Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, April 3, 2015

Pemuda Kaya Taat Beragama


          Hidup dalam kemewahan dan harta berlimpah nyatanya tak bisa memberikan kepuasan jiwa Mush’ab bin Umair t, sosok sahabat muda satu ini melewatkan masa hidupnya di lingkungan keluarga yang selalu menggunakan barang-barang berkualitas terbaik dan mewah. Tak seorang pun di Makkah yang memakai wewangian seperti yang biasa dipakainya, tak seorang wanita yang berpapasan dengannya kecuali terpesona dengan penampilan Mush’ab, hingga datang Sang Mubasyyirulummah Nabi Muhammad r dengan membawa agama Islam.
          Sinar pancaran agama kedamaian menyelinap menembus pilar-pilar jiwa gundah Mush’ab bin Umair. Mush’ab al Khair, gelar sahabat muda yang Nabi Muhammad r berikan ini secara diam-diam dan mempelajari agama Islam dengan Beliau r. Hingga saat berlangsungnya kejadian itu dilihat oleh Usman bin Thalhah, ia segera melaporkan ke Khunnas binti Malik, ibu Mush’ab bin Umair bahwa Mush’ab telah memeluk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad r dan Mush’ab telah melakukan ibadah shalat.
Mush’ab berdiri di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Makkah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang benar-benar yakin dan mantap, Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah r untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan; kejujuran dan ketakwaan.
          Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tangan yang terayun bagai anak panah itu tiba-tiba lunglai dan jatuh terkulai di hadapan cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan tenang. Kewibawaannya telah menimbulkan penghormatan dan ketenangannya menumbuhkan kepercayaan.
          Sebagai seorang ibu, ibunda Mush’ab tidak tega memukul dan menyakiti putranya. Tetapi pengaruh berhala-berhala terhadap dirinya membuat dirinya harus bertindak dengan cara lain. Ia membawa putranya itu ke ruang yang terisolir di dalam rumahnya, lalu mengurungnya di dalam ruangan itu dan ditutup rapat-rapat.
          Mush’ab tinggal dalam kurungan itu sekian lama hingga beberapa orang di antara kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Mendengar berita hijrah ini Mush’abpun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu berhijrah ke Habasyah dengan penuh ketaatan. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lalu pulang ke Makkah.
          Ketika Mush’ab hendak pergi lagi hijrah kedua bersama para shahabat atas titah Rasulullah r dan taat kepada beliau, ibundanya mencegah ia pergi meninggalkannya. Hingga akhirnya perpisahan antara ibu dan anak tak terelakkan, derai air mata bercucur dari pipi mereka. “Enyah kau dari hadapanku, uruslah masalahmu, aku tidak akan pernah menjadi ibumu lagi” ucap ibunya. Mendekatlah Mush’ab kepadanya seraya berkata: “Wahai ibu, aku menasehatimu dan sayang kepadamu, bersaksilah bahwasannya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya…”. Dengan segala amarah ibunya menjawab “Aku bersumpah, aku tak akan pernah masuk agamamu…”. Tinggallah ibunda Mush’ab menangis dalam kekafirannya di Makkah.
          Seiring bergulirnya waktu, semakin tenggelam Mush’ab dalam manisnya iman. Kenikmatan duniawi ia tinggalkan, pakaian mewah yang ia gunakan terganti oleh kain lusuh lembab hingga membuat para sahabat pilu dan perihatin dengannya. Melihat kejadian itu Rasulullah r bersabda: “Sungguh aku melihat Mush’ab ini dibanding pemuda lain Makkah merupakan pemuda yang paling dimanja kedua orangtuanya, lalu ia mengorbankan semua sebab cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Wafatnya Mush’ab bin Umair
          Ketika terjadi perang Uhud. Mush’ab bin Umair tak mau ketinggalan untuk berjihad membela agama Allah. Beliau diamanahi Rasulullah r untuk membawa panji kaum muslimin pada perang itu.
          Meskipun awalnya kaum muslimin terlihat unggul, karena kelalaian dan ketidaktaatan beberapa oknum prajurit. Akhirnya kondisi kaum muslimin pun terdesak. Nabi Muhammad r bahkan berada dalam keadaan yang sangat berbahaya. Sebagian besar prajurit pada waktu itu melindungi Nabi Muhammad r.
          Mush’ab, yang pada waktu itu memegang bendera muslimin di barisan depan, berpikir dengan cepat. Ia berlari ke tempat yang berlawanan arah dengan Nabi Muhammad r dengan maksud menarik perhatian lawan. Dan Mush’ab pun berhasil menarik perhatian lawan sehingga hampir semua pasukan kafir Quraisy menuju ke arahnya.
          Namun, pada akhirnya, Mush’ab bin Umair syahid pada perang tersebut. Ia terbunuh di tangan seorang musyrik yang bernama Ibnu Qami`ah dan dia menyangka bahwa yang dia bunuh adalah Rasulullah r.
          Mush’ab bin Umair wafat dengan hanya meninggalkan namirah (sejenis pakaian dari wol yang biasa dipakai kaum rendahan). Jika namirah tersebut dipakaikan untuk menutupi kepalanya, kakinya kelihatan dan jika dipakaikan untuk menutupi kakinya, kepalanya yang terlihat.
          Rasulullah r pun memerintahkan:
          “Tutupkanlah pada kepalanya dan tutuplah kakinya dengan rumput idzkhir (sejenis rumput wangi yang tumbuh di Makkah).”
          Kemudian Rasulullah r berkata:
          “Ketika Makkah dulu, tak seorangpun ku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada Mush’ab bin Umair. Kini rambutnya kusut masai, hanya tertutup sehelai kain burdah…”
          Inilah sosok yang patut kita jadikan suri teladan dalam bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jiwa yang penuh cinta kepada Allah dan Rasulullah r hingga hubbuddunya tak mendapat celah sedikitpun tuk bersemayam dalam dirinya.

Shalat jumat pertama 1
          Seiring berkembangnya dakwah islam di madinah, kaum yahudi mulai merasa khawatir. Setiap hari sabtu, mereka mengadakan pertemuan di tengah keramaian untuk menyiarkan ajaran mereka. Mendengar berita ini, Rasulullah r segera mengirimkan perintah kepada Mush’ab bin Umair,
          Amma ba’du, perhatikanlah pada hari ketika orang-orang Yahudi mengumumkan untuk membaca kitab Zabur di hari Sabat-nya! Jika matahari telah tergelincir di tengah siang hari Jum’at, menghadaplah kepada Allah dengan shalat dua raka’at dan sampaikanlah khutbah kepada mereka.
          Setelah mendapatkan perintah itu, Mush’ab pun mengumpulkan seluruh kaum muslimin di tempat bernama Hazmun Nabit, setelah berkumpul, mereka mengerjakan shalat dua rakaat. Menurut suatu riwayat, pertama kali orang yang berkumpul ini berjumlah 40 orang, menurut riwayat lain hanya 12 orang. Inilah shalat jumat yang pertama dilaksanakan oleh umat islam. Kemudian, setiap hari jumat siang, kaum muslimin senantiasa melakukan hal yang sama.

0 komentar:

Post a Comment