Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, March 9, 2016

Tiap Senyawa Punya Cinta (Tafsir Ilmiah Dalam Filosofi Cinta)

“Setetes rahmat Allah  pada bumi sebagai benih cinta yang mampu tumbuh dan berkembang pada setiap senyawa di semua makhluk Allah . Cinta itu adalah salah satu wujud rahmat Allah yang hadir untuk umat mausia dan tidak ternilai harganya.”

Allah  berfirman dalam surat ar Ra’ad:
      “Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, para malaikat (bertasbih) karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang dikehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah tuhan yang paling keras siksaan-Nya.” (QS. ar Ra’ad: 13)

            Alam yang kita tempati ini penuh dengan keindahan, kecakapan, pesona dan rahasia alam yang menakjubkan lagi penuh misteri. Di antaranya adalah guruh, kilat, dan halilintar yang disebutkan oleh Sang Pencipta yang Maha Agung pada ayat di atas. Guruh adalah suara. Kilat adalah cahaya. Dan halilintar adalah api (panas). 

         Tiga komponen ini kembali kepada gerakan. Maka gerakan udara jika semakin kuat menjadi angin kencang lalu gerakan yang dihasilkan itu jika semakin keras menjadi warna ultraviolet (ungu), jika melemah berwarna merah; artinya jika semakin panas akan membakar dan jika melemah akan tenang. Kalau demikian, maka semua yang berada di sekitar kita berupa suara, api, dan warna (cahaya) adalah gerakan. 

           Dan kalau demikian, alam yang kita tempati ini bergerak dan gerakanlah yang paling berpengaruh besar dalam kehidupan ekosistem makhluk. Pengaruh gerakan ini semua bersumber pada makhluk yang bernama cinta. Ia ibarat ruh dalam segala lini kehidupan di dunia.

                Unsur cinta ini telah masuk di berbagai sisi makhluk. Ada beberapa bukti bahwa sebenarnya oksigen bergerak menemui hidrogen dan karbondioksida ketika dibakarnya kayu bakar sehingga menyalakan api. Lalu dari api itulah semua kebutuhan rumah tangga dan semua aktifitas kita diproduksi.

                Oksigen juga bergerak menemui hidrogen sendiri dengan perbandingan massa 7:1 sehingga terbentuklah air. Air tersusun dari senyawa O2 dan H2 yang saling merindukan dan saling mencintai. Maka ketika bersatu, terbentuklah air atas izin Allah . Maka dua senyawa ini menjadi makhluk Allah  yang tumbuh berdasar cinta.
                Oksigen dari udara juga bergerak menjumpai dua makhluk lain pada setiap hewan dan tumbuhan dengan proses perkawinan sehingga terwujud semua hewan dan tumbuhan.

                Kala kita melihat setiap hewan dan tumbuhan saling mencintai antara jantan dan betinanya sebagaimana kita saksikan rajut cinta oksigen dan kedua sahabatnya. Dengan persatuan yang berdasarkan cinta kasih itu terbentuk api, air, semua hewan dan tumbuhan. Maka sungguh tiada perbedaan antara nyala api sebab kesatuan senyawa-senyawa tersebut dengan lahirnya generasi-generasi. Begitu juga tumbuhnya putik-putik tumbuhan sebab kedekatan jantan dan betina.

                Semua kehidupan di dunia ini tersusun atas cinta dan keindahan. Tidak ada kehidupan di dunia kita ini kecuali dengan cinta atau sesuatu yang serupa dengannya. Seandainya tidak ada cinta O2 dan H2, takkan ada air yang merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup.

                Adapun alam-alam yang kita tempati ini tidak akan terwujud kecuali dengan sesuatu yang menimbulkan kesatuan. Keberadaan air dan api adalah dampak reaksi gerakan kesatuan itu.

                Air yang ada di dunia, air yang bercokol di awan, dan air yang mengalir di sungai-sungai berotasi sebagaimana rotasi bintang-gemintang, dan semua itu adalah rahasia kesatuan dua bagian senyawa yang saling mencintai (cinta majazy).

                Demikianlah terbentuk dan teraturnya kehidupan umat manusia di dunia. Umat-umat itu tidak akan maju dan berkembang kecuali sebab beberapa tokoh yang merindukan dan mencintai ilmu-ilmu pengetahuan dan keutamaan-keutamaannya. Jikalau tidak ada cinta yang memenuhi hati para ulama, ilmuwan, cendekiawan dan orang-orang bijak. Mereka tidak akan menggali, mengajar dan mengarang satu huruf pun jika tidak ada cinta yang mendalam kepada Allah , kepada ilmu dan kepada umat. Begitu juga pada hati para Nabi dan Rasul, tidaklah mereka mengajar dan membimbing. Tidak pula mereka akan memiliki pengikut. Tidak akan maju dan berkembang suatu masyarakat kecuali dengan membaranya cinta kepada ilmu dan perkembangan yang membakar setiap hati para pemimpin mereka.

