Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, September 26, 2015

Efek Boomerang? (Fenomena Cybersexual Addiction Melalui Gadget dan Smartphone)



Kecanduan akses situs-situs porno secara kompulsif  atau yang biasa disebut dengan cybersexual addiction, merupakan salah satu potret miring dari teknologi gadget dan smartphone saat ini. Agak miris memang, ketika teknologi yang seharusnya bisa berdampak positif untuk peningkatan sumber daya manusia, malah membawa efek boomerang bagi para penggunanya. Sebut saja kutipan pemberitaan yang dilansir oleh inet.detik.com (Selasa,13/01/2015) yang menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2014, Indonesia telah menorehkan prestasi runner-up sebagai pengunjung situs porno terbanyak setelah Turki. Mengapa harus Indonesia?

Inveksi Intelektual?

            Dari sebuah kasus “Dampak Teknologi di Desa Kami”: Fenomena ‘Seks Atas’  diketahui bahwa pemicu kedua pelaku (siswa tingkat X SMK dan siswi tingkat VIII SMP) melakukan hubungan ‘seks atas’ adalah akses rutin ke situs porno melalui smartphone milik Dika (nama samaran) setiap kali keduanya bertemu. (Kutipan dari kompasiana.com)
Contoh kasus di atas menjadi bukti bahwa dampak negatif teknologi tidak hanya melucuti lapisan demi lapisan moral dan mentalitas remaja saat ini, bahkan telah mengoyak masa depan anak bangsa.

           Meskipun secara totalitas, tidak semua orang menggunakan gadget atau smartphone untuk alasan tersebut. Namun, yang perlu diperhatikan bahwa generasi muda masa kini jauh lebih cepat berkembang dalam penggunaan teknologi dibanding orang tua mereka, dan tidak ada jaminan bagi mereka untuk mampu survive dengan iming-iming konten pornografi yang menjamuri dunia akses mereka.

Masalah Gadget dan Smartphone

         Ada beragam faktor yang memicu masalah adiksi pornografi ini. Beberapa di antaranya:

        Gadget dan smartphone merupakan device dengan aksesbilitas tinggi. Hal ini tak lepas dari daya dukung perangkat teknologi yang senantiasa terbarukan. Namun sayang, hal ini tidak dibarengi dengan kontrol dan kecerdasan daya olah secara positif. Akibatnya,  gadget dan smartphone dijadikan sebagai media akses bebas secara privasi aneka konten porno dengan beragam kualitas secara cepat dan biaya murah, kapanpun dan dimanapun mereka inginkan.

         Kenyamanan dan fleksibelitas penggunaan merupakan pilihan dari gadget yang tidak bisa ditolak. Keadaan ini agak berbeda ketika seseorang memilih jasa warnet. Perlu berfikir dua kali untuk mengakses konten pornografi di tempat tersebut, karena takut adanya teguran  dari server atau sanksi hukum UU No 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi.

            Lemahnya monitoring dan kepedulian orang tua terhadap virus pornografi dan pornoaksi. Dari data tahun 2010 saja, BPS telah mencatat bahwa sebanyak 80 juta anak-anak terbiasa mengakses situs pornografi[1]. Sedangkan persentase untuk kalangan SD sebanyak 27% anak mengakses situs pornografi karena iseng, 10%  karena terbawa teman dan 4% beralasan karena takut dibilang kuper[2]. Bagaimana dengan saat ini?
Bagi anak-anak, pornografi merupakan hal baru dan sangat menarik perhatian. Semakin menarik kemasan konten pornografi yang disajikan, semakin banyak daftar kunjungan ke situs penyedia konten tersebut. Nah, alasan inilah yang seharusnya menjadi PR bagi orang tua, untuk lebih peduli dan lebih mengontrol perkembangan anak-anak mereka.

            Lemahnya kontrol sosial akibat kentalnya budaya permisif dan memudarnya budaya malu di masyarakat. Terkadang, seseorang enggan atau acuh tak acuh ketika ada orang lain di sampingnya sedang mengakses pornografi di tempat umum dengan gadget dan smartphone, terkendala masalah privasi atau banyaknya orang yang melakukan hal serupa atau alasan lainnya. Sedangkan pengakses tersebut hanya diam menikmati tanpa ada rasa malu atau tabu. 

            Banyaknya persepsi miring terhadap kebutuhaan situs pornografi juga ikut menjadi pemicu cybersexual addiction. Sebagian besar orang berasumsi bahwa situs porno merupakan salah satu solusi dari permasalahan hubungan seksual yang mereka alami. Namun, tetap saja asumsi seperti ini tidak bisa dibenarkan.

