Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, March 3, 2016

MENYOAL LGBT SEBAGAI REINKARNASI KAUM SODOM DI ERA KEKINIAN

“Baru-baru ini, Amerika Serikat melegalkan perkawinan sejenis. Presiden mereka secara resmi melegalkan hal tersebut. Sejak tahun 2015, permasalahan tersebut ada undang-undangnya. Jadi, apabila sesama laki-laki maupun perempuan jika menikah, mereka akan mendapatkan surat nikah, fasilitas, dan lainnya. Intinya, hal ini sudah menjadi legal. ”

              
               Perkawinan sejenis dengan dalih kebebasan HAM dan orientasi sosial sudah banyak menuai kontra dalam perdebatan. Anehnya, perkembangan LGBT terlihat naik secara signifikan di mata dunia. Terkait permasalahan LGBT ini, tim al Bashiroh mengadakan wawancara bersama Ustadz Kholili Hasib, salah satu admin web inpasonline.com yang sempat mengulas pembahasan serupa.

Mengenai permasalahan LGBT, bagaimana perkembangannya di Indonesia?

                “Pandangan kita saat ini, kasus tersebut sudah mulai marak di berbagai media. Baru-baru ini, di daerah Jawa Tengah, dilangsungkan sebuah perkawinan sesama jenis yaitu laki-laki dengan laki-laki. Hebatnya, perkawinan tersebut dilangsungkan sebagaimana pernikahan pada umumnya. 

                “Tapi sebenarnya, pada tahun 2004, hal ini sudah gencar dikampanyekan di dunia akademik. Pada tahun tersebut, Fakultas Syariah IAIN Semarang menerbitkan sebuah jurnal justisiah yang mengangkat tema ‘Indahnya Kawin Sesama Jenis’. Hal itu luar biasa rusak karena semua dalil-dalil Quran maupun hadis dihancurkan.

                “Dua tahun setelah terbitnya jurnal justisiah, terdapat kelompok-kelompok LGBT di Jogja berikut para pendukung yang berasal dari liberal mengadakan ‘Jogja Principal’. Isinya adalah, mereka berusaha memperjuangkan hak-hak homo dan lesbi dalam undang-undang. Mereka masuk melalui komnas HAM. Poin utamanya, mereka menganggap orang Islam yang menolak homo dan lesbi sebagai orang Islam yang diskriminatif, melanggar HAM, dan sebagainya. Jadi, perkembangan-perkembangan seperti ini harusnya diwaspadai.

                “Baru-baru ini, Amerika Serikat melegalkan perkawinan sejenis. Presiden mereka secara resmi melegalkan hal tersebut. Sejak tahun 2015, permasalahan tersebut ada undang-undangnya. Jadi, apabila sesama laki-laki maupun perempuan jika menikah, mereka akan mendapatkan surat nikah, fasilitas, dan lainnya. Intinya, hal ini sudah menjadi legal.”
                Ustadz Kholili menerangkan, apabila fenomena ini sudah terjadi di Amerika yang bergelar ‘Super Power’, maka kemungkinan terjadi di negara lain sangat tinggi. Terutama negara-negara yang menjadikan Amerika sebagai kiblat. Di Belanda, terdapat seorang pendeta yang kawin sesama jenis. Tidak seperti di Filipina dan Arab Saudi yang menghukum mati bagi pelaku.

                Lebih lanjut, beliau menceritakan tentang seorang pelaku homo dan lesbi yang mencalonkan diri sebagai anggota komnas HAM. Wujud dari pergerakan LGBT di dunia politik.
                “Maka saya bilang, perkembangan LGBT di Indonesia itu sudah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan apabila pemerintah tidak segera ambil tindakan. Karena kampanye mereka menolak diskriminasi, menuntut kebebasan dan HAM. Jadi mereka sekarang masuk melalui tiga jalur. Mulai dari akademik, gerakan sosial, lalu jalur politik.” tutur beliau.

Lantas, mungkinkah legalisasi LGBT terjadi di Indonesia?

                “Kita semua tidak mengharapkan hal itu terjadi. Sangat memalukan, jika homo dan lesbi dapat disahkan di Indonesia. Negara Indonesia yang merupakan negara penduduk muslim terbesar di dunia, di dalamnya banyak pesantren, banyak alim dan ulama, bagaimana bisa melegalkan LGBT? Hal ini jangan sampai terjadi. Kalau disahkan, hal ini akan membuat masalah baru. Justru akan menimbulkan persoalan-persoalan sosial. Hal ini cenderung tidak aman bagi negara.

