Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, April 2, 2015

Spirit Dakwah di Bumi Blambangan





Banyuwangi merupakan salah satu destinasi panorama wisata alam dan cagar budaya yang eksotis. Belum lagi, kolaborasi ragam warna-warni alam dengan berbagai keunikan kultur budaya masyarakat seakan memajankan indera siapapun yang memandangnya. Kebudayaan yang tidak pernah mati, berpadu dengan kekayaan religi dan corak khas dakwah Islam yang cerdas membuat coretan perjalanan pada rubrik dunia pesantren edisi kali ini semakin menarik untuk dikaji.
Tarimul Ghanna, salah satu pondok pesantren yang konsisten memberi warna aqidah Ahlusunnah wal jamaah di daerah Banyuwangi. Terletak di kelurahan Bulusan, kecamatan Kalipuro  dengan jarak kurang dari satu km dengan Pantai Waru Doyong.
Pondok Pesantren yang dirintis oleh al Habib Sholeh bin Umar bin Jindan ini, mempunyai kisah sejarah yang penuh dengan perjuangan. Bermula dari perintah guru beliau al Habib Taufik bin Abdul Qodir as-Segaf Pasuruan untuk mendirikan Pondok Pesantren di Banyuwangi. Al Habib Soleh bin Jindan  mengawali langkahnya untuk mencari sebuah lahan yang akan dibangun sebagai pondok pesantren. Akan tetapi, pada waktu itu belum ada cukup dana bahkan untuk membeli sebidang tanah sekalipun. Hal itulah yang membuat beliau mencari rumah kontrakan sebagai tempat belajar sementara bagi para santri.
Pada suatu kesempatan, seorang dermawan mulia yang tak lain adalah habib Salim bin Umar al-Bahar mendatangi beliau untuk meminjamkan sebuah bangunan yang terletak di daerah Pakis, Banyuwangi sebagai tempat belajar para santri. Pada mulanya, bangunan tersebut adalah sarang burung walet. Karena tidak berhasil, akhirnya sarang burung walet tersebut dialihfungsikan sebagai sebuah asrama berlantai dua, lantai atas dijadikan sebagai kamar santri sedangkan lantai bawah digunakan untuk musholla dan tempat belajar mengajar para santri. Itulah cikal bakal berdirinya pondok pesantren Sunniyah Salafiyah Tarimul Ghanna.
Sejak dirintisnya Pondok Pesantren Tarimul Ghanna, Al Habib Sholeh bin Jindan memberikan mandat kepada al Habib Hasyim bin Abdullah as-Segaf sebagai partner seperjuangan beliau (ketika menimba ilmu di Rubat Tarim, Yaman) untuk menjadi pengasuh Pondok Pesantren tersebut. Sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan kemajuan Pondok, tidak lepas dari tanggung jawab al Habib Hasyim bin Abdullah as-Segaf.
                Seiring berjalanya waktu, datang seorang dermawan kepada al Habib Hasyim bin Abdullah as-Segaf. Kedatangan orang tersebut membawa kabar gembira bagi para santri yang masih tinggal di tempat yang berstatus pinjaman. Karena Kedatangan orang itu tidak hanya ingin sowan kepada al Habib Hasyim saja, tapi kedatanganya juga untuk mengutarakan niat baiknya dengan memberikan sebidang tanah hibah yang luasnya kurang lebih lima ribu meter persegi kepada al Habib Hasyim bin Abdullah as-Segaf untuk digunakan berdakwah dan kemajuan pesantren.
Setelah membicarakan hal tersebut kepada al Habib Sholeh bin Jindan. Hasilnya, Al Habib Sholeh merestui penerimaan tanah hibah tersebut. Maka pondok yang awalnya berada di Pakis, (dengan status tempat pinjaman) akan dipindahkan ke tanah hibah yang baru sebagaimana yang diamanatkan oleh dermawan tersebut.
Dengan kegigihan dan kesungguhan yang disertai niatan baik, beliau mulai membangun bersama para jama’ah majlis taklim yang berada di bawah asuhan beliau dan segenap dermawan yang mempunyai  jiwa dakwah terhadap Islam untuk turut andil dalam mensukseskan pembangunan pondok pesantren tersebut. Di antara mereka ada yang menyumabang batu bata, pasir, semen dan bahan material yang lain. Sehingga pembangunan dapat berjalan dengan lancar tanpa ada sepeserpun dana bantuan dari pemerintah. Pada tahun 2006, Pondok Pesantren ini di resmikan oleh tamu besar dari Tarim, Yaman yaitu al Allamah al Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri ketika berkunjung ke Banyuwangi.