            Leiblum dalam Jurnal of Sex Education and Therapy berjudul “Sex and The Net: Clinical Implications”[3] membedakan tiga karakter klinis para pengakses situs porno sebagai berikut:

           Pertama adalah looner. Para pemilik karakter ini menganggap bahwa situs porno adalah alat yang mampu untuk mengakomodasi hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup. Kedua adalah partner. Mereka beranggapan bahwa situs porno merupakan bagian dari pasangan hidup. Ketika mereka mendapat masalah, mereka akan mencari solusi melalui situs porno. Ketiga adalah paraphilics. Mereka mengalami ketergantungan pada situs porno dan untuk memberi stimulasi dan kepuasan seksual.

         Kepentingan sistem politik dan kapitalis. Realitanya, perusahaan besar punya andil besar dalam peningkatan trafik akses situs porno. Sehingga tak mengherankan jika pada tahun 2010 saja, belanja akses situs porno membludak sampai $3.673 per detik atau senilai dengan Rp. 33 juta lebih per detik[4]

Ketagihan Akut dan Dampaknya  

          Layaknya adiksi pada umumnya, adiksi pornografi dan pornoaksi akan berdampak luas, mulai dari karakter individu sampai kepada hubungan sosial dengan masyarakat.
Kemungkinan dampak secara perorangan dari kasus ini adalah kerusakan otak. Menurut ahli bedah saraf, L Donal Hilton JR MD dari San Antonio bahwa semua kecanduan (adiktif) berpengaruh pada kerusakan otak. Bahkan, dampak adiktif dari pornografi memiliki tingkat kerusakan tertinggi dan lebih sulit untuk diatasi dari pada kecanduan narkoba. Kecanduan ini mengakibatkan penyusutan otak dan akan berakibat pada penurunan intelegensia seseorang.[5]

Bagaimana hal itu bisa terjadi? 

            Secara bertahap, adiksi pornografi akan merusak 4 hormon dalam tubuh kita. Yang pertama adalah dopamine. Pada dasarnya, ketika hormon ini bekerja akan menimbulkan rasa senang dan puas. Namun, hormon ini akan terus meningkat level demi level secara bertahap dan memaksa untuk terus mendapatkan objek-objek tertentu dengan varian yang berbeda.

            Sama halnya dengan masalah adiksi lainnya, adiksi pornografi diawali dengan gambar porno secara tidak sengaja, kemudian timbul rasa penasaran untuk membuka kembali gambar tersebut dan melihatnya lebih seksama sampai pada pencarian video porno dari tingkat terendah hingga tingkat ekstrem. Akibatnya, meski disadari bahwa perbuatan itu salah. Namun, si pecandu tidak akan sanggup melawan dorongan dari dalam tubuhnya.

            Yang kedua adalah neuropiniphrin (norepinefrin). Hormon ini bekerja pada memori untuk selalu mencari-cari keterkaitan antara apa yang sedang pecandu alami dengan objek ketergantungan ‘objek yang dicandu’. Sebagai gambaran kecil, semua hal yang dilihat pecandu pornografi akan selalu nampak sebagai inspirasi-inspirasi seksual yang kotor, meski pada dasarnya hanya melihat wanita dengan busana sopan dan tertutup.

            Yang ketiga adalah serotonin. Layaknya para pecandu rokok. Mereka akan merasa ada yang kurang, bahkan gelisa ketika tidak merokok. Begitu pula para pecandu pornografi, mereka akan terus mencari dan mendapatkan konten pornografi sampai mereka menemukan kesenangan dan kepuasan.

            Yang keempat adalah oksitosin. Hormon ini diproduksi ketika para pecandu mengkonsumsi konten pornografi sehingga ia akan merasa ada ikatan antara dirinya dan pornografi. Inilah yang membuat para pecandu tersebut merasa rindu ketika lama tidak mengakses konten pornografi.

             Untuk dampak secara sosial, masalah adiksi ini akan berimbas kepada peningkatan angka kejahatan dan penyimpangan seksual seperti virtual rape. pedofilia, dan sodomi; pepping, bestially , sadomasokisme & masokisme dll.

Sampai kapan anak negeri ini hidup dalam adiksi pornografi?

            Yang jelas, jawaban dari pertanyaan tersebut berawal dari sikap arif dan daya olah teknologi secara positif serta kepedulian untuk hidup lebih sehat tanpa pornografi. Dan yang terpenting dari semua itu adalah peningkatan kualitas iman sebagai filter dari beragam gempuran konten pornografi saat ini. (HQ)

Sumber: 
Diah Viska Rahmawati, Noor Rochman Hadjam, Tina Afiatin. 2002. “Hubungan Antara Kecenderungan Perilaku Mengakses Situs Porno Dan Religiusitas Pada Remaja”. Jurnal Psikologi.(Yogyakarta:Universitas Gadjah Mada).
Kompasiana.com
Siabangpedia.bliogspot.com dan berbagai sumber terkait.




[1] www.pikiran-rakyat.com
[2] Kutipan dari potret-online.com
[3] Lihat selengkapnya di aqilmaianhati.blogspot.com

[4] Lihat di m.news.viva.co.id
[5] Potret-online.com

0 komentar:

Post a Comment