                “Mayoritas ulama menolak. Jangankan Islam, sebagian pendeta-pendeta Kristen saja menilai negatif. Karena di dalam Injil itu dilarang, hukumannya mati. Makanya ketika negara-negara barat, Amerika, Irlandia, dan beberapa negara lainnya itu melegalkan perkawinan sejenis, para vatikan menolak dan memberi warning. Mereka menyatakan bahwa ini tragedi kemanusiaan di zaman modern. 

                “Kalau terjadi di Indonesia, justru yang dirugikan adalah pemerintah. Mereka rugi dalam bidang sosial. Pasti akan terjadi konflik-konflik sosial. Begitu juga dari segi kesehatan. Jelas hal itu menjadi media penularan HIV. Karena hal itu memang proyek untuk menghancurkan manusia. Coba bayangkan, apabila manusia kawin sesama jenis, mereka tidak akan punya anak. Lalu manusia nantinya akan habis. Jadi sebetulnya kalau dikampanyekan ke negara muslim, hal ini justru menghancurkan Islam. Jadi kita berharap hal ini tidak dilegalkan.”

                Beliau menjelaskan bahwa KUHP nomor 292 yang sekarang belum benar-benar melindungi. Hukum tersebut hanya mengerucut kepada kelainan seksual terhadap anak-anak. Beliau berharap, pemerintah harusnya lebih tegas dengan menentukan KUHP yang baru. Karena Indonesia yang menganut ‘Ketuhanan yang Mahaesa’ mestinya tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Sebagaimana dijelaskan beliau bahwa LGBT jelas melanggar agama, Islam bahkan Kristen.

                “Jadi sebenarnya tidak ada celah. Dari sisi kesehatan, agama, semua tidak ada celah. Intinya, pemerintah harusnya lebih tegas.”

Kalau kita membahas dari sisi agama, sebenarnya bagaimana Islam melarang perbuatan ini? Apa latar belakang pengharamannya?

                “Kalau madzhab Syafi’i, zina laki-laki dengan perempuan saja termasuk perbuatan keji. Apalagi sesama jenis. Pelakunya namanya luti, dari liwat. Hukumannya mati karena lebih keji dari pada zina. Kalau zina itu fawahis, ini lebih keji dari pada fawahis. Akal sehat tidak bisa terima. Karena hal itu sebetulnya penyakit kejiwaan.

                “Kalau dari perspektif agama, jangankan bertemunya alat kelamin antar lawan jenis. Sesama laki-laki kalo saling memegang, meraba, itu sudah termasuk hubungan sesama jenis, sama-sama fawahis. Sama-sama dosa besar.

                “Meski hanya melihat, tapi dengan nafsu. Itu sudah dosa. Kemudian apabila memegang, meraba-raba itu sudah jatuh pada fawahis. Dan hal tersebut sudah dosa besar.”

                Penjelasan beliau kemudian mengarah kepada kasus yang terjadi pada PBB lima puluh tahun silam. Pada waktu itu, timbul istilah DSM (Mental Disorder) bagi pelaku LGBT. Para pengidapnya berusaha disembuhkan hingga akhirnya kembali hidup normal.

                Namun dua puluh tahun kemudian, seorang psikolog menyuarakan bahwa homo ataupun lesbi bukanlah DSM, melainkan bawaan jiwa atau yang disebut dengan orientasi seksual. Dan pendapat ini akhirnya disetujui oleh PBB dan WHO (Badan Kesehatan Internasional).

                Kemudian Ustadz Kholili mengangkat beberapa nama yang menyanggah pendapat tersebut. “Kalau ahli-ahli kita dari Indonesia, ada DR. Dadang Hawari. Kalau internasoinal, ada Prof. Malik Badri dari sudan. Beliau psikolog ahli kedokteran jiwa yang diakui internasional. Ia yakin bahwa penyakit jiwa ini dapat disembuhkan. Begitu juga Dadang Hawari yang berpendapat bahwa ini adalah kelainan jiwa yang harus disembuhkan. Bukan pada bawaan jiwa atau istilahnya ‘orientasi seksual’ itu.”