Adapun nama pondok pesantren Sunniyah Salafiyah Tarimul Ghanna sendiri, diambil dari perpaduan dua nama. Pertama Sunniyah Salafiah, diambil dari nama Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah Pasuruan yang diasuh oleh al Habib Taufik bin Abdul Qadir as-Segaf, mengingat al Habib Sholeh bin jindan adalah murid al Habib Taufik bin Abdul Qadir As-segaf. Kedua Tarimul Ghanna, adalah nama pemberian dari al Allamah al Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri. Sehingga tak mengherankan jika pondok pesantren Sunniyah Salafiyah Tarimul Ghanna menjadi salah satu pondok pesantren kebanggaan masyarakat Banyuwangi saat ini.
Pengasuh
                Sejak kecil beliau al Habib Hasyim Kamal bin Abdullah As-segaf tumbuh dilingkungan keluarga yang berilmu dan berakhlak. Al Habib Abdullah, ayah beliau adalah sesorang da’i yang berjuang menyebarkan dakwah Islam di Banyuwangi waktu itu. Di samping kesibukan berdakwah, al Habib Abdullah juga tidak lalai untuk mendidik dan membimbing keluarganya bahkan lebih keras dari yang lainya. Begitu juga al Habib hasyim, beliau semenjak kecil mendapat pendidikan yang disiplin dan keras dari ayahandanya, khususnya pada urusan agama.
                Setelah beliau menyelesaikan pendidikan dasar dan pendidikan menengah di Banyuwangi, kemudian beliau melanjutkan pendidikan beliau ke Pondok Pesantren Sunniyah Safi’iyah Sukorejo yang berada di kabupaten Asem Bagus, Jawa Timur. Tidak hanya belajar untuk pendidikan diniah saja akan tetapi beliau juga mengikuti pendidikan formal yaitu Sekolah Menengah Atas hingga selesai sarjana S1. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Bangil yang terletak di kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
                Keberadaan beliau di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah hanyalah fokus terhadap pendidikan bahasa Arab, karena memang pondok pesantren itu mempunyai kelebihan di bidang bahasa Arab. Tidak begitu lama beliau menimba ilmu di sana, (kurang lebih hanya satu tahun beliau berada di pondok pesantren Darullughah Wadda’wah) beliau sudah banyak menguasai dan mendapatkan ilmu bahasa Arab.
                Kemudian beliau mendapatkan izin dari mudirul ma’had Darullughah Wadda’wah abuya al Habib Zain bin Hasan Baharun untuk safar ke Tarim, Yaman. Abuya Zain mengarahkan beliau untuk menimba ilmu di Rubat Tarim, Yaman di bawah asuhan al Habib Hasan bin Abdullah as-Syatiri, kakak dari pada al Habib Salim bin Abdullah As-syatiri. Setelah kurang lebih enam tahun menimba ilmu di kota wali itu, beliau kembali ke kampung halamannya Banyuwangi untuk meneruskan perjuangan dakwah ayah beliau.
Kurikulum
Adapun kurikulum yang diterapkan di Pondok Pesantren Tarimul Ghanna tidak jauh berbeda  dengan pesantren lain di Jawa. Sebagai pesantren yang masih menggunakan metode salaf (non formal) pesantren ini menggunakan kitab-kitab klasik dalam proses belajar mengajar, Seperti  kitab risalatul jamiah, al-Jurumiah, tafsir jalalain dan kitab klasik lainnya. Adapun pelaksanaanya dipimpin langsung oleh pengasuh pondok pesantren atau santri yang telah mendapat mandat dari pengasuh (biasanya santri senior). Seperti layaknya pesantren salaf di Jawa, ada dua metode yang digunakan dalam pengajian kitab kuning, yaitu as-Sam’iyah dan at-Tatbiqiyah (sorogan). Metode as-Sam’iyah adalah Ustadz membaca dan menerangan apa yang di dalam kitab dan sang murid mendengar, memahami dan menerjemahkan kitabnya masing-masing. Sedangkan metode at-Tatbiqiyah (sorogan) adalah murid membaca kitab dan menjelaskannya dan ustadz mendengarkan dan membenarkan. 
