Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, March 1, 2016

ANOMALI PELANGI LGBT



          Pada tahun 2004, sebuah jurnal dari Fakultas Syariah IAIN Semarang memuat sebuah tulisan yang cukup kontroversial tentang pernikahan sesama jenis. Jurnal tersebut kemudian dijadikan buku yang memuat banyak langkah, gerakan, dan strategi agar pernikahan sejenis di Indonesia dapat dilegalkan. Dua tahun kemudian, didirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk membela hak asasi kaum LGBT di Indonesia dengan nama  ‘Arus Pelangi’. Kini, tak jarang kita dapat menemukan situs-situs maupun komunitas LGBT di Indonesia dengan mudah.

Siapa mereka?

                Istilah LGBT alias Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender muncul pada tahun 1990-an. Sebelum masa “Revolusi Seksual”1 pada tahun 60-an, belum ditemukan istilah khusus sebagai sebutan bagi orang yang non-heteroseksual2. Hingga kemudian kata gay dan lesbian mulai berkembang secara meluas. Istilah ini lebih disukai dan dipilih oleh banyak orang karena simpel dan tidak membawa kata seks.

                Istilah biseksual muncul setelah itu. Digunakan untuk orang yang mempunyai orientasi seksual terhadap sesama jenis dan lawan jenis. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan psikologi, muncullah istilah transgender3. Akhirnya, lengkaplah istilah yang sebelumnya menjadi LGBT sebagai gambaran bagi orang yang nonheteroseksual.

                Perkembangan LGBT di dunia terhitung pesat. Meski pada awal kemunculannya menerima banyak cacian bahkan dianggap sebagai tindakan kriminal, kini LGBT bahkan memiliki hak tersendiri di mata dunia. Beberapa aktivis dan gerakan LGBT benar-benar gigih menyosialisasikan keberadaan mereka kepada masyarakat. Mereka menuntut perlakuan sederajat diantara manusia dalam kebebasan berorientasi seks4 hingga tidak mendapat perlakuan berbeda ataupun kekerasan dari umat manusia lainnya.

                Kehadiran LGBT di Indonesia hampir sama dengan catatan sejarah internasional. Komunitas ini juga berkembang cepat di negara ini. Hingga pada tahun 1999 kemarin, beberapa komunitas LGBT mulai bermunculan secara terang-terangan. Data menyebutkan bahwa jumlah kaum LGBT di Indonesia kini sudah mencapai tiga persen dari jumlah penduduk.

Apa pondasi mereka?

                Apabila dipandang dengan mata terbuka, komunitas ini jelas terlihat menyimpang dari fitrah manusia pada umumnya. Namun, mereka memiliki landasan tersendiri dalam menegakkan hak-hak mereka di antara umat manusia.

                Mereka berasumsi bahwa orientasi seksual adalah berkah yang menetap dari Tuhan yang harus disyukuri. Dzat yang memberi tidak pernah menuntut orientasi seksual tertentu apapun. Mereka juga beranggapan bahwa orientasi seksual adalah hal yang timbul sejak lahir tanpa bisa diubah sedikit pun. Lingkungan dan masyarakat hanya dapat memperkuat atau malah melemahkan potensi yang sudah ada. 

                 Kaum LGBT juga menyalahkan persepsi agama dalam penafsiran terdahulu yang didominasi oleh kaum heteroseksual sehinga pemahamannya juga mengikuti norma heteroseksual. Selain itu, mereka juga menuntut hak setiap individu untuk mengapresiasikan orientasi seksualnya. Begitu juga tindakan diskriminasi secara langsung maupun tidak langsung dari masyarakat.

Apakah hanya mereka?

                Beberapa masyarakat masih salah kaprah dengan mengangggap bahwa tindakan homoseksual hanya dilakukan oleh orang dengan orientasi seksual sesama jenis. Padahal, aktivitas ini dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang orientasi seksual mereka.

