Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, December 16, 2015

MENGEJA LOGIKA ISLAM LIBERAL


“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki padahal hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin.” (al Maidah: 50)

Kontroversi panjang soal “Pemikiran Liberal” rasanya tak pernah habis untuk diperbincangkan. Mulai dari isu kebebasan HAM, kearifan budaya lokal, sosio kultural dan gender termasuk LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang belum lama ini kembali menghangat dalam pemberitaan. Yang menarik adalah, bagaimana isu-isu pemikiran tersebut dipertahankan pada fungsinya sebagai mesin dekontruksi aqidah umat? Dan apa peran yang bisa dibawakan kaum muslimin menanggapi permasalahan tersebut?


Sekadar gambaran mengenai beberapa stetmen miring yang dilontarkan oleh kaum liberal, berikut kutipan dari Islamlib.com (situs resmi Islam Liberal):
                
             Bagi saya, shalat pertama-tama adalah tindakan personal, bukan komunal. Dia menandai komunikasi pribadi antara Tuhan dan manusia. A conversation with God, kalau mau meminjam judul buku “laris manis” karya Neale Donald Walsch. Perbedaan lain: Saya berpendapat, shalat tidak boleh dipaksakan melalui polisi moral. Di Saudi Arabia, dan sebagian (amat disayangkan!) juga ditiru di Aceh, seorang Muslim diwajibkan shalat dan dikontrol oleh polisi moral. Begitu adzan tiba, polisi moral, atau mutawwi’, akan berkeliling di seluruh sudut kota, mengawasi orang-orang yang tak shalat.

Menurut saya, pemaksaan shalat seperti ini hanya akan menciptakan hipokrisi atau kemunafikan massal. Shalat adalah tindakan sukarela. Tak bisa dipaksakan. Forced worship stinks in God’s nostrils, kata Roger Williams (1629-1676), seorang teolog Amerika dari daerah New England. Ibadah yang dipaksakan (melalui aparatus negara), akan bacin di hidung Tuhan. Shalat yang dilakukan karena takut polisi adalah shalat yang munafik.

Dasar beribadah adalah voluntarism, kesukarelaan. Ikhlas, dalam bahasa Quran. Praktek “prayer policing” atau memata-matai orang yang tak shalat melalui polisi moral, seperti berlaku di Saudi Arabia, adalah kebijakan yang buruk sekali. Tak layak ditiru di negeri Muslim manapun.

Menanggapi stetmen di atas. Rasanya ada beberapa hal yang dirasa sedikit rancu. Kerancuan tersebut perihal anggapan atau pemahaman sepihak bahwa shalat adalah tindakan sukarela dan tidak bisa dipaksakan. Memang nampak benar di satu sisi, namun tetap saja tidak memberi arti pembenaran di sisi yang lain. Apalagi jika stetmen tersebut tiba-tiba diperkuat dengan pernyataan Roger William sebagai seorang teolog protestan asal Amerika.

Kerancuan pertama dipicu pendapat yang menyalahi kesepakatan bahwa shalat merupakan ibadah wajib bagi tiap muslim. Kalau dalam hal ini pembicara menyampaikan hal tersebut (sebagai muslim) jika tidak, maka seharusnya dia melepaskan diri dari nama Islam liberal menjadi liberal (tanpa Islam). Ditinjau dari sisi falasi (kesalahan dalam logika), gagasan yang disampaikan temasuk jenis argumentatum ad baculum. Dengan anggapan orang yang shalat bukan karena dasar kesukarelaan namun karena takut diawasi oleh polisi moral. Dengan kata lain gagasan tersebut didasari oleh penalaran yang sama sekali irasional dan tidak memperlihatkan hubungan logis antara premis dan kesimpulan.

Sajian stetmen di atas dirasa sangat mencolok dalam upaya pemaksaan konsep liberal sebagai nilai universal, terutama jika harus mengatasnamakan HAM. Inilah kondisi nyata yang menuntut ketegasan sikap. Di sisi yang lain, masih ada deretan pertanyaan yang harus diajukan umat Islam sendiri, dan semua itu kembali pada pertanyaan dasar: apakah berarti kaum muslim kian menyadari selama ini betapa berbahaya wabah pemikiran liberal untuk umat Islam?


Otoritas akal di balik nama liberal

Penyematan liberal di belakang nama Islam sebenarnya hanya akan mencoreng wajah Islam sebagai agama moderat. Bisa dilihat dimana letak kerancuan ideologi ini secara sederhana. Islam yang bermakna penyerahan atau ketundukan dengan apa yang telah digariskan oleh syari’ disandingkan deangan nama liberal yang memiliki artian kebebasan tanpa batas. Bagaimana kedua makna yang saling kontradiktif itu bisa dipadukan dalam satu nama?

Lebih lanjut, aktivitas nalar yang kritis harusnya ditopang dengan kejernihan jiwa dan akhlak sehingga mampu berdiri di atas nilai-nilai kesucian kian lumpuh karena otoritas penafsiran yang tumbuh liar.

Di waktu yang sama, semangat kebebasan yang disuarakan sebenarnya merupakan hal utopis untuk diterapkan. Karena memang hal tersebut terlalu kontras dengan fitrah manusia sebagai hamba yang butuh akan petunjuk dari Allah Swt. Kendati demikian, kelompok liberal masih berupaya mendekontruksi[1] pemikiran umat dengan beragam ide radikal seputar otoritas[2] nalar untuk mengkritisi wahyu sebagai sumber kebenaran. Akankah hal tersebut bisa ditolerir?



Jawabannya bergantung dengan sikap kepedulian untuk memerangi wabah pemikiran liberal  atau hanya duduk menyaksikan satu persatu aqidah umat Islam menjadi korban mesin dekontruksi ala liberal. HQ





[1] Dalam pengertian umum bisa diartikan sebagai pembongkaran.
[2] kekuasaan; wewenang

0 komentar:

Post a Comment