Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Monday, November 24, 2014

Senja Kita Tak Sepenuhnya Kelabu

By : Nurul Laily
            Aku pandangi langit yang kemerahan, rupa-rupanya matahari masih tersipu malu tuk keluar dari peraduan, indah. Pagi yang jelita.
            Perlahan kubuka daun jendela hingga seberkas cahaya dapat masuk dengan leluasa. Lima langkah ke belakang dari tempatku berdiri, belahan jiwaku tengah terlelap, namun silau cahaya yang masuk sama sekali tidak mengusik nyenyaknya.
            Kucium keningnya lembut, perlahan kemudian ku bisikkan beberapa kalimat pada telinganya yang entah ia dapat mendengarnya atau tidak.
            “Hari ini ulang tahun pernikahan kita yang ke 40, Abuya…”.
            Butiran bening jatuh dari ujung matanya yang terpejam, lembut mengalir melewati pipi dan rahangnya yang kuat untuk kemudian mendarat di atas bantal bersarung putih kebiruan. Ia mendengar suaraku rupanya.
            Abuya…cepatlah bangun….
***
            Masih jelas dalam chip memoriku gambaran juga kenangan 23 Januari empat puluh tahun silam, saat dimana cincin emas bertahtakan berlian merah jambu ia sematkan di jari manisku setelah kalimat sakral ia ucap dengan gagahnya dihadapan Penghulu, Saksi juga tentu Ayahku. Hari itu, mahar istimewa hafalan Surat an-Nurnya terdengar syahdu dan menggema.
            Hari-hari kemudian berubah menjadi harmoni nada yang indah. Laki-lakiku yang sebelumnya sama sekali tak kukenal itu telah sempurna menjadi imamku, sempurna menjadi petunjuk arah langkahku, sempurna menjadi punggung tempatku bersandar dan sempurna menjadi tambatan kalbuku.
            Dua bulan berselang, kesehatanku mulai terganggu, wajah pucat  pasi, lemah dan mual hebat membuatku hanya bisa terbaring lelap. Namun, itu adalah hari terindah bagiku karena telah sempurna sudah kodratku menjadi wanita.
            “Terimakasih karena aku akan jadi seorang Ayah….” bisik suamiku ketika sang Dokter keluar dari ruangan selepas memeriksaku. Aku tersenyum penuh syukur, sementara ia telah terlebih dahulu sujud syukur begitu kabar itu ia dengar. Allahu Akbar…Alhamdulillah Yaa Rabb….
***
            Bulan demi bulan berlalu seiring gugurnya rerantingan kaku, kandungan yang makin hari semakin berat kini telah berhasil membuatku terkapar, lemah di atas ranjang berseprai putih di ruangan yang juga putih. Suamiku erat menggenggam tanganku dan terus membisikkanku kalimat-kalimat penguat sampai akhirnya suara tangisan seorang bayi laki-laki memecah ketegangan dan bergantian dengan gemuruh takbir, tahmid serta shalawat pada Sang Thaha, Nabi Muhammad r.
            Ali kecil melengkapi keluarga baruku, membuatku sempurna menjadi seorang wanita. Pahlawan kecilku itu tumbuh dengan begitu cerdasnya.
            Ali kecilku kebanggaan keluarga, tingkah lakunya tak jarang membuat air mata keharuan menetes dari ujung mata kami berdua.
“Ummah, kalo Abuya belum pulang, Ali jadi imam ya…”. Selorohnya ketika adzan maghrib berkumandang. Kalimat ringan yang membuat terbang hati seorang Ibu. 
            Usia lima tahun Ali sudah menjadi seorang kakak, bayi cantik bernama Fatimah Azzahra menjadi teman barunya meski sempat ia protes karena ‘kenapa bukan laki-laki’. Si Batul yang berambut keriting dan pipi yang tembem itu tumbuh dengan sehat dan begitu ceria. Suka menghabiskan waktu dengan buku-buku cerita bergambar dan mainan masak-masakkannya.
            Tahun demi tahun berganti, lahir si tampan Ja’far. Ia, at-Thayyar tumbuh dengan gagahnya. Lebih banyak diam dan menghabiskan waktunya dengan peralatan elektronik sang Buya.
            Lalu saat Ja’far genap berusia empat tahun, kembali aku dianugerahi seorang putra, Abdullah namanya. Menyusul empat tahun kemudian si bungsu Amirah. Lengkap sudah tiga putra dan dua putri kami tumbuh dengan sehatnya, dengan kelebihan masing-masing yang tak jarang membuat kami tersedu bangga. Meski tak jarang kebingungan sebab biaya membuat malam-malam kami tak bisa tenang.