                Para santri dalam melaksanakan rutintas belajar tidak menggunakan kelas, melainkan membentuk halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) yang sesuai dengan kajian kitab mereka masing-masing. Setiap halaqah biasanya terdiri tidak lebih dari tujuh sampai delapan santri, yang tujuannya untuk mempermudah proses pembelajaran.
Dalam bimbingan para ustadz dari dalam dan luar kota, para santri dapat menimba berbagai wawasan ilmu yang beragam, di samping itu penuturan yang mereka sampaikan sangatlah ilmiah. Karena mareka adalah utusan dari pondok-pondok besar seperti pondok Sidogiri dan pondok Sunniyah Salafiyah, Pasuruan yang notabenenya adalah pondok salaf dengan kualitas sanad keilmuanya yang terjamin sampai ke nabi Muhammad r.
                Sang pengasuh juga tidak lupa mengajari anak didiknya untuk bertaqarrub kepada Allah I. Beliau mengharuskan muridnya membaca aurad (wirid-wirid) Ba’alawi. Diantaranya ratib al-Haddad setelah maghrib, wirdul latif selepas subuh dan wirid-wirid lainya. Sedangkan kegiatan-kegiatan pondok yang rutin dilaksanakan adalah pembacaan maulid nabi Muhammad r Pada malam Senin, menggunakan kitab maulid simtut duror, dhiya’ al-Lami’, ad-Diba’I dan yang lainnya secara ber gantian setiap malam Senin, pembacaan hadrah basaudan pada hari Selasa sore. Dan pengajian Kamis sore yang dipimpin oleh mudirul ma’had bersama para santri dan masyarakat umum.         

Ketika santri sudah mampu untuk menerima pelajaran yang lebih tinggi, maka santri tersebut akan dikirim ke pesantren yang lebih tinggi jenjang keilmuanya seperti pondok pesantren Sunniyah Salafiyah Pasuruan dan Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah Bangil. Tujuanya agar mereka mampu berkembang lebih.
Saat ini terdapat sekitar lima puluh santri yang menetap di asrama pesantren. Mereka tidak hanya dari kota Banyauwangi saja, melainkan dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Bondowoso, Situbondo, Madura dan Jember, bahkan ada yang dari luar pulau Jawa seperti Bali dan Lombok.
Pondok dengan masyarakat
                Keberadaan pondok pesantren Sunniyah Salafiyah Tarimul Ghanna sangat diterima oleh masyarakat. Karena mayoritas warga yang ada di sekitar adalah masyarakat yang awam dari pendidikan agama, bahkan ada sebagian dari mereka yang tidak beribadah.
Dulunya kampung ini adalah kampung yang sepi dari penduduk, sebab pada waktu itu aliran listrik belum menjangkau ke daerah itu. Walaupun dekat kota akan tetapi pada masa itu masih berupa kebun kelapa yang sepi dari perumahan warga. Ketika berdiri bangunan masjid pondok, al Habib Hasyim beserta para jama’ah majlisnya mengusahakan agar fasilitas listrik bisa masuk ke daerah tersebut.
 Setelah semuanya terang, jalan sudah diterangi oleh lampu, perumahan sekitar juga sudah mulai memakai lampu, sehingga akhirnya banyak warga yang datang untuk membangun rumah di sekitar pondok. Sekarang tanah yang dulunya perkebunan kelapa itu sekarang menjadi kampungan yang rame oleh penduduk. Artinya mereka sudah banyak diuntungkan dengan adanya Pondok Pesantren ini. Sehingga hubungan masyarakat dengan pesantren terjalin dengan baik.
                Dengan adanya masjid masyarakat bisa ikut shalat berjama’ah dan shalat jum’at. Dulu tatkala belum ada masjid di daerah situ, masyarakat harus rela berjalan kaki hingga dua kilo meter untuk sampai ke masjid. Masyarakat juga dapat mengikuti pengajian rutin dan pembacaan maulid nabi yang diadakan pesantren. Sehingga mereka para ulama dan masyarakat senang dengan keberadaan pondok pesantren Sunniyah Salafiyah Tarimul Ghanna.





2 comments: