Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, April 2, 2015

Membaca Ruang Sejarah yang Terlupakan



لَنْ يَصْلُحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّة إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Generasi akhir umat ini tidak akan kembali jaya, kecuali dengan apa-apa yang telah mengantarkan kejayaan generasi awal”
الإمام مالك  t
Menelisik perjalanan umat Islam masa silam tak ubahnya melihat sebuah cermin sebagai indikator kemajuan atau kemunduran umat Islam saat ini. Sisi lain dari sejarah yang selalu mengundang intuisi pembaca untuk sekadar membaca atau mengambil pelajaran dari potret masa lalu. Hal itulah yang mengawali perjalanan perpustakaan dalam rubrik khazanah edisi kali ini.
Keberadaan literatur kuno atau manuskrip hasil buah pemikiran para cendikiawan terdahulu sebelum munculnya percetakan (seperti saat ini) merupakan hal yang sulit untuk ditemui. Tak jarang untuk memiliki kitab-kitab kuno harus mengganti dengan nilai yang tinggi. Selain jarak tempat penyalinan yang jauh dan membutuhkan waktu perjalanan yang cukup panjang, kitab-kitab tersebut disalin secara manual, lembaran demi lembaran sampai terhimpun menjadi satu kitab utuh dengan bilangan jilid tertentu.
Berangkat dari kenyataaan tersebut, muncul sebuah wacana dari sekelompok orang yang memiliki kemampuan finansial dan kepedulian terhadap nilai ilmu pengetahuan pada zaman tersebut untuk mendirikan sebuah tempat dengan koleksi berbagai kitab sebagai sumber khazanah intelektual yang lazim kita sebut saat ini sebagai perpustakaan. Tampillah Khalid bin Yazid dalam panggung sejarah Umat Islam pada tahun 85 H sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan perpustakaan Islam.
Selang beberapa masa berikutnya, muncul berbagai jenis perpustakaan baik pribadi maupun milik umum yang tersebar di berbagai wilayah Islam. Perpustakaan dengan jumlah puluhan atau bahkan ratusan menjadi tempat kondusif bagi kelahiran ulama-ulama klasik dan saintis Islam terkemuka seperti Al Ghazali, Al Kindi, Ibu Rush, Al Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Haitam dan lainnya.
Periodesasi Era Perpustakaan
1.       Era Perintisan Perpustakaan
Era perintisan perpustakaan dimulai pada saat Nabi Muhammad r memerintahkan  para sahabatnya untuk melakukan penulisan Al-Qur’an sebagai wahyu. Perintah ini direalisasikan dengan mengangkat 44 sahabat sebagai penulis Al-Qur’an, beberapa diantaranya: Sy. Abu Bakar as-Shidiq, Sy. Umar bin Khattab, Sy. Ali bin Abi Thalib, Sy. Muawiyah bin Abu Sufyan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab dan Khalid bin Walid, dll. Penulisan Al-Qur’an masa itu dilakukan dengan pendektean langsung oleh Rasulullah r. Hasil penulisan para sahabat yang diabadikan dalam bebatuan tipis, pelepah kurma, kulit dan tulang disimpan di dalam rumah Rasulullah r. Hal lain yang muncul sebagai stimulus perintisan perpustakaan adalah perintah Rasul r kepada para kafir Quraisy yang menjadi tawanan perang Badar untuk mengajari anak-anak muslim Madinah membaca dan menulis sebagai tebusan kebebasan mereka.
2.       Era Pembentukan dan Pembinaan Perpustakaan
Lompatan zaman membuat perpustakaan memasuki fase baru dalam lembar sejarah masyarakat Islam. Fase ini menjadi awal dari era kegemilangan peradaban dan Ilmu pengetahuan. Setelah adanya upaya pengkodifikasian Al-Qur’an dalam bentuk mushaf, timbul keinginan masyarakat muslim (terutama yang hidup jauh dari masa Rasulullah r) untuk memahami Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan yang dipahami dan dilaksanakan oleh Rasulullah r ketika itu. Sehingga muncul inisiatif dari sebagian ulama untuk melakukan kodifikasi hadits Rasulullah r, meski pada awalnya mendapatkan tentangan karena berpegang kepada redaksi hadits yang melarang penulisan ucapan Rasul selain Al-Qur’an. Namun pada masa Umar bin Abdul Aziz (wafat 675 M) beliau memberi mandat kepada Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri al-Madaniy (wafat 695 M) untuk menghimpun hadits dan membukukannya dengan pertimbangan bahwa pelarangan menulis hadits pada masa itu karena dikhawatirkan akan adanya percampuran antara hadits dengan Al-Qur’an.
Kepeloporan Ibn Syihab az-Zuhriy dalam pengkodifikasian hadits ternyata mampu memberi daya magnetis tersendiri bagi ulama-ulama lainnya untuk ikut serta dalam penghimpunan hadits. Sehingga lahirlah koleksi Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Turmudzi, dan koleksi-koleksi buah karya para ahli hadits.
                Perpustakaan dan Gerakan Penerjemahan