        Rajut cinta oksigen dan hidrogen lalu bersatu, menimbulkan air yang merupakan sumber kehidupan semua makhluk. Hal ini adalah logika manusia mencintai ilmu pengetahuan. Awal filosofinya mencintai ilmu, kemudian pertengahannya mendapatkan ilmu, dan puncaknya mencintai Allah.

        Cinta insani mencakup semua manusia, sementara cinta pengetahuan khusus untuk para ulama. Mencintai Allah  berada di derajat tertinggi yang lebih khusus dari semua bentuk cinta. Setiap cinta adalah permulaan reaksi setelahnya. Perhatikanlah bagaimana cinta itu berkobar dan mengalir pada satu jalur yang tidak bergabung. Dia mengalir dan memuncak bersama dua bagian air, unsur-unsur api, dan berbagai jenis hewan dan dia juga bersama para filosof dan para nabi.

          Nampak jelas bahwa jiwa-jiwa manusia diciptakan untuk perkara-perkara agung dan mulia. Kita bisa melihat bahwa pencipta alam menciptakan alam ini berdasar satu prinsip, yaitu cinta secara keseluruhan (mahabbah amah). Yang lebih pantas untuk mencintai jiwa-jiwa manusiawi ini adalah yang lebih utama dan lebih didahulukan. Dan mungkin suatu hari, jiwa-jiwa tersebut menjadi lebih berkembang dan memuncak sehingga sebagaimana kesatuan senyawa O2 dan H2 yang membentuk air sumber kehidupan.

           Jiwa orang-orang shalih suatu hari akan menjadi kesatuan sebagaimana kesatuan yang mengalir di air dan api. Mereka mendapatkan di sana kelezatan dari aktivitas-aktivitasnya yang tidak terpikirkan sekarang. Akhirnya berdampak persatuannya ide dan pendapat, ide satu orang adalah pendapat semuanya. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Allah  dengan firmannya:

        “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari padanya.” (QS. al Hijr 47-48)

Disebutkan dalam hadits:


المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” (muttafaq alaih)

Dalam ayat lain, Allah  berfirman:
“Maka mereka bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah atas mereka dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang shaleh.” (QS an Nisa’: 69)

          Maka orang-orang yang mendapat nikmat itu adalah orang-orang yang saling mencintai semata-mata ikhlas karena Allah .

              Cinta adalah pelita alam ini. Dengannya, semua tersusun. Dengannya, ada api, hewan, tumbuhan dan ilmu para ulama. Dengan sebab cinta itu pula wahyu diturunkan kepada para nabi dan rasul. Cinta juga bara yang panas. Sedangkan pengetahuan adalah gerakan-gerakan syaraf. Cinta adalah aturan kehidupan alam. Dengan cinta adanya ketertarikan dan pesona secara umum. Dengan cinta ada kecocokan antara unsur-unsur emas dan besi. Dengan cinta pula terbentuklah berlapis bumi demikian langit.

            Ini merupakan suatu bukti kuat akan cinta yang ada dalam diri manusia pada manusia yang lain. Rasa cinta akan menjadi sebuah persatuan dan kesatuan. Tidak ada kehidupan manusia kecuali dengan persatuan dan kesatuan mereka. Tidak ada kebaikan pada persatuan dan kesatuan itu kecuali dengan cinta yang terpatri dalam setiap individu mereka.

              Sebab itulah diisyariatkan shalat Jumat, shalat berjamaah, shalat Id, hingga sedekah. Semuanya untuk menumbuhkan rasa cinta kasih antara yang kaya dan miskin, antara pejabat dan rakyat. Allah  berfirman:

        “Dan kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal.”(QS. al Hujurat: 13)


         Agama menuntut hal ini demikian juga akal (logika). Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup kecuali saling membantu. Maka kembali urusan dari perkara manusia kepada keadaan air yang timbul sebab gabungan dan kesatuan, demikian juga api dan seluruh susunan di alam ini. Gabungan, kesatuan dan persatuan itu didasari gerakan cinta yang Allah  tanamkan pada setiap partikel atom setiap makhluk Allah  dan setiap senyawa.Imam Haramain

0 komentar:

Post a Comment