Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 28, 2016

AL WALID AL HABIB ABDURRAHMAN BIN AHMAD ASSEGAF ORANG TUA BAGI MURID-MURIDNYA

“Pada hari kewafatan beliau, tidak hanya putra-putrinya yang merasa dirinya sebagai seorang yatim.Tapi semua anak didik dan para muhibbin beliau juga dilanda perasaan yang sama”

Selasa 26 Maret 2007, sebuah pemandangan ganjil terlihat di salah satu ruas jalan tol di Jakarta. Ribuan sepeda motor dan beberapa mobil tampak berkonvoi mengiringi sebuah mobil jenazah di pintu tol Jagorawi. Mereka adalah para pelayat yang ikut mengantarkan jenazah seorang ulama terkemuka ibu kota ke tempat peristirahatanya.

Masa Kecil Habib Abdurrahman Assegaf.

Ulama tersebut adalah Al Walid Al Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qodir Assegaf. Beliau lahir pada tahun 1908 di Cimanggu, Bogor. Abdurrahman kecil adalah seorang yatim yang menjalani masa kanak-kanaknya dalam kondisi sangat memprihatinkan. Hal itu tercermin dari penuturan salah satu putra beliau: “Walid -berarti ayah, red- itu orang yang tidak mampu. Bahkan beliau pernah berkata; ‘Barangkali dari seluruh anak yatim, yang termiskin adalah saya. Waktu lebaran, anak-anak mengenakan sandal atau sepatu, tapi saya tidak punya sandal apalagi sepatu”.

Meskipun beliau seorang yatim yang miskin, Abdurrahman kecil adalah sosok anak yang gigih dan giat dalam menuntut ilmu. maka tidak mengherankan jika beliau mendapatkan prestasi cemerlang ketika masih belajar di Madrasah Jami’at Al-Khair. Selain prestasi akademik, akhlaqnya juga menjadi teladan bagi teman-temannya.

Disamping itu, kemampuan berbahasa yang bagus juga turut serta mengantarkan beliau menjadi penulis dan orator yang handal. Beliau tidak hanya menguasai bahasa Arab, tapi juga bahasa Sunda dan Jawa halus.

Masa Dakwah Habib Abdurrahman Assegaf.

Habib Abdurrahman adalah seorang guru sejati. Hampir seluruh masa hidup beliau dibaktikan untuk dunia pendidikan. Setelah menginjak usia dewasa, Habib Abdurrahman dipercaya sebagai guru di Madrasah Jami’at Al-Khair.

Ketika berusia 20 tahun, beliau pindah ke Bukit Duri Jakarta Barat. Dengan berbekal pengalaman yang cukup panjang, beliaupun mendirikan Madrasah Tsaqafah Islamiyyah yang hingga sekarang masih eksis di Jakarta. Madrasah ini menerapkan kurikulum mandiri yang didominasi kitab-kitab karya sang pendiri sebagai silabus. Selain itu, siswa yang berprestasi juga bisa loncat kelas.

Habib Abdurrahman Assegaf dan Keluarga.

Di mata putra-putrinya, Habib Abdurrahman dinilai sebagai sosok ayah yang konsisten dan disiplin dalam mendidik anak. Beliau selalu menekankan kepada mereka untuk menguasai berbagai disiplin ilmu dan belajar kepada banyak guru.

Beliau konsisten dan tegas dalam mendidik anak. Beliau juga menekankan bahwa dirinya tidak mau meninggalkan harta sebagai warisan untuk anak-anaknya. Beliau hanya mendorong anak-anaknya agar mencintai ilmu dan mencintai dunia pendidikan. Beliau ingin kami konsisten mengajar, karenanya beliau melarang kami melibatkan diri dengan urusan politik maupun masalah keduniaan, seperti dagang, membuka biro haji dan sebagainya. Jadi, sekalipun tidak besar, ya…. sedikit banyak putra-putrinya bisa mengajar”  kata Habib Umar, salah satu putra Habib Abdurrahman Assegaf merendah.

Dalam memotivasi anak-anaknya, beliau menanamkan kepada mereka bahwa ilmu yang dimiliki oleh beliau tidak dapat diwariskan, tapi harus dicari dan diusahakan sendiri oleh mereka. Berkat kedisiplinan Habib Abdurrahman dalam mendidik putra-putrinya dan motivasi yang ditanamkan pada diri mereka, putra dan putri beliau sukses menjadi ulama yang disegani dan berpengaruh di masyarakat.

Sembilan dari 22 orang keturunan beliau yang masih hidup saat ini (lima putra dan tiga putri)sukses berdakwah di daerahnya masing-masing. Mereka adalah Habib Muhammad (pemimpin pesantren di kawasan Ceger, Jakarta Timur), Habib Ali (pemimpin Majelis Taklim Al-Affaf di wilayah Tebet, Jakarta Selatan), Habib Alwi (pemimpin Majelis Taklim Zaadul Muslim di Bukit Duri, Jakarta Barat), Habib Umar (pemimpin Pesantren dan Majelis Taklim Al-Kifahi Ats-Tsaqafi di Bukit Duri, Jakarta Barat), dan Habib Abu Bakar (pemimpin Pesantren Al-Busyo di Citayam, Bogor). Sementara itu, tiga putrinya pun mempunyai jamaah tersendiri.

Karya-Karya Habib Abdurrahman Assegaf.

