Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, April 2, 2015

CAHAYA AL-QUR’AN DI KOTA SANTRI

Kota santri, begitulah sebutan kota Kudus yang terkenal karena banyaknya santri yang menuntut ilmu di kota kharismatik itu. Selain itu, juga karena banyaknya ulama yang menjadi panutan masyarakat sekitar Kudus. Di antara sekian banyak ulama di kota Kudus yang menjadi tauladan masyrakat ialah Al-Maghfirullah KH. M. Arwani Amin.
Sekitar 100 meter di sebelah selatan Masjid Menara Kudus, tepatnya di desa Madureksan, Kerjasan, terdapat pasangan keluarga shaleh yang sangat mencintai Al-Qur’an. Keluarga ini adalah KH. Amin Sa’id dan Hj. Wanifah. Nama KH. Amin Said sangat masyhur dikalangan santri, di samping itu juga beliau memiliki toko kitab yang cukup dikenal, yaitu toko kitab Al-Amin. Dari hasil berdagang inilah yang mencukupi kehidupan keluarga beliau.
Karena kegemarannya membaca Al-Qur’an, meskipun beliau sibuk berdagang, beliau selalu menyempatkan dirinya untuk selalu membaca Al-Qur’an, hingga dalam waktu satu minggu beliau bisa mengkhatamkannya. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh banyak orang, bahkan oleh orang yang hafal al-Qur’an sekalipun.
Tentang KH. Arwani Amin Said
Tepat pada hari Selasa Kliwon pukul 11.00 siang, tanggal 15 Rajab 1323 H, yang bertepatan dengan 5 September 1905 M KH. Arwani Amin Said dilahirkan di kediaman kedua orangtua beliau. Beliau lahir di kampung Kerjasan, kota Kudus, Jawa Tengah. Nama asli beliau sebenarnya adalah Arwan, akan tetapi setelah kepulangannya dari haji pertama di tahun 1927, namanya diganti menjadi Arwani. Hingga akhir hayat beliau, dikenal memiliki nama lengkap KH. Arwani Amin Said.
Mbah Arwani, begitulah panggilan akrabnya. Beliau anak kedua dari dua belas bersaudara, kakaknya yang pertama seorang perempuan bernama Muzainah, sementara adik-adiknya secara berurutan adalah Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqshit, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Mufalikhah dan Ulya.
Mbah Arwani sangat terinspirasi oleh adiknya Ahmad Da’in. Ia terkenal sangat jenius, karena telah hafal al-Qur’an terlebih dahulu dari mbah Arwani, yakni pada umur 9 tahun. Ia bahkan telah hafal hadist bukhori dan menguasi bahasa Arab dan Inggris. Kecerdasan dan ketekunan inilah yang menggugah mbah Arwani terpacu lebih tekun belajar.
Di masa kecil, mbah Arwani besar dilingkungan yang sangat taat beragama. Kakek dari ayahnya adalah salah satu ulama besar di Kudus, yaitu KH. Imam Haramain. Sementara garis nasabnya dari ibu, sampai pada pahlawan nasional yang juga ulama besar yaitu Pangeran Diponogero.
Masa menuntut ilmu Mbah Arwani.
Mbah Arwani dan adik-adiknya sejak kecil mengenyam pendidikan di madrasah dan pondok pesantren. Pada umurnya yang ketujuh, Mbah arwani memulai pendidikannya di Madrasah Mu’awanatul Muslimin, Kenapan, sebelah utara Menara Kudus. Madrasah ini merupakan madrasah tertua yang ada di Kudus yang didirikan oleh Syari’at Islam (SI) pada tahun 1922 dan salah satu pemimpin madrasah di awal pendiriannya adalah KH. Abdullah Sajad.
Setelah beranjak dewasa, akhirnya beliau memutuskan untuk meneruskan pendidikan agama Islamnya ke berbagai pesantren di tanah Jawa, sepeti Solo, Jombang, Jogjakarta dan sebagainya. Dari perjalananan itulah yang mempertemukannya dengan banyak Kyai yang akhirnya menjadi gurunya (masyaikh). Diantaranya ialah KH. Abdullah Sajad, KH. Imam Haramain, KH. Ridwan Asnawi, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Muhammad Manshur, KH. M. munawir.
Selama berkelana mencari ilmu di berbagai pesantren yang disinggahinya, mbah Arwani dikenal sebagai pribadi yang santun dan cerdas. Karena kepribadiannya itulah pada saat mondok, beliau sering diminta oleh kyainya membantu mengajar santri-santri lain dan memunculkan rasa sayang di hati para kyainya. Selain memiliki kepribadian yang cerdas dan santun, beliau juga memiliki perangai yang halus, sangat berbakti kepada orang tuanya, mempunyai solidaritas tinggi rasa setia kawan dan suka mengalah tapi tegas dalam memegang prinsip.
