Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, September 9, 2014

Imam Al-Buwaithi, From Zero To Hero


Sebagai Imam mazhab tersohor, Imam Syafi’i memiliki banyak murid yang yang cakap di setiap bidang ilmu pengetahun. Ternyata, ada salah seorang murid beliau memiliki kecerdasan di bawah rata-rata yang sangat sulit menangkap pelajaran, namun keterbatasan itu tidak mengurangi semangat murid ini dalam menggali ilmu kepada sang guru. Bahkan pada akhirnya, ia menjadi ulama besar yang mampu menggantikan posisi Imam Syafi’i. Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al-Qurasyiyyi Al-Buwaithi adalah nama beliau.
Serangga; Sumber Inspirasi
            Keterpurukan terjadi ketika beliau belajar di depan lentera. Subhanallah, kala itu beliau menyaksikan seekor serangga yang berusaha merayap ke atas meja untuk meminum tumpahan minyak dari lentera tersebut. Pantang menyerah, tujuhpuluh kali jatuh bangun bukanlah masalah, serangga terus mencoba hingga akhirnya berhasil meminum tumpahan minyak lentera di atas meja.
Kejadian itu membuat beliau merenung sejenak, bagaimana mungkin serangga kecil itu rela jatuh berkali-kali hanya untuk mendapatkan “seteguk” minum, apalagi untuk mendapatkan ilmu yang jauh lebih bernilai dari pada itu. Atas hidayah Allah, setelah melihat perjuangan serangga itu tergugahlah hati Imam Al-Buwaithi terpacu untuk terus menuntut ilmu dan agar tidak mudah putus asa atau tertekan meski harus menghadapi berbagai rintangan.
            Yusuf Al-Buwaithi memetik hasil jerih payahnya. Beliau menjadi salah satu murid senior terdekat Imam Syafi’i, memiliki kesempurnaan dalam ilmu hadits dan fiqih. Adz adzahabi memujinya sebagai pemimpin dalam ilmu, panutan dalam amal, seorang yang zuhud, rajin bangun malam dan berpuasa, senantiasa membasahi lisannya dengan dzikir dan akalnya giat bertafaqquh.
Khalifah tunggal Imam Syafi’i
Jika saat ini di Indonesia ada laskar pembasmi maksiat seperti FPI, ternyata di Kairo dulunya ada lembaga penegak “Nahi Mungkar” yang dipimpin langsung Imam Al-Buwaithi atas perintah gurunya, Imam Syafi’i. Bergotong-royong bersama aparat setempat lembaga tersebut membasmi maksiat. Imam Al-Buwaithi juga memiliki kebiasaan membangun fasilitas umum untuk masyarakat, dan tidak jarang beliau mendapatkan kepercayaan dari Imam Syafi’i untuk berfatwa.
            Suatu hari, datanglah seseorang kepada Imam Syafi’i untuk meminta fatwa atas garis pembatas tanah namun Imam Syafi’i tidak menjawab tetapi beliau membawa permasalahan tersebut kepada Imam Al-Buwaithi seraya berkata,“Orang ini (Imam Al-Buwaithi) adalah lisanku ”.
Menjelang detik-detik kepergian imam Syafi’i, Al-Humaidi sebagai murid yang dituakan mendekat ke ranjang imam Syafi’i, dia memohon agar sang guru menunjuk pewaris majlisnya sebab dia khawatir akan adanya perselisisihan kelak sepeninggalan beliau. “Tidak ada yang lebih berhak atas majlisku selain Al-Buwaithi” ujar Sang Guru. Beliau berwasiat pada para muridnya untuk terus berada di majlis imam Al-Buwaithi. Oleh karena itulah Imam Al-Buwaithi selalu menggantikan peranan Imam Syafi’i dalam segala hal setelah beliau wafat. Puncaknya, tidak sedikit para murid Al-Buwaithi yang menjadi imam dan menyebar keseluruh penjuru dunia.
Bersamaan dengan derajat dan kemasyhuran Imam Al-Buwaithi yang terus naik daun, tidak sedikit orang yang dengki dan ingin menjatuhkan beliau.
Ketakutan Mu’tazilah
            Tatkala kota Baghdad jatuh dalam cengkraman Mu’tazilah, mereka menyebarkan doktrin bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan menyiksa dengan kejam bagi siapa saja yang berselih paham dengan mereka. Banyak ulama Baghdad yang menyerah dan terpaksa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk sebab tak kuasa menerima siksaan tersebut.
             Abu Bakar Al-Asyam sebagai hakim tinggi kaum Mu’tazilah menyurati hakim agung Ahmad bin Abi Daud untuk menangkap Al-Buwaithi. Imam Al-Buwaithi menegaskan pada gubernur Mesir: ”Pengikutku berjumlah ratusan ribu, sesatlah mereka jika aku berpura-pura hanya agar selamat dari siksa”. Maka dibelenggulah Imam Al-Buwaithi dan digiring ke Baghdad. Gubernur Mesir Al-Watsiq Billah yang sangat menghormati Al-Buwaithi hanya dapat berpangku tangan melihat kembali kejadian yang pernah menimpa Imam Ahmad bin Hambal hingga merenggut nyawanya atas Imam Al-Buwaithi.
            Imam Robi’ bin Sulaiman (ini siapa?) berkata: “Aku melihat Imam Al-Buwaithi dinaikkan ke bighal, di lehernya terdapat belenggu seberat empatpuluh pon. Tangan kakinya dililit dengan borgol, antara belenggu leher dan borgol terdapat rantai besi terurai seberat empatpuluh pon, di saat itu Imam Al-Buwaithi berkata: “Allah ciptakan makhluknya dengan berfirman ‘KUN’ maka terjadilah, seandainya firman ‘KUN’ ini makhluk, berarti Kholiq menciptakan makhluk yang akan menciptakan makhluk (lagi), andai aku bertemu Al-Watsiq, akan aku sampaikan ini padanya”.
            Sayangnya justru karena ucapan tersebut Imam Al-Buwaithi dihalang-halangi agar tidak berjumpa Al Watsiq Billah. Salah seorang pengawal Mu’tazilah mencatat ucapan dan hujjah beliau kemudian melaporkannya pada Hakim Agung Ahmad bin Abi Daud, ia pun kaget mengetahui betapa cerdas Imam Al Buwaithi hingga mampu merubah faham Mu’tazilah hanya dengan beberapa kalimat, maka Ahmad bin Abi Daud semakin menghalangi Imam Al-Buwaithi untuk berjumpa Al-Watsiq Billah.
            Mewarisi ketajaman logika Imam Syafi’i, kefasihan berbahasa dan kesantunan akhlaknya menjadi sebab Al-Buwaithi diisolasi. Para pembesar Mu’tazilah khawatir hal tersebut akan merenggut perhatian Khalifah yang selama ini mereka nikmati. Sungguh berbahaya, Imam Al-Buwaithi dikurung dalam penjara bawah tanah selama 4 tahun. Beliau paling tersiksa ketika tidak diperbolehkan beribadah dan sulit menentukan waktu sholat, hingga beliau menjadikan waktu-waktu siksa cambukan sebagai patokan waktu shalat karena sudah berbulan-bulan tidak pernah melihat matahari.
            Meski demikian, beliau masih melakukan kebiasaannya seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir dan salat malam secara sembunyi-sembunyi, tidak ada waktu kosong yang disia-siakannya.  
Firasat Kepergiannya
Setelah lama meringkup dalam gelapnya buih bawah, disiksa di penjara akibat tidak mau merubah pendapatnya, Imam Al-Buwaithi masih sempat menuliskan surat bertintakan darahnya di atas kain kumal yang beliau kirim pada seorang Imam, yang di kemudian hari Imam tersebut membacakannya di depan majlis “Aku terhalang untuk bersuci dan beribadah, berdoalah agar Allah memberi karunia jalan terbaik bagi hamba lemah sepertiku.”
             Tidak lama berselang, Imam Al-Buwaithi dipanggil oleh Sang Khalik pada bulan Rojab tahun 231 H. Kepergian pahlawan kebenaran itu membuat para tokoh agama dari penjuru dunia terlebih ulama Mesir merasakan oase ilmu pengetahuan yang tak pernah kering ini hilang tertimbun. Dan benarlah firasat Imam Syafi’i tentang murid-muridnya yang beliau ungkapkan ketika masih hidup salah satunya Imam Al-Buwaithi, yang akan menghembuskan nafas terakhir di dalam penjara menjadi kenyataan.
            Perjalanan Imam Al-Buwaithi mulai dari nol hingga wafat dapat menjadi suri tauladan bagi umat manusia bahwa mencapai kesuksesan itu memang membutuhkan pengorbanan dan berton-ton cucuran keringat. Keberanian beliau untuk menyatakan kebenaran sebagai sikap kepahlawanan juga merupakan hal yang sulit ditiru oleh orang lain.





Referensi:
Tobaqoh Syafi’iyah, juz 2

http/www.google.com

0 komentar:

Post a Comment