Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, January 24, 2016

Mengarungi Pendidikan Bersedekah


عَن حَكِيم بن حِزام رضي الله عنه عَن النَبِي قَالَ: "اليَدُ العُليا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُفلَى وَ ابْدَأ بِمَنْ تَعُوْلُ وَ خَيرُ الصَدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنى وَ مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَهُ اللهُ وَ مَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ," متفق عليه و اللفظ للبخاري
 
Diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam, dari Rasulullah r bahwasanya beliau bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dari orang yang kamu nafkahi. Sebaik-baik sedekah itu dari orang yang masih mencukupi. Barangsiapa yang menjaga harga dirinya, maka Allah akan menjaga harga dirinya. Barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupkan(rizki)nya.” Muttafaq alaih (diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim)
                
                     Menelusuri hadist-hadist tentang bersedekah tidak pernah memberi kesan yang buruk. Allah I menyimpan beribu rahasia di balik indahnya bersedekah. Mulai dari harta yang tidak akan berkurang hingga ibadah para Nabi yang dapat diimbangi oleh pahala sedekah. Diceritakan bahwasanya tatkala Nabi Ibrahim telah selesai membangun ka’bah, beliau sholat di setiap pojok bangunan ka’bah sebanyak seribu rakaat. Kemudian Allah I mendatangkan wahyu, “Wahai Ibrahim, Alangkah indahnya amal yang telah kamu lakukan! Akan tetapi, sesuap makanan yang engkau berikan kepada orang yang lapar lebih baik daripada semua itu.”

                Dari redaksi hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Hizam di atas, setidaknya ada lima poin penting yang berhubungan erat dengan bersedekah. Berikut perinciannya:
1.       Tangan Para Pemberi
Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Hadits ini telah menjadi peribahasa yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat. Peribahasa yang menerangkan bahwa orang yang memberi itu lebih baik daripada orang yang menerima. Keutamaan sedekah bisa dilihat ketika Rasulullah r menyebutkan tujuh orang yang akan berada di naungan Allah I tatkala tiada naungan lagi selain naungan-Nya. Beliau menyebutkan bahwa orang yang bersedekah secara sembunyi (diibaratkan tangan kiri yang tidak tahu dengan apa yang disedekahkan tangan kanan) adalah salah satu dari ketujuh orang tersebut.

Beberapa ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kalimat tangan di atas yang disebutkan oleh Rasulullah r dalam hadist. Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud adalah orang yang menjaga harga dirinya dengan tidak meminta-minta. Sebagian lagi berpendapat bahwa yang dimaksud dalam hadist adalah orang yang menerima sedekah tanpa meminta sebelumnya. Namun, pendapat yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa tangan di atas  adalah orang yang menyedekahkan hartanya sebagaimana Rasulullah r telah menjelaskan sebelumnya.
2
         Sedekahlah pada Keluargamu

Rasulullah r meneruskan hadist beliau dengan kalimat mulailah dari orang yang kamu nafkahi. Hal itu berarti, kita harus mendahulukan perkara yang wajib dalam menafkahi keluarga maupun kerabat. Kemudian, apabila keluarga sudah mendapatkan haknya, maka sedekah boleh diberikan kepada orang lain.

Pernah diceritakan tatkala Zainab (istri Ibnu Mas’ud) mendatangi Nabi r, ia berkata, “Wahai Nabiullah, hari ini Engkau telah memerintahkan kami untuk bersedekah. Dan sesungguhnya aku kini memiliki perhiasan. Kemudian aku ingin menyedekahkannya. Sementara Ibnu Mas’ud beranggapan bahwa ia dan anaknya paling berhak mendapatkan sedekah itu.” Rasulullah r menjawab, “Ibnu Mas’ud benar. Suamimu dan anakmu adalah orang yang paling berhak mendapatkan sedekah itu.”

