Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, April 2, 2015

Setidaknya…


“Termasuk kesalahan besar jika dirimu meyakini bahwa kau dilahirkan dari orang tertentu yang tidak mendukung untuk menjalani perubahan. Sungguh kau dapat lakukan perubahan setiap waktu.”
[Jordan Bayern}
Aku ingin semua orang yang mengenaliku melupakan tentang siapa orang tuaku, setidaknya agar aku merasa sama dengan anak-anak lain atau paling tidak dengan melupakan hal itu mereka tidak membunuh karakterku. Berayahkan laki-laki yang menghabiskan usia dalam buih, jelas bukan inginku dan beribukan wanita lemah yang memilih mengakhiri hidup sebab lilitan hutang juga jelas bukan mimpiku. Setiap bayi tidak pernah punya pilihan untuk lahir dari rahim siapa, termasuk juga aku, hingga kumohon jangan pernah cerca seorang anak sebab kesalahan orang tuanya…Tuhanku mewujudkanku atas kasih sayang-Nya, mengapa kalian justru yang mencerca.
Kupeluk lengan nenek erat, air mataku mengalir menembus kain tipisnya, ia menoleh, menatapku nanar, pedih, mungkin sepedih ketika aku dulu berlarian tanpa melihat jalan, sebuah bus berdecit setengah meter tepat di depanku, seluruh tetangga mengutukku dengan berbagai umpatan sebutan, supir bus meracau tak karuan, sementara wanita tua dengan derai air mata terseok berlari ke arahku, memelukku erat dengan bibir takhenti ucap hamdalah, kalimat syukur tiada terkira.
“Kenapa?” tanyanya lembut, tangannya membelai rambutku.
“Nenek..ayo pindah..” pintaku terisak, saat itu aku belum cukup dewasa untuk mengerti bagaimana cara agar aku tak membebani wanita paruh abad itu. Yang kutahu aku hanya ingin pergi sejauh tempat yang tak ada seorang pun yang mengenal kami. Tak mengenal putrinya yang menanggung banyak hutang atau menantunya yang disebut-sebut sebagai bajingan.
“Iya..kita akan pindah” begitu ujarnya.
 Aku menyeka air mata lekas,”benarkah?”
Nenek mengangguk mengiyakan, diraihnya tubuhku dan dipeluknya erat.
@@@
Tempat tinggal baruku bukanlah lebih baik dari rumah berukuran 3 x 4m dulu, hasil menjual sepetak sawah dan 2 anak kambing hanya cukup untuk membeli rumah dengan atap yang menyilaukan mata saat matahari tepat berada di atas atau memaksa basah kuyup di musim penghujan pada akhir bulan Juli. Egoku untuk jalani hari lebih tenang rupa-rupanya justru membuat wanita tua itu tidur tak tenang.
Aku menyeka air mata, bukan sebab panasnya irisan bawang goreng atau uap minyak yang tampak sudah memanas. Di usiaku sekarang, hal yang terpenting adalah siapa aku, apa yang ku bisa dan apa yang kumiliki.
“Kenapa?” tanya nenek, sementara tangannya lincah memasukkan bawang goreng ke dalam plastik-plastik kecil. Aku menggeleng pelan, dalam hati berjanji aku akan berusaha merubah semua.
Pagi ini masih sama dengan pagi–pagi kemarin, sebelum berangkat ke sekolah, kusempatkan untuk mampir kepasar, menitipkan telor-telor ayam juga beberapa bungkus bawang goreng. Hanya yang berbeda, pagi ini usiaku genap 17 tahun, angka yang diidamkan oleh banyak remaja terkecuali aku. Aku tak seperti remaja lainnya, yang miliki masa-masa penuh ambiguitas, lakon, pengalaman, rasa, apalagi cinta. Aku tak mengenanl perawatan tubuh, koleksi baju, acara-acara menyalurkan hoby, juga waktu untuk terbahak dalam lingkar persahabatan apalagi manis asam cinta yang membuat kadang tertawa gila kadang menagis penuh ratapan.
Aku tak miliki semua itu. Aku tak seberuntung mereka, dia atau bahkan kalian rupanya.
Beruntungkah? kurasa kecerdasan memaknai hidup itu baru keberuntungan.
@@@
“Satu jam 5000 kan ya?” tanyaku.
“Ya” jawab bapak-bapak berkumis tipis seraya memberi nomor komputer yang kosong. Aku mengangguk-angguk kemudian melirik list harga yang terpajang di triplek pembatas antara satu komputer dengan yang lainnya, print out 200 perlembar. Baiklah..cukup.
“Bismillah,” tanpa menghabiskan banyak waktu aku mulai berlayar menjelajah dalam sebaris kalimat BEASISWA DALAM DAN LUAR NEGERI 2014. Memilah bidang yang ku suka, dari yang mungkin tembus sampai yang menurutku itu mustahil. Segera copy paste sebelum waktu melebihi satu jam, sebab hanya recehan ini yang kumiliki.
