Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, August 30, 2014

“Rasul SAW menciumku dan beliau dalam keadaan berpuasa "Muhammad Hanif al-Athos"



Al-Insan al-Kamil Muhammad r, adalah sosok panutan dalam segala hal. Tidak hanya dalam peribadatan, akan tetapi seorang muslim diperintahkan untuk menempuh jejak nabinya mulai dari tata negara sampai sikap dalam berumah tangga. Oleh karena itu, sebagai muslim sudah semestinya kita memahami sikap beliau dalam berbagai keadaan agar kita dapat melangkah di jalur beliau r.
Al-Mushthofa  r adalah suami terbaik dalam sejarah. Beliau selalu memperlakukan istri-istrinya dengan sangat baik. Banyak tokoh besar yang mempunyai loyalitas tinggi dalam memainkan banyak peranan, namun mereka tidak mampu menjadi suami yang baik bahkan tidak sedikit istri yang mengalami tekanan batin luarbiasa karena suaminya.
Sayyiduna Muhammad  r sangat berbedameski sangat berwibawa, beliau selalu memperlakukan istri-istrinya dengan penuh kelembutan dan romantisme. Hal itu tercermin melalui perkataan Sayyidatuna Aisyah ra yang diriwayatkan oleh Ibn Sa’d t, ketika Ummu al-Mu’minin ditanya tentang sikap Rasul r dalam kelurga, beliau berkata:
“Rasul r adalah orang yang paling lembut, selalu tersenyum, penuh tawa“.
 Dalam konteks ini, al-Imam at-Turmuzi dalam sunannya meriwayatkan bahwa Rasul  r bersabda: “sesungguhnya termasuk orang mukmin yang paling sempurna imannya, mereka yang paling baik akhlaknya dan paling lembut terhadap istrinya“.  Hadits ini menunjukan bahwa romantisme dan perlakuan yang baik dari suami terhadap istri merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang.
Mecium istri saat berpuasa
Salah satu bentuk romantisme yang dianjurkan syariat adalah mencium istri. Tentu, dalam keadaan tidak berpuasa mencium istri merupakan hal yang dianjurkan. Namun, bagaimana hukum mencium istri bagi orang yang berperpuasa? al-Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan,  bahwa Sayyidatuna Aisyah ra berkata :
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يقبلني وهو صائم و أيكم يملك إربه كما كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يملك إربه
Rasul r menciumku dan beliau dalam keadaan berpuasa dan siapa dari kalian yang mampu mengontrol dirinya sebagaimana Rasul  r  mengendalikan dirinya”.
Al-Hafidz Abu Zar’ah al-Iroqi al-Ibn dalam kitabnya Thorhu at-Tastriib menyebutkan bahwa hadits ini merupakan dalil diperbolehkannya al-Qublah (mencium) bagi orang yang berpuasa dan hal tersebut bukan hal yang dimakruhkan. Jika diteliti dengan seksama, ada perdebatan yang cukup sengit antar ulama dalam masalah ini, sehingga lahirlah beberapa pendapat sebagai berikut:
Pendapat pertama, bahwa mencium istri saat berpuasa hukumnya boleh dan tidak makruh dengan dalil hadits Sayyidatuna ‘Aisyah ra dalam Shahih Muslim. Ibn al-Munzir meriwayatkan pendapat tersebut dari sejumlah pembesar sahabat, seperti: Sy. Umar bin Khaththab t, Sy. Abu Hurairah t, Sy. Ibn Abbas dan Sayyidatuna ‘Aisyah Ra. Ibn Abi Syaibah juga meriwayatkan dari Sy. Ali bin Abi Thalib t, Sy. Abi Sa’iid al-Khudri t dan Sy. Sa’id bin Jubair t. Hal ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal t, Ishaq t dan Hasan al-Bashri t sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Hafidz Abu Zar’ah al-‘Iroqi.
Meski bertentangan dengan pendapat terkuat dalam mazhab Malik, Pendapat ini justru diunggulkan oleh Al-Imam Ibn Abdilbarr al-Maliki, di samping hadits yang telah kita sebutkan, beliau menguatkan pendapat ini dengan hadits yang diriwayatkan Imam Malik dalam al-Muwattho’  dari ‘Atha’ bin yasar t:
