Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Monday, November 24, 2014

Filosofi Semut

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.(QS. Ali-Imran ; 190-191)
            Sungguh MahaAdil Allah I di tiap penciptaan-Nya. Semut hasil kreasi Allah -yang telah di abadikan dalam Al-Qur’an-, mungkin terkesan sebagai serangga kecil dan lemah di mata manusia. Namun uniknya, jika kita melihat kenyataan yang ada, semut termasuk hewan yang dapat survive di tengah seleksi alam yang terus terjadi. Ukuran mungkin bukanlah segalanya, ukuran tubuh yang relatif kecil bukan menjadi kendala, bahkan semut tergolong hewan terkuat di dunia. Semut jantan mampu menopang beban beban 50 kali dari bobot tubuh mereka sedangkan gajah yang hanya mampu menopang beban dengan berat dua kali dari berat badannya sendiri. Satu hal yang menarik dari semut adalah realita alamiah sebagai hewan dengan proporsi otak terbesar jika dibandingkan dengan tubuhnya. Hal itu dikarenakan, di dalam kepala mereka tersimpan 250.000 sel otak. Subhanallah.
Koloni semut       
                Dalam sistem klasifikasi makhluk hidup, semut digolongkan dalam Family Formicidae dengan Ordo Hymenoptera. Hewan ini memiliki lebih dari 12.000 spesies yang sebagian besar hidup di kawasan tropika. Semut adalah serangga sosial yang hidup berkoloni atau lebih tepatnya disebut dengan serangga eusosial dengan sistem koloni yang teratur. Setiap anggota koloni mempunyai tugas masing-masing. Ratu semut bertugas untuk bereproduksi, mempertahankan kelangsungan spesies dengan menghasilkan semut pekerja, semut tentara, semut jantan, dan ratu yang baru. Semut pekerja memiliki tugas untuk mencari makan, merawat bayi, membangun sarang dan menjaga koloni serta sang ratu. Sedangkan semut tentara dengan kepala yang besar untuk menjaga sarang dari musuh.
Dalam sebuah koloni semut, sang ratu semut memiliki ukuran tubuh paling besar dan umur paling panjang yaitu 20 tahun, berbeda dengan semut pekerja yang hanya hidup 45-60 hari. Semut jantan memiliki tubuh paling kecil dengan rentangan umur terpendek karena pasca membuahi sang ratu, dia akan mati beberapa hari kemudian.
                Terkadang, koloni semut disebut sebagai “Superorganism”. Ungkapan tersebut ditulis oleh seorang myrmecologist dari Amerika, William Morton wheeler pada tahun 1011. Ia mengatakan bahwa “sebuah koloni semut merupakan satu organisme”. Ia menyatakan bahwa koloni semut nyata sebagai satu organisme, tidak hanya sebuah analogi. Hal ini dikarenakan koloni semut sebagai satu unit yang bekerja secara bersamaan dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya, seperti kinerja organ-organ yang mendukung kehidupan organisme. Kasta ratu merupakan organ reproduksi, kasta pekerja merupakan hati, jantung, paru-paru, otak, jaringan, sel dan lainnya sedangkan pertukaran zat dan gas yang terjadi antara semut merupakan sistem sirkulasi dan respirasi pada organisme.  Wallahua’alam.
                Jika dicermati secara seksama, kita bisa mendapatkan hal belum pernah kita bayangkan sebelumnya bahwa dalam sistem kasta semut-semut rela berkorban untuk kelangsungan hidup semut lainnya. Semut pekerja tidak pernah lelah mencari makan untuk sang ratu, semut prajurit juga selalu menjaga keamanan koloni tanpa henti. Fakta ini tidak sejalan dengan teori evolusi yang mengatakan bahwa makhluk hidup memiliki sifat egoistis yang hanya memikirkan diri sendiri. Namun realita berkata lain, semut dengan segala toleransi dan kerjasama mampu bertahan sampai sekarang. Meski memiliki koloni yang sangat banyak, hampir dipastikan jika semut tak pernah memiliki masalah dengan jumlah tersebut. Ribuan bahkan mungkin jutaan semut yang hidup bersama tidak pernah mengalami kelaparan. Jika terjadi krisis makanan, mereka akan saling memberi makanan dengan partikel makanan yang tersimpan dalam perut cadangannya. Tak hanya itu, semut rela berbagi sarang dengan makhluk hidup lain, seperti: larva kumbang, kutu, dan lalat.
Morfologi (bentuk tubuh) semut
                Suatu hal yang menakjubkan lainnya adalah bentuk morfologi semut yang mengagumkan. Sebuah desain penciptaan tiada tanding. Secara Morfologi, semut dapat diidentifikasi dengan menggunakan karakter-karakter sebagai berikut:
1.      Memiliki sepasang antena dengan tipe geniculate
2.      Ratu dan pejantan memiliki sepasang sayap. Khusus untuk Ratu, sayap akan lepas setelah terjadi proses perkawinan.
3.      Pada bagian pinggang, atau lebih tepatnya bagian antara thoraks dan gaster mengalami penyempitan. Bagian ini disebut dengan Petiole dan Post petiole. Pada semut beberapa spesies hanya memiliki petiole saja dan spesies lainnya memiliki petiole dan post petiole.
4.      
Sexual dimorphisme (perbedaan morfologi pada serangga fertil, jantan dan betina).