Masa remaja beliau dihabiskan untuk menuntut ilmu. Tidak kurang dari 39 tahun hidup beliau dihabiskan untuk menuntut ilmu dari kota ke kota yang dimulai dari kota kelahirannya Kudus, kemudian dilanjutkan ke pesantren Jamsaren, Solo, Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Pesantren Al-Munawir Krapyak, Yogyakarta dan berakhir di Pesantren Popongan, Solo.
Pada tahun 1935, mbah Arwani melaksanakan pernikahannya dengan seorang perempuan sholehah asal Kudus yang bernama ibu Naqiyul Khud, cucu dari guru beliau KH. Abdullah Sajad. Dari pernikahannya ini, mbah Arwani dikaruniai dua putri dan dua putra. Kedua putri beliau adalah Ummi dan Zukhali, namun kedua putri beliau meninggal sewaktu masih bayi, dan kedua putra beliaulah yang kelak meneruskan perjuangan mbah Arwani dalam mengelola pondok pesantren yang didirikannya, kedua putra beliau adalah KH. Ulin Nuha (Gus Ulin) dan KH. Ulil Albab Arwani (Gus Bab). dan ketika menahkodain pesantren itu, mereka dibantu oleh KH. Muhammad Manshur, Salah satu anak angkat mbah Arwani.
Perjuangan mbah Arwani
Pertama kali beliau mengajarkan al-Qur’an sekitar tahun 1942 di Masjid Kenapan, Kudus, tepatnya setelah beliau menamatkan belajarnya di pondok pesantren Krapyak, Yogyakarta. Pada masa ini santri beliau kebanyakan berasal dari Kudus. Seiring berjalannya waktu santri beliau semakin bertambah banyak dan bukan hanya dari Kudus dan sekitarnya, tapi banyak juga yang berasal dari luar provinsi bahkan dari luar jawa. Kemudian pada tahun 1979, beliau membangun sebuah pondok pesantren yang diberi nama Yanqabu’ul Qur’an yang berarti sumber al-Qur’an.
Semasa hidupnya, beliau mengarang sebuah kitab yang diberi nama Faidh Al-Barakat fi As-Saba’i Qira’at, di sela-sela waktu mengarang, beliau juga mengajarkan Thariqat Naqsabandiyah Kholidah yang berpusat di masjid Kwanaran. Beliau memilih masjid ini karena suasana di sekeliling mesjid cukup sepi dan sejuk, disamping itu juga dekat dengan sungai Gelis yang airnya jernih sehingga dapat membantu penyediaan air bagi para peserta Kholwat.
Mbah Arwani juga pernah menjadi pemimpin Jami’iyah Ahli Ath-Thariqat Al-Mu’tabarah yang didirikan pada tanggal 10 oktober 1957 dan dalam Mu’tamar NU 1979 di Semarang nama tersebut diubah menjadi Jami’iyah Ahli Ath-Thariqat Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN).
Masa tua mbah Arwani.
Ketika masih belajar qira’at as-Sab’ah pada KH. Munawir di Krapyak yang dimulai pada pukul 02.00 dinihari sampai menjelang shubuh, beliau sudah mempersiapkan diri dari pukul 12.00 malam. Sambil menunggu pelajaran dimulai beliau memanfaatkan waktunya untuk melaksanakan shalat sunah dan dzikir. Kebiasaan tersebutpun terbawa sampai beliau kembali dan bermukim di Kudus.
KH. Arwani Amin Said dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai seorang ulama yang memiliki kelebihan luar biasa. Beberapa santrinya mengatakan bahwa beliau memiliki indra keenam dan mengetahui apa yang akan terjadi dan melihat apa yang tidak terlihat dan banyak juga yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang wali.
Ribuan murid telah terlahir dari pondok yang dirintis oleh mbah Arwani tersebut. Banyak dari mereka yang menjadi ulama dan tokoh, diantara mereka yang menjadi ulama ialah; KH. Sya’roni Ahamdi (Kudus), KH. Hasyim (Kudus), KH. Abdullah Salam (Kajen), KH. Muhammad Manshur, KH. Muharar Ali (Blora), KH. Najib Adul Qadir (Jogja), KH. Nawawi (Bantul), KH. Marwan (Mranggen), KH. Ali Hafidz (Mojokerto), KH. Abdullah Umar (Semarang), KH. Hasan mangli (Magelang).

25 Rabi’ul Awal 1415 bertepatan pada tanggal 1 Oktober 1994, dengan keharuman namanya dan berbagai pujian dan sanjungan penuh rasa hormat dan ta’dzim atas kealimannya, beliau wafat dalam usia 92 tahun dan dimakamkan di komplek pesantren Yamba’ul Qur’an, Kudus. Pesantren itu menjadi saksi perjuangan beliau dalam mengabdikan dirinya terhadap masyarakat, ilmu dan Islam. Nama beliaupun harum di hati sanubari masyarakat.

0 komentar:

Post a Comment