            Biaya saat mereka sakit
            Biaya obat
            Biaya perawatan
            Juga tentu pendidikan
“Bagaimanapun keadaannya, mereka amanat. Kita harus perkenalkan mereka tentang siapa Allah dan Rasul-Nya”. Begitu ucap suamiku saat kami benar-benar tak ada rupiah untuk si bungsu masuk Ma’had.
            Allah…tapi semua itu telah berlalu. Dalam benakku, serasa baru kemarin kuusap tangis mereka saat terjatuh, kuraih dan ku peluk saat mati lampu, namun sekarang satu persatu buah hatiku telah melangkahkan kaki keluar rumah, membangun rumah tangga baru dengan pasangan hidup mereka.
            Anak-anakku
            Pelipur laraku, Ali, Fatimah, Ja’far, Abdullah dan Amirah…
***
            Ku usap peluh suamiku yang belum juga terjaga, sesekali ku benahi letak kacamataku agar dapat dengan jelas melihat layar telepon genggamku, takut-takut ada sms masuk atau jangan-jangan ada panggilan yang tak terdengar.
            Tapi, NIHIL, kecemasanku tak terjadi rupanya. Kemana anak-anakku…..?
            Jam lima sore, senja mulai menjelang. Matahari mulai merayap lambat ke peraduan sementara siluet merah indah tergambar. Jemari tangan kanan suamiku bergerak menyentuh pipiku ketika aku tertidur duduk di samping ranjangnya. Aku terkejut, “Allahu Akbar” pekikku tertahan. Syukur yang tak dapat ku lukiskan membuat aku gugup dan bingung, berkali-kali kucium kening dan punggung tangannya.
            Saat sang dokter dan perawat datang, tergopoh aku raih tongkat dan telepon genggamku keluar ruangan.
            Anak-anak…
Anak-anak harus tahu kabar bahagia…
Ayah mereka sudah sadar…
            Ku telepon kontak bertuliskan ‘walady Ali’, 1 detik, 5, 10, 15…tak ada jawaban sama sekali.
Tak apa, mungkin ia sedang menghadiri suatu undangan.
            Ku telepon kontak bertuliskan ‘binty Fatimah’, Sama tak ada jawabnya, sampai beberapa detik kemudian datang sms, “Ummah, Fatimah masih di perjalanan”.
            Kutelepon kontak yang bertuliskan ‘walady Ja’far’, kini, sama. Tak ada jawaban. Sampai akhirnya mulai terdengar suaranya yang kabur, sepertinya sedang ada dalam sebuah keramaian.
“Ummah, nanti Ja’far telepon, ini sedang di zuwad-an teman”.
            Tak apa, Abdullah pasti ada.
1, 2, 6, 10 lagi-lagi tak ada jawaban, “Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan”. Hanya itu yang terdengar.
            Amirah, ini harapan terakhir, namun sebelum kuhubungi, smspun masuk. Tepat dari Amirah. ‘Ummah, doakan ya…si kecil sedang ikut lomba adzan, lucu deh. Bentar lagi ku kirim videonya. Besok ia ultah, Ummah datang ke rumah ya…?’.
            Aku hanya bisa menelan ludah dan mengelus dada, sakit dihantam kenyataan. Seorang suster mengambil tongkatku yang jatuh.
            “Nek…, suaminya sudah bisa ditemui, anak-anak dan cucunya boleh diajak masuk”.
            Aku tersenyum, kemudian perlahan aku berjalan memasuki ruangan. Kutelan ludah berkali-kali, berusaha sembunyikan gugup, kuangkat wajah, ku tatap langit-langit, berharap tak ada butiran bening jatuh.
            “Mana anak-anak?”. Tanya suamiku lirih, kuusap keningnya sayang.
            “Ada, di depan, sejak 3 hari mereka di sini, terus berdoa meminta kesembuhan untuk Buya-nya”.
            Ia tersenyum.
            “Makanya cepat pulih, kalau sudah pindah ruangan, baru mereka boleh menjenguk”.
            “Semuanya disini?”. Sahutnya.
            “Ya, semuanya. Mereka tak akan rela berjauhan dengan Buya dan Kakeknya”
            “Suara gaduh di luar itu…?”.
            “Ya, itu mereka”. Lekas jawabku.
Aku tersenyum dalam jerit pahit kurasakan.
“Maafkan aku Buya…,
Senja ini, tak ingin aku membuatmu merasa masa senja kita kelabu…”.

           




0 komentar:

Post a Comment