Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, March 2, 2016

MASIH WARASKAH BANGSA INI JIKA MELEGALISASI LGBT ATAS NAMA HAM

   

     Waras, sebuah kata yang mewakili makna sehat. Tak cuma sehat dalam rana fisik, namun juga rana psikologis dengan “tetap terjaganya kesadaran” ketika situasi dan kondisi terjangkiti kegilaan akan kebebasan HAM.

         Lebih lanjut, sejak Januari 2009, Menlu Clinton telah mengarahkan Departemen Luar Negeri AS untuk mendukung penuh penciptaan sebuah agenda hak asasi manusia yang komprehensif – sebuah agenda yang meliputi perlindungan terhadap kaum lesbian, gay, biseksual dan transeksual (LGBT). Deplu AS menggunakan segala perangkat diplomatik dan fasilitas-fasilitas bantuan pembangunannya untuk mendorong dihapuskannya kekerasan dan diskriminasi terhadap kaum LGBT di seluruh dunia. Tak lama agenda tersebut diikuti pernyataan Sekjen PBB, Ban Ki-Moon1 atas nama Forum LGBTIQ Indonesia di Nusa Dua (Bali), 13 Juni 2013 bahwa Hak-Hak LGBTI adalah Hak Asasi Manusia.

          Atas nama HAM pula komunitas LGBT meminta jatah kebebasan di berbagai negara dunia. Hasilnya? Euforia keputusan pelegalan kawin sejenis di beberapa negara bagian Amerika dan 20 negara lainnya yang turut memberi imbas negatif terhadap negara Asia dengan mayoritas muslim seperti Indonesia. Ironisnya, keputusan pelegalan tersebut diamini oleh artis-artis made in America seperti Sherina Munaf.

       “Banzai! Perkawinan sesama jenis kini ada hukumnya di Amerika Serikat. Mimpi berikutnya, di dunia dimanapun anda berada bangga siapa anda. #LGBT Rights”. Tak ketinggalan Anggun C Sasmi menulis status serupa, “YES!!!! Mariage is between love and love??” (kutipan www.republika.co.id)

Lalu, di mana kewarasan dan keberadaban bangsa ini?

         Entahlah, mungkin kewarasan dan keberadaban akan tetap bersemayam dalam masyarakat yang senantiasa berpegang teguh dengan agama dan nilai luhur bangsa ketimuran. Masalahnya adalah seberapa lama bangsa ini mampu menyandang status tersebut?

            Di satu sisi ada pihak-pihak tak kasat mata yang berusaha meloloskan proyek legalisasi LGBT dalam skala global, tak terkecuali di Indonesia sendiri. Meski sejatinya Indonesia adalah negara timur yang cukup vocal menolak homoseksualitas2, namun tetap saja hal tersebut tidak mengurangi pergerakan pegiat LGBT, malahan mereka semakin getol melakukan “kampanye dan promosi” melalui seminar-seminar yang ditujukan untuk menarik ruang simpati dan toleransi publik dengan menempatkan mereka sebagai “kelompok populasi rentan”3, bukan perilaku penyimpangan.

           Poin yang perlu diperhatikan dari kasus seperti ini adalah jangan sampai ruang simpati dan toleransi tersebut mengaburkan suara penegakkan syariat yang selama ini disuarakan oleh para imam Islam, khususnya bagi umat Islam yang memegang dominasi populasi Indonesia. Ini bukan masalah pembenaran umum atas nama dominasi, namun lebih kepada kesadaran untuk membantu mempertahankan nilai-nilai bangsa ini, mencapai nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan yang beradab serta kehidupan yang bermartabat. Pertanyaaannya, masihkah bangsa ini dianggap beradab jika praktek homo dan lesbi dilegalisasi? Akankah bangsa ini dianggap waras jika nantinya homoseksual menjadi tren gaya hidup?

          Di sisi yang lain, tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi turut mengaburkan batas norma susila juga ikut memicu semakin eksisnya kaum LGBT.  Karena memang informasi yang ada tidak hanya sekadar maju namun juga sarat dengan muatan ajakan untuk meniru budaya yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. Imbasnya, tak sedikit orang yang ikut menjadi tidak waras karena tren LGBT ini. Kutipan data republika.co.id menyebutkan bahwa jumlah LSL -lazimnya disebut Gay- pada tahun 2011 telah mencapai tiga juta orang, padahal pada tahun 2009 hanya mencapai 800 ribu orang. Hal ini memberi artian bahwa ada peningkatan lebih dari 300% dalam dua tahun. Masihkah berdiam diri?

