Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 22, 2015

PERIH


Oleh: Afin Author Arifin
Editor: Aryanna Salma
Langit tak selamanya cerah saat kaularut dalam tawa, juga tak selamanya mendung saat kauhanyut dalam nestapa. Adakalanya duka menyapa untuk mengingatkan di antara kita yang lupa. Mungkin sesekali tawa singgah ketika luka mulai mereda.
Begitu pun Kesha, seorang gadis yang mengidap leukimia. Meski hidup hanya ditopang selang infus, keseharian ditemani semerbak obat-obatan, serta jauh dari orang-orang yang dicinta. Ia berusaha bangkit, meskipun baginya hidup ini tak ubahnya labirin yang berujung rumit. Mencoba tersenyum di antara detik mundur kehidupan yang dihadang kematian. Mau tidak mau, suka tidak suka, mati adalah suatu keniscayaan. Itu yang sering ia dengar
“Kemoterapi hanya bisa menopang hidupnya, bukan berarti bisa menyembuhkan leukimianya yang sudah stadium akhir.”
“Saya akan bayar berapa pun, tolong berusahalah untuk menyembuhkannya, Dok!” Suara percakapan dokter dengan sang nenek seakan menyeruak dari lubang ventilasi. Seolah memberi tahu tentang keadaan gadis itu saat ini. Mungkin tinta kehidupan akan segera berakhir dan buku takdir akan segera ditutup.
Di kursi roda, Kesha hanya bisa memandang biola coklatnya. Sebuah hadiah dari sahabat karib yang telah tiada. Senasib sebagai penderita leukimia yang berakhir dengan kematian. Dulu saat penyakit mematikan ini belum merebut semuanya, ia selalu aktif sebagai salah satu pemain biola yang mempunyai bakat cemerlang. Mampu membawakan Bethoven dengan begitu apik. Menggesek senarnya sehingga menghasilkan suara halus yang mengesankan.
Daun pintu berderit. Nenek melangkah dari ruangan konsultasi, wajahnya sayu, penuh guratan kesedihan. “Enggak apa-apa kok, Nek,” lirih Kesha, seraya memandangnya dengan tatapan sendu. Berusaha tersenyum meskipun terlihat dipaksakan.
Perempuan tua itu tak bisa menyembunyikan perasaannya, diikuti isakan pilu, tangisnya pun pecah. Dia memeluk Kesha dengan linangan air mata yang perlahan membasahi kerudung coklatnya. Kesha hanya membisu, tangannya mencoba menggesek biola perlahan. Sebuh instrument “obat hati” terdengar mendayu.
“Ayo, Nek.” Perempuan tua itu kemudian mendorong kursi roda Kesha perlahan, menyusuri koridor rumah sakit dengan selaksa asa dan harapan.

***
Aroma tanah basah tercium kala tetes hujan menyentuh hamparan savana. Sesekali kilat menampakkan dirinya di antara balutan awan hitam yang enggan menjauh dari petala langit. Kesha menatapnya tanpa daya. Terduduk lemas di atas kursi roda. Membiarkan rinai hujan membasahi tubuhnya.
“Hujan pertama penuh barokah,” ujarnya, lirih.
Ah, hujan kembali membuka kenangan itu. Tentang sosok yang begitu peduli padanya. Seorang pria tegar di tengah badai kehidupan, yang selalu bisa tersenyum saat nestapa melanda dan menjadikan tempat sujud sebagai muara batinnya. Susah, senang, tawa ataupun tangis tak kekal sepanjang usia.
Namun sayang, sebuah cobaan menggoyahkan biduk rumah tangga. Leukimia yang diderita Kesha menjadi penyebab hancurnya keluarga. Entah kenapa, ego seorang ibu mengalahkan semuanya. Usaha kecil-kecilan yang dirintis sang ayah tak mampu membiayai pengobatan Kesha. Hal inilah yang membuat pria itu dipandang sebelah mata, dianggap tak becus menghidupi keluarga.
Entah apa yang mengubah sikap ibunya, hingga tega berbuat demikian. Demi Kesha, ia bekerja siang-malam di sebuah kantor majalah wanita. Setiap waktunya hanya dihabiskan di depan laptop dengan mengedit berbagai macam artikel.
Pagi itu senyap tanpa kata. Ayah lebih senang menyendiri dengan Alquran kecil, dan Ibu sibuk bersiap-siap berangkat ke kantor, lembur hingga larut malam. Beberapa hari yang lalu Ibu melayangkan surat gugatan cerai pada Ayah. Ayah menanggapinya dingin, berusaha mempertahankan keluarga ini demi Kesha. Sudah beberapa kali Kesha mencoba bicara dari hati ke hati, mencoba memberikan pengertian, namun selalu saja ditampik dengan halus.
“Yakinlah, Ibu pasti bisa membiayai pengobatanmu meski tanpa bantuan ayahmu.” ucap perempuan itu seraya mengecup kening Kesha.
Kursi roda perlahan berderit saat Ibu mendorong Kesha ke meja makan. Terhidang omelet, secangkir teh manis dan obat-obatan sebagai menu sarapan pagi yang harus ia lahap setiap hari.
Suasana kembali hening saat pintu ditutup dari luar. Sayup-sayup terdengar lantunan merdu. Perlahan Kesha menghampiri asal suara itu. Sang ayah menghentikan bacaan Alqurannya, sesaat ia memandang wajah Kesha yang terlihat tirus, lalu tersenyum.
Pagi itu Kesha cukup terhibur, sarapan dibumbui obrolan ringan. Di tengah suapan terakhirnya, suasana menjadi hening. Hanya terdengar helaan berat napas Ayahnya yang berwajah sedih.
 “Maafkan Ayah, Nak ... mungkin jalan yang dipilih ibumu adalah yang terbaik. Ayah sudah mengambil keputusan, dan berharap Kesha bisa menerimanya. Ayah memang pecundang yang gagal membahagiakan keluarga,” ucapnya getir, sarat kekecewaan.
“Tapi Kesha tidak berharap apa pun, Yah! Kalau memang Kesha ditakdirkan mati karena penyakit ini, Kesha ikhlas! Kesha gak mau keluarga kita hancur hanya karena mengharap kesembuhan,” Tangis Kesha kembali pecah, dipeluknya pria itu dengan linangan air mata. Hanya tangisan yang bisa ia jadikan puncak dari emosinya. Tak ada bedanya rasa sakit dan penyakit.

