Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, September 25, 2015

Gelagat Media Di Era Krisis Moral

Ramadhan, Gelagat Media Kembali Dipertanyakan

Sejak awal perubahan arus multi media abad 21, kita melihat beragam mode komersialisasi media secara umum atau lebih layak disebut sebagai bisnis pertunjukan. Hal tersebut semakin dibuktikan dengan merebaknya tayangan-tayangan yang dianggap lebih menghibur (kalau boleh dipersepsikan demikian) daripada mendidik. Mode kemersialisasi semacam inilah yang kerap kali memberi dampak negatif terhadap perkembangan mental masyarakat Indonesia secara umum. Benarkah?
Memang pada mulanya media memiliki fungsi sebagai agent of change (bagi umat Islam) dengan memasok informasi yang edukatif, mengisi kekosongan informasi mengenai seluk beluk Islam, memberi makna publik (dalam hal ini umat Islam sendiri) untuk mengerti keadaan sosial di sekitarnya, malah bergeser jauh menjadi agent of destroyer meninggalkan setumpuk permasalahan baru yang harus diselesaikan anggota MUI, Komisi Penyiaran Pertelevisian dan lainnya.
Wabah Musiman
Ramadhan sebagai bulan suci yang harusnya diwarnai dengan berbagai program evaluasi dan peningkatan amal ibadah nyatanya telah menjadi pasar musiman untuk meraup keuntungan bagi pemilik media.
Menjamurnya berbagai kemasan program religi, sinetron dan acara reality show yang nampak secara islami, kontras berbeda dengan nilai-nilai yang diajarkan Islam sendiri. Mulai dari acara komedi pengiring berbuka sampai sahur yang dibalut dengan tampilan hedonisme dan euphoria tanpa memperhatikan etika dasar Islam, semisal masalah percampuran laki-laki dan perempuan. Ataupun acara gosip selebriti sebagai bentuk intervensi privasi seseorang, atau ghibah masal. Jelas, pesan yang akan disampaikan oleh program semacam ini menjadi bias dan cenderung subjektif dengan campur tangan dan monopoli kaum pemodal.
Itulah realita yang ingin disampaikan media bahwa karakter umat Islam saat ini tak ubahnya sebuah kemasan usang tanpa integritas, mudah digiring dan dipropokasi oleh sebuah trend, begitu bodoh hingga tak pernah merasa dibodohi. Lalu dengan kenyataan demikian, bagaimana umat Islam memaknai Ramadhan sesungguhnya?
Entahlah, pertanyaan seperti itu agaknya harus diperinci dengan pertanyaan lanjutan. Mau dibawa ke mana media ini? dan untuk diisi dengan konten seperti apa? Dari sinilah ukuran kecermatan umat Islam untuk peduli dengan nasib mereka. Kepedulian untuk memaknai bulan Ramadhan dengan semestinya. Kita tak tahu berapa lama lagi persoalan seperti ini akan berakhir, sebelum kemunculan item-item hiburan religi yang lebih heboh. Bukan karena kualitas, namun karena kuantitas rate and chart favorit semata.
            Apakah media seperti di atas akan berubah? Yang jelas keputusan akan datang dari pemilik media itu sendiri. Tentu, dengan ekspresi positif umat Islam untuk memaknai Ramadhan dan penyelamatan dari peloncohan mental. Pilihan untuk lebih cerdas mengkonsumsi tontonan. Bukan hanya untuk saat ini. Tapi seterusnya, selama media dipenuhi oleh sampah atau hal-hal tidak bermutu lainnya yang tidak mempunyai dampak positif terhadap kepentingan publik, khususnya umat Islam sendiri sebagai konsumen.


0 komentar:

Post a Comment