Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, April 2, 2015

Estetika Wanita dan Posisinya dalam Regulasi Syariat


                Pernahkah kita berpikir, mengapa ada sensasi modern saat meneguk coca cola, makan di KFC atau McD? atau berbusana sesuai fashion mutakhir? Mengapa perempuan merasa "cantik" tatkala bertubuh langsing, semampai, berambut lurus dan berkulit pucat? Mengapa ada sensasi menjadi orang shaleh, membela Allah dan menjadi pemegang otoritas kebenaran tunggal tatkala berpenampilan ala Abu Jahal, berwajah garang disertai rentetan kalam Allah?
                Itulah varian mitos paling mutakhir! Mitos klasik tentang dongeng-dongeng irasional telah kita dengar. Kini, dalam modernitas, mitos tetap ada namun dalam kemasan fashion mengikuti dinamika zaman. Mitos berasal dari bahasa Yunani, mutos yang berarti cerita. Biasanya kita pakai untuk menunjuk cerita yang tidak benar, yang tak mempunyai kebenaran historis.
                Terlepas dari statusnya sebagai mitos, dalam ilmu psikologi hal di atas disebut sebagai sensasi dan persepsi. Dalam konteks pakaian “Islami”, jilbab, gamis, kopiah dan sejenisnya ternyata sedikit banyak telah mempengaruhi perilaku pemakainya untuk lebih menjaga diri dalam tindak tanduknya. Seorang yang berpakaian “khas Syariat” akan merasa malu dalam melakukan tindakan maksiat, terlebih hal-hal yang menurunkan martabat dirinya, melebihi ketika ia mengenakan “pakaian biasa”.
                Kini, dalam modernitas, “pakaian syar’i” mulai mendapatkan posisinya dalam kemasan fashion sesuai dinamika zaman. Kesadaran berpakaian syar’i yang pada awalnya bermuara dari menjalankan kewajiban syariat, mulai bergeser menjadi ajang pamer keindahan sebagaimana lumrahnya dunia fashion. Dalam dunia fashion, “pakaian syar’i” menjadi “madzhab baru” dengan munculnya beberapa desainer pakaian muslim ternama sebagai “imamnya”. Madzhab inipun berpartikulasi kembali menjadi beberapa madzhab yang -amat disayangkan- semakin menjauh dari esensi disyariatkannya pakaian tersebut. Pakaian yang semulanya memiliki tujuan utama menutup aurat, kini berubah menjadi pakaian glamour yang hanya membalut aurat.      Tentu saja dengan nilai estetika yang tak kalah ‘wah’ dengan “madzhab” fashion lainnya. Sebut saja fenomena Jilboob. Kesadaran yang tidak sepenuhnya dalam berpakaian syar’i, bercampur dengan keinginan untuk selalu tampil trendy mengikuti fashion terkini, melahirkan beberapa budaya yang ternyata nuansa hedonis dan glamour lebih mendominasi ketimbang nuansa syariat di dalamnya.
                Dari sisi psikologis pun, model pakaian tersebut tidak memiliki pengaruh yang cukup signifikan, sebagaimana pakaian muslimah pada asalnya. Remaja berjilbab yang terlibat dalam pacaran bahkan hubungan di luar nikah merupakan hal yang biasa di zaman ini, tak jauh berbeda dengan mereka yang tidak mengenakannya.
                Tentu saja fashion seperti ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan muslim, sebut saja MUI yang memberikan tanggapan berupa fatwa tentang keharaman Jilboob tersebut. Meski sangat disayangkan ada beberapa golongan yang entah karena disengaja atau minim pengetahuan, berbalik menimbulkan permasalahan baru dengan merendahkan martabat wanita muslimah yang sebagiannya baru belajar cara berpakaian syar’i.
Estetika Wanita Dalam Pandangan Syariat
                Pada dasarnya, syariat tidak menganggap estetika wanita sebagai hal yang diharamkan. Lebih dari itu, syariat bahkan menganjurkan agar para wanita tetap menjaga penampilannya. Dalam hal ini, Rasulullah r bersabda :

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " خَيْرُ النِّسَاءِ امْرَأَةٌ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ , وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ , وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا
                 “Sebaik-baiknya wanita adalah sosok yang jika engkau memandangnya engkau merasa senang, jika engkau menyuruhnya ia menaatimu, dan jika engkau sedang tidak ada dia akan menjaga dirinya dan hartanya”.
                Namun dengan kebijakannya, syariat membatasi ruang lingkup keindahan tersebut kepada mereka yang berhak menikmatinya, dalam hal ini adalah keluarga khususnya suami. Sebagaimana seorang putri, tidak sembarang orang bisa memandang dan menikmati keindahannya selain ia yang bersumpah untuk tanggung jawab senantiasa menjaganya.
                Dalam hal ini, Sayyidah Fathimah al Zahra, putri Rasulullah r pernah ditanya : ‘’Hal apakah yang paling baik bagi wanita?”maka Sayyidah Fatimah menjawab:
أن لا ترى رجلا ولا يراها رجل
                “Perempuan yang tidak pernah melihat seorang laki-laki dan tidak pernah dilihat oleh seorang  laki-laki.”
                Maka dari itu, fashion syariat tak perlu diberanguskan sebagaimana yang dikoar-koarkan oleh sebagian kalangan yang ekstrim dan cenderung kaku dalam memandang nilai-nilai agama. Akan lebih bijak apabila budaya tersebut diarahkan sesuai dengan porsinya yang diridhai oleh syariat. Kesadaran dan usaha untuk menyadarkan kalangan muslimah tentang hakikat dari estetika yang mereka miliki serta untuk siapa seharusnya keindahan tersebut diperlihatkan merupakan hal yang sangat urgen sebagai tema dakwah agar budaya Islami terus berkembang dan tidak keluar dari rel syariat yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu A’lam (SY)


0 komentar:

Post a Comment