bahwa seorang pria mencium istrinya saat berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian lelaki itu mendapatkan kejanggalan yang luar biasa dalam jiwanya atas apa yang ia lakukan. Iapun mengirim istrinya kepada kepada Ummu Salamah Ra untuk mengkonsultasikan hal itu. Ummu salamah Ra memberitahunya bahwa Rasul r mencium dan beliau dalam keadaan berpuasa. Sesampainya di rumah, wanita itu mengabarkan suaminya tentang hal tersebut, namun hal itu justru membuat kejanggalannya makin menjadi-jadi, ia berkata “kita tidak seperti Rasul r! Allah menghalalkan untuk Rasul-Nya apapun yang beliau inginkan”. Kemudian wanita itu kembali lagi pada Ummu Salamah Ra, dan pada saat itu Rasul r ada di sisinya. Beliau r bertanya kepada Ummu salamah ra “ada apa dengan wanita ini?“.  Ummu Salamah  ra menceritakan kepada beliau apa yang terjadi, lantas Rasul r berkata: “ tidakkah kau memberitahu padanya bahwa aku melakukan hal itu?.  Ummu Salamah Ra menjawab: “aku telah memberitahunya Wahai Rasulnamun wanita itu kembali lagi kepada suaminya dan mengabarkan hal tersebut. Lagi-lagi hal itu memperburuk keadaanya, ia kembali berkata “kita tidak seperti Rasul r!, Allah menghalalkan bagi Rasul-Nya apapun yang ia inginkan“.  Mendengar hal itu, Rasul r marah seraya bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian dan paling mengetahui aturan-aturan-Nya“.
Mengomentari hadits ini, al-Imam Ibn Abdilbarr berkata “Rasul r tidak menanyakan kepada wanita itu, suamimu masih muda atau sudah tua? jikalau syari’at membedakan antara keduanya dalam masalah ini. Tentu Rasul r tidak akan diam akan hal itu, karena beliaulah yang menjelaskan hukum Allah kepada umat”.
Pendapat kedua, bahwa hal tersebut dimakruhkan secara mutlak. dalam artian, hukum makruh dipukul rata untuk semua golongan, baik pemuda atau pria lanjut usia, (mereka yang khawatir mencium dapat membangkitkan syahwatnya) atau pria yang merasa aman dari hal tersebut. Pendapat ini merupakan pendapat terkuat (mu’tamad)  dalam mazhab Imam Malik, sebagaimana dikutip al-‘Allamah Khalil dalam mukhtasharnya.
Ibn Abi Syaibah dalam mushannafnya juga meriwayatkan pendapat ini dari Sy. Abdullah bin Umar t, Syureih al-Qadhi, Muhammad bin al-Hanafiyyah dan lainnya. Bahkan al-Imam Malik dalam al-Muwattha’ meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Zubeir t dalam konteks ini berkata: “aku tidak melihat sisi baik pada mencium (istri saat puasa)“. Menurut mereka, bolehnya mencium istri saat berpuasa merupakan perkara yang dikhususkan untuk Rasul r, hal ini dilandasi perkataan Sayyidatuna ‘Aisyah ra dalam hadits di atas: “siapa dari kalian yang mampu mengontrol dirinya sebagaimana Rasul r mengendalikan dirinya?“ dan pada realitanya tak ada satupun orang yang menyamai Rasul r dalam menjaga dirinya dari gejolak nafsu.
Realita ini sudah sepatutnya menjadikan alasan diperbolehkannya mencium istri bagi orang yang berpuasa merupakan perkara yang dikhususkan untuk Rasul r. Namun gagasan di atas terbantahkan dengan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahihnya. Dari Umar bin Abi Salamah t:
bahwasanya beliau bertanya kepada Rasul r tentang hukum mencium istri bagi orang yang berpuasa, Rasul r menjawab: “Tanyakan hal ini kepada Ummu salamah!“. Ummu Salamah Ra memberitahunya bahwa Rasul r melakukan hal tersebut. Sahabat kembali bertanya kepada Rasul r: “Wahai Rasulullah r, sungguh Allah I telah mengampuni seluruh dosamu, baik yang  lampau maupun yang akan datang”.  Rasul r berkata kepadanya: “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah I di antara kalian dan paling takut kepada-Nya”.
Mengomentari hadits ini, al-Hafidz Abu Zar’ah al-Iraqi menegaskan bahwa hadits riwayat Muslim di atas merupakan dalil yang kuat bahwasanya diperbolehkannya mencium istri saat berpuasa bukan perkara yang dikhususkan untuk Rasul r.
Pendapat ketiga, pendapat ini membedakan antara pria muda dan lanjut usia. jika suami  masuk kategori pemuda, maka hal tersebut dimakruhkan. Beda halnya jika sang suami sudah tua, maka diperbolehkan. Ibn al-Munzir meriwayatkan pendapat tersebut dari sekelompok ulama, termasuk Sy. Ibn Abbas t. Al-Khathhabi meriwayatkan pendapat ini dari al-Imam Malik, akan tetapi pedapat terkuat dalam mazhab beliau adalah pendapat kedua yang telah penulis sebutkan.
Pendapat keempat, mencium istri saat puasa dimakruhkan bagi orang yang melunjak syahwatnya akibat mencium istri. Adapun pria yang tidak bangkit syahwatnya akibat mencium istri maka diperbolehkan, hanya saja, meniggalkan hal tersebut lebih baik. Gagasan hukum ini merupakan pendapat terkuat dalam madzhab Hanafi dan Syafi’i, namun al-Hafidz al-‘Iroqi memandang bahwa tingkatan makruh dalam masalah ini bagi mazhab hanafi hanya sebatas karahah tanzih, sedangkan al-Imam an-Nawawi dalam minhaaj at-Thaalibiin menegaskan bahwa makruh dalam hal ini telah mencapai tingkatan karahah Tahrim menurut versi terkuat dalam madzhab Syafi’i.