Habib Abdurrahman adalah sosok yang sangat disiplin, sederhana dan ikhlas. Kedisiplinan beliau tidak hanya dalam hal belajar dan mengajar, tapi juga dalam soal makan. Habib Ali, salah seorang putra beliau bercerita: “Walid tidak akan pernah makan sebelum waktunya. Dimanapun ia selalu makan tepat waktu”. Selain itu, beliau juga selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya.

Habib Abdurrahman adalah sosok alim yang produktif dalam berkarya. Selain mendirikan Madrasah Tsaqafah Islamiyyah, beliau juga memiliki banyak tulisan. Kitab-kitab tulisan beliau tidak hanya terbatas pada satu macam disiplin ilmu saja, tapi mencakup berbagai macam disiplin ilmu. Selain kitab berbahasa Arab, beliau juga memiliki karya berbahasa Melayu dan Sunda yang ditulis dengan huruf Arab (dikenal dengan pegon, red).

Karya-karya beliau antara lain; Hilyatul Jinan fi Hadyil Qur’an, Syafinatus Said, Misbahuz Zaman, Bunyatul Umahat dan Buah Delima. Sayang, puluhan karya itu hanya dicetak dalam jumlah terbatas dan hanya digunakan untuk kepentingan para santri di Madrasah Tsaqafah Islamiyyah asuhan beliau.

Karamah Habib Abdurrahman Assegaf.

Sebagai alim besar, Habib Abdurrahman dikenal memiliki beberapa karomah. Di antara karomah Walid terlihat ketika beliau membuka Majlis Taklim Al-Busyro di Bogor sekitar tahun 1990. Di daerah tersebut, sebelumnya sangat sulit mencari sumber air bersih. Ketika Habib Abdurrahman hendak membuka majlis Taklim itu, beliau bermunajat kepada Allah swt. guna memohon petunjuk lokasi sumber air.

Tak lama kemudian, datanglah seorang lelaki misterius sambil membawa cangkul dari tempat yang tidak diketahui asalnya. Tanpa ada komando dari siapapun, lelaki tadi dengan serta merta mencangkul tanah di dekat rumah Habib Abdurrahman.

Setelah selesai mencangkul, kemudian ia berlalu dan tanah bekas cangkulan tadi ditinggal serta dibiarkan begitu saja. Tidak lama kemudian, merembeslah air dari tanah bekas cangkulan tersebut. Sampai kini, sumber air bersih itu dimanfaatkan oleh warga Parung Banteng, terutama untuk keperluan Majelis Taklim Al-Busyro. Menurut penuturan Habib Abdurrahman, lelaki pencangkul tersebut adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Wafatnya Habib Abdurrahman Assegaf.

Suatu hari, seorang santri Darul Musthafa Tarim asal Indonesia mendapat pesan dari Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Syahab, seorang ulama besar disana. “Saya mimpi bertemu Rasulullah saw. tapi wajahnya menyerupai Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf. Tolong beritahu anak-anak beliau di Indonesia. Katakan, mulai saat ini jangan jauh-jauh dari walid (Habib Abdurrahman Assegaf, red)”, begitu isi pesan tersebut.

Mendapat pesan tadi, santri itu kemudian menelepon keluarganya di Indonesia hingga akhirnya kabar dari ulama Hadramaut itu diterima keluarga Habib Abdurrahman di Jakarta.

Selang seminggu kemudian, pesan tersebut menjadi kenyataan. Tepatnya pada hari senin jam 12.45 WIB, tanggal 7 rabiul Awal 1428 H atau bertepatan dengan tanggal 26 Maret 2007, Al-Alamah Al-Arif Billah Al-Habib Abdurrahman Assegaf wafat dalam usia kurang lebih 100 tahun.

Acara pelepasan jenazah dibuka dengan sambutan dari pihak keluarga yang diwakili oleh Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf. Setelah mengucapkan terima kasih dengan nada sendu kepada para pecinta Habib Abdurrahman Assegaf yang telah datang bertakziah dan membantu proses pengurusan jenazah, putra kedua Habib Abdurrahman tersebut mengungkapkan beberapa keutamaan-keutamaan almarhum.”Beliau rindu kepada Rasulullah saw. Beliau ungkapkan rasa rindu itu lewat sholawat-sholawat yang tak pernah lepas dari bibirnya setiap hari.” Katanya.

Puluhan ribu pelayat yang berdiri berdesak-desakan pun mulai sesunggukan karena terharu. Apalagi ketika Habib Ali, yang berbicara, tampil dengan suara bergetar.“hari ini, tidak seperti hari-hari yang lalu, kita berbicara tentang bagaimana memelihara anak yatim. Tapi, kali ini kita semua menjadi anak-anak yatim” kata Habib Ali, yang mengibaratkan hadirin sebagai anak yatim. Betapa tidak, Habib Abdurrahman dianggap sebagai orang tua.Tidak hanya oleh keluarganya, tapi juga oleh jamaah.

Jasad mulia Habib Abdurrahman disholatkan di depan kediaman beliau dengan Imam Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al-Haddad Al-Hawi Condet. Sejurus kemudian, iring-iringan jenazah mulai bergerak menuju pemakaman Kampung Lolongok, tepatnya di belakang Kramat Empang Bogor.



Setelah sampai, jenazah dimasukkan ke liang lahat sambil terus diiringi dzikir yang tak henti dari para jemaah. Mudah-mudahan Allah swt. mengumpulkan beliau bersama Nabi Muhammad saw. Semoga Allah swt. memberikan taufiq kepada kita semua untuk meneladani beliau dan menghadiahi kita pengganti-pengganti  Al-Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, Amin. (ykf)

0 komentar:

Post a Comment