Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Monday, December 8, 2014

Khaulah binti Al Azwar Pejuang Misterius BIDADARI BESI


Ini adalah sebuah lembaran kisah seorang wanita, wanita tangguh yang mampu melepaskan sisi lain sebagai simbol keindahan dan kelembutan. Dorongan kuat untuk menyelamatkan saudaranya, membuatnya harus bergelit dalam lautan darah.
Kisah ini berawal saat hamparan debu serta percikan darah membasahi medan peperangan, pertarungan antara prajurit membuat mata tak berkedip. Kekuatan dan kecerdikan serta ketangkasan dalam pertarungan lah yang bisa membuat lawan takluk, tiada kemenangan tanpa adanya seorang petarung yang handal dalam mengayuhkan pedangnya.
Di sudut pertempuran yang sedang berkecambuk terlihat seorang prajurit yang gagah nan berani, prajurit yang tak mengenal rasa takut ketika menghadapi lawannya. Prajurit yang handal dan cermat dalam pertempuran sehingga ia mampu mengalahkan musuh-musuh yang berada di hadapannya. Ia bak angin yang berhembus kencang menghantam apapun yang ada di hadapannya, dengan mengenakan pakaian yang hitam dan serban hijau serta berada di posisi terdepan membuat para prajurit yang lain terkagum-kagum dan heran.
Siapakah dia? Jiwa pejuang apa yang dimilikinya? Semua mata tertuju pada prajurit tersebut dan bertanya-tanya. Mereka pun belum pernah melihat penunggang kuda  itu berada di barisan prajurit terdepan, dengan tangkasnya ia mampu membuat pasukan musuh mundur dan takluk.
--#--  --#--
Semua itu bermula ketika Khaulah bin al Azwar bersama saudaranya Dhirar bin al Azwar keluar untuk menyertai para pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan panglima Khalid bin Walid, dan dalam sebuah pertempuran melawan pasukan Romawi, terdengar bahwa Dhirar bin al Azwar saudara Khaulah itu tertangkap dan ditawan oleh pasukan musuh. Mendengar kabar tersebut berguncanglah tanah yang ia pijak, dan seakan-akan bumi pun menjadi gelap gulita di kedua matanya sehingga menggugah dirinya untuk pergi ke medan pertempuran menyelamatakan saudaranya.
Ketika sang panglima Khalid bin Walid melihat medan pertempuran, ia sendiri pun menyadari akan sebuah kejanggalan yang dimiliki oleh penunggang kuda tersebut, selama ini ia belum pernah melihat penunggang kuda bertarung seperti itu, prajurit yang terlihat asing baginya. Seorang prajuritnya yang mengenakan pakaian tertetup sekujur tubuh, hanya kedua matanya yang terlihat jelas.
Para pasukan kaum muslimin pun bertanya-tanya akan misteri jati diri/sosok sang penunggang kuda itu. Rafi’ bin Umairoh pun menjawab “itu adalah Khalid bin Walid” sambil meyakinkan jawabannya, tetapi ia tak tampak seperti Khalid bin Walid dalam hatinya berkata. Sebagian mereka pun mengira dan yakin bahwa ia adalah Khalid bin Walid “Sang Pedang Allah”, karena dari cara bertempur sama seperti Khalid bin Walid yang gagah nan berani pula.
Khalid bin Walid pun berkata, “demi Allah, aku lebih terkejut dari pada kalian”. Ketika dirinya ia melihat medan pertempuran tampak sebuah kemenagan baginya, seketika Khalid bin walid pun berteriak, “wahai kaum muslimin, satukan semua bala tentara dan bantulah penunggang kuda yang mempertahankan agama allah.” Bergeraklah seluruh pasukan bersama panglima Khalid bin walid ke dalam pertempuran dan berkahir dengan sebuah kemenangan.
Pertempuran sengit pun telah usai tapi rasa penasaran Khalid bin Walid terhadap penunggang kuda tersebut belum terpecahkan. Ia pun mendekatinya dan bertanya ”engaku yang selama ini membuat kami penasaran dan heran, aku ingin engkau membuka kain yang menutupi wajahmu dan beitahulah kepada kami siapa kamu sebenarnya !.” Namun Khaulah diam tanpa menjawab pertanyaan tersebut, sehingga Khalid pun naik darah terlihat dari tatapan amarah.
Melihat hal itu Khaulah pun menjawab, “bukannaya aku enggan untuk menjawab pertanyaanmu akan tetapi aku malu padamu wahai panglima, maafkan atas diamnya diriku terhadapmu.”
Lalu Khalid pun bertanya, “jika seperti itu, siapa dirimu sebenarnya?”
Khaulah pun menjawab, “aku adalah Khaulan binti Al Azwar. Sebenarnya aku bersama para wanita yang lain, kemudian aku mendengar berita bahwasanya saudaraku Dhirar tertangkap. Aku pun berangkat ke medan pertempuran seperti yang engkau lihat saat ini dan berharap dapat menemukan saudaraku kembali yang ku cintai.”
Mendegar hal itu Khalid bin Walid pun kagum terhadap sikap dan sifat Khaulah bin Azwar, kemudian Khalid pun memerintahkan semua pasukannya untuk kembali menyerang pasukan Romawi di bawah pimpinan Rofi’ bin Umairoh demi menyelamatkan saudara Khaulah.

Dan seterusnya Khaulah pun ikut serta dalam setiap pertempuran dalam menaklukan kerajaan berikutnya dan hal itu atas restu dan izin dari panglima Khalid bin Walid. Ia pun terus menjadi pejuang Islam yang gagag berani bersama pasukan muslimin lainnya.

0 komentar:

Post a Comment