         Dapat kita ambil contoh dari masalah dominasi laki-laki. Realita membuktikan bahwa mayoritas pelaku tindakan non-heteroseksual adalah laki-laki. Diantara faktor yang mendukung adalah organ reproduksi laki-laki yang cenderung kuat. Sebagian wanita akan mengalami penurunan gairah seksual dengan melemahnya fungsi reproduksi. Sementara laki-laki, selama dijaga dengan baik, organ reproduksi akan terus bereproduksi tanpa batasan umur.

                Bahkan tindakan nonheteroseksual yang pertama kali disebutkan dalam al Quran juga mengenai kaum Sodom. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka sebenarnya kaum yang normal dan sama dengan pria yang lain. Entah mengapa, mereka akhirnya melakukan tindakan homoseksual. Tidak hanya terjadi pada satu atau dua laki-laki, penyakit ini seakan menjalar kepada banyak pria yang lain.

Sisi kontra  

                Kemunculan kaum LGBT telah menarik berbagai macam pihak pro dan kontra. Berbagai permasalahan sudah timbul di balik realita yang tidak wajar ini. Alasan mereka yang hanya didasari oleh logika dan nafsu sama sekali tidak dapat dibenarkan. Sementara pihak yang mengecam kehadiran mereka tidak sedikit.

                Al Quran, hadits, dan ijma’ para ulama sudah sangat jelas melarang tindakan ini. Di dalam al Quran, kita dapat membaca kembali tentang larangan perbuatan homoseksual di dalam kisah Nabi Luth di negeri Sodom. Kaum Nabi Luth yang membangkang perintah Allah untuk meninggalkan perbuatan tercela mereka mendatangkan adzab yang kembali kepada mereka sendiri. Akhirnya, Allah menjungkirbalikkan negeri Sodom ke bawah tanah.

                Tidak hanya dari pihak agama, LGBT juga ditolak dari berbagai individu maupun organisasi. Diantara organisasi yang tidak setuju dengan mereka adalah NARTH (The National Association for Research and Treatmen of Hemosexuality) dan PATH (Positive Alternatives to Homosexualty). Keduanya tidak menggunakan sumber keagamaan dalam mengambil sikap tentang homoseksual. Mereka merupakan organisasi yang mendasar pada ilmu pengetahuan sehingga semua berdasarkan fakta dan penelitian. Dengan jelas mereka menolak anggapan bahwa orientasi seksual sudah menetap dan tidak dapat diubah.

Langkah menanggulangi

                Beberapa orang berpendapat bahwa para kaum LGBT hendaknya diperlakukan adil dengan seperti lainnya. Tidak dicaci dan diberi ruang bagi mereka untuk memiliki hak dalam bertindak. Namun, ini adalah asumsi yang jelas sekali salah. Saat kita membiarkan mereka di dalam dunia mereka, saat itulah kita membiarkan mereka terus terjerumus ke dalam jurang kegelapan. Tidak adanya bimbingan dari kita malah akan menggiring mereka terus menempuh jalan yang salah dan jauh dari kebenaran.

                Semestinya kita mengulurkan tangan, mengajak, membimbing mereka agar keluar dari dunia mereka. Menggambarkan kepada mereka bagaimana sebenarnya kehidupan sesungguhnya di bawah syariat Allah yang indah dan mengindahkan. Kita perlakukan mereka dengan bijak, sabar, dan takwa. Mengumbar aib mereka bukanlah jalan keluar yang cerdas. Bagaimanapun, saat seseorang berada dalam naungan yang sama dengan kita, tatkala berada di jalan yang salah, maka kewajiban kitalah untuk menggiring mereka menuju jalan yang lurus dan indah.

1istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan perubahan sosial politik (1960-1970) mengenai seks.
2orang yang memiliki orientasi seks selain heteroseksual
3istilah untuk menunjukkan keinginan tampil berlawanan dengan jenis kelamin yang dimiliki
4keinginan mendasar dari individu untuk memenuhi kebutuhan akan cinta, berhubungan dengan kedekatan atau rasa intim


Sumber: Anakku Bertanya Tentang LGBT, Sinyo, 2014

0 komentar:

Post a Comment