Dalam hadist lain, Rasulullah r menyebutkan bahwa orang yang memberikan sedekah kepada orang lain sementara dia mengetahui bahwa keluarganya lebih membutuhkan, maka hal itu termasuk hal-hal yang melampaui batas.
3.       Jangan Habiskan Hartamu

Sedekah memang indah. Pahala yang didapatkan tidak perlu diragukan lagi. Namun, Rasulullah r menjelaskan bahwa sedekah yang baik adalah yang tidak menghabiskan harta. Sedekah tersebut masih menyisakan harta setidaknya para keluarga masih bisa mendapatkan nafkah yang berhak untuk mereka dapatkan.

Akan tetapi, hal ini juga tidak mencegah seseorang untuk banyak bersedekah. Dalam beberapa gambaran, bersedekah hingga menghabiskan harta diperbolehkan. Contohnya apabila orang yang bersedekah rela dan ikhlas dengan semua harta yang ia keluarkan. Seperti Abu Bakar as Siddiq yang tak segan-segan menghabiskan seluruh hartanya untuk kepentingan agama. Atau apabila semua anggota keluarga yang ia nafkahi rela dengan semua harta yang disedekahkan, maka hal tersebut tidak dilarang.

4.       Menjaga Harga Diri
Harga diri yang dimaksud adalah saat seseorang mengurungkan niatnya untuk meminta-minta kepada orang lain meski ia sendiri tahu bahwa dirinya sedang memerlukan bantuan. Maka tidak seharusnya bagi orang miskin mengharap-harap pemberian orang lain sementara ia tidak berusaha untuk mencari nafkah yang halal dengan usahanya sendiri. Padahal, ketika Rasulullah r ditanyai tentang pekerjaan yang terbaik, beliau menjawab:
"عَمَلُ الرَجُلِ بِيَدِهِ, وَ كُلُّ بَيعٍ مَبْرُور" (رواه البزّر و صحّحه الحاكم)
“Amal yang dilakukan oleh seseorang dengan tangan(kemampuan)nya sendiri, dan semua transaksi yang sah.” (diriwayatkan oleh al Bazzar, dan disohihkan al Hakim)

Sungguh tidak benar apabila seseorang menjadikan kegiatan meminta-minta sebagai mata pencahariannya. Hal tersebut akan melahirkan rasa ketergantungan kepada pemberian orang dan juga mengurangi rasa percaya kepada Dzat yang mengatur rezeki. Rasulullah r pernah bersabda bahwa apabila seseorang menghabiskan hidupnya di dunia dengan meminta-minta, pada hari kiamat nanti ia akan dibangkitkan tanpa ada segumpal daging pun di wajahnya.
5.       Selalu Merasa Cukup

Semua rezeki yang ada di tangan setiap makhluk sudah ditentukan jauh sebelum segalanya diciptakan. Entah rezeki itu banyak maupun sedikit, itu semua adalah kehendak Allah I. Kita tidak patut membantah atau mengeluh akan segala takdir yang telah ditentukan-Nya.

Kebahagiaan manusia tidak tergantung akan banyak atau sedikitnya harta yang ia miliki. Apabila seseorang percaya akan segala ketentuan Allah I, ia tidak akan mengeluh dan lantas menerima dengan apa yang didapatnya walaupun hal itu tidak banyak. Meskipun hal itu bukanlah kebahagiaan bagi orang lain, tapi ia akan bahagia memilikinya. Para ulama terdahulu menjalani kehidupan yang bahagia tidak dengan harta yang banyak. Bahkan, Rasulullah r sendiri menerapkan hidup sederhana hingga akhir hayatnya sebagai contoh bagi umatnya dalam menjalani kehidupan di dunia.

Referensi:
1.       Bulugh al Maram min Adillatil Ahkam, Ibnu Hajar al Asqolany
2.       al Fawaid al Mukhtaroh, Ali bin Hasan Baharun

3.       Shohih al Bukhori, Imam Bukhori

0 komentar:

Post a Comment