Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, April 3, 2015

Rahmatan lil ‘Alamin Antara Konsep dan Persepsi

(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ))
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya’ : 107).
Menurut Ibn Mandzur dalam lisanul ‘Arab, rahmat secara etimologis adalah al Riqqotu wa al Ta’athuf yang berarti kelembutan yang berpadu dengan rasa iba atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Secara global, ayat ini menjelaskan bahwsanya Nabi r adalah bentuk kasih sayang Allah I kepada seluruh manusia.
Sebagaimana ayat al-Quran lainnya, interpretasi dari frase rahmatan lil ‘alamin tersebut haruslah bersandar kepada terminologi syariat sesuai dengan konteks ayat yang diturunkan. Dalam prakteknya, interpretasi dari rahmat yang disebutkan dalam ayat tersebut nampaknya masih ambigu di kalangan masyarakat muslim sendiri, apalagi di kalangan non muslim.
Rahmatan lil ‘Alamin Dalam Persepsi
Rahmat atau kasih sayang dalam persepsi masyarakat umum adalah kasih sayang tanpa diskriminasi, tanpa memandang agama, suku, ras dan sejenisnya. Namun dalam prakteknya, rahmat atau kasih sayang tersebut acapkali diinterpretasikan melewati batas koridor yang digariskan dalam agama.
Banyaknya kekerasan atas nama agama, sejarah perang antar agama terutama Islam vs Kristen selama berabad-abad dalam perang salib mengantarkan beberapa kaum intelektual dari kedua pihak untuk mulai berdialog dan mencari titik temu antar agama agar terjadi kesepakatan damai di kedua belah pihak. Namun sayangnya, terkadang usaha-usaha perdamaian tersebut menabrak batas-batas aturan agama bahkan membuat karakteristik beberapa agama menjadi kabur. Sebut saja faham liberalisme dan sekularisme yang menjamur di kalangan pemuda muslim yang cinta damai, namun kurang memiliki dasar yang kuat dalam akidahnya. Ayat di atas termasuk ayat yang sering dijadikan legitimasi terhadap pandangan-pandangan mereka. Rahmat yang diartikan secara tekstual tanpa terlebih dahulu mengkaji secara mendalam tafsirnya kemudian dijadikan tendensi atas berbagai kritik terhadap hal-hal yang dianggap “tidak rahmat”. Dengan ayat tersebut, kewajiban jihad dengan mengangkat senjata dipertanyakan, nahi munkar dianggap ekstrim, menyinggung ekslusifitas ajaran agama dianggap menyulut api sara, bahkan toleransi dikatakan tidak sah jika tidak ikut serta dalam upacara seremonial agama lain.
Konsep rahmatan lil ‘alamin
Mengenai diksi ‘alamin, Imam Abdul Jarir al-Thabari meriwayatkan kontroversi pendapat ulama dalam memahami hal tersebut dalam tafsir beliau, apakah termasuk kalimat universal (al ‘Am) yang mencakup muslim dan non muslim ataukah kalimat general dengan maksud spesifik (al ‘Am urida bihi al khusus). Menurut Sa’id bin Jubair t, sebagaimana diriwayatkan dari Sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib t bahwa diksi tersebut bersifat general. Dalam hal ini, Sayyidina Abbas t berkata :

من آمن بالله واليوم الآخر كتب له الرحمة في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن بالله ورسوله عوفي مما أصاب الأمم من الخسف والقذف
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan untuknya rahmat di dunia dan akhirat. Namun barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak ditimpa adzab sebagaimana yang menimpa umat terdahulu, seperti ditenggelamkan atau di dihujani batu (sebagai rahmat bagi mereka)”.
Dalam riwayat lain :
تمت الرحمة لمن آمن به في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن به عوفي مما أصاب الأمم قبل
“Rahmat yang sempurna bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah di dunia dan di akhirat. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, (bentuk rahmat bagi mereka adalah) dengan tidak ditimpa adzab sebagaimana yang menimpa umat terdahulu”.

Sedangkan menurut ibn Zaid, diksi lil ‘alamin tersebut adalah kalimat general dengan maksud spesifik, lil ‘alamin meskipun menggunakan kalimat yang general, namun cakupannya terbatas hanya kepada kaum muslimin saja. Dalam hal ini beliau berkata:
 فهو لهؤلاء فتنة ولهؤلاء رحمة ، وقد جاء الأمر مجملا رحمة للعالمين ، والعالمون هاهنا : من آمن به وصدقه وأطاعه
Maka beliau (Rasulullah r) bagi sebagian manusia adalah cobaan sedangkan bagi sebagian yang lain adalah rahmat. Perkara ini (walaupun) disebutkan secara general dengan redaksi ‘alamin (sekalian alam), (namun) yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang beriman kepada beliau (Rasulullah r), membenarkan beliau dan menaatinya”.
Kesimpulannya, menurut pendapat versi ke dua, rahmat dalam ayat tersebut ekslusif untuk orang mukmin saja. Sedangkan menurut versi pertama, rahmat yang dimaksud adalah dengan ditiadakannya adzab secara langsung di dunia sebagaimana yang menimpa umat terdahulu.
Jika dikorelasikan dengan ayat lain, ayat di atas juga memiliki penafsiran lain yang akan mementahkan beberapa interpretasi menurut persepsi masyarakat umum. Rahmat dalam ayat tersebut sebenarnya merupakan salah satu dari beberapa misi diutusnya Rasulullah r di muka bumi. Dalam ayat lain disebutkan :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [سبأ:28]
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (basyiiran wa nadziiran), tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ : 28).
Berdasarkan ayat di atas, misi lain dari diutusnya Rasulullah r ke muka bumi adalah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, termasuk segala syariat beliau seperti amar ma’ruf dan nahi munkar, jihad dan sebagainya. Sebagai pengejawantahan dari ayat-ayat ini, seorang muslim dalam interaksinya dengan orang lain, selain harus menerapkan watak rahmatan lil-’alamin,  juga bertanggungjawab menyebarkan misi basyiran wa nadziran lil-’alamin.
Namun begitu, bukan berarti Islam adalah agama perang yang disebarkan dengan darah dan teror sebagaimana yang diisukan oleh kalangan Islamophobia. Tidak pula dengan memicu tindakan sparatis disertai rentetan kalimat takbir dengan menyerang pihak lain seperti yang difahami kalangan yang ekstrim dalam beragama. Konsep toleransi dan tanpa harus mengorbankan akidah masing-masing ummat beragama telah secara konkrit dijelaskan dalam surah al Kafirun yang intinya untuk saling membiarkan dalam menjalankan agama masing-masing tanpa saling mengusik satu sama lainnya. Sedangkan konsep rahmatan lil ‘alamin tergantung kebijaksanaan kita dalam berdakwah sesuai dengan situasi dan kondisi objek dakwah. Dalam kondisi normal, usaha dakwah diprioritaskan menggunakan jalan hikmah. Namun dalam kondisi terpaksa, perangpun adalah “rahmat” sebagai opsi terakhir agar non muslim yang mendapat hidayah tidak terhalangi oleh sikap orang kafir.

Poin terakhir adalah hal yang sangat urgen untuk menjelaskan konsep yang benar mengenai interpretasi dari rahmatan lil ‘alamin, agar tidak terjadi interpretasi “ngawur” dengan menabrak rambu-rambu agama dalam penerapannya, juga untuk menepis asumsi kalangan non muslim tentang kontradiksi ajaran rahmatan lil ‘alamin dengan realitas yang diterapkan kaum muslimin. Wallahu a’lam (SY)

0 komentar:

Post a Comment