Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Monday, November 24, 2014

Perang Budaya

           
Budaya merupakan kekuatan besar bagi suatu kelompok atau bangsa, sangat berpengaruh bagi kemajuan atau kemunduran negri tersebut. Nilai Positif atau negative yang timbul dari budaya dirasakan semua pihak, bagi pemilik budaya tersebut ataupun pihak lain.
                Indonesia sendiri kaya akan budaya, jumlah kebudayaan yang baik dan bagus tidak terhitung, namun begitu pula budaya yang kurang baik. Belakangan ini banyak yang merasakan pergeseran budaya di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lengkap proses pergeseran budaya pada masyarakat saat ini, mari kita simak pemaparan Bapak Sipin Putra, Dosen Antropologi Universitas Brawijaya.
·         Sebenarnya bagaimana proses terjadinya pergeseran budaya di Indonesia?
                Para antropolog dari berbagai aliran banyak yang mengatakan bahwasanya pergesaran budaya yang dialami bangsa Indonesia terjadi karena ‘dampak globalisasi’. kalau kita berbicara tentang globalisasi pasti tidak terlepas dari kata modernisasi. Memang pada awalnya kejadian ini berangkat dari modernisasi yang mulai menggeser budaya masyarakat yang tinggal di suatu tempat dan di dalam komunitas tertentu.
                Kita hidup sebagai seorang manusia, khususnya sorang muslim, punya aturan, pegangan dan hukum. Maka dari itu, di butuhkan filter yang kuat untuk menyaring terjadinya modernisasi ini. Mana yang sesuai dengan budaya kita, kita adopsi dan jika tidak sesuai ya kita tinggalkan. Karena kita hidup sebagai makhluk hablum minannas yaitu makhluk yang bersosialisasi antara satu dengan lainnya. Adaptasi ini terbagi menjadi tiga macam:
                Yang pertama, terjadinya Akulturasi, atau proses percampuran antar kebudayaan. Contoh kecilnya, tatkala kita mondok di Bangil misalnya, di sana banyak orang Madura. Dalam jangka waktu tiga tahun, tanpa disangka kita bisa berbahasa Madura. Alasannya karena kita seringkali berkumpul bersama mereka dan itu terjadi tanpa menghilangkan bahasa ibu kita. Jadi dirumuskan dengan Akulturasi A+B = AB bukan A+B = A, atau A+B = B saja. Artinya A dan B keduanya masih nampak. Ketika kita pulang ke Gresik, Akulturasi ini akan membuat kita sedikit berbeda. ”kok kita jadi kemadura-maduraan.” Siapa yang merasakan itu? Tak lain adalah lingkungan di sekitar kita.
                Yang kedua, yaitu terjadinya Asimilasi, yaitu proses perpaduan antara budaya satu dengan yang lainnya hingga menjadi sama atau hampir sama. Biasanya terjadi karena faktor pernikahan. Kita merasa bingung ketika kita ke Madura dan mendapati seorang yang keturunan Madura tapi badannya tinggi, wajahnya putih dan matanya sipit. Tidak seperti ciri-ciri kebanyakan orang Madura lainya yang identik dengan kulit hitam dan kecil. Dirumuskan dengan asimilasi A+B = C dan bisa juga menjadi A+B = D.
                Yang ketiga, yaitu menyangkut plularisme. Plularisme ini adalah proses perubahan yang membuat kita tidak bisa mencirikan seseorang dengan ciri-ciri yang sudah ia punya. Kita akan merasa kaget, misalnya ketika kita shalat jum’at di sebuah masjid, ternyata di sebelah kita ada seorang Cina yang sedang shalat juga. Berarti dia muslim, kita bertanya kepada diri kita sendiri? Selama ini orang Cina identik dengan nonmuslim, tiba-tiba ada seorang cina yang muslim. Misal lainnya, ketika kita menemui seorang Cina yang berprofesi sebagai pelukis. Pada awalnya kita tidak menyangka kalau ada orang Cina yang menjadi seorang pelukis. Karena pada umumnya, orang Cina bekerja sebagai pedagang yang diam di dalam tokonya. Jadi budaya dalam suatu suku atau dalam suatu etnis sudah tidak dapat di pertanggung jawabkan lagi. Inilah yang disebut dengan proses akulturasi, asimilasi dan plularisme yang diakibatkan pernikahan dan pendidikan yang dipicu faktor migrasi. Karena sudah menyerap adaptasi kebudayaan-kebudayaan baru selama menjadi imigran tersebut, terjadilah proses akulturasi, asimilasi dan plularisme. Sehingga seorang yang pulang dari migrasi dia akan berubah dari potret budayahnya. Nah, ini adalah bentuk modernisasi dalam sorotan kacamata positif. Karena akan meningkatkan kualitas hidup kita.
                Selama menjadi seorang yang bersosialisasi, kita butuh terhadap kualitas hidup. Semakin kita modern semakin banyak manfaat-manfat dan pengalaman yang akan kita dapatkan. Secara otomatis masyarakat akan memposisikan kita di atas mereka. Jadi, kesempatan kita bekerja dan mengembangkan diri akan lebih terbuka luas. Dibandingkan dengan teman kita yang se-daerah tapi dia tidak migran atau dia tidak menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti kita. Sehingga mereka tetap menekuni pekerjaan sebagai pedagang, petani, petamb
ak dan pekerjaan-pekerjaan lokal lainnya. Berbeda dengan kita yang sudah mempunyai pengalaman luas karena wawasan yang kita peroleh dari imigran tadi.
Sekarang kita bahas sisi negatif dari globalisasi dan modernisasi. Kalau sisi negatifnya itu sangat berlapis, karena akan ada pertumpahan dan perang dalam hati masing-masing orang. Karena kita dilahirkan sudah mempunyai aturan main. Sebagai mahkluk antropos (manusia) ketika kita dilahirkan oleh ibu kita dalam keadaan diam dan tanpa adanya tangisan, pasti kita akan dicubit oleh ibu kita, kalau belum nangis juga akan dicelupkan ke air dingin hingga menangis kemudian digendong. Itu merupakan simbol kalau kita hidup banyak yang mengatur. Tidak bisa kita hidup bebas dengan tanpa aturan, karena kebebasan kita terbatas oleh aturan orang lain.
                Sisi negatifnya, kalian akan berperang dengan diri pribadi kalian sendiri. Kebudayaan itu dihasilkan dari cipta, rasa, dan karsa. Diciptakan, dirasakan, dan dipikirkan dalam benak kita. Banyak TKW yang bekerja diluar negeri. Seperti mereka yang pergi ke Hongkong. Berangkat dari rumah berkerudung, di sana bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Setiap hari libur minggu mereka berkumpul untuk bertemu dengan sesama orang Indonesia di taman Victoria Park, karena di situ banyak terjadi modernisasi dan mereka merasa jauh dari kota asal. Akhirya, mereka terbawa arus dengan membuka jilbab, mulai memakai pakaian seksi, rambutnya diwarnai, merokok dan lain sebagainya. Sebenarnya jiwa dan hati kecilnya sedang berperang. Inilah yang disebut dengan proses CultureShock yaitu kegagapan budaya yang akan dialami seseorang setelah menempuh jangka waktu setahun-duatahun di dalam menjalani proses perubahan.
                Sisi negatif lainnya ketika orang-orang kita yang jadi TKW tadi merasa kalau dirinya sudah menjadi bagian dari sana (budaya Hongkong). Ketika pulang ke Indonesia dan bersosialisasi dengan warga di kampungnya, dengan santai dan tanpa ada rasa malu mereka memakai pakaian seksi, rambutnya diwarnai dan bergaya hidup seperti orang-orang Hongkong. Mereka ingin menunjukkan kalau mereka itu adalah bagian dari sana. Tapi, ada sebagian dari mereka yang malu-malu, jadi mereka tetap memakai kerudung. Ada juga yang karena terbiasa merokok dan sudah mengakar dalam kehidupannya, dia tetap merokok, tapi dia melakukannya sembunyi-sembunyi. Mereka sudah lupa kalau dulunya mereka adalah orang yang taat beragama, orang yang tertutup dan tidak banyak tingkah.
Adakah solusi yang bisa anda tawarkan untuk membendung dampak negatif globalisai dan modernisasi yang terus menggerus budaya asli bangsa kita?
                Oke, mengenai kebudayaan asli dan keadaan kita sekarang. Tidak bisa menutup telinga atau menutup mata, “no say anti globalisasi!” itu hanya gosip dan omong kosong. Tidak ada yang mengatakan saya anti globalisasi, saya anti modernisasi.
                Bagaimana cara agar tetap melestarikan budaya-budaya itu? Sebenarnya, permasalahan ini sangat kompleks. Ciri khas kebudayaan asli ditransfer dari generasi ke generasi melalui tutur, lisan dan perbuatan. Ada yang lewat tulisan tapi sangat jarang sekali. Sama seperti pelajaran yang ada di pondok. Seperti yang disampaikan Nabi kepada para sahabatnya, semakin lama semakin berkurang generasinya dan berbeda-beda. Sehingga harus ada penafsiran dari setiap generasi, seperti Bukhari dan Muslim.