“Ini bisa dibaca?” tanya laki-laki yang sama, matanya tak beralih dari layar computer server, PDF dengan multyple per sheet mencapai 6. Aku tersenyum malu-malu,Biar hemat mas..” jawabku. Ia menggeleng-geleng.
“Multyple 2 aja..harga sama dah..beasiswa ya, tapi janji harus bisa tembus salah satunya” aku mengangguk–angguk dengan mata berbinar. Bapak-bapak itu tersenyum melihat ekspresiku.
Terima kasih…Insya Allah…doakan ya pak..”
“Doa orang tua itu yang terpenting” ucapnya kemudian menekan tombol on pada printer.
Aku menelan ludah kelu.Berapa pak?”
“7000 semuanya” kurogoh saku dan 7 lembar seribuan kusodorkan.
“Hati-hati..hujan, nanti luntur, naik apa?” tanyanya lagi sementara aku sudah akan beranjak keluar ,”..lari pak”
@@
Setibanya di rumah, sejak dari rental aku benar-benar sering tak berselera untuk tidur, kepikiran? Tentu. Tapi aku tak ingin nenek tahu akan hal ini, setidaknya jika nanti aku gagal, biar beliau tak ikut bersedih. Jadilah tiap malam, selepas memastikan nenek tidur aku mulai mempelajari satu persatu persyaratan, mengumpulkannya dan tentu berdo’a. Tetesan sisa hujan yang masih menyisakan bunyi pada kaleng hitam tak jauh dari tempat tidur nenek jadi semangat tersendiri, bahwa hidup bukan untuk berpangku tangan apalagi menengadahkannya.
Bismillah..
@@
“Nek..” ucapku lirih, masih sama dengan beberapa tahun silam, air mataku lagi lagi membasahi lengan bajunya.
Kenapa?” tanyanya lembut, kusodorkan amplop putih tebal padanya, yang sudah pasti ia tak bisa membaca apa isinya.
“Apa ini?”
Aku menundukkan kepala, tak kuasa ku angkat wajah menatap wajahnya, sementara kerudung lebarku sudah terlalu lusuh sebab air mata.
”Beasiswa..”jawabku lirih, tenggorokanku bak menelan sebongkah batu, sakit. Apa yang bisa kau perbuat saat nama anak orang ‘tak benar’ dan ‘tak punya’ terdafdar dalam list penerima beasiswa Universitas ternama? Sesuatu yang awalnya ku anggap mustahil, justru tidak dalam kuasa-Nya.
Dalam sedu sedan yang panjang, nenek terus menciumiku, mengucap syukur tak terkira dan pujian tak berujung seakan akan aku adalah cucu terpintar di dunia ini. Sementara ia sibuk berfikir bagaimana cara mengurus semuanya ke Jakarta, aku justru bingung apa aku akan meninggalkannya sendirian di rumah dengan atap yang berlubang .Atap yang membuat silau mata saat matahari tepat berada di atasnya, juga memaksa untuk berbasah kuyup di musim penghujan di akhir bulan Juli.
“Berangkat nduk…berangkat..” paksa nenek begitu mendapat keraguan di mataku, uang simpananya ia sebut sebut akan digunakan untuk mengurus semuanya jika perlu. Aku menatapnya nanar, pahit benar nek untuk merubah keadaan….
“Nenek sendirian?” tanyaku, suaraku beradu dengan sedu sedan. Nenek tersenyum, telunjuknya menunjuk ke atas. Aku tak bisa menepis kekhawatiranku, juga perasaan ‘egoiskah aku?’ Meski aku tahu benar, di usianya yang telah senja ia masih kuat bahkan untuk berjalan mengantar sendiri bungkusan berisi bawang goreng pada pelanggan.
Kucium keningnya lama, dalam hati berdoa dengan nada memaksa agar sentuhan ini bukan kali terakhir dalam sisa usianya dan semoga sosoknya masih dapat kutemui dalam selang 4 tahun ke depan nanti...ya, semoga.
Dengan mata berderai air mata, kumasukkan beberapa helai baju yang kumiliki, di sampingku duduk nenek yang bunyi degupan jantungnya dapat jelas kudengar, dingin tangannya juga bisa kurasakan. Hanya, aku tak pernah dapati setetes air matapun jatuh dari pelupuk matanya.
Aku memang tak seberuntung kalian yang sempat nikmati apa itu remaja,bergurau dan bersenang-senang di dalamnya,punya banyak pengalaman dan cerita. Namun setidaknya aku punya mimpi, punya tujuan, cita juga asa..
Aku yakin, fasilitas yang memadai, keluarga yang utuh dan ekonomi yang lebih dari cukup tak justru membuat kalian tumbuh sebagai pribadi stagnan atau yang lebih buruk dari itu…
“Universitas Naura Madinah, aku datang..!!!!”


0 komentar:

Post a Comment