Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, December 18, 2015

Watermelove

             Nafisah menyeka air mata. Setiap inci hatinya terbalut lara. Ia merasa haknya telah dijajah logika setiap orang. Terkalahkan argumen tak berdasar.
            “Kamu memerlukan seorang pria yang mapan, Nafisah … anakmu masih kecil. Perlu biaya yang tak sedikit untuk pendidikannya kelak.” ucap bibi Karla pelan hampir tak terdengar.
            Nafisah diam. Sudut matanya tak cukup menggambarkan perasaannya.
            “Kamu dan Farhan tidak hanya membutuhkan sosok seorang suami dan ayah, Percayalah!” lanjut perempuan itu beranjak meninggalkan Nafisah di atas tempat tidurnya. Diaduk-aduk perasaan tak menentu. Menjadi single parent bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu pengorbanan, perasaan dan keteguhan hati.
***
            “Beli semangka ya, Mi …” rengek Farhan. Kedua tangannya erat menggenggam lollipop berwarna jingga.
            “Insya Allah, Ummi nggak janji loh.” Nafisah mempercepat langkahnya seraya menarik tangan Farhan, memasuki toko pinggir jalan.
            Setiap Minggu sore, Nafisah selalu mengajak buah hatinya tersebut untuk sekadar melepas penat setelah seminggu penuh tidak keluar rumah. Sekaligus menenangkan pikirannya yang beberapa hari selalu dibelenggu dilema. Tentang bibi Karla, lamaran tempo hari dan status dirinya. Ditambah  tumpukan jahitan yang belum dikerjakan.     
***
            “Semangka, Mi … semangka!” Anak kecil berumur lima tahun itu kembali merengek, menarik-narik abaya umminya. Nafisah kembali menghela nafas, sisa uangnya tak cukup untuk membeli semangka.
            “Sayang, beli semangkanya nanti saja ya, Ummi lagi nggak punya uang. Lagian kan Farhan udah beli apel?” Nafisah mengangkat sekantong plastik apel merah segar.
            Farhan tetap cemberut. Namun, anak kecil seperti Farhan tak kehilangan akal. Di saat Umminya sibuk dengan plastik-plastik belanjaan, ia menghampiri pria berjanggut tipis yang duduk di meja kasir. Entah apa yang diucapkan Farhan, pria itu memberi sebiji semangka sebesar helm.
            “Ummi …!” teriak Farhan memanggil Nafisah seraya memamerkan kantong plastik berisi semangka dengan senyum bangga. Bukan main kagetnya Nafisah melihat kelakuan putranya.
            “Nakal kamu ya!” ucap perempuan itu, geregetan.
            Nafisah segera menghampiri pria berjenggot tipis yang sudah lama ia kenal dari mendiang suaminya itu. Menjelaskan dan meminta maaf atas kelakuan nakal putranya. Pria itu seperti yang dulu. Menggeleng pelan dengan bahasa isyarat yang dimengerti Nafisah.
            “Ambillah, gratis untuk kalian berdua.” Begitulah tangannya bicara dengan bahasa isyarat. Nafisah agak sangsi. Kembali pria itu mengangguk pasti.
            Sejak awal membina rumah tangga, Nafisah dan sang suami sering membeli buah di sana. Sikapnya yang ramah membuat siapapun puas berbelanja di tokonya. Ia pria yang baik, murah senyum, dan selalu menutup tokonya saat adzan berkumandang.
            “Rezeki itu Allah yang mengatur, bagaimana kita akan diberi kalau kita lengah saat ia memanggil?” jelasnya dengan bahasa isyarat beberapa tahun lalu, saat Nafisah dan suaminya memasuki toko tersebut, tepat ketika adzan Ashar mulai menggema.
***
            “Om tadi baik ya, Mi.” celetuk Farhan di sela-sela menikmati potongan buah semangka, buah kesukaannya. Nafisah hanya diam. Tangannya sibuk mengiris-ngiris semangka.
            “Coba Farhan punya abi kayak dia, pasti dapat semangka setiap hari.” lanjutnya sambil tetap asyik mengunyah.
            Nafisah tertegun lama mendengarkan celotehan anaknya.
“Iya kan, Mi?”
            “Kamu mau punya Abi bisu?” Tiba-tiba Bibi Karla muncul di depan mereka berdua. Farhan melongo tak mengerti, sedangkan Nafisah semakin tidak nyaman dengan keadaannya sekarang.
            “Sudahlah Nafisah, terima saja lamaran itu. Hidupmu akan bahagia dan Farhan akan mendapatkan pendidikan yang layak.”
            Diam membungkus suasana beberapa saat. Hanya ada butiran air mata yang menjadi jawaban dari seorang perempuan muda beranak satu tersebut.
