Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, December 19, 2015

Telaah Fitnah Terbesar Dunia Islam


قَالَ ابْنُ أَبِيْ حَاتِمٍ فِي تَفْسِيْرِهِ : عَنْ عَبْدِ اللِه بن عَمْرٍو بن العَاصِ قَالَ : مَا كَانَ مُنْذُ كَاَنتِ الدُّنْيَا رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ إِلَا كَانَ عِنْدَ رَأْسِ 

المِائَةِ أَمْرٌ
Ibnu Abi Hatim berkata dalam tafsir beliau: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al Ash, bahwasanya beliau berkata: “Sejak dunia tercipta, di setiap penghujung satu abad akan terjadi sebuah peristiwa.”

            Maqolah yang diriwayatkan oleh al Imam al Suyuthi dalam kitab beliau Tarikhul Khulafa’ di atas menjelaskan bahwa di setiap penghujung 100 tahun, Allah I akan menguji kaum muslimin dengan fitnah yang menguji keimanan mereka. Tidak lupa pula, Imam al Suyuthi juga menjelaskan runtutan kejadian–kejadian yang sempat menggemparkan umat muslim sejak abad pertama Hijriah sampai dengan abad kedelapan Hijriah. Berikut perinciannya:

1.  Fitnah atau peristiwa yang mengguncang dunia Islam pada abad pertama Hijriah adalah perang antara al Hajjaj bin Yusuf al Tsaqofi, pembunuh sahabat Abdullah bin zubair. Imam al-Dzahabi menerangkan tentang al Hajjaj bin Yusuf al Tsaqafi:    

“Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijriah dalam keadaan tua dan dia adalah seorang yang dhalim, bengis, naashibi (pembenci ahlul bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap al Quran. Aku (Imam al Dzahabi) telah menulis tentang sejarah kehidupannya yang buruk dalam kitabku al Tarikh al Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq (alat pelontar batu), penghinaannya terhadap penduduk al Haramain (Makkah dan Madinah), penguasaannya terhadap Irak dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnu Asy’ats, sikapnya melambat-lambatkan menunaikan sholat, sehingga Allah mematikannya, maka kami mencelanya dan kami tidak mencintainya. Sebaliknya, kami membencinya karena Allah.” (dikutip dari kitab Siaru a’lam al Nubala’ karya Imam al Dzahabi)

2. Fitnah yang terjadi di penguhujung abad kedua Hijriah adalah fitnah bahwa al Quran yang semula diyakini sebagai kalamullah yang bersifat qodim, tiba-tiba berubah di masa pemerintahan khalifah al Ma’mun bin Harun al Rosyid. Beliau menetapkan bahwa madzhab resmi negara adalah mu’tazilah. Otomatis, pada masa itu pemerintah menegaskan kepada masyarakat bahwa al Quran adalah makhluk Allah yang bersifat hadist (baru).

Beliau juga menjelaskan bahwa fitnah ini merupakan salah satu fitnah terbesar. Tragedi ini merupakan kejadian pertama dimana pemerintahan Islam menyerukan sebuah bid’ah kepada muslimin sementara khalifah-khalifah sebelumnya tidak pernah menyerukannya.

            Salah satu ulama yang menjadi korban fitnah ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal, pencetus madzhab Hambali. Beliau sempat didatangi oleh utusan pemerintah yang bertanya  mengenai pendapat beliau tentang al Quran. Hebatnya, beliau berani menjawab bahwa al Quran itu kalamullah yang bersifat qodim. Sehingga pemerintah menjebloskan beliau ke penjara.  Akhirnya aliran mu’tazilah dicopot sebagai madzhab resmi negara pada masa al Mutawakkil pada tahun 487 H.

            3. Kejadian dahsyat yang terjadi pada abad ketiga adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Yahya al Qurmuthi. Ia terus berusaha merebut mahkota kesultanan sampai akhirnya terbunuh pada tahun 390 H.
Pada abad ini, juga terjadi pemenggalan sejumlah qhodi dan sekelompok ulama. Padahal sejarah tidak pernah menyebutkan adanya pemenggalan ulama yang terjadi sebelum masa itu.

