Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, September 9, 2014

QIIMATUZZAMAN, PENGGUGAH UNTUK LEBIH MENGHARGAI MODAL KEHIDUPAN



Judul        : Qiimatu az-Zaman ‘inda al-Ulama’.
Pengarang : Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah al-Hanafi al-Halabi.
Penerbit    : Darul basya’ir al-Islamiyyah.
Tebal        : 1 Jilid.
Jumlah Hal.: 159.
Harga        : Rp. 15.000,00
Peresensi  : Muhammad Syamsur Rijal.


"وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عُنِيْتَ بِحِفْظِهِ # وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يَضِيْعُ"

“Waktu itu paling penting yang engkau diminta untuk menjaganya #
dan aku melihatnya padamu mudah hilang sia-sia”

Penulis produktif, menghargai waktu.
Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah seseorang yang arif dan bijak dalam menyikapi waktu. Tidak mengherankan jika ternyata nasab beliau bersambung kepada seorang Sahabat Rasulullah , yaitu Sayyidina Khalid ibn Al-Walid ؓ yang bergelar Saifullah.
Waktu bak pedang yang menyambar, telah Syaikh Abdul Fattah taklukkan. Kepiawaian kakeknya, Sayyidina Khalid ؓ dalam memainkan sebilah pedang -hingga dapat mengalahkan pemimpin Romawi, Georgius Theodore- telah diwarisi Syaikh Abdul Fattah dalam menaklukkan waktu. Ujung pena yang terasah tajam mampu melahirkan lebih dari tujuh puluh karangan.
Pena dan kertas senantiasa mendampingi Syaikh Abdul Fattah, saat berpergian maupun sakit. Beliau telah mengarang dan menamatkan sebagian kitabnya saat berpergian. Bahkan, ada karangan yang beliau tulis ketika menjelang dua puluh hari sebelum berpulang ke rahmatullah. Syaikh Abdul Fattah juga sangat sedikit tidur. Kedua sifat ini menunjukkan betapa beliau sangat menjaga waktunya.
Secara garis besar, kita dapat melihat hasil jerih payah dan perjuangan seorang ulama melalui buah tangannya. Kita dapat membagi perjuangan dakwah bil kitabah Syaikh Abdul Fattah menjadi dua kategori; karangan beliau dari hasil menyunting (tahqiq) karya-karya ulama lain dan karangan hasil buah pikir beliau sendiri, diantaranya: Sofahat Min Sabril Ulama', Mas'alat Khalq al-Qur'an wa Atharuha fi Sufuf al-Riwat wa al-Muhaddithin, al-Jarh wa al-Ta`dil, al-Ulama' al-`Uzzab al-Ladhina Atharu al-`Ilm `ala al-Zawaj, dan Qiimatu az-Zaman ‘inda al-Ulama’.
Adapun kitab-kitab yang beliau tahqiq mencakup beberapa ilmu seperti ilmu Hadist -yang menjadi prioritas perhatian beliau- disusul Fiqh, Ushul Fiqh, Akidah, Akhlak, Ulumul Quran dan Sastra Arab. Dari sini kita dapat menyimpulkan keluasan dan kehebatan ilmu beliau.

Lalai
Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, segala sesuatu yang melalaikan tumbuh subur di mana-mana bagai lumut di kelembapan,  menghanyutkan kita dalam kenikmatan dunia yang fana. Waktu yang harusnya digunakan sebaik-baik mungkin sering kita sia-siakan. Harga waktu yang begitu mahal, dibayar murah dengan facebook-an, whatsapp-an, BBM-an dan sosial media lainnya. Duduk-duduk bersama teman penuh canda tawa tak tahu arah kemana adalah pilihan utama di zaman sekarang dalam menghargai (mengisi) waktu kita.
Semua ini muncul karena ketidakmampuan kita dalam menyikapi waktu. Seakan kita lupa, karekteristik waktu yang bagaikan kilat menyambar, cepat tak kasat mata. Dari itu tergeraklah hati Syaikh Abdul Fattah untuk meneteskan tintanya di atas lembaran-lembaran putih kertas untuk menyadarkan suatu yang amat penting, yang perlu kita perhatikan sebelum melakukan segala kegiatan, lebih-lebih dalam menuntut ilmu, yaitu waktu yang terbatas dan kehidupan di dunia.
Apa sebenarnya waktu itu? Seberapa berharga ia? Bagaimana menyikapinya? Qiimatuzzaman akan menjawab semua persoalan ini.

Waktu, Asas Kenikmatan
Sebelum mengupas lebih jauh mengenai waktu, Syaikh Abdul Fattah memulai bukunya dengan mengingatkan pembaca tentang nikmat yang Allah berikan kepada manusia, “Kenikmatan berlimpah dari Allah yang tak dapat dihitung” (Q.S. Ibrahim : 34), waktu adalah salah satu nikmat tersebut, yang masuk dalam rincian asas sumber kenikmatan –sebelum terbagi menjadi furu’- dan merupakan “nikmat yang sering tak dianggap” (Al-Hadits).
Selanjutnya, Syaikh Abdul Fattah mengutip bermacam-macam cerita di dalamnya tentang perjuangan ulama’ bagaimana mereka menjaga sedetik saja kehidupan mereka, seperti Al-Khothib Al-Baghdadiy yang membaca sambil berjalan. Semakin seseorang tahu betapa berharganya waktu, semakin bertambah pula kewaspadaannya dalam menjaga waktu tersebut, karena kita semua tahu, sedetik yang telah lewat tak akan kembali lagi walau kelak hari kiamat.
Membaca dan menulis adalah pilihan tepat dalam mengisi waktu menurut Syaikh Abdul Fattah, dua hal yang mendominasi buku ini. Baca-tulis yang merupakan dua hal lazim yang tak dapat dipisahkan dari proses belajar-mengajar.
Selain baca-tulis, Syaikh Abdul Fattah di dalam Qimatuzzaman juga menghadirkan kegiatan lainnya yang dapat pembaca lakukan dalam mengisi (menghargai) waktu. Syaikh Abdul Fattah juga mengingatkan para pembaca untuk selalu melandasi segala kegiatan yang dilakukan dengan beberapa hal penting, “jika ingin tak merugi jadilah orang yang beriman, dari itu akan berbuah amal shalih, plus dua kunci, untuk selalu saling menasehati agar mendapatkan  ridha Ilahi”. (Q.S. Al-Ashr)

Spesial
        Kita sering mendapati banyak sekali buku yang membahas tentang waktu, baik dari segi karekteristiknya, bagaimana memanajemennya, atau dari segi siapa yang menggunakan waktu tersebut dan sebagainya. Namun, sulit untuk menemukan buku tentang waktu yang memang diperuntukan untuk pelajar.
 Qiimatuzzaman adalah solusi yang tepat. Kecil, ringkas, lagi padat, begitulah kira-kira kesan yang tertangkap di kitab ini. Lima puluh lima adalah jumlah lembaran di dalamnya. Dengan pembendaharaan kosakata yang sangat beragam, membuat kita tak bosan saat membelai halaman demi halaman.
Buku ini memberikan argumentasi yang sangat kuat tentang bagaimana menyikapi waktu dalam perspektif ulama. Karena memang, hanya “ulama” yang tahu bagaimana menyikapinya dengan baik.
Sangat spesial, terlebih buku ini Syaikh Abdul Fattah khususkan bagi “Thalibul’ilm dan ahlul’ilm”. Ya, Thalibul’ilm dan ahlul’ilm yang eksistensinya sebagai pewaris para Nabi r, merekalah yang seharusnya lebih memperhatikan waktu.


Qiimatuzzaman akan membangunkan kita yang terlelap dalam kenikmatan dunia yang sekejap ini dengan menyuguhkan firman-firman Allah , sabda Rasulullah , bait-bait syair ulama klasik, sebagai makanan bergizi tinggi yang akan mensupply semangat kita yang lemah dan menggugah jiwa-jiwa yang gundah. Sumpah Allah contoh dari firman-Nya, berapa kali Allah bersumpah di dalam Al-Qur’an, Demi Waktu(Masa), Demi Subuh, Demi Waktu Pagi, Demi Waktu Dhuha, Demi Siang, Demi Malam dan lainnya. Ya, bersumpah dengan nama-nama waktu, tujuannya -tak lain- untuk menyadarkan makhluk yang tak luput dari dosa dan lupa betapa berharganya waktu sebagai modal kehidupan. Alangkah baiknya pembaca untuk memiliki buku ini segera, agar anda lebih tahu harga satu detik sesungguhnya.

0 komentar:

Post a Comment