                      Gerakan penerjemahan telah memberi sumbangsih besar dalam era revolusi besar ilmu pengetahuan dan teknologi Islam masa silam, apalagi dengan adanya perpustakaan yang menopang penempatan literatur-literatur klasik dan manuskrip-manuskrip langka sebagai aset berharga sebuah bangsa. Era pertama gerakan penerjemahan ini dipelopori oleh Khalifa al-Mansur dari Daulah Abbasiyah. Penerjemahan ke dalam bahasa Arab dimulai dari literasi berbahasa Persia dalam bidang astrologi, ketatanegaraan dan politik, moral, seperti Kalila wa Dimma dan Sindhid. Gerakan penerjemahan dilanjutkan khalifah berikutnya, yaitu Khalifah Al-Makmun (813-833). Dalam kurun waktu tersebut, Islam mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, konstruksi dan teknologi, kesenian dan sastra. Kemajuan inilah yang mendorong pemerintahan di masa itu untuk menyediakan berbagai fasilitas termasuk pengembangan perpustakaan sebagai wujud kebebasan intelektual.
Pusaran waktu dan kebutuhan yang tinggi akan ilmu pengetahuan membuat pepustakaan mengalami perkembangan pesat. Tak hanya sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, Etiophia, dan India,  namun telah berkembang sebagai tempat pendidikan, pusat pengembangan ilmu pengetahuan, dan pusat riset astronomi dan matematika.
3.       Era Kemunduran Perpustakaan
Era perpustakaan sebagai simbol era revolusi ilmu pengetahuan nyatanya mengalami antiklimaks di penghujung episode sejarah umat Islam. Era kemunduran ini berimbas pada kemunduran peradaban umat Islam masa itu. Kemunduran tersebut tentu tak lepas dari  dua faktor dasar, faktor internal dan faktor eksternal.
                                      Faktor internal yang melatarbelakangi kemunduran tersebut tak lain karena ketidakberdayaan kaum muslimin terhadap disintegrasi politik sehingga muncul persaingan dalam mendominasi kekuasaan. Hal inilah yang yang membuat sektor pendidikan menjadi terbengkalai.
Faktor eksternal yang menjadi pemicu kemunduran perpustakaan adalah jatuhnya wilayah-wilayah muslim akibat agresi dan peperangan, misalnya agresi tentara Tar-tar yang dipimpin oleh Hulako Khan tahun 1258, berhasil menumbangkan pemerintahan Khilafah Bani Abasiyah di Baghdad dan membantai jutaan kaum muslim di sana. Selain menghancurkan kota Baghdad, tentara Mongol juga membakar dan membuang buku-buku ilmu pengetahuan yang berada di perpustakaan Baghdad.
Petaka perang Salib yang juga berdampak pada kehancuran beberapa perpustakaan yang ada di Tripoli, Marrah, Al-Quds, Ghazzah, Asqalan dan kota-kota lainnya.
Beberapa Profil Singkat Perpustakaan Kuno
1.       Perpustakaan AdzDzahiriyah
                                Terletak wilayah kota tua Damaskus (ibukota Negara Syiria). Lebih tepatnya di   wilayah Bab Al-Barid, dekat Masjid Jami’ Al-Umawi. Perpustakaan ini didirikan oleh Sultan    Dzahir Baybars pada tahun 676 H. Beliau merupakan salah seorang Sultan yang tangguh dan banyak melakukan renovasi serta menaruh perhatian besar terhadap tempat-tempat suci dan bangunan-bangunan Islam di wilayah Syam. Termasuk diantara The Dome Of The Rock di Yerusalem. Perpustakaan memiliki banyak literatur klasik berbahasa Arab. Namun kini kurang lebih sebanyak seribu eksemplar dari kitab-kitab induk telah dipindahkan ke perpustakaan Al-Asad (perpustakaan negara Syiria yang dibangun pada tahun 1984) untuk mempermudah pemeliharaan.
2.       Perpustakaan Astan Quds Rajavi Al-Markaziyah
Terletak di Masyhad, salah satu kota di provinsi Khurasan Rajavi, timur Iran. Perpustakaan ini didirikan pada tahun 1457 dengan koleksi jutaan lebih manuskrip dan bermacam kitab dalam berbagai bidang keilmuan. Tahun 2003, jumlah koleksi kitab sebanyak 30.250 eksemplar, 25.000 kitab kuno, kitab tulisan tangan sebanyak 17.280 dan lainnya sebanyak 72.490 judul.
3.        Perpustakaan Al-Khalidiyah
Salah satu perpustakaan Islam kuno di Yerusalem Timur atau Al-Quds Asy-Syarqiyyah yang menjadi aset sengketa antara Islam dan Yahudi. Tepatnya dibangun pada era pertengahan saat Kerajaan Kristen menguasai Yerusalem pada abad 13. Perpustakaan ini menyimpan 1.278 manuskrip dan 5.000 eksemplar buku dari era Mamluk dan Utsmaniyah. Dengan cakupan berbagai bidang ilmu Islam dan umum, 18 diantaranya berbahasa Persia dan 46 lainnya berbahasa Turki.

4.        Perpustakaan Sulaimaniya
Terletak di Istanbul, Turki dan masih menjadi bagian dari Masjid Agung Sulaimaniyah. Nama Sulaimaniyah sendiri merujuk pada nama salah seorang Sultan dari Kerajaan Utsmani, Sulaiman Al-Qanuni (1495 – 1466 M). Perpustakaan ini dibangun atas perintah beliau guna melengkapi komplek Masjid yang diarsitekturi oleh Mi’mar Sinan, seorang perancang bangunan ternama Dinasti Utsman. Masjid Agung Sulaimaniyah terdiri dari dua bagian; bagian barat yang mencakup perpustakaan, kantor, tempat penelitian, dan tempat menampilkan koleksi mikrofilm. Sementara bagian timur mencakup madrasah bagi pemuda di zaman tersebuat, tempat pemeliharaan koleksi, dan tempat pameran kaligrafi serta cetakan buku.

                                                        

Sumber:
Syariatullah al Khalidah karangan as Sayyid as Syarif Muhammad bin Alwi al Malikiy
                http://n21imuth.wordpress.com

0 komentar:

Post a Comment