            “Kamu tidak bisa berharap dari orang yang tak sempurna, Nafisah.” cecar Bibi Karla lagi.
            “Kenapa selalu mereka yang berharta yang selalu Bibi sebut cocok untuk kehidupan Nafisah? Nafisah tak memerlukan harta yang berlipat-lipat, Bi. Nafisah memerlukan seseorang yang bisa menjadi imam dan menuntun Nafisah menuju kehidupan yang hakiki.” bela Nafisah dengan linangan air mata yang semakin deras. Farhan yang tak tahu apa-apa juga ikut sedih ketika melihat umminya menangis sesenggukan.
“Keteguhan dan cara berpikirmu sangat bagus, Nafisah. Tapi cobalah berpikir sekali lagi … apakah kamu akan membiarkan psikologis anakmu terkungkung dalam realita? Tertekan karena ejekan teman-temannya?”
Nafisah tak menjawab apa-apa.
 ”Ah, sudahlah … aku memang tak berhak untuk memaksamu.” Perempuan tua itu berlalu dari hadapan Nafisah dan anaknya.
***
             “Om! Om!” teriak Farhan.
Anak kecil itu kemudian berlari kecil menuju tangga masjid, memanggil-manggil pria yang beberapa hari lalu memberinya semangka. Nafisah hanya memandang mereka dari kejauhan.
Dengan balutan koko putih, pria itu menuruni anak tangga dan langsung memeluk Farhan, hangat. Mencoba berinteraksi meski Farhan tak begitu mengerti isyaratnya.
“Ayo, Nak! Jangan ganggu Om.” ucap Nafisah membujuk Farhan.
“Farhan boleh ke toko Om lagi kan, Ma?”
“Boleh.” jawab Nafisah.
 Sebelum mereka berpisah, Farhan sempat meraih dan mencium punggung tangan pria tersebut. Sebentar, namun cukup menggetarkan hati Nafisah.
Adzan Maghrib memisah pertemuan mereka. Sebelum siluet Nafisah dan Farhan menghilang di ujung jalan, pria itu sempat membalas lambaian tangan Farhan.
***
Dua minggu berlalu dengan cepat. Toko buah itu selalu tutup akhir-akhir ini. Senyap tak ada kabar. Terakhir kali Nafisah dan anaknya ke sana, seorang perempuan paruh baya yang selalu membersihkan toko itu menghampirinya. Menyerahkan kartu undangan berwarna merah muda.
            “Siapa yang nikah, Bu?” Nafisah bertanya dengan kalut.
            “Dibuka saja mbak, nanti juga tahu.” ucap perempuan itu seraya berlalu.
            Perasaan tak mudah dikekang dan disembunyikan. Semakin dipendam, semakin sakit layaknya tertusuk seribu sembilu. Dan Nafisah bukanlah seorang perempuan yang bisa menyimpan perasaannya dalam-dalam. Jauh di dasar ruang hatinya, ia berharap pria itu bisa menjadi imamnya kelak. menjadi figur untuk putranya yang tak pernah mengenal sosok seorang ayah.
            Penyesalan selalu datang di akhir cerita. Menjadi bumerang yang menghancurkan segalanya. Tepat di atas lipatan kartu undangan, nama pria itu bersanding dengan nama mempelai wanita.
***
            Aroma laut tercium pekat. Sesekali debur ombak menyentuh ujung kaki Nafisah dan anaknya, Farhan. Hamparan pasir pantai terlihat begitu indah kala matahari menjemput senja dengan cahaya pendaran jingga. Beberapa ekor burung camar terbang rendah mencari mangsa.
            Ibu dan anak itu menikmati senja dengan beberapa potong semangka sembari duduk di atas batang kayu yang perlahan lapuk. Sesekali mereka tergelak. Melupakan kemelut hati yang telah menyobek-nyobek impian mereka.
            Tak jauh dari mereka duduk, sepasang pengantin baru yang telah mengikrarkan cinta mereka berjalan beriringan menyusuri pantai. Pria itu dengan perempuan yang bersedia melengkapi hidupnya yang tak utuh.
            Sebening embun pagi, air mata Nafisah kembali berurai saat menyaksikan mereka bergandengan tangan. Halal seutuhnya.
            “Ummi kok nangis?” ucap Farhan polos.
            Perempuan itu tersenyum kecut.
            “Cinta bukan sepotong semangka yang bisa menghilangkan dahaga dan laparmu. Cinta juga bukan sepotong semangka yang bisa kau dapati dengan mudah di toko buah. Tapi, cinta adalah rasa. Di mana ia menyempurnakan sesuatu yang tak seutuhnya sempurna.” gumam Nafisah dengan suara rendah yang diredam angin laut.
Cinta adalah rasa, bukan sesuatu yang dipaksa
Dan cinta adalah pelengkap, terpilih dari hati yang tersingkap.

Raci, 09 Agustus 2015
Oleh : Afin Author Arifin 

2 comments: