Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Monday, November 24, 2014

Sejarah Khat di Indonesia


           Masih adakah diantara kita yang tak mengenal hiasan kaligrafi, dengan keberadaanya yang terpajang hampir di setiap rumah muslim, rasanya sudah tak asing lagi dengan pernak-pernik hiasan satu ini.
Keindahan ukirannya membuat kita kagum, dengan lengkukan-lengkukan yang teratur sesuai kaidah kaligrafi menunjukan kepiawayan penulisnya. Dalam pembelajarannyapun sudah pasti dibutuhkan ketekunan yang lebih sehingga tak semua orang dapat mempelajarinya.
Indonsia memiliki banyak khattath ­(kaligrafer) yang handal sehingga dapat membawa nama seni kaligrafi di Indonesia naik ke kancah internasional, tapi tahukah kalian sejak kapan Indonesia berkenalan dengan kaligrafi? apa perannya bagi Indonesia sendiri maupun agama? siapa dalang di balik ini semua? Simak perbincangan staff redaksi majalah Al-bashiroh dengan kaligrafer peraih juara II lomba kaligrafi tingkat internasional, KH. Faiz Abdurrazzaq asal Banten.

Bagaimana sejarah masuknya seni kaligrafi di Indonesia dan siapakah yang membawanya?
Adanya seni kaligrafi di tanah air tidak dibawa langsung oleh orang Arab melainkan dibawa oleh orang Indonesia, salah satunya adalah Mukhtar Hasan, Kyai yang pernah belajar di Madrasah al-Falah di Mekah sejak tahun 1913 M ini mempelajari kaligrafi dari guru beliau Syaikh Thahir al-Qurdiy, tokoh ternama kaligrafer dari Arab.
Kyai Mukhtar Hasan kembali ke Indonesia setelah menetap di timur tengah selama 25 tahun. Kyai Mukhtar Hasan mulai mengajarkan ilmu kaligrafi kepada keluarganya, KH. Abdurrazzaq salah satunya, kaligrafer Jawa Barat ini menjadi keligafer tersohor Indonesia di masa dinasti pertama kaligrafi Indonesia. Selanjutnya pada dinasti kedua dilanjutkan oleh anak beliau KH. Muhammad Faiz.
Dahulu, semua kitab dicetak dan ditulis di Mesir, Lebanon dan Negara lain. Namun, Setelah Maktabah Nabhan Surabaya mengetahui ada kaligrafer di Jawa Barat, KH. Abdurrazzaq dipanggil ke Surabaya, sebagai penulis bagi mekatabah ini, dan dari sinilah beliau mulai dikenal dan mempunyai banyak murid.
Adapun kaligrafer lokal yang lebih dikenal sebagai penyebar kaligrafi di Indonesia pada saat itu adalah Kyai Siradj Dahlan. Anak dari Kyai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah ini adalah penulis lambang Muhammadiyah yang menjadi cikal bakal kaligrafi di Indonesia.
Ada pula kaligrafer yang hanya mengembangkan kaligrafi di sekitar Padang, Ust. Daromi Yunus misalnya, kakak dari Prof. Dr. Mahmud Yunus penyusun kamus Yunus.

Sebesar apa pengaruh kaligrafi bagi budaya Indonesia semenjak awal kemunculan sampai sekarang?
 Kalau kita telusuri lebih dalam lagi, ternyata mata uang Indonesia silam bertuliskan Arab, hal ini menunjukan besarnya pengaruh kaligrafi bagi Negara tercinta kita ini. Dan tidak lengkap rasanya jika rumah ulama tidak terpampang kaligrafi berupa sebuah lafadz, potongan ayat Al-Qur’an, doa-doa anjuran ataupun perkataan ulama.

Bagaimana perkembangannya sekarang, semakin maju atau malah sebaliknya?
Kaligrafi itu mulai berkembang pada abad 18. Memang sejak dulu kaligrafi sudah ada, akan tetapi hanya berkembang di sebagian daerah yang mendalami ilmu tersebut dan tidak menjangkau daerah lainnya.
Adapun di Indonesia khususnya, kaligrafi selalu berkembang, dengan adanya perlombaan yang selalu marak peminatnya, dalam hal yang berkaitan dengan komersialisasi seperti dipromosikan atau dijual. Hanya saja, pada saat ini lomba lebih diperbanyak akan tetapi untuk pendidikannya telah menjadi yang kedua dan cenderung sedikit peminatnya.
Lihat Mesir yang masih mempertahankan pendidikan kesenian kaligrafi, bahkan mereka mempunyai jurusan khusus dalam kesenian ini. Beda halnya di Indonesia pendidikannya hanya berupa lembaga seperti al-Qalam di Gresik, Lemka di Jakarta dan lain sebagainya. Yang saya iginkan adalah resmi di bawah naungan pemerintah.
Padahal dahulu kaligrafi masuk kurikulum pelajaran Indonesia sebagai salah satu pelajaran pokok, karena merupakan tulisan para leluhur bangsa Indonesia yang harus dilestarikan. Selain itu, pelajaran khat ataupun kaligrafi sangat banyak perannya dalam penyebaran agama Islam di Indonesia.
Adapun beberapa perlombaan diadakan untuk menjaga kelestarian kaligrafi adalah MTQ untuk para ABRI, mahasiswa, PNS, para santri dan lainnya. Ada juga perlombaan yang khusus untuk kalangan santri saja yaitu Pospeda (untuk tingkat daerah) dan Pospenas (untuk tingkat nasional).
Seperti halnya perlombaan untuk para santri, juga diadakan perlombaan bagi sekolah umum yang masih menekuni ilmu agama. Hanya saja, cara perlombaannya sedikit berbeda dengan perlombaan kalangan santri. Yang lebih diutamakan di sana ialah bagaimana cara menulis yang baik dan benar sesuai ka’idah. Sebab di sana banyak tulisan bagus mengagumkan, akan tetapi keluar dari ka’idah.

Untuk budaya kaligrafi Indonesia sendiri, sebesar apa perannya dalam agama Islam?
Perannya banyak, diantaranya sebaga media da’wah karena khat adalah jalan untuk menulis ayat ayat suci Al-Qur’an. Karena tidak ada Al-Qur’an yang ditulis dengan komputer. Baik Al-Qur’an itu mewah atau biasa.
Khat sendiri termasuk cikal bakal budaya Islam, karena sebagian besar syi’ar Islam ditunjukkan lewat kaligrafi  bahwa Islam itu penuh dengan seni dan menjunjung nilai budaya.

Bagaimana harapan antum untuk kaligrafi itu sendiri?
Kembali lagi kepada tahap awal, kembali lagi diwajibkan kepada setiap murid di Indonesia baik muslim maupun nonmuslim, dimana kaligrafi diperhatikan di semua tempat. Khususnya di kalangan Madrasah dan Pondok Pesantren.
Memang komputer membantu kita untuk kerapian dan kecepatan. Akan tetapi sekali lagi Al-Qur’an tidak ada yang ditulis dengan komputer. Serta demi mengembalikan budaya tulisan leluhur kita berupa tulisan Arab Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan Arab Pego, yang merupakan tulisan asli orang Indonesia.
Adapun masalah rezeki, khat Insyaallah menjamin khattat itu sendiri untuk sa’adatuddarain dunia dan akhirat, rezeki datang tanpa diduga.
Dan tidak diragukan bahwa semua tulisan yang ditulis oleh para khattat akan tetap terjaga kelestariannya walaupun sang penulis telah s meningggal.

Syair_____al khattu .

TA’ARUF
Biodata
Muhammad Faiz lahir 11 November 1938 di desa Lengkong Tangerang Jawa Barat. Menekuni Khattil ‘Arabi sejak usia dini, putera dari seorang Pionner Khat di Indonesia, KH. M. Abdul Razzaq Muhili (alm). Dari beliaulah Faiz belajar Khat.
Sejak usia 15 th. Sudah membantu sang abah menulis kitab-kitab berbahasa arab atau tulisan arab bahasa Melayu, Sunda, Jawa atau Madura (tulisan Pego atau Melayu Arab).
Pendidikan SR 3 th., Madrasah, SMP, SGHA, Pesantren Gontor, Univ. Ibn Khaldun – Bogor, dan Pesantren Tinggi ilmu Fiqh & Da’wah - Bangil (Jatim).
Karya             : Mushaf Bahriyah ayat pojok (Depag RI) 1982
                         Mushaf Istiqlal 1994
                         Mushaf Sundawi (Jabar) 1997
Karir               1. Penyuluh Utama / Khat di Kanwil Depag Jatim.
2. Da’I / Dosen bahasa Arab yang diperbantukan di beberapa pesantren di Jatim oleh
 Atase Agama Kedubes Saudi Arabia di Jakarta (1991- Sekarang).
3. Pembina cabang Khattil Qur’an LPTQ Provinsi Jawa Timur.
4. Ketua Majelis Dewan Hakim Cab. Khattil Qur’an di MTQ Nasional XXX - 2000 di Palu (Sulteng).
5. Pernah di Bond ke Saudi Arabia Sebagai Khattat / Desainer di :
 - Al Farouqi Advertising – Jeddah 1979 – 84
 - Al Itimad Print.Press – Jeddah 1979 – 84
 - Deplu Kerajaan Saudi – Jeddah 1979 – 84
 - Juara II khat tingkat Internasional di Jeddah (1979) Saudi Arabia.





0 komentar:

Post a Comment