Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, January 21, 2016

Halimah as Sa’diyah Air Susunya Mengalir di Darah Manusia Paling Sempurna

          
           Kemarau panjang selalu menjadi momok menakutkan dalam kehidupan. Tumbuhan meranggas dan sumber air perlahan mengering. Hewan ternak tak lagi menghasilkan susu segar untuk diperah. Himpitan ekonomi dan musibah tersebut menjadi alasan bagi para wanita bani Sa’d untuk mencari bayi-bayi untuk diasuh selama beberapa waktu. Terlebih bagi Halimah as Sa’diyah dan keluarga kecilnya. Dengan bekal seadanya, mereka pergi ke Mekkah.
               
                Dengan menunggangi seekor keledai dan unta yang dimakan usia, Halimah tertinggal jauh di belakang kafilah yang pergi bersamanya dari awal perjalanan. Ditambah sang buah hati yang terus menangis di sepanjang perjalanan lantaran air susu Halimah yang tak mencukupi kebutuhan putranya. Lengkaplah penderitaan wanita tersebut. Dia hanya bisa bersabar dengan keadaan yang sangat menyulitkan dan berharap mendapatkan bayi susuan dengan upah yang sesuai.
                
            Sesampainya di Mekkah, rombongan tersebut langsung berpencar dan mencari orang yang membutuhkan jasa untuk menyusukan anaknya pada mereka. Sepertinya, keberuntungan masih tidak memihak kepada Halimah. Kendaraan yang Halimah tunggangi terlalu pelan, sehingga Halimah dan suaminya terlambat sampai ke kota Mekkah. Pada saat itu juga, semua wanita dari bani Sa’d sudah mendapatkan apa yang mereka cari. Tinggallah Halimah seorang yang belum mendapatkan orang yang membutuhkan jasanya.
              
          Awalnya, Halimah menolak mengasuh putra Aminah lantaran ia terlahir dalam keadaan yatim. Ia tak bisa mengharap mendapatkan banyak upah dari Ibu maupun Kakek si bayi. Tapi, karena tak ada pilihan lain, dengan berat hati Halimah menerima tawaran tersebut.

Halimah berkata kepada Abu Dzuaib, suaminya, “Demi Allah, Aku tidak akan kembali sebelum mendapatkan anak untuk Aku susui. Aku akan mengambil anak yatim itu.”
               “Lakukanlah, siapa tahu dengan mengasuhnya, kau akan mendapatkan berkah.” Jawab suaminya.

Sayyidah Aminah sangat senang saat melihat kedatangan Halimah ke rumahnya. Karena hanya dialah satu-satunya harapan Sayyidah Aminah untuk menitipkan putra kesayangannya kepada kafilah Bani Sa’d.

Keadaan di kota berbeda dengan desa. Karena banyaknya pendatang dari berbagai daerah, kota Mekkah pun terbawa arus kebobrokan moral. Hal itulah yang dikhawatirkan para orang tua kepada anak-anak mereka. Sehingga mengirim bayi dari kota untuk diasuh di desa sudah menjadi adat bagi bangsa arab pada saat itu. Sesuai adat yang berlaku, putra Aminah diasuh selama dua tahun di tempat tinggal pengasuhnya.
               
               Dengan langkah bimbang, Halimah menuju rombongan yang sedari tadi menunggunya. Halimah menggendong Muhammad kecil dengan hati-hati supaya ia tidak terjaga dari tidurnya. Namun, tak seperti yang diharapkan, si bayi malah merasa lapar dan minta disusui.
               
              Keanehan pun terjadi. Halimah begitu terkejut ketika menyusui Muhammad kecil karena ASI yang keluar tiba-tiba sangat lancar dan banyak. Tidak sampai di situ saja, keajaiban lain juga dirasakan suaminya. Unta yang sudah kurus kering dan mustahil untuk menghasilkan susu, ternyata kantong susunya penuh. Mereka pun meminumnya sampai kenyang. Malam itu, mereka bisa tidur nyenyak saat perjalanan.
              
              Mereka tiba di rumah pada sore hari. Tidak ada tanah yang lebih tandus dari tanah kediaman mereka. Halimah terkejut, saat melihat kambing-kambingnya pulang dari gembala dengan kantong susu yang penuh. Padahal kambing-kambing penduduk yang lain sama sekali tidak berisi susu. Sejak hari itu, kebahagiaan di kediaman Halimah as Sa’diyah dimulai dengan hadirnya sang putra Aminah yang istimewa.
                
            Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Tak terasa, Muhammad kecil telah menginjak usia lima tahun. Pada suatu hari, saat ia bermain bersama saudara dan teman-temannya, datanglah dua malaikat yang berwujud dua orang laki-laki. Tanpa disangka, dua orang tadi membelah dada Rasulullah r dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Melihat adegan yang mengerikan itu, saudara sepersusuannya langsung lari ke rumah dan berteriak-teriak, “Ayah, Ibu! Muhammad ditangkap dua pria berpakaian putih. Dia ditidurkan kemudian dadanya dibuka. Kedua orang itu mengeluarkan sesuatu dari dada Muhammad.”
               
             Halimah begitu terkejut mendengar pengaduan putranya. Begitu juga suaminya. Tanpa pikir panjang, mereka langsung menuju ke tempat Muhammad kecil berada. Mereka mendapatinya berdiri sendirian dengan wajah pucat.
                “Apa yang terjadi, Nak ?” tanya Halimah.
               
           Dengan terbata-bata Muhammad kecil menjawab, “Aku didatangi dua laki-laki berpakaian putih. Aku ditidurkan, lalu mereka membelah dadaku dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.”
              
       Setelah mendengar penuturannya, mereka pun mengajaknya pulang ke rumah. Suami Halimah khawatir, kalau nantimya kejadian ini akan menjadi pertanda buruk bagi keluarganya.  Sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Mekkah, mengembalikan Muhammad kecil kepada Ibunya.
                
       Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Muhammad kecil pun kembali ke pangkuan Ibunya, Sayyidah Aminah. Perpisahan ini membuat Halimah sangat bersedih. Bagaimana tidak, Rasulullah r diasuh oleh Halimah selama lima tahun dan selama itu pula Halimah mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada beliau. Kenangan-kenangan indah bersamanya kembali terbesit dalam benak Halimah. Hanya air mata yang dapat menggambarkan betapa sedihnya Halimah. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia yakin akan bertemu lagi dengan Rasulullah r, suatu hari nanti.
               
        Waktu begitu singkat, anak susuannya tumbuh menjadi pria dewasa. Kabar bahwa Nabi Muhammad r menjadi Rasul semakin menyebar di jazirah Arab. Hingga hal tersebut sampai ke telinga Halimah yang  membuatnya sangat senang.
               
            Hingga datang suatu hari, saat Halimah tak mampu lagi menahan rasa rindunya kepada anak susuan istimewanya. Akhirnya ia berangkat meninggalkan kampungnya menuju Mekkah untuk menemui Rasulullah r. Melihat kedatangan Ibu susuannya, Rasulullah r langsung melepaskan selendangnya dan menggelarnya di tanah untuk menyambut kedatangan Halimah. Rasulullah r sangat memuliakannya sampai membuat para sahabat yang belum mengenalnya keheranan. Begitulah cerminan budi pekerti, kecintaan, dan rasa hormat dari Rasulullah r kepada Ibu susuannya.

              
       Manis pahit kehidupan telah dialami Halimah. Tentu semua itu ada akhirnya. Ia meninggal di Madinah dan dimakamkan di pemakaman Baqi’, diantara wanita-wanita mulia yang lainnya.

0 komentar:

Post a Comment