***
Angin membelai lembut, bunga-bunga bermekaran menebar aroma. Kesha mendapati dirinya sendirian di padang savana yang terhampar luas. Rasa takut yang seharusnya melanda tidak pernah menyapa. Dia bahkan lebih tenang, dibandingkan kemarin. Pun sakit dan perih, seperti hilang tak berjejak.
Tiba-tiba pundaknya disentuh seorang wanita jelita. Dia tersenyum seraya menggamit kedua tangan Kesha. “Ikutlah denganku!” Perempuan itu menarik tangan Kesha dengan lembut, seolah ingin mengajak ke suatu tempat. Terselip setitik keraguan di mata Kesha, sketsa wajah ayah dan ibunya terbayang di pelupuk. Perlahan ia menarik tangannya dari genggaman wanita itu.
“Ikutlah denganku, kamu akan tenang dan bahagia!”
“Tapi Kesha masih punya ayah dan ibu.”
 “Mereka tak menyayangimu!”
Kesha menelan ludah, perih terlukis jelas di wajahnya. Perempuan itu menatap iba. “Pergilah pada mereka, kalau kau sudah bosan dengan penderitaan, aku akan menjemputmu kembali!” Perempuan itu berlalu, meninggalkan Kesha yang hanya bisa mematung. Sosoknya hilang di kejauhan, lenyap di antara kabut putih yang entah datang dari mana.

 ***

Pagi ini masih sama seperti kemarin, gerimis menebar hawa dingin. Nenek tetap setia menemani, mencoba menghibur kala pilu menyatu. Perlahan tangan Kesha mengambil sesuatu dari balik bantalnya. Sebuah foto keluarga yang menjadi kenangan, tanda mereka pernah bersama.
“Nek, apakah Allah telah menyiapkan taman surga buat Kesha?” Perempuan tua itu diam, wajah sendunya menjadi jawaban.
“Mungkin takdir ini akan segera berakhir … Kesha lelah dengan semua ini, Nek! Berapa hari yang lalu, Kesha bermimpi dijemput perempuan jelita, diajak ke suatu tempat di mana Kesha akan bahagia,” Bibir tipisnya yang terlihat pucat bergetar, menahan sakit yang mendera. Kapan pun, di mana pun, maut seolah menguntitnya dari belakang.
“Tentu! Allah sangat sayang padamu,” Hanya itu yang keluar dari bibir perempuan tua tersebut. Didekapnya Kesha erat, disertai tangisan yang tak mampu ia tahan.
“Kesha ingin Ibu dan Ayah kembali seperti dulu lagi. Bersama, tanpa ada yang menyalahkan atau merasa bersalah. Jangan menjadikan Kesha sebagai sumber dari pudarnya kebahagian. Kesha yakin, prinsip Ibu dan maksud Ayah sama. Hanya saja mereka terjebak dalam benang kusut masalah. Tak ada jalan lain, kecuali memutusnya.” Sang nenek kembali diam.
***
Sore menggantung di Lazuardy. Cahaya kemerahan tertutup tirai malam. Kesha masih terbaring lemah dengan selang infus yang melintang. Nenek masih setia menjaga. Seluruh waktunya hanya disamping Kesha seraya berdoa demi kesembuhan gadis itu.
 Ayah ibunya tak kunjung datang, meski berulang kali Nenek menghubungi mereka. Ponsel mereka tidak aktif. Sedangkan sore beringsut malam. Tak ada tanda-tanda kedatangan mereka berdua. Air mata kembali berurai. Secuil asa di akhir harinya seakan tak berguna, impian keluarga ini kembali saat garis hidupnya berhenti dan buku takdirnya ditutup. Ingin dengan akhir bahagia, bukan dengan nestapa lagi dirundung duka.
 “Nek, Kesha minta maaf kalau selama ini selalu merepotkan. Kesha gak tahu harus mengucapkan apa sebagai tanda terima kasih.... Nenek hadir saat Ayah dan Ibu tak ada. Berbagi cerita, motivasi dan selalu mengingatkan Kesha akan makna kehidupan. Maaf, Nek, mungkin sampai di sini saja … Kesha mohon pamit ya …,” ucapnya bergetar. Linangan air mata yang sedari tadi terus mengalir, perlahan berhenti.
Desir angin berhembus ringan. Senja menyambut gadis yang dirundung nestapa itu saat ruhnya bertemu Sang Khaliq. Tangis Nenek pun pecah. Dipeluknya cucu kesayanganya dengan linangan air mata dan rasa sakit.

Hidup adalah cerita
Di mana pena takdir akan berakhir
Lembaran hidup akan ditutup
Dengan ujung tawa bahagia
Ataukah dengan duka dan nestapa
Hidup adalah cerita
Penuh luka, perih dan ratapan
Saat terpuruk dalam kubangan, yakinlah dengan takdir Tuhan

Raci 08 February 2015


0 komentar:

Post a Comment