor Honoris Causa) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 18 Juni 2003.

Di antara karya-karya beliau yang dapat ditemukan saat ini adalah:
1.   Al Tsamarah al Hajainiyah (fiqih tahun 1960).
2.   Al Barakat al Jumu’ah (gramatika Arab).
3.   Thariqat al Husnul Makna (Surabaya: Diantarna 2000).
4.  Al Bayan al Mulamma’an Alfadz al Lumd (Semarang: Thoha Putra, 1999).
5.  Intifah al Wajadain (Risalah belum diterbitkan).
6.  Wasmah al Shibyan ila I’tiqad ma’da ar Rahman (Risalah belum diterbitkan).
7.  Nadzm Safinah al Najah tahun 1961 (Risalah belum diterbitkan).
8.  Al Faraid al Ajibah ditulis tahun 1959 (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).
9.  I’danah al Ashhab ditulis tahun 1961 (Risalah belum diterbitkan).
10.Luma’ al Hikmah ila Musalsalat al Muhimmat (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).

Dan masih ada banyak karya beliau lainnya yang tidak tercantumkan di sini baik yang berbentuk artikel maupun makalah berbahasa Indonesia dan Arab.

Beliau tutup usia pada hari Jumat, 24 Januari 2014 di kediamannya, komplek Rumah Sakit Dr. Kariadi. Kyai Sahal akhirnya disemayamkan di area pemakaman Syekh Ahmad Mutamakkin Kajen. (MK)


Sumber:  Tabarrukan Satu Abad Mathali’ al Falah (Kiai Sahal Sebuah Biografi)

0 komentar:

Post a Comment