Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, September 9, 2014

Buta pun Aku rela


            Mata merupakan anugerah terindah yang manusia miliki selama hidupnya, dengannya kita bisa melihat keindahan hasil ciptaan-Nya. Kesempurnaan dari sebuah mahakarya Sang Pencipta yang tiada duanya. Selanjutnya, manusia dipanggil dan diajak merasakan syukur teramat dalam atas karunia mata yang bisa digunakan untuk banyak hal.
Mata adalah indera penglihat yang istemewa, pengaruhnya bagi manusia sangat signifikan, karena mata adalah reseptor inderawi, menangkap materi informasi yang telah dilihat kemudian ditransfer menuju memori otak melalui saraf-saraf, lalu direkam dan disimpan dalam otak, sehingga menjadi sebuah ingatan yang tersimpan di dalam memori otak.
Islam mengajarkan kepada manusia tentang nikmatnya memiliki mata, bukan sekedar untuk melihat keindahan yang telah diciptakan Allah saja, selebihnya harus disertai tafakkur dan syukur aktif dengan mengarahkan mata kepada hal-hal positif bukan negatif.
Allah dan Rasul-Nya memerintahkan manusia untuk menjaga pandangan dari hal berbau maksiat yang dapat mempengaruhi manusia untuk berbuat dosa. Berangakat dari pandangan inilah, terkadang manusia terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Baik dosa kecil maupun besar, sengaja atau tanpa disadari.
Bukan berarti dengan menjaga pandangan lalu kita menutup mata ketika berjalan –karena takut melihat sesuatu yang diharamkan- sehingga dengan mata yang tertutup kita akan terjatuh dan terpeleset. Ini merupakan penafsiran yang salah kaprah karena maksud menjaga pandangan ialah melihat sesuatu yang bersifat positif dan tidak mengundang manusia untuk berfikir, berniat dan berbuat maksiat. Allah berfirman:
@è% šúüÏZÏB÷sßJù=Ïj9 (#qÒäótƒ ô`ÏB ôMÏd̍»|Áö/r& (#qÝàxÿøtsur óOßgy_rãèù 4 y7Ï9ºsŒ 4s1ør& öNçlm; 3 ¨bÎ) ©!$# 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqãèoYóÁtƒ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.” yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. an-Nur: 30)
Telah jelaslah kabar dari ayat di atas, bagaimana Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga pandangan mereka, tidak terbatas kepada laki-laki saja. Dalam ayat selanjutnya, Allah berfirman :
 @è%ur ÏM»uZÏB÷sßJù=Ïj9 z`ôÒàÒøótƒ ô`ÏB £`Ïd̍»|Áö/r& z`ôàxÿøtsur £`ßgy_rãèù Ÿwur šúïÏö7ム£`ßgtFt^ƒÎ žwÎ) $tB tygsß $yg÷YÏB ( tûøóÎŽôØuø9ur £`Ïd̍ßJ胿2 4n?tã £`ÍkÍ5qãŠã_ (
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…”. (QS. an-Nur: 31)
Kedua ayat tersebut bermuara kepada satu titik kesimpulan, yaitu kewajiban menjaga pandangan, tanpa memandang laki-laki maupun perempuan karena pada dasarnya manusia mempunyai akal dan hawa nafsu. Tidak dapat dipungkiri, ketika seorang pria melihat wanita yang berparas cantik nan elok, muncullah rasa ketertarikan terhadapnya. Begitu pula sebaliknya, ketika seorang wanita melihat seorang pria yang tampan, maskulin, tubuh yang perfect dan sifat yang baik. Wanita manakah yang tidak terpikat? dan adakah yang menjamin diri kita dari jurang kemaksiatan tatkala kita mengumbar liar pandangan kita?.
Imanlah yang bisa menyelamatkan kita dari mara bahaya tersebut. Maka telah jelas kiranya, jika Allah telah menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia agar menjaga pandangan mereka masing-masing. Karena dengan hal tersebutlah, kita akan terbebas dari segala sesuatu yang mengkrucut kepada kemaksiatan sehingga menyebabkan kita diganjar dengan dosa seumur hidup.
Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad bersabda lewat sebuah hadits qudtsi.
“penglihatan bagaikan anak panah yang beracun yang dilepaskan dari busur panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkan karena takut kepadaku, maka aku akan memberikan suatu ketenangan yang kemanisannya itu dapat ia rasakan di dalam hatinya”. (Hadits riwayat Ahmad dan at-Thabri).

Saat ini, di zaman yang modern -yang serba instan- mungkin sedikit dari manusia yang masih menjaga pandangannya dari kemaksiatan. Bahkan mungkin - golongan yang selalu menjaga pandangan- hati mereka berkata “lebih baik aku buta dari pada harus terus melihat kemaksiatan”, karena mereka takut untuk melihat sesuatu yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam dosa besar, sehingga mereka merelakan diri mereka menjadi orang buta tanpa bisa melihat keindahan dunia ini selamanya. Dan akhirnya dengan meminta taufiq dan hidayah-Nya, semoga Allah menjadikan kita sebagai golongan orang-orang senantiasa menjaga dan dijaga pandangan kita dari segala bentuk kemasiatan. Amin. Ibnu zein

0 komentar:

Post a Comment