                Ketika generasi bapak saya melihat wayang kulit, mereka akan faham maknanya. Tapi kalau generasi saya sekarang, pasti akan mengerutkan dahi dan akan kebingungan. Jangankan faham dengan artinya, untuk mengenal nama-namanya saja tidak tahu. Saya tidak tahu siapa yang menjadi Bima? dan siapa yang jadi Arjuna? Yang saya tahu hanya Semar saja, karena bentukya gendut dan cebol. Mengapa saya tidak sefaham dengan bapak dalam mengenal wayang-wayag tersebut? karena bapak saya mentransfer hal itu kepada saya sedikit-sedikit. Sama dengan orang tua kita, mereka mentransfer budaya yang mereka miliki kepada kita tidak seutuhnya seperti kakek kita dulu mentransfer kepada ayah kita.
                Dengan adanya modernisasi, manusia sudah bisa memproduksi pulpen yang bisa membaca  dan mengaji, dengan harga satu jutaan masyarakat sudah dapat memilikinya. Atau tidak usah repot-repot mengajikan anak ke rumah seorang ustad, tinggal memanggil ustad prifat saja sudah cukup. Jiwa orang dulu sama jiwa orang sekarang sudah berbeda, jadi pemaknaannya juga berbeda. Sekarang saja terasa seperti itu, bayangkan bagaimana keadaan itu jika lima atau sepuluh tahun mendatang.
Bagaimana mempertahankan kebudayaan daerah?
                Dengan mengaktifkan kebudayaan yang mulai jarang dipakai pada momen-momen tertentu seperti: hari raya agama, berbagai event kebersamaan, ulang tahun desa dan pada momen-momen lainya. Coba diaktifkan lagi isu-isu tadisional ini. Sehingga2 minimal orang akan me-rewaind, oh iya itu kanapa setahun sekali. Ini saya kasih contoh ya, pati lele, balap karung dan lain-lain. Tiba- tiba hari gini balap karung gndeng itu orang. Zaman saya masih kecil dulu, saya main layang-layang kalau sore sama sapi ngerumput.kalau anak sekarang mana mau. Mending maen hp aja, bbman aja atau naik motor kemana gitu. Mana mungkin mereka nggelas benang sampai tangannya berdarah, mereka nggak punya pengalaman kayak gitu.saya dulu rebutan layangan sampai ndresak ke sawah, sampai dimarahin . padahal layangan itu tidak ada harganya. Itulah yang namanya keudayaan.
 Tapi sekarang faktanya diaktivkan moninsidentalsetahun sekali. Wyang kulit yang nonton sedikit sekali, yang nonton paling orang-orang tua, sindenya sudah sangat jarang, dalangnya sudah sangat jarang sekali.pemusiknya juga sangat jarang. Mereka sudah banyak yan g meniggal. Terus sing nerusin siapa? Sedikit sekali yang belajar itu. Akhirnya dimodifikasi, ada musik gamelan elektronik lewat laptop seorti yang ditemukan mahasiswa semarang . kalau dulu masih pakai alat tradisional yang dipukul itu dan hasilnya berbeda.
Bagaimana jika kita bingkai dalam kurikulum untuk pendidikan?
                Dalam hal ini di indonesia kurikulum ini bisa dimasukkan di kurikulum lokal. itu sekarang digerakkan lagi dan saya sangat mendukung, biar kalian mengerti, asal kalian dari daerah sendiri. Jangan sampai orangg jawa tidak tau jawa. Tapi saya akui budaya itu ibarat pisau. Dulu saya tau honocoroko, tapi setelah sepuluh tahun ini saya jadi bingung mana yang HO mana yang NO mana yang CO, karena jarang membukanya lagi. Seperti pisau setelah lama tidak dipakai akan berkarat.
                Sama kayak kalian,budaya daerah karya orang-orang dulu yang bagus kalau tidak di aktifkan harus rela tergerus dengan yang baru. Seperti ketika memakai sarung ,lama-kelamaan sarung menjadi ribet dan muncul sarung yang bermodel celana. Karena itu ana yang namanya in ovasi . kenapa inovasi? Karena kalian makhluk berfikir menciptakan kebudayaan sendiri.