           Rasanya tidak, bangsa ini terlalu berharga diserahkan begitu saja pada aktivis LGBT yang gila HAM. Dan umat Islam yang menjadi bagian dari bangsa yang waras mesti ikut berteriak dan menyelamatkannya melalui sikap dan menuver politik, sebagai bentuk tanggung jawab kolektif. Harus ada kerangka hukum hukum yang kuat dan jelas, tidak hanya mengatasnamakan HAM dan humanisme sepihak namun juga sudut pandang yang lebih kompleks mengenai tujuan, siapa yang dilindungi dan tanggung jawab akan dampak yang dihasilkan.

          Lebih jauh, bangsa ini harusnya berkaca kepada sikap kepala negara Gambia, Yahya Jammeh yang dengan lantang menentang pergerakan homoseksual di negaranya. Meskipun harus menerima konsekuensi penyetopan kucuran dana dari negara Eropa dan Amerika untuk Gambia.

        “If you do it [in Gambia] I will slit your throat. If you are a man and want to marry another man in this country and we catch you, no one will ever set eyes on you again, and no white person can do anything about it.” (www.washingtonpost.com)

LGBT dan Kewarasan Syariat

            Islam dengan metode preventif (sadd adz-dzari’ah) yang diusung, jelas ingin mewujudkan kemaslahtan dan menghindari kerusakan (mafsadah) kepada bangsa ini, termasuk dalam kasus LGBT. Islam telah melarang penyerupaan laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya baik dari pakaian atau tingkah laku. Ditambah lagi tata cara dan sosialisasi syariat dan pengawasan proaktif, semisal mengenai pemisahan tempat tidur ketika memasuki usia sepuluh tahun sebagaimana redaksi hadits:

          “Suruhlah anak-anakmu melakukan shalat di waktu dia berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka kalau sudah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.”

            Nabi Saw. memberi kecaman keras mengenai praktek kaum Sodom. “Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)” [HR Nasa’i dalam as Sunan al Kubra IV/322 No. 7337]

          Dalam kesempatan lain, Nabi Saw. bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth.” [HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad]

           “Barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya.”

          Jika kita kaji sejenak mengenai akibat hukum dari praktek homosexuil, maka Imam Malik, Imam As Syafi’i dan Imam Ahmad bersepakat mewajibkan pemberlakuan hadd sebagaimana pemberlakuan hadd zina dalam al Quran, karena keberadaan makna zina dalam kasus tersebut. (al Fiqh al Islami wa Adillatihi, Dr. Wahbi az Zuhaili, dar al fiqr juz 6 hal 66).

      Para sahabat sendiri sepakat atas penjatuhan eksekusi mati bagi para pelaku homoseksuil, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai tata cara eksekusi tersebut. Para pengikut madzhab Imam Hambali dan Imam Malik memberi hukuman rajam untuk kasus homoseks dalam keadaan apapun, baik lajang atau janda berdasarkan redaksi hadits: “Barangsiapa yang kalian dapatkan melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah yang menyetubuhi dan yang disetubuhi.” (Hasyiah ad Daisuqi juz 4 hal 314).

       Semua produk hukum tersebut tidak lahir dari otoritas akal semata, namun dari komposisi wahyu dan kejernihan berfikir untuk melindungi kewarasan akal (hifdzul aql), keturunan (hifdzul nasl) umat secara menyeluruh. Dengan desain hukum semacam ini, tentu umat Islam yang menjadi bagian dari bangsa yang waras akan terus berdiri di barisan terdepan untuk mengecam proyek legalitas LGBT karena jelas proyek yang digembor-gemborkan oleh para humanis tak lebih dari ekspresi penentangan hukum Allah    tanpa berpikir panjang mengenai besarnya dampak yang akan dihasilkan. Keadaan ini, persis dengan apa yang telah diwanti-wantikan oleh Allah  :

        “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al Maaidah : 49].

         Lalu, siapakah yang waras sebenarnya, para humanis yang menyuarakan legalitas LGBT di Indonesia atas nama HAM? Atas nama toleransi dan moral? Ataukah orang-orang yang lantang menolak agenda pencacatan agama dan mental dengan merubah bangsa ini menjadi homoseksual? Hq

1. kutipan http://aruspelangi.org/
2. Laporan Global Attitudes Project oleh Pew Research mengenai sikap terhadap homoseksualitas menunjukkan adanya penolakan terhadap homoseksualitas oleh 93% responden survei di dalam negeri dan hanya ada 3% yang bersikap menerima.
3. Laporan LGBT Nasional Indonesia - Hidup Sebagai LGBT di Asia, hasil dokumentasi berbagai presentasi dan diskusi dalam Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia yang diselenggarakan pada 13-14 Juni 2013 di Bali.
Sumber:
1. al Fiqh al Islami wa Adillatihi, Dr. Wahbi az Zuhaili, dar al fiqr
2. Hasyiah ad Daisuqi
3. LGBT di Indonesia, Perkembangan dan Solusinya, Dr. Ardian Husaini, INSISTS Jakarta Selatan

0 komentar:

Post a Comment