Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, September 9, 2014

Habib Syekh Al-Musawa Permata Surabaya Yang Tersimpan

Perjanan hidup Habib Syekh Al-Musawa laksana air zamzam yang jika diminum menyegarkan dan tak pernah habis. Biografi kehidupan beliau penuh dengan hikmah dan makna, faktor usia bukanlah penghalang yang mampu menghentikan kegiatan belajar mengajarnya. Tekadnya sungguh tinggi, kecerdasan dan kedisiplinan beliau membuat orang lain kagum kepadanya.
Habib Syekh Al-Musawa dilahirkan pada tahun 1921 di Purwakarta, Jawa Barat. Beliau adalah putra dari Habib Ahmad bin Muhammad Al-Musawa dan Sayyidah Sa’diyah. Sejak usia dini putra kedua dari tiga saudara ini dididik langsung oleh ayahandanya, seorang ulama yang terkenal di masanya.
Habib Syekh Al-Musawa menghabiskan masa kecilnya untuk menimba ilmu agama, tatkala umur beliau mencapai sembilan tahun, beliau meneruskan jenjang pendidikanya ke Rubath Tarim, Hadramaut di sana beliau berguru pada Habib Ahmad bin Umar Asy-Syatiri, penyusun kitab Yakutun Nafis, dan pengasuh Rubat Tarim Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiri, beliau  banyak mempelajari berbagai ilmu diantaranya fiqih, tafsir, nahwu, sharaf dan balaghah dan tasawuf.
Semangat belajar beliau yang tinggi membawanya ke  Mekkah Al-Mukarramah, meski waktu itu Timur Tenggah tak lepas dari imbas suasana perang dunia pertama, tekad beliau yang kuat tak mengurungkan langkahnya menuju  Mekkah. Walaupun hanya dengan mengendarai unta, beliau berangkat dari Tarim menuju  Mekkah. Di tenggah perjalanan habib syekh al musawa sempat mengajar di beberapa  desa  yang ia singahi. Tak heran jika perjalanan itu menghabiskan waktu kurang lebih dua bulan.
Sesampainya di tanah suci Mekkah, beliau langsung belajar kepada Sayyid Alwy bin Abbas Al-Maliky ayah dari sosok Sayyid Muhammad  Al-Maliky. Diantara guru Habib Syekh Al-Musawa adalah Habib Alwy bin Shahab, Habib Abdulbari bin Syekh Al-Idrus dan Sayyid Amin Qutbi.
Di  Mekkah,habi Syekh sempat bertemu dengan santri asal Indonesia seperti Habib Ali bin Zain bin Shahab(Pekalongan), Habib Abdullah Al-Kaff (Tegal), Habib Abdullah Syami  Al-Attas (Jakarta) dan Habib Husien bin Abdullah Al-Attas (Bogor).
Setelah menimba ilmu dari guru-gurunya, beliau kembali ke tanah air Indonesia pada tahun 1947. kemudian beliau menikah dengan Sayyidah nur, putri dari Zubaid di Surabaya.
Tak lama dari pernikahanya, beliau mengajar di madrasah Al-Khairiah. Habib Syekh Al-Musawa adalah figur seorang ulama yang tekun dalam hal pendikikan, bahkan setelah menikahpun beliau masih ingin tetap belajar, akhirnya beliu belajar kepada Habib Muhammad bin hasan  As-Seggaf di Kapasan. Setelah habib Muhammad  wafat, beliau menggantikan gurunya untuk mengajar di majelis taklim almarhum. Tiga tahun kemudian Habib Syekh bin Ahmad Al-Musawa pindah ke Jakarta, beliau mengajar setiap Minggu pagi di majelis taklim Kwitang yang diasuh oleh Habib Muhammad Al-Habsyi selama enam tahun.