Al-Hafidz Zainuddin Abdurahim al-‘Iraqi al-Abb dalam syarah al-Jaami’ as-Shahiih li at-Turmudzi berpandangan bahwa pada hakikatnya tidak ada perbedaan secara substansi antara dua pendapat terakhir, namun perbedaan yang ada hanya bersifat tekstual. Dalam syarh Shohih Muslim, redaksi al-Imam an-Nawawi juga mengindikasikan hal yang sama dengan al-‘Iroqi. Karena, Pada umunya pria muda memiliki gairah seksual yang tinggi dan namun  cenderung menurun drastis pada masa tua. Pertimbanganlah ini yang melatarbelakangi  penetapan usia sebagai tolak ukur dalam pendapat ketiga.
Bertolak dari sudut pandang ini, apabila pada kancah realita ada beberapa kasus yang tidak lumrah -dalam artian- ada pria lansia yang syahwatnya kuat atau pemuda yang lemah syahwat, maka secara otomatis hukum akan berbalik seiring keadaan yang ada.       
Dua pendapat terakhir bisa dikatakan sebagai pandangan yang menengahi dua pendapat sebelumnya. Alasan Syafi’yyah, hanafiyyah dkk dalam masalah ini sangat logis dan bijak.  Berbeda dengan dua pandangan sebelumnya, mereka menempuh jalur tengah dalam menyikapi riwayat Sayyidatuna Aisyah ra. Mazhab ini memandang bahwa Rasul  r dapat mengendalikan dirinya dengan baik, sehingga ketakwaan beliau r menempatkan beliau dalam posisi aman dari gejolak syahwat. Hal ini berarti, siapapun yang dapat mengendalikan dirinya dengan baik sehingga aman dari gejolak syahwat yang mengundang persetubuhan atau orgasme maka ia diberi hukum yang sama dengan Rasul r dalam masalah ini, begitupula sebaliknya.
al-Hafidz Abu Zar’ah al-‘Iraqi dalam tarh at-Tastrib memilih pendapat terakhir sebagai arjah al-aqwal (pendapat paling unggul), disamping karena tajamnya penafsrian mereka terhadap hadits SayyidatunaAisyah Ra dll, pengklasifikasian hukum dalam dua pendapat terakhir juga dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam musnadnya dan at-Thabrani dalam karya beliau al-Mu’jam al-Kabiir, dari Abdullah bin  ‘Amr:
bahwasanya beliau berkata “ dahulu saat kami bersama Rasul r, datang seorang pemuda bertanya kepada Rasul r “ wahai Rasulullah, apakah aku boleh mencium dalam keadaan berpuasa?“. Rasul r menjawab: “ Tidak “, kemudian datang seorang lelaki tua bertanya kepada Rasul r : “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mencium dalam keadaaan berpuasa?“. Rasul r menjawab: “ ya ”. (mendengar dua jawaban berbeda dari pertanyaan yang sama) maka kami saling melihat satu sama lain, kemudian Rasul r bersabda:Aku mengerti mengapa kalian saling melihat satu sama lain, sesungguhnya pria tua dapat mengendalikan dirinya!“.
Setidaknya riwayat ini dapat menguatkan pandangan Syafi’iyyah, Hanafiyyah dkk dalam menafisiri hadits Sayyidatuna ‘Aisyah ra dengan mengklasifikasi hukum sesuai kondisi, meskipun Al-Hafidz al-‘Iroqi mengatakan bahwa dalam rangkaian sanadnya ada Ibn luhai’ah yang masih kontroversial dalam status ketsiqahannya.
Sebelum menutup tulisan ini, ada dua hal penting yang harus digaris bawahi. Yang pertama, al-Imam Ibn Abdilbarr mengungkapkan bahwa sejauh jangkauan beliau, tidak ada satupun ulama yang memperbolehkan mencium istri bagi orang yang berpuasa, kecuali dengan syarat terhindar dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Beliau memberikan contoh, jika ada  suami mencium istrinya kemudian keluar madzi (cairan putih - bukan mani-  yang keluar saat syahwat) maka puasanya tidak batal menurut mazhab as-Syafi’I, Abi Hanifah, At-Tsauri dan Al-Auza’i. Akan tetapi, menurut mazhab Malik puasanya batal dan ia wajib qadha’. Al-Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali menyebutkan bahwa mazhab Hanbali sama dengan mazhab Malik dalam masalah ini. 
Kedua, mungkin sebagian bertanya-tanya, sejauh mana batasan berciuman yang dimaksud dalam masalah di atas? apakah hanya sekedar mencium pipi? kening atau mencakup bibir? dalam al-Majmu’ syarh al-Muhadzzab, Al-Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud mencium di sini mencakup mencium pipi, bibir dan lainnya. Wallahu a’lam.    
       

   

0 komentar:

Post a Comment