4. Fitnah besar yang terjadi pada masa pemerintahan al Hakim Biamrillah yang bertepatan pada akhir abad keempat Hijriah. Pada masa pemerintahannya, pemerintah membunuh banyak ulama muslimin. Pemerintah juga memerintahkan rakyat Mesir dan Haromain untuk berdiri, lantas sujud bersimpuh ketika nama al Hakim disebut. Perintah ini berlaku di pasar–pasar dan tempat berkumpulnya banyak orang.

5. Di tahun 1099 M atau bertepatan dengan 492 H (Imam Suyuti menyebutkan bahwa kejadian ini terjadi pada abad kelima Hijriah), datang serangan suku Frank dari Eropa yang membawa 40.000 tentara untuk menguasai Jerussalem. Akhirnya, Jerussalem takluk dan berdirilah kerajaan Latin di Jerussalem. Perang ini disebut Perang Salib I. Palestina dikuasai oleh suku Frank yang beragama Kristen. Pada Perang Salib II yang berlangsung pada tahun pada 1147-1187 M, Palestina kembali berada di tangan Islam pasca penaklukan pasukan muslim di bawah komando Salahudin al Ayyubi. 

6.  Pada abad keenam Hijriah terjadi kenaikan harga pangan yang menyebabkan kelaparan yang sangat parah. Bahkan merupakan yang terparah semenjak kelaparan pada zaman Nabi Yusuf As.
Konon, kondisi yang begitu parah pada zaman itu, tak menyisakan pilihan bagi rakyat kecuali untuk menggali kuburan dan mengambil jenazah di dalamnya untuk dimakan. Bahkan para orang tua terpaksa menjual anak-anak mereka dengan harga yang sangat miring untuk mengatasi kelaparan mereka.
7. Pada abad ketujuh Hijriah, terjadi penyerangan bangsa Tartar yang menyebabkan hancurnya Baghdad dan berakhirnya kekuasaan Bani Abbasiyah. Bahkan bangsa Tartar tega memenggal banyak kepala ulama dan umaro’ muslimin.

Perang penghancuran Baghdad berlangsung selama 40 hari. Dan telah memakan korban lebih dari satu juta jiwa. Tiada satu orang pun yang berhasil selamat kecuali mereka yang bersembunyi di gelapnya dasar sumur (beruntung tak ditemukan). Bahkan sang khalifah pun tak luput dari pembunuhan mereka.

8. Pada abad kedelapan terjadi penyerangan Asia oleh Tamerlane atau Timur Lenk yang berarti Si Pincang dari Timur merupakan keturunan Mongol yang sudah masuk Islam. Sang penakluk ini lahir di dekat Kesh (sekarang Khakhrisyabz "kota hijau", Uzbekistan), sebelah selatan Samarkand di Transoxiana, pada tanggal 8 April 1336 M/25 Sya'ban 736 H. Kemudian ia meninggal di Otrar pada tahun 1404 M.

            Kekejaman Timur Lenk dapat dilihat melalui pembantaiannya atas 70.000 penduduk kota Isfa. Bahkan ia tega membangun menara yang tersusun dari 2000 mayat penduduk kota Sabzawar, menara yang berdiri tinggi kokoh menantang langit, diperkuat batu dan tanah liat. Bahkan Baghdad juga tak luput dari serangannya, hingga sang penguasa Baghdad harus melarikan diri ke Mesir. Ironisnya, ia tega membuat 120 piramida dari kepala rakyat yang ia bunuh di Baghdad.

            Dalam kitab Tarikh al Khulafa’, Imam as Suyuti menutup pembahasan beliau tentang sekumpulan fitnah yang mengguncang keimanan kaum muslimin ini dengan doa: “Semoga Allah I menjemput kita ke rahmat-Nya sebelum fitnah akhir abad kesembilan terjadi.”  Beliau berkata demikian karena beliau hidup di akhir abad kesembilan Hijriah. Dan kita juga patut berdoa: “Semoga Allah I menghindarkan kita dari fitnah akhir zaman ini, dan segala fitnah yang menguji keimanan kita. Atau paling tidak, menguatkan kita agar mampu menghadapi fitnah tersebut.” Amin.  

Referensi :
Dari beberapa sumber terkait

0 komentar:

Post a Comment