                Dulu sebulum ada magic com, saya saya sampai kelaparan nunggu ibu yang masak masih pakai cara trdisional harus melalui dua tahapan agar nasi bisa masak dengan sempurna.kalau sekarng tinggal colokkan udah tinggal nunggu masaknya. Itulah hasil berpfikir masusia dan hasil budaya manusia. Saya asli orang jawa yang mulai kecil sampai SMA tinggal di jombang,saya kuliah di jakarta di UI. Di jakarta sangat sibuk. Saya berbaur dengan banyak orang, dari batak , sunda, sumatera dan lain-lain, akhirnya saya berubah, kok ilang jawanya, kok wis gak lemah lembut,kok pola pikirnya berbeda. Secara pribadi saya tumuh bukan orang jawa lagi dalam poin-poin tertentu. Tpi fisik tidak bisa dirubah, gen itukan turunan, tujuh turunan baru bisa hilang. Walaupun kita operasi plastik. Misalnya kita punya istri orang cina dia ber mata sipit dan minta utuk dibelokin dengan operasi plastik, walaupuun punya anak tetap sipit.
                Tapi klau perilaku bisa berubah, yaitu seperti TKW yang mantan pekerja dari hongkong, memakai pakaian seksi, gaya bicaranya di bhs igrisin, yang dari malaysia di melayuin dan itu dia tidak sasdar.yang merasa orang lain lawan bicaranya. Ini orang kok blagu banget sih, sombong banget sih. Bunkan sombong karena kebiasaanseperti itu. Kebudayaan asli ini sekarang itu lagi Blursaya bilang gitu karena sudah borderles socity, socity kan masyarakat. Kenpa saya bilang borderles sehingga sehingga budaya asli itu sudah di pertanyakan. Sekarang kita anak banyuwangi, kita anak gresik, kita anak bangil dan semuanya mondok di bangil, ini seperti sudah tidak ada jarak antara kita dengan orangtua kita yang ada di rumah. Karena sudah ada telpon, ada 3G-an tidak ada jarak antara bangil dan banyuwangi.
                Dulu masih ada zamannya wesel dan telegram itu kabar duka baru tau dua hari kemudian. Jenazah udah dikubur kita baru pulang. Sekarang udah ada sms, ketika gunug kelud meletus saya lagi di Thailand,yang hawatir bukan hanya yang ada di Kediri aja, saya yang juga di Thailand juga khawatir, saya khawatir orang tua saya yang di jombang gimana? Yang khawatir bukan hanya di Indonesia aja tapi yang di New york juga merasakan kekhawatiran. Yang komen di facebook aja banyak dari mana-mana. Itu yang disebut Borles Societing timeingnya jam 22:53 hampir jam 11 kemarin. Setelah satu menit kemudian Detik.com sudah meng update brita tersebut sehingga saya langsung tahu kabar tersebut, 30 detik kemudian saya langsung telpon orang tua. Hampir timing sama place itu tidak ada batas-batasnya.
                Yang asli yang mana? Batik katanya punya orang jawa, tapi di Thailand dan di Malaysia juga banya orang memakai batik, dan disana mereka juga bikin batik. Mereka bilang ”saya lo tidak niru,ini motif asli sini. Terus mana yang asli? Kasus lagi reok ponorogo di Malaysia. Kata orang Indonesia, Malaysia meniru dan mengakui kebudayaan reok milik Indonesia. Tapi mereka bilang kalo reok adalah budaya mereka yang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun mengakar di sini. Terus orang mempertanyakan “yang asli yang mana?”.
                Apa akar masalahnya? Tiga genersai sebulumnya ada orang ponorogo berdagang atau dikirim belanda kesana. Yang namanya kebudayaan itu udah tertanam dalam benak kita dan itu masih aktif walaupun saya di Thailand atau di australi. Begitu pula orang ponorogo yang udah imigrasi ke Malaysia mereka kangen dengan budaya daerah mereka , saya kangen ngereok, yowes saya nggawe reok nang kene. Sebagian warga disitu akhirnya bermain reok disana, nikah sama orang Malaysia, karena mereka kangen dengan bahasa jawa akhirnya mereka nurunkan baha jawa ke anak-anak mereka, sehingga terbentuklah keluarga yang kental akan budaya jawa dan mereka membuat pertunjukan disana dan muncullah isu bahwa reok itu bersal dari Malaysia dan milik Malaysia. Sebetulnya mereka orang jawa tapikan mereka jadi warga Negara Malaysia. Itu tiga generasi di atas kita.


2 comments:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Perang Budaya Indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di http://indonesia.gunadarma.ac.id

    ReplyDelete
  2. terima kasih mungkin kita bisa saling sharing dan bertukar pikiran

    ReplyDelete