Pada tahun 1967 beliau berangkat ke beberapa Negara Islam di Timur Tenggah dalam rangka mencari dana pembangunan ICI (Islamic centre Indonesia). Setelah pembangunan ICI selesai, seorang alim yang gemar mempelajari ilmu tasawuf ini mengajar di majelis taklim asuhan K.H. Muhammad Zein di kampung Makasar, Kramat Jati, selama sepuluh tahun dan kemudian mengajar di madrasah Az-Ziyadah dibawah asuhan K.H. Ziayadi Muhajir selama tiga puluh tahun, setelah Kiayi Muhajir meninggal, Habib Syekh Al-Musawa menggantikan almarhum mengasuh majelis taklim hingga tahun 2003. Selain beliau mengajar di sana, beliau juga mengajar dimajelis taklim Habib Muhammad bin Aqil bin Yahya, di jalan Pedati, Jakarta. Bukan hanya itu, beliau juga mengajar di tiga puluh majelis taklim yang lain di berbagai tempat di Jakarta. Dan yang tak kalah hebatnya beliau juga pernah mendapatkan mandat dari habib Abdullah asy-syatiri untuk mengajari putranya yaitu habib Salim asy- syatiri sewaktu beliau masih kecil
Pada tahun 2003 beliau kembali ke Surabaya dan tinggal di jalan Kalimasudik II. Setibanya ayah delapan anak ini (dua putra dan enam putri), beliau lebih banyak istirahat di rumah. Namun tekad dan kegigihan seorang alim yang selalu mengenakan gamis dan serban putih ini, sanggatlah tinggi. Keteguhan dan semanggat beliau dalam belajar dan mengajar patut ditiru.
Di samping banyaknya santri yang datang ke rumahnya untuk belajar, beliau masih sempat mengajar tasawuf di majelis burdah asuhan Habib Syekh bin Muhammad Al-Idrus di jalan Ketapang Kecil, setiap Kamis sore sampai menjelang magrib. Dan beliau juga membuka majelis taklim setiap hari Jum’at siang, yang dihadiri dari beberapa kalangan masyarakat dan diteruskan dengan makan siang di rumahnya.
Adapun kegiatan rutinitas beliau di bulan Ramadhan yaitu mengisi acara khataman Al-Qur’an pada tanggal 19 Ramadhan di langgar Norbet Kalimas Nadya. Habib Syekh Al-Musawa sangat menyukai ilmu tasawuf. Adapun salah satu karya beliau adalah Muqtathafat  Fi al masail Al khilafiah (beberapa petikan masalah khilafiah) meski kesehatan beliau kurang baik, beliau masih semangat menyelesaikan kitab tentang pernikahan dalam empat ulama madzhab.
Dari beberapa keistimewaan yang beliau miliki, beliau termasuk mukasyifin. Suatu hari tatkala beberapa orang datang  kerumah beliau dalam rangka bersilaturahmi, mereka membawakan anggur untuk beliau, ketika itu terbesit di hati mereka untuk merasakan anggur tersebut dan kebetulan mereka belum shalat dhuha.  saat mereka hendak memberikan anggur tersebut, Habib Syekh justru menyuruh mereka untuk shalat dhuha dan memakan setengah anggur yang mereka berikan dan kemudian berkata: “Bukankah kalian ingin merasakan anggur ini dan juga kalian belum shalat dhuha?”.

habib Syekh Al-musawa adalah sosok ulama yang dermawan dan juga orang yang tawadhu’ , hal ini terbukti dari sikap dan pelakuan beliau terhadap orang lain. Habib Syekh Al-Musawa meninggal tatkala beliau berumur 85 tahun (atau 91 tahun menurut perkiraan hijriah) yaitu pada jam 09:30 malam (lebih kurang waktu Surabaya) malam Sabtu, 23 Syawwal 1431 H/1 Oktober 2010, dan beliau dikebumikan pada waktu ashar di kemudian hari yang bertempat di pemakaman Majannatul Arab, Pegirian. 

0 komentar:

Post a Comment