                Beliau menegaskan bahwa Allah telah mengaruniai manusia dengan orientasi seksual terhadap lawan jenis. Apabila ada yang menyalahi, maka mental orang tersebut tidak waras. Dapat dipastikan ia mengalami kesalahan dalam kejiwaannya.

                “Makanya kita yang Islam, kalau mereka punya kajian akademik, kita juga harus punya kajian akademik. Bisa dibuktikan secara ilmiah. Baik dari sisi psikologis, sisi kesehatan. Kalau dari sisi agama sangat jelas. Bahwa hal ini adalah penyakit. Harus ada penelitian secara continue kalau hal ini adalah penyakit, bukan orientasi seksual. Kalau benar, maka ini adalah orientasi seksual yang salah.”

Beberapa dari mereka berpendapat, hal yang diharamkan adalah liwat atau zina dalam hubungan sejenis. Adapun rasa suka terhadap sejenis dalam LGBT, itu tidak terdapat nash khusus yang menjelaskan. Bagaimana penjelasannya?

“Sebenarnya mereka telah mendekonstruksi kisah Nabi Luth. Bahkan, kisah-kisah tersebut menurut mereka dianggap sebagai hukuman Allah kepada kaum Nabi Luth bukan karena kasus sodomi mereka, melainkan karena kekufuran mereka. Padahal hal itu sudah jelas. Adzab itu karena liwat mereka. Makanya Nabi Luth mengajak mereka supaya tidak kawin sesama jenis, apalagi liwat.

“Kalau sodomi itu dilaknat. Jangankan itu, bahkan saling meraba itu termasuk fawahis. Apalagi sodomi. Kalau dalam fiqh, meraba-raba dengan syahwat sudah termasuk fawahis. Kalau sudah fawahis, itu sudah tindakan homo. Meski tidak disodomi, itu sudah dianggap fawahis.”

Kemudian, apa solusi bagi orang yang sudah terjerumus dalam LGBT tersebut?

“Menurut beberapa penelitan, kebanyakan pelaku homo seks yang sulit keluar dari dunia mereka disebabkan karena tidak kuat menahan hawa nafsu. Meski mereka tahu kalau perbuatannya salah, akan tetapi mereka tidak kuat menahan hawa nafsu.

“Maka kita umat Islam harusnya membangun klinik-klinik penyembuhan bagi pelaku homo dan lesbi. Sebab ini banyak. Mereka tidak diketahui sebab mereka malu, tidak menampakkan diri. Kalau sudah ketemu temen, atau bahkan komunitas, maka lebih berbahaya lagi. Tidak akan sembuh-sembuh.

“Kemudian kita juga harus punya riset-riset ilmiah di perguruan-perguruan tinggi. Karena mereka juga menyerang dari dunia akademik. Maka kita mestinya punya riset khusus membahas LGBT. Mulai dari riset kesehatan maupun sosial. Riset dilapangan pelaku-pelaku itu kayak apa, kita kan belum punya. Pelaku LGBT itu ada berapa? Mereka yang ingin sembuh ada berapa? Komunitas-komunitas yang ada juga berapa? Karena sekarang di kota-kota sudah banyak komunitas. Seperti Pasuruan, Jombang, apalagi Malang.

“Dari riset tersebut, kemudian rekomendasinya diolah sedemikian rupa. Hingga akhirnya bidang penyembuhan bisa bertindak. Di Jakarta, ada lembaga ‘Peduli Sahabat’ dan Aila (Aliansi Cinta Keluarga). Salah satu kegiatannya memberi penyuluhan-penyuluhan, seminar-seminar. Meski sebenarnya seminar, buku, majalah itu tidak cukup. Harus ada tindakan nyata agar mereka disembuhkan. Karena beberapa kasus dapat disembuhkan. Seperti di Malaysia, terdapat tetstimoni. Di sana ada klinik testimony hingga akhirnya dapat sembuh. Akhirnya kembali hidup secara normal.”

                Demikianlah penuturan Ustadz Kholili mengenai LGBT, wujud kaum Sodom pada zaman ini. Di akhir wawancara, beliau menjelaskan bahwa sebenarnya LGBT ialah salah satu rencana para aktivis liberal. “Jadi liberal tidak hanya tentang sekularisme ataupun pluralisme, tapi juga mengampanyekan gender actuality,” tutur beliau.

0 komentar:

Post a Comment