Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, September 27, 2015

Bagaimana Islam Bersikap? (Pola Syariat dan Adiksi Akut Pornografi)


                Sejak awal 2015 kita telah disuguhi sejumlah pemberitaan media yang terjadi dibalik akses gadget dan smartphone. Salah satunya mengenai pemberitaan bahwa sepanjang tahun 2014, Indonesia telah menorehkan prestasi runner-up sebagai pengunjung situs porno terbanyak setelah Turki.[1] Mengapa harus Indonesia?

Memang masalah pornografi menjadi buah bibir yang terus saja diperbincangkan. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah penggunaan teknologi gadget saat ini yang dirasa masih belum optimal. Sikap arif dan daya olah teknologi secara positif menjadi pemandangan yang jarang untuk dijumpai, malahan penggunaan teknologi terkesan membawa efek boomerang bagi para penggunanya.

Ibarat pisau bermata dua, teknologi gadget dan smartphone membawa sisi positif dan negatif. Namun, terkadang dampak negatif yang dibawa lebih mendominasi. Tak mengherankan jika fleksibelitas penggunaan teknologi touchscreen ini, dijadikan sebagai media akses bebas secara privasi aneka konten porno dengan beragam kualitas secara cepat dan biaya murah, kapanpun dan dimanapun sesuai keinginan. Hal inilah yang dianggap sebagai pemicu kemunculan masalah adiksi pornografi (cybersexual addiction) yang cukup rame diperbincangkan media beberapa waktu yang lalu.

Layaknya adiksi (kecanduan) lainnya, adiksi pornografi dan pornoaksi akan berdampak luas pada dimensi sosial yang ada. Tak sedikit pula jika adiksi tersebut berimbas kepada peningkatan angka perzinahan dan kejahatan seksual.

Bagaimana Islam bersikap?

                Untuk itulah,meski pada dasarnya akses pornografi sendiri merupakan kegiatan pribadi, namun tetap saja imbas dari perbuatan tersebut tidak bisa ditolerir. Sejauh apapun kegiatan tersebut, selama bertentangan dengan nilai-nilai fundamental dalam Islam maka dianggap patut untuk diatur dalam rangka memberi maslahat kepada umat. Sebagai realisasinya,  Islam memberi diktum (pernyataan) haram kepada hal-hal yang berpotensi menjadi fitnah (seperti melihat ajnabi), pensyariatan hijab, perintah untuk menundukkan pandangan.

Sayangnya, pensyariatan tersebut dipandang oleh sejumlah kelompok sebagai konsep yang out of date dan sekadar utopia belaka untuk mengatasi masalah pornografi saat ini. Benarkah demikian? (HQ)




[1]Lihat selengkapnya di tekno.kompas.com 

0 komentar:

Post a Comment