Teknologi komunikasi pada semut
                Penelitian ilmiah tentang semut telah mengungkapkan bahwa hewan-hewan kecil memiliki sistem komunikasi yang kompleks. Misalnya kutipan dari National Geographic yang menyatakan bahwa:
                        “Huge and tiny, an ant carries in her head multiple sensory organs to pick up chemical and visual signals vital to colonies that may contain a million or more workers, all of which are female. The brain contains half a million nerve cells; eyes are compound; antennae act as nose and fingertips. Projections below the mouth sense taste; hairs respond to touch“. [1]
                Dari pernyataan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa seekor semut memiliki organ-organ sensor ganda dikepalanya untuk menangkap dan menyalurkan sinyal kimia dan visual penting yang mungkin terdiri atas sejuta atau lebih pekerja yang semuanya betina. Otaknya berisi satu setengah juta sel syaraf, memiliki mata majemuk, antena berfungsi sebagai hidung dan ujung jari. Tonjolan di bawah mulut menjadi indera pengecap dan bulu menjadi indera peraba.
                Secara umum, semut memiliki hormon yang luar biasa yang digunakan dalam sistem komunikasi. Mereka mempunyai dua jenis hormon yaitu feromon[2] dan alomon. Feromon memainkan peranan vital dalam berkomunikasi dan mengatur koloni semut dalam satu genus yang sama. Sedangkan alomon digunakan untuk komunikasi antargenus. Ketika seekor semut mengeluarkan feromon, semut lain akan menerimanya melalui bau atau rasa kemudian meresponnya. Penelitian tentang feromon semut telah membuktikan bahwa semua sinyal yang dipancarkan sesuai dengan kebutuhan koloni. Selain itu, intensitas feromon yang dipancarkan juga bervariasi sesuai dengan urgensi situasi. Layaknya fungsi GPS, dengan meninggalkan feromon semut bisa mengikuti semut lain yang ada di depannya dan bisa pulang kembali ke sarang tanpa tersesat. Semakin tebal jejak, maka akan semakin banyak semut yang percaya dan berjalan di jalan itu. Dan sebaliknya, jika jejaknya menipis, maka akan sedikit semut yang mengikuti jalur. Sehingga tidak mengherankan jika barisan semut yang ramai akan selalu rapi dan sebaliknya barisan yang sepi akan tidak teratur. Subhanallah.
                Selain berkomunikasi dengan feromon, semut juga menggunakan metode bunyi. Dua dari jenis bunyi ditemukan oleh para ilmuan. Salah satunya adalah bunyi "ketukan" dan getaran yang diproduksi dengan memukulkan tubuh pada rintangan atau tanah dan satu lagi adalah nada tinggi yang diproduksi dengan menggosokkan bagian tubuh tertentu. Isyarat bunyi yang diproduksi dengan memukulkan tubuh biasanya digunakan oleh koloni yang bersarang di pohon. Contohnya, semut tukang kayu berkomunikasi dengan "bermain gendang". Mereka mulai "bermain gendang" saat menghadapi bahaya apa saja yang mendekati sarang mereka. Bahaya ini bisa berupa bunyi yang mencemaskan atau sentuhan yang mereka rasakan atau arus udara yang mendadak timbul. Semut pemukul gendang mengetuk tanah dengan dagu dan perutnya dengan cara meng-goyangkan tubuhnya maju-mundur. Dengan cara ini, isyarat mudah terkirim melalui kulit pohon tipis sejauh beberapa desimeter. Semut tukang kayu Eropa mengirim getaran ke teman sarangnya yang berada pada jarak 20 cm atau lebih dengan cara mengetukkan dagu dan perut pada kayu ruangan dan terowongan. Di sini harus diperhitungkan bahwa 20 cm bagi semut setara dengan 60-70 meter bagi manusia.
                Semut hampir tuli terhadap getaran yang disampaikan melalui udara. Namun, mereka sangat sensitif dengan getaran suara yang dihantarkan melalui zat padat. Ini adalah isyarat tanda bahaya yang paling efisien bagi mereka. Ketika mendengarnya, mereka mempercepat langkah, bergerak menuju sumber getaran dan menyerang semua makhluk hidup yang bergerak yang mereka temukan di tempat itu. Panggilan ini selalu dipatuhi anggota koloni mana pun. Inilah petunjuk betapa suksesnya organisasi dalam kehidupan semut. Bahkan sekelompok kecil manusia yang menanggapi panggilan tanda bahaya secara kolektif - tanpa kecuali dan tanpa anarki- adalah hal yang sangat sulit untuk diaplikasikan. Akan tetapi, semut mampu melakukan apa yang diperintahkan tanpa membuang waktu, sehingga mereka dapat meneruskan kelangsungan hidup mereka tanpa mengganggu disiplin dalam koloni ketika itu.
                Produksi suara bernada tinggi sistemnya lebih rumit daripada proses bermain gendang. Bunyi dihasilkan dengan menggosokkan beberapa bagian tubuh. Semut menghasilkan bunyi ini dengan menggosokkan organ tubuh di bagian belakang. Jika kita mendekatkan telinga ke semut pekerja pemanen, kita dapat mendengar mereka menghasilkan suara bernada tinggi.
                Jauh sebelum manusia mengetahui sistem komunikasi semut, Allah I telah mengabadikan “kisah semut dan Nabi Sulaiman u” dalam Q.S An-Naml ayat 18 dan 19 yang berbunyi:
#Ó¨Lym !#sŒÎ) (#öqs?r& 4n?tã ÏŠ#ur È@ôJ¨Y9$# ôMs9$s% ×'s#ôJtR $ygƒr'¯»tƒ ã@ôJ¨Y9$# (#qè=äz÷Š$# öNà6uZÅ3»|¡tB Ÿw öNä3¨ZyJÏÜøts ß`»yJøŠn=ß ¼çnߊqãZã_ur óOèdur Ÿw tbrããèô±o ÇÊÑÈ   zO¡¡t6tGsù %Z3Ïm$|Ê `ÏiB $ygÏ9öqs% tA$s%ur Éb>u ûÓÍ_ôãÎ÷rr& ÷br& tä3ô©r& štFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥n?tã 4n?tãur žt$Î!ºur ÷br&ur Ÿ@uHùår& $[sÎ=»|¹ çm8|Êös? ÓÍ_ù=Åz÷Šr&ur y7ÏGpHôqtÎ/ Îû x8ÏŠ$t7Ïã šúüÅsÎ=»¢Á9$# ÇÊÒÈ
                “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari". Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Wahai Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".

                Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang mampu berfikir dan merenungi tiap penciptaan-Nya. Tak lain dari alasan tersebut akan bermuara dalam satu kesimpulan besar bahwa semakin keras kita berfikir semakin semakin kita kagum dan bersyukur atas apa yang telah Allah I berikan.

Sumber:


               


[1] National Geographic 165, no. 6, 777
[2] FEROMON berasal dari kata "fer" (membawa) dan "hormon" (hormon) dan artinya "pembawa hormon". Feromon adalah isyarat yang digunakan di antara hewan sespesies dan biasanya diproduksi dalam kelenjar khusus untuk disebarkan. Komunikasi melalui feromon sangat meluas dalam keluarga serangga. Feromon bertindak sebagai alat pemikat seksual antara betina dan jantan. Jenis feromon yang sering dianalisis adalah yang digunakan ngengat sebagai zat untuk melakukan perkawinan. Semut menggunakan feromon sebagai penjejak untuk menunjukkan jalan menuju sumber makanan. Bila lebah madu menyengat, ia tak hanya meninggalkan sengat pada kulit korbannya, tetapi juga meninggalkan zat kimia yang memanggil lebah madu lain untuk menyerang. Demikian pula, semut pekerja dari berbagai spesies mensekresi feromon sebagai zat tanda bahaya, yang digunakan ketika terancam musuh; feromon disebar di udara dan mengumpulkan pekerja lain. Bila semut-semut ini bertemu musuh, mereka juga memproduksi feromon sehingga isyaratnya bertambah atau berkurang, bergantung pada sifat bahayanya.

0 komentar:

Post a Comment