Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, January 22, 2016

Realisasi Doa di Depan Mata


                Setiap hamba di muka bumi pasti pernah berdoa. Meminta sesuatu yang ia inginkan dalam hidupnya. Namun tak semudah membalik telapak tangan, doa dapat terkabul. Tidak sedikit hamba yang berputus asa dan mulai tidak mempercayai Dzat yang mengabulkan doa lantaran doa yang ia panjatkan tidak juga terkabul. Lalu, siapakah yang harus ia salahkan? Haruskah ia berhenti berdoa?

                Doa ialah suatu perbuatan dimana seorang hamba mengharapkan sesuatu yang diinginkan kepada Allah I dengan harapan agar keinginan tersebut dapat dikabulkan. Semua orang mungkin sudah mengenal doa, namun tidak semuanya faham dan mengerti tata cara ataupun adab dalam berdoa. Benar, doa juga memiliki adab dan caranya sendiri. Sebagaimana seorang anak yang meminta sesuatu kepada orangtuanya dengan cara tersendiri agar permintaan tersebut dipenuhi, doa juga memiliki adab tertentu agar doa tersebut dapat terkabul.

                Semua orang boleh berdoa. Dan bisa saja semua orang terkabulkan doanya. Namun, ada beberapa orang tertentu yang doanya pasti diijabahi alias manjur. Golongan yang istimewa ini di antaranya: orang-orang yang didhalimi, imam yang adil, orang yang shaleh, anak yang berbakti kepada orangtuanya, orang yang berpuasa selama ia belum berbuka, dan orang yang bepergian. Di samping itu semua, doa orangtua kepada anaknya juga dipastikan cepat dikabulkan. Begitu pula doa seorang muslim yang mendoakan suatu kebaikan kepada saudaranya sesama muslim tanpa diketahui oleh siapapun. Orang yang mendoakan tersebut akan diamini oleh malaikat seraya mereka berkata: “Semoga Allah I mengabulkan doamu padanya dan kepadamulah doamu dikabulkan terlebih dahulu.”

Lantas, apakah orang yang tidak berada di posisi mereka tidak boleh berdoa?
               
Jawabannya adalah tidak. Setiap doa yang dikirim ke langit memiliki hak untuk kembali ke bumi dengan wujud yang nyata. Hanya dengan mengamalkan beberapa syarat dan adab dalam berdoa, insya Allah I segala macam doa yang terucap dapat dikabulkan.

                Di antara syarat-syaratnya adalah ikhlas kepada Allah I, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, menjauhi makanan, minuman, serta pakaian yang haram, dan juga berdoa dalam keadaan suci.
                Selain memenuhi segala syarat, beberapa adab di bawah ini juga penting untuk dipraktekkan.

1.       Memilih waktu-waktu yang mulia dimana Allah I mengabulkan segala doa pada saat itu. Seperti hari Arafah yang ada hanya sekali dalam setahun, bulan Ramadhan yang lebih mulia daripada bulan yang lain, hari jumat yang lebih mulia dari hari yang lain, dan waktu sahur atau sebelum subuh yang lebih mulia di antara waktu yang lain dalam satu hari.

2.       Memilih keadaan-keadaan yang mulia. Seperti saat perang, turun hujan, dan saat didirikannya shalat. Imam Mujahid berkata: “Sesungguhnya shalat itu didirikan pada waktu-waktu yang terbaik, maka hendaknya kalian perbanyak doa seusainya.” Begitu juga waktu di antara adzan dan iqamah dan ketika sujud. Rasulullah r bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُعَاء (رواه مسلم و أبو داود والنسائي)
Keadaan dimana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya yang Mahatinggi ialah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah berdoa di dalamnya.” (diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, dan Nasa’i)

3.       Menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan. Diriwayatkan bahwa saat Rasulullah r berdoa, beliau mengangkat tangannya hingga kulit ketiaknya yang putih terlihat. Kemudian beliau mengusapkan kedua tangannya tersebut ke wajah beliau ketika selesai berdoa.

4.       Merendahkan suara. Abu Musa al Asy’ari berkata: “Saat Rasulullah r dan kami tiba di Madinah, beliau bertakbir. Maka semua orang ikut bertakbir dan mengangkat suara mereka keras-keras. Rasulullah r pun berkata: “Wahai para manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian minta tidaklah tuli dan tidak ghaib. Sesungguhnya Ia berada di antara kalian dan di antara leher dan lutut kalian.”

5.       Tidak berdoa dengan memaksa melainkan tunduk dan merendahkan diri. Allah I berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخفْيَةً انَّهُ لاَ يُحِبُّ المُعْتَدِيْنَ (الأعراف : 55)
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al A’raf : 55)

6.       Berdoa dengan khusyu’.

7.       Percaya dan yakin akan terkabulnya doa.

8.       Meminta dengan merengek dan mengulang doa tersebut hingga tiga kali sebagaimana yang Rasulullah r lakukan.

9.       Memulai dengan menyebut nama Allah I dan bersholawat kepada Nabi r setelah memuji dan mengagungkan Allah I. Lalu menutupnya dengan nama Allah I dan shalawat juga.

10.    Taubat dan membayar segala hal dhalim yang pernah dilakukan.
Kini, bagaimana apabila ada seorang hamba yang sudah memenuhi segala syarat dan telah melakukan adab-adab yang disebutkan, namun doanya belum juga terkabul?

Syarat dan adab yang telah dipaparkan bukanlah hal yang mengharuskan akan dikabulkannya sebuah doa. Akan tetapi, adab tersebut mampu mempermudah doa agar cepat terkabul. Sebagaimana juga orang yang tidak melakukan syarat maupun adab berdoa, tidak menutup kemungkinan jika akhirnya doanya akan terkabul. Karena sesungguhnya segala sesuatu kembali pada kehendak Allah I. Disebutkan dalam firman Allah I:

"بَلْ اِيَّاه تَدْعُوْنَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ . ." (الأنعام :41)
“hanya kepadaNya kamu minta tolong.  Jika Dia menghendaki..”(al An’am : 41)

Perlu diketahui juga bahwa doa tidak semata-mata terwujud secara langsung sesuai permintaan. Akan tetapi, doa yang dipanjatkan dapat terwujud dengan beberapa cara:

1.     Doa tersebut terwujud secara langsung di dunia.

2.     Tewujud, namun ditunda hingga waktu yang telah ditentukan oleh Allah I sebelum ia meninggal.

3.     Terwujud di akhirat nanti.


4.     Doa tersebut tidak dikabulkan, melainkan menjadi penolak dari bala’ (musibah) yang telah Allah I takdirkan sebelumnya.

0 komentar:

Post a Comment