Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, March 12, 2016

KETIKA ALLAH MENCINTAI

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : إن الله قال ( من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب ، وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه ، وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به ، وبصره الذي يبصر به ، ويده التي يبطش بها ، ورجله التي يمشي بها ، وإن سألني لأعطينه ، ولئن استعاذني لأعيذنه ) رواه البخاري.

   Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

   ”Sesungguhnya Allah  berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya; Bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; Jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

   Saat seorang hamba melakukan perbuatan-perbuatan taat, baik yang wajib maupun yang sunnah. Juga menjauhkan diri dari semua bentuk maksiat, baik yang kecil maupun yang besar. Hal tersebut akan membuat seorang hamba pantas menjadi salah seorang wali Allah  yang dicintai-Nya dan mencintai-Nya. Dia   mencintai orang yang dicintai oleh para wali-Nya, mengumumkan perang terhadap orang yang memusuhi, mengganggu, membenci, memojokkan dan menghadang mereka dengan suatu kejahatan atau gangguan. Allah-lah yang akan menolong dan membantu para wali-Nya tersebut.

   Hal yang paling penting dan menjadi tuntutan bagi setiap hamba adalah mendapatkan mahabbah dari-Nya. Sebab orang yang mendapatkannya, maka dia akan mendapatkan dua kebaikan; dunia dan akhirat. Sebagai seorang mukmin sejati yang ingin untuk menjadi salah seorang dari para wali Allah    tentu berupaya mendapatkan tuntutan yang amat berharga ini. Tetapi untuk merealisasikannya diperlukan beberapa hal:

1.Melaksanakan ibadah-ibadah wajib yang sudah diwajibkan oleh Allah  sebagaimana yang terdapat dalam penggalan hadits diatas: “Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya.” Yaitu dengan membetulkan dan meluruskan at Tauhid, melaksanakan shalat, zakat, puasa Ramadhan, haji ke baitullah al Haram, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturrahim, berakhlaq yang mulia seperti jujur, dermawan, bertutur kata yang manis, tawadlu’ dan lain-lain.

2.Menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan, baik kecil maupun besar. Begitu juga dari segala hal makruh yang sebenarnya mampu dilakukannya.

3.Bertaqarrub kepada Allah  dengan ibadah-ibadah sunnah mulai dari shalat, sedekah, puasa, amalan-amalan kebaikan, dzikir, membaca al Quran, amar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain. Di antara yang patut disinggung berkenaan dengan ibadah-ibadah tersebut adalah:

a. Memperbanyak membaca al Quran diiringi dengan tafakkur dan renungan, mendengarnya diiringi dengan tadabbur dan pemahaman, menghafal ayat-ayatnya yang mudah, mengulang-ulanginya serta senantiasa menjaganya agar tidak lupa. Tentunya, tidak ada suatu ucapanpun yang lebih manis bagi para pecinta selain ucapan orang yang dicintainya. Maka kalamullah adalah lebih utama untuk dicintai karena memberikan kenyamanan tersendiri bagi hati mereka dan merupakan puncak dari sumua tuntutan mereka. Di antara sarana yang dapat membantu terlaksananya hal tersebut -disamping doa, tekad bulat dan keinginan keras- adalah konsistensi dalam membaca al Quran sebanyak satu juz di dalam sehari semalam dan semampunya berupaya agar tidak lalai dari konsistensi tersebut.

b. Memperbanyak dzikir kepada Allah  baik melalui lisan maupun hati sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi  :
   “Allah  berfirman: Aku (selalu) di sisi sangkaan (baik) hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku (selalu) bersamanya manakala dia mengingat-Ku; jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku mengingatnya di dalam diri-Ku; jika dia mengingat-Ku di hadapan khalayak (orang banyak), maka Aku mengingatnya pula di hadapan khalayak yang lebih baik dari mereka (malaikat).”
                
Allah  berfirman:
“Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu.” (QS. al Baqarah: 152)

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa para wali Allah  itu ada dua macam:

   Pertama, mereka yang bertaqarrub kepada-Nya dengan melaksanakan ibadah-ibadah wajib. Ini merupakan derajat kaum Muqtashidun, Ashab al Yamin (orang-orang yang menempuh jalan yang lurus dan menjadi golongan kanan). Melaksanakan ibadah-ibadah wajib merupakan amalan yang paling utama sebagaimana diucapkan oleh Umar bin al Khatthab : “Paling utamanya amalan adalah melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah  , menjauhi apa yang diharamkan-Nya serta niat yang jujur semata-mata mengharap ridha-Nya.”
Kedua, mereka yang bertaqarrub kepada-Nya, disamping melaksanakan ibadah-ibadah wajib tersebut, juga bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunnah dan keta’atan dan menghindari semua yang dilarang. Hal-hal inilah yang memastikan seorang hamba mendapatkan mahabbah Allah  (kecintaan dari-Nya) sebagaimana dalam sabda Rasulullah di atas: “Dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepadaKu dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”

Cinta Bagi Mereka

   Melakukan perbuatan-perbuatan taat baik yang wajib maupun yang sunnah serta menjauhkan diri dari semua bentuk maksiat baik yang kecil maupun yang besar akan membuat seorang hamba pantas menjadi salah seorang wali Allah  yang dicintai-Nya dan mencintai-Nya. Dia mencintai orang yang dicintai oleh para wali-Nya, mengumumkan perang terhadap orang yang memusuhi, mengganggu, membenci, memojokkan dan menghadang mereka dengan suatu kejahatan atau gangguan. Allah-lah yang akan menolong dan membantu para wali-Nya tersebut.

   Maka kita wajib menunjukkan sikap loyal terhadap para wali Allah  dan mencintai mereka serta haram memusuhi mereka. Demikian pula wajib memusuhi musuh-Nya dan haram menunjukkan sikap loyal terhadap mereka. Allah  berfirman:

 “…Janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. al Mumtahanah: 1)

Begitu juga firman-Nya :
   “Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. al Maidah: 56)

   Dalam kedua ayat tersebut, Allah memaparkan bahwa sifat dari orang-orang yang dicintai dan mencintai-Nya  adalah bahwa mereka itu merasa hina di hadapan orang-orang beriman dan merasa bangga dan penuh percaya diri di hadapan orang-orang Kafir.

   Orang yang dicintai oleh Allah  maka Dia akan menganugerahinya mahabbah terhadap-Nya, mentaati-Nya, bergiat dalam berzikir dan beribadah kepada-Nya, dan menenteramkan hatinya untuk selalu melakukan amalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada-Nya. Dengan anugerah itu, maka orang tersebut berhak menjadi orang yang dekat dengan-Nya dan mendapatkan keberuntungan di sisi-Nya. Allah  berfirman:


   “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siap yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. al Maidah: 54)

0 komentar:

Post a Comment