Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, January 28, 2016

Pondok Pesantren Nurul Haromain Markas Dakwah Kota Apel

Pendiri ponpes Nurul Haromain K.H. Ihya' Ulumuddin bersama Musyrif ponpes Abuya Assayyid Muhammad bin Alawy AlMaliki 

Mendengar kota Malang, pikiran kita akan tertuju pada pemandangan yang indah dan bermacam tempat liburan keluarga yang tersaji di kota ini. Kota Malang lebih dikenal dengan sebutan kota apel. Jiwa petualang kami terpacu untuk menjejakkan kaki di kota ini, menyusuri beberapa tempat eksklusif yang disajikan.

Langkah kami terhenti sejenak di salah satu sudut kota Malang, tepatnya di kecamatan Ngroto Pujon. “Nurul Haromain”. Jelas terpampang di depan sebuah bangunan yang begitu megah nan indah. Apa itu Nurul Haromain? Apa yang ada di sana?

SEJARAH BERDIRI

                Nurul Haromain adalah nama salah satu pondok pesantren di Ngroto Pujon Malang, yang berdiri pada tahun 1987, namun baru ditempati pada tahun 1991. Pada tahun ini pula dibuka pendaftaran santri sebanyak sebelas orang dengan sembilan santri yang diterima.

                Pondok pesantren ini dibangun atas permintaan Abuya Maliki yang mendapatkan bisyaroh dari Rasullullah r untuk membangun sebuah pondok pesantren. Sebelum pesantren didirikan di Pujon Malang sebagai tempat pilihan terakhir, abuya dan Ustadz Ihya’ telah menelusuri setiap sudut Kota apel ini, akhirnya terpilihlah Pujon sebagai tempat yang dirasa tepat untuk dibangun pesantren di sana.

                Dengan bermodalkan tekat dan usaha yang keras, Allah I meridhai berdirinya pondok pesantren ini yang memakan waktu kurang lebih empat tahun lamanya.

                Santri yang belajar di pondok pesantren Nurul Haromain hanya diberi waktu tiga tahun saja. Meskipun terbilang singkat, namun santri lulusan dari pesantren ini sudah siap berdakwah di mana saja mereka di tempatkan. Khususnya di daerah pelosok yang belum tersentuh oleh ajaran agama Islam.

Santri yang belajar di sini harus bersyaratkan pernah belajar atau lulusan pesantren lain dan minimal berumur 20 hingga 40 tahun. Karena pesantren ini bisa dikatakan hanya untuk pematangan dalam berdakwah.

Kisah Perjalanan Pendiri

                KH. M. Ihya’ Ulumiddin, yang lebih dikenal dengan sebutan Abina oleh kalangan santri yang belajar kepada beliau, dilahirkan pada 10 Agustus 1952  di desa Parengan Maduran, Lamongan.

                Ustadz Ihya’ adalah salah satu lulusan pertama yang belajar di Makkah, tepatnya pada Abuya as Sayid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani (Abuya Maliki), seorang Muhadits dan Imam Ahlu Sunnah Wal’jamaah  abad ke-21.
                Sebelum belajar ke Makkah, Ustadz Ihya’ sudah belajar kepada beberapa alim ulama, seperti Kyai Abdul Hadi pengasuh Pondok Pesantren Langitan dan Habib Baharun Bondowoso. Beliau kemudian meneruskan belajarnya di pondok YAPI. Sesampainya di sana, beliau justru diminta untuk mengajar karena kecerdasannya.

                Perjalanan dalam mencari ilmu kepada gurunya tak berhenti disitu saja. Akhirnya Ustadz Ihya’ memutuskan untuk pergi ke Universitas Ummul Qurra’ Makkah. Namun di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan Abuya Maliki di Masjidil Haram Makkah.

                Dalam pertemuan itu, Abuya sempat bertanya perihal tujuan kedatangannya. Setelah berbincang-bincang, Abuya menitipkan surat yang mengantarkan beliau kepada tujuan awal kepergiannya. Ternyata dengan surat itu, Ustadz Ihya’ merasa dipermudah untuk diterima di Ummul Qurra’. Lambat laun Ustadz Ihya’ merasa cocok dengan Abuya Maliki. Kemudian Abuya Maliki memerintahkan beliau untuk beristikhara.

                Setelah sholat istikhara, Ustadz Ihya’ membuka al-Quran dan menemukan ayat yang menyeru untuk mendekati orang yang selalu dekat dengan Allah I. Tak terhenti di situ, Ustadz Ihya’ mendapatkan mimpi bahwa Jami’ah Ummul Qurra’ dikelilingi api. Dengan tanda-tanda itulah beliau memutuskan untuk keluar dari jami’ah itu, yang kemudian diikuti teman-teman beliau.

                Setelah menyelesaikan studinya di Makkah kepada Abuya Maliki, kesibukan beliau sampai sekarang adalah mengajar di berbagai tempat. Sementara kitab yang diajarkan di pondok beliau meliputi kitab-kitab hadits seperti, shahih al-Bukhari, Muslim, Sunan Abi Dawud dan Tirmidzi. Terkadang beliau juga mengajar kitab Mafahim karangan Abuya Maliki.

Sepulang dari Makkah, beliau terus aktif menulis. Sudah banyak karangan kitab beliau seperti kitab hadits pilihan (jalaul afkar), risalah-risalah tentang pembahasan haji, sholat dan banyak karangan beliau yang sangat berguna bagi umat Islam, terutama bagi khalayak umum.
                                                                    
SEKILAS TENTANG AKTIVITAS PESANTREN
                Pesantren Nurul Haromain tidak hanya mengajarkan santri ilmu agama saja, namun juga membekali santri ilmu-ilmu lain. Seperti cara berwirausaha, mengoperasikan barang elektronik seperti radio, ataupun kegiatan bermanfaat yang lainnya. Hal tersebut bertujuan agar santri bisa menjadi seorang kyai yang multitalenta.

                Setiap hari kamis, jumat dan sabtu, setiap santri mendapat jadwal bergilir untuk berdakwah di lima belas titik tertentu dan tiga belas TPQ di sekitar Pujon.

                Pondok pesantren juga mempunyai jadwal kegiatan tahunan yang dilaksanakan dua kali setahun. Yaitu ABS (Amal Bakti Santri) yang diperuntukkan bagi santri baru sebagai tajribiyah (percobaan santri). Acara ABS di antaranya seperti; pemotongan qurban massal, khitan massal, training jenazah, dan training al Qur'an.

                ABS ini cukup menghabiskan banyak biaya, kurang lebih 40 hingga 50 juta. Sasaran dakwah ABS ini lebih dominan di tempat yang agamanya bercampur atau yang tidak ada masjid dan pesantren di dalamnya. Acara ABS ini bertujuan agar masyarakat mengenal Islam lebih dalam terutama di daerah pedalaman. Khususnya yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam.

                Dengan diselenggarakannya ABS ini, Ustadz Ihya' berharap agar iman masyarakat yang telah mengenal Islam lebih kuat. Dan bagi yang belum mengetahui Islam supaya mereka mengerti dan memahami apa itu Islam.

                Di antara petuah beliau antara lain:

                "Dakwah ojok wedi ora mangan. sapi ae ora dakwah iso mangan" yang berarti, “Dakwah jangan takut tidak makan. Karena seekor sapi saja bisa makan meski tanpa berdakwah.”

                Tiga kalimat pegangan beliau, "Semangat, jujur,dan  ikhlas."

            